Manis Legit Kue Warisan Nenek
Berbekal resep dari nenek, sejumlah produsen kue tradisional
terus berinovasi agar bisa merebut lidah dan hati warga urban yang akrab dengan
roti dan aneka pastri. Mereka mempertahankan rasa dan memoles citra ke level
premium. Dengan cara itu, gerai kue tradisional eksis di mal, bandara, hingga
istana. Di kompleks ruko Villa Melati Mas, Serpong, Tangsel, Banten, Rabu (21/2)
sejumlah pekerja produsen dan toko kue tradisional Iki Koue Citarasa Nusantara mengirim
pesanan ke pelanggan penting. Kontainer plastik dan kardus berisi aneka kue
tradisional berpenampilan cantik dan menggugah selera dikirim untuk pelantikan
menteri baru di Istana Negara pagi itu.
Setiap hari, dapur Iki Koue menerima pesanan paling lambat
pukul 17.00 untuk diantarkan keesokan harinya, ujar Laura Wiramihardja, salah
satu pendiri sekaligus pemilik Dapur Iki Koue, yang bisa membuat 46 macam kue tradisional,
dari yang manis dan asin. Sampai yang dikukus, digoreng, atau dibuat bolu. Ada
juga aneka bubur tradisional ala jajanan pasar, yang bisa dikemas dalam mangkuk
plastik atau dalam paket besar di beberapa bejana tanah liat. Semua kue dan bubur
dibuat dengan resep dan cita rasa orisinal warisan keluarga. Rentang harganya mulai
Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per potong atau sajian. Segmen pasar Iki Koue berkategori
premium sehingga harga menyesuaikan.
Iki Koue juga membuka gerai di salah satu mal eksklusif di
kawasan Senopati, Jakarta. Di sana pengunjung dapat menikmati menu inovatif,
aneka bubur jajanan pasar, yang ditempatkan di dalam wadah eksotik dari tanah
liat tadi. Para tamu dapat memilih sendiri topping tambahan meniru cara penyajian
produk yoghurt merek kekinian. Selain itu, penataan gerai yang cantik memungkinkan
para pembeli jika ingin berfoto dan mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pendekatan-pendekatan
itu dilakukan terutama untuk menarik pembeli muda, yang dinilai mulai kurang
akrab dengan jajanan tradisional.
Monami Bakery juga tetap eksis di pasar kue tradisional kelas
premium sejak 1976, ketika gaya hidup ngemal menjangkiti warga Urban, Monami
juga masuk ke mal, dengan 38 gerai yang tersebar di mal, toko, dan bandara. Sandi
Gunawan dan istrinya, Florean Hadinata bilang, kunci keberhasilan usaha mereka
bertahan selama ini adalah selalu berusaha mempertahankan rasa otentik sesuai
warisan nenek dan membuat produk yang inovatif. Salah satunya, menggunakan santan
segar dari kelapa tua utuh. ”Bahkan, untuk membuat kue lumpur, kami masih menggunakan
arang untuk memanaskan bagian atas kue seperti cara nenek dulu. Kami akan terus
mempertahankan agar rasa kue dan kelumerannya sama seperti buatan beliau,” ucap
Florean. (Yoga)
Kenaikan Harga Beras Masih Bisa Berlanjut
Kenaikan harga beras diprediksi berlanjut setidaknya hingga
Maret 2024. Sebab, sejumlah sentra produksi belum memasuki musim panen raya.
Namun, pasokan beras dari Perum Bulog dinilai meredam kenaikan harga beras di
pasar. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) BI mencatat, harga rata-rata
beras nasional pada Jumat (23/2) mencapai Rp 15.650 per kg, naik 5,4 % dibanding
satu bulan sebelumnya atau naik 14,2 % dibanding Januari 2023. Ketua Koperasi
Pasar Induk Beras Cipinang Zulkifli Rasyid berpendapat, kondisi cuaca yang
tidak pasti mengakibatkan panen tidak jelas. Area panen relatif masih terbatas
sehingga harga beras belum dapat dipastikan kembali ke harga normal.
”Harga beras dipastikan kembali normal jika sudah panen raya.
Untuk itu, tingginya harga beras masih akan berlangsung hingga pertengahan atau
akhir Maret (2024),” katanya, Sabtu (24/2). BPS memperkirakan produksi beras
pada Maret 2024 mencapai 3,51 juta ton. Kendati neraca bulanan mulai surplus, volume
produksi pada Maret tahun ini lebih rendah dari realisasi produksi beras pada Maret
2023 yang mencapai 5,13 juta ton. Surplus beras pada Maret 2024 diperkirakan 970.000
ton atau lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Maret 2023 yang mencapai
2,59 juta ton (Kompas.id, 19/2/2024).
Menurut Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
Kementan Mohammad Ismail Wahab, meski tidak setinggi Maret tahun lalu, panen
pada Maret tahun ini akan berdampak terhadap penurunan harga beras. Pada Maret
2024, produksi gabah kering giling (GKG) diperkirakan 6,1 juta ton atau turun
2,82 juta ton dari produksi Maret 2023 di 8,92 juta ton. Akan tetapi, angka produksi itu lebih tinggi
dari produksi GKG pada Januari dan Februari 2024, masing-masing 1,58 juta ton
dan 2,42 juta ton. Kendati harga masih tinggi, kata Mentan Zulkifli Hasan, stok
beras untuk kebutuhan warga Jakarta masih aman. Ia memastikan pasokan beras
dari Perum Bulog dapat meredam kenaikan harga beras di Ibu Kota. (Yoga)
Golkar Ingatkan Parpol Lain, Posisi Menteri Terbatas
Sejalan dengan keinginan calon presiden Prabowo Subianto
bahwa semua unsur akan dirangkul, Partai Golkar pun terbuka jika ada partai
politik lain yang ingin bergabung dalam koalisi pendukung calon presiden-calon wakil
presiden Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Meski demikian, Partai Golkar
juga mengingatkan agar parpol yang akan ikut bergabung tak memaksakan jumlah
dan posisi menteri tertentu dalam kabinet Prabowo-Gibran. Hal itu, disampaikan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Firman Soebagyo saat dihubungi dari Jakarta,
Sabtu (24/2).
Menurut dia, dengan semakin banyak unsur yang bergabung dalam
koalisi pendukung Prabowo-Gibran, Koalisi Indonesia Maju (KIM), artinya semua
pihak harus menyadari ada keterbatasan posisi di kabinet nanti. Sejak
didaftarkan sebagai kandidat Pilpres 2024, Prabowo-Gibran didukung sembilan
parpol di KIM, yakni Partai Gerindra, Demokrat, Partai Golkar, PAN, PSI, PBB,
Partai Gelora, Partai Garuda, dan Partai Prima. Namun, beberapa hari setelah
pemungutan suara Pemilu 2024 usai, Presiden Jokowi yang juga ayah Gibran memanggil
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk menemuinya di Istana Merdeka,
Jakarta. Dalam kontestasi pilpres, Nasdem merupakan partai pendukung
capres-cawapres Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
Sehari setelah pertemuan itu, Presiden mengungkap pertemuannya
dengan Paloh sebagai pertemuan politik. Presiden pun tak menampik saat ditanya apakah
ia menjembatani hubungan Partai Nasdem dengan Prabowo (Kompas.id, 19/2). Ketua
Dewan Pakar PAN Dradjad Wibowo mengakui, untuk memperkuat koalisi parpol
pendukung pemerintah ke depan, ada upaya melobi dari pihak Prabowo-Gibran ke
parpol pengusung Anies-Muhaimin ataupun Ganjar Pranowo-Mahfud MD agar masuk
dalam barisan koalisi (Kompas, 23/2). Firman menekankan, pembagian ”kue”
kekuasaan tidak selalu di kementerian. Mereka bisa berpartisipasi melalui
legislatif, dunia usaha, atau bahkan di sektor yudikatif. (Yoga)
Eskalator Stasiun Manggarai dan Kisah ”Boncos” Pengguna Angkutan Umum
Eskalator yang mati di Stasiun Manggarai, Jaksel, sore itu
tiba-tiba bergerak sendiri, membuat calon penumpang yang menaiki tangga
berjalan itu terkejut. Apalagi eskalator itu bergerak turun, berlawanan arah
dengan langkah mereka. Dalam video di kanal Youtube Kompas TV dan media sosial
lain, terekam kepanikan orang-orang, mereka berteriak, dan ada yang terjatuh. Siaran
pers resmi dari PT KAI Commuter Indonesia (KCI) pada Kamis (22/2) menyatakan,
insiden itu terjadi pada Rabu (21/2) pukul 18.06 di eskalator menuju peron 11 dan
12. Tidak ada korban jiwa dan luka. Petugas di stasiun sigap menolong mereka
yang jatuh. Kejadian itu menambah panjang daftar berbagai gangguan fasilitas di
stasiun kereta komuter di Jabodetabek.
Dengan berbagai kekurangannya, kualitas layanan angkutan umum
kereta komuter Jabodetabek dan jaringan bus Transjakarta diakui membaik berkali
lipat dibandingkan 10-20 tahun lalu. Bangunan stasiun dan halte saat ini sudah
sangat bagus. Armada bus atau rangkaian kereta dalam kondisi di atas lumayan. Pembangunan
angkutan umum terbukti sukses menarik pekerja kerah biru yang masuk kelas
ekonomi menengah menjadi pengguna setia. Para pekerja ini mendominasi jumlah
penduduk Jabodetabek yang menembus 30 juta jiwa. Mereka datang dari banyak
daerah untuk mengejar rezeki di aglomerasi urban terbesar di Indonesia
sekaligus pusat ekonomi.
Bepergian dengan KRL dan bus Transjakarta yang memiliki jalur
khusus dipastikan memangkas waktu perjalanan. Walaupun berdiri sepanjang waktu
dan berdesakan, sebagian pengguna menyebutkan bahwa naik angkutan umum tak
selelah mengendarai sepeda motor berjam-jam di tengah kepadatan lalu lintas dan
terpaan asap kendaraan bermotor, juga kebisingan. Daya tarik lain beralih naik angkutan
umum adalah biaya bisa ditekan dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi,
khususnya mobil. Meskipun demikian, menggunakan angkutan umum tidak sehemat dan
seefektif yang dibayangkan, karena cakupan layanan dan integrasi antarmoda
belum maksimal. Akibatnya, pengguna tetap harus memakai kendaraan pribadi atau
angkutan daring untuk mengakses angkutan umum terdekat.
Hasil survei Dewan Transportasi Kota Jakarta pada 2021,
sebanyak 62,6 % pengguna transportasi umum di Jakarta harus merogoh kocek Rp
500.000 per bulan. Kemudian 25,7 % mengeluarkan Rp 500.000-Rp 1 juta per bulan.
Sebanyak 7,2 % lainnya mengeluarkan Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan dan 4,9 %
merogoh Rp 2 juta. Biaya untuk transportasi umum itu di luar biaya transportasi
pribadi, termasuk kendaraan pribadi, ojek daring atau ojek pangkalan, dan
taksi. Jika setiap pengguna angkutan umum juga memakai kendaraan pribadi, total
pengeluaran pada 80 % responden berkisar Rp 1 juta-Rp 2 juta per bulan. Dengan
kenaikan harga BBM dan tarif dasar ojek daring dan taksi daring, pada 2024 ini
total biaya transportasi di Jakarta pun dipastikan naik. Angka itu terbilang
besar mengingat UMP DKI Jakarta dan kota sekitarnya pada 2024 rata-rata Rp 5
juta per bulan. Rasanya makin boncos alias terus rugi dan tak terlihat segera
ada solusi yang diidamkan. (Yoga)
Belanja Menengah-Atas Turun, Ritel Modern Berinovasi
Masyarakat ekonomi menengah atas masih menjadi penopang utama
konsumsi produk ritel meskipun kontribusinya melambat di tengah ketidakpastian
ekonomi. Untuk menggairahkan daya beli mereka, ritel modern pun berinovasi. Ekonom
senior Indef, Aviliani, menjelaskan, 80 % pertumbuhan konsumsi di dalam negeri
mayoritas dikontribusi 40 % total penduduk Indonesia berkategori ekonomi
menengah dan 20 % masyarakat ekonomi teratas. Kontribusi setiap kategori pada
konsumsi adalah 35 % dan 45 %. ”Sektor ritel sekarang sudah tumbuh hampir sama
sebelum masa pandemi Covid-19 karena sejak pandemi dinyatakan selesai, demand
(permintaan) kembali, terlihat dari pertumbuhan konsumsi sudah 55 % dari PDB,
investasi sudah 30 % ,” ujarnya dalam bincang santai bertajuk ”Geliat Ekonomi
dan Ritel Pascapemilu di Indonesia” di Jakarta, Jumat (23/2).
Namun, kemampuan belanja masyarakat kalangan menengah dan
teratas terus menurun pada 2023. Data BPS menunjukkan, sepanjang 2023, pertumbuhan
konsumsi hanya 4,82 %, lebih rendah dari 2022 sebesar 4,94 % yang menjadi titik
balik pemulihan ekonomi pascapandemi.Laju konsumsi itu juga jauh di bawah
pertumbuhan ekonomi nasional yang menyentuh 5,04 %. Direktur SOGO Indonesia
Handaka Santosa, mengungkapkan, masyarakat ekonomi menengah dan atas yang menyukai
produk impor terbebani biaya belanja tinggi karena adanya pajak impor. Pajak yang
dimaksud seperti bea masuk. Pada kategori pakaian jadi, tarif pajak berkisar 20
% hingga maksimal 94 % dari harga per unit produk. Pajak pengamanan produk impor
itu berlaku sejak akhir 2021.
Guna menarik minat masyarakat mampu berbelanja produk-produk
di dalam negeri, sejumlah peritel berinovasi pada tahun ini. Salah satunya dengan
menambah koleksi produk bermerek di outlet-outlet mereka di kota-kota
Indonesia. Contohnya, di penghujung Februari 2024, SOGO membawakan koleksi
produk merek ternama, seperti Ted Baker, Max & CO, Christy, Roncato, Kent
& Crew, United Colors of Benetton, Airceloom, Von Dutch, danToms &
Asana. Produk premium karya lokal juga diperbanyak dan dijajarkan dengan merek
internasional untuk memberi lebih banyak pilihan kepada setiap pengunjung. Inovasi
lain adalah dengan mencampurkan kategori produk dalam satu lantai. Sebagai
contoh, gerai produk kecantikan bersanding dengan gerai kopi. Lalu, di lantai
dua, yang didominasi produk pakaian wanita, diisi juga dengan kedai minuman
pada salah satu sudutnya. (Yoga)
PR Mengatasi Pengangguran
Masih tingginya tingkat pengangguran terbuka nasional menunjukkan
beratnya pekerjaan rumah dan tantangan kita dalam mengatasi problem
pengangguran. Menurut BPS, jumlah angkatan kerja nasional kita per Agustus 2023
sebanyak 147,71 juta orang, meningkat 3,99 juta dibandingkan Agustus 2022
(Kompas, 23/2). Sementara angka tingkat pengangguran terbuka 5,32 %, turun 0,54
% dibandingkan Agustus 2022. Meski tingkat pengangguran terbuka dua tahun
terakhir terus menurun, angkanya masih sangat besar, yakni 7,8 juta orang. Tingkat
pengangguran terbuka (TPT) 5,32 % saat ini juga masih jauh di atas target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 3,6-4,3 %. Pemerintah
menargetkan TPT turun menjadi 4,74 % per Agustus 2024 dan 4,26 % per Agustus
2025.
Tingginya TPT menunjukkan penciptaan lapangan kerja tak bisa
mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja (AK). Sulitnya menekan pengangguran
juga terkait problem pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Percepatan penurunan tingkat pengangguran hanya bisa dicapai melalui akselerasi
pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam hal ini, selain meningkatkan kualitas AK
(melalui pendidikan dan pelatihan), mendorong sektor-sektor ekonomi dengan efek
pengganda besar juga penting untuk perluasan lapangan kerja, khususnya di
sektor formal. Penciptaan lapangan kerja merupakan isu krusial karena penduduk
usia kerja menyumbang 69,3 % populasi. Ini kekuatan penting bonus demografi
untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ironisnya, AK kita didominasi pekerja tak
terampil, dengan pendidikan SD ke bawah 39,76 %, SMP 18,24 %, SMA 19,18 %.
Kondisi ini menyebabkan mereka tak siap masuk pasar kerja
dengan upah layak sehingga sebagian besar terserap di sektor informal (59,11 %).
Tantangan yang kita hadapi dalam penciptaan lapangan kerja antara lain terus menurunnya
kemampuan perekonomian dalam menciptakan lapangan kerja baru karena investasi yang
ada lebih banyak padat modal. Problem lain, ada mismatch antara lulusan dan kebutuhan
industri. Upaya menjembatani melalui sekolah kejuruan dan vokasi guna mencetak lulusan
siap kerja justru ikut menyumbang angka pengangguran karena kompetensi lulusan
belum sesuai harapan. Bagaimana kita mampu membaca dan beradaptasi dengan kebutuhan
dan tuntutan baru ini akan menjadi kunci dalam menjawab pekerjaan rumah
mengatasi pengangguran. (Yoga)
Alasan Pemerintah ”Kebelet” Gabung Klub Negara-negara Maju
Pemerintah lewat Kemenko Bidang Perekonomian mengklaim bahwa
Indonesia tinggal selangkah lagi bergabung menjadi anggota Organisasi untuk
Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi atau OECD. Klaim ini muncul berlandaskan
fakta bahwa pada Rabu (21/2) Dewan OECD telah memutuskan untuk membuka diskusi
aksesi dengan Indonesia. Pemerintah tampak begitu ”kebelet” untuk menjadi anggota
klub negara-negara maju dunia ini. Pada Juli 2023, arahan untuk menjadi anggota
OECD datang dari Presiden Jokowi. Pada Agustus, Presiden bertemu Sekjen OECD
Mathias Cormann di Jakarta. Lalu, pada September 2023, dilakukan pertemuan
Dewan OECD, sebagai badan pengambil keputusan tertinggi di organisasi, untuk
membahas rencana Indonesia.
Intensi untuk bergabung dengan keanggotaan OECD juga tertuang
dalam surat Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada Sekjen ECD
Mathias Cormann sebagai tindak lanjut arahan Presiden Jokowi. Dewan OECD telah membuka
diskusi aksesi dengan Indonesia, mengikuti penilaian oleh anggota OECD
berdasarkan Evidence-based Framework for the Consideration of Prospective
Members. Keputusan ini menjadi kelanjutan dari peningkatan keterlibatan dan kerja
sama Indonesia sebagai salah satu negara mitra utama OECD sejak 2007.
Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies
(CSIS) Yose Rizal Damuri mengatakan, Dewan OECD akan mengeluarkan Peta Jalan
Aksesi berisi hal-hal yang harus diperbaiki Indonesia agar sesuai dengan
standar OECD. Indonesia baru resmi diterima menjadi anggota OECD hanya saat
Peta Jalan Aksesi ini benar-benar telah terimplementasi. ”Diperlukan reformasi
besar untuk menyelaraskan UU, kebijakan, dan praktik yang sesuai dengan standar
OECD, termasuk sistem perdagangan, finansial, pajak, ketenagakerjaan, peradilan,
hingga tata kelola BUMN,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (23/2). Dimana Kolombia,
butuh waktu 7 tahun untuk menjadi anggota OECD. Jika disetujui menjadi anggota
OECD, Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara pertama dan negara Asia ketiga
yang bergabung dengan organisasi yang sering disebut sebagai ”klub negara maju”
itu. (Yoga)
Empat Jenis Aset Penting dalam Kehidupan
Keberhasilan seseorang dalam berhemat atau bahkan di kondisi
tertentu memilih hidup frugal, tidak membawa kepastian kesejahteraan untuk masa
pensiun kelak bilamana tidak fokus membangun 4 jenis asset penting dalam
kehidupan berikut ini; Aset pertama, aset yang siap membantu dalam kondisi tak
terduga. Kejadian pandemi, yang mungkin diikuti oleh kehilangan pekerjaan di
masa produktif, adalah kondisi yang membawa dampak negatif pada kesejahteraan.
Hanya mereka yang telah menghimpun dana darurat dengan baik yang dapat melalui
ujian kehidupan tersebut dengan lebih ringan.
Aset kedua, aset yang ditugaskan untuk memenuhi kebutuhan
ataupun keinginan dalam bentuk tujuan finansial. Umumnya, seseorang yang sudah
pandai menabung atau berinvestasi akan memiliki tujuan finansial tertentu. Contohnya,
menabung untuk dana naik haji, berinvestasi untuk dana kuliah anak, atau menabung
untuk uang muka pembelian rumah tinggal. Aset ketiga, aset yang dikumpulkan
terus agar bertumbuh dan baru akan dialokasikan kembali setelah mencapai angka
tertentu. Contohnya saldo Jaminan Hari Tua, saldo Dana Pensiun Lembaga
Keuangan, dan tentu saja aset mandiri yang dipersiapkan. Karyawan milenial
harus berusaha menyisihkan sekian persen dari gaji dan penghasilan lainnya ke
berbagai instrumen investasi dengan tujuan untuk peningkatan modal pensiun.
Umumnya, aset ini akan dialokasikan menjadi aset tunai atau
jenis aset lainnya yang bisa langsung dinikmati di masa tua dan dijadikan aset
produktif lain yang memberikan penghasilan pasif. Aset keempat, aset yang memang
tidak diniatkan untuk dijual modalnya, tetapi ditujukan untuk memberikan
penghasilan pasif secara berkala. Contohnya portofolio keuangan yang memberikan
penghasilan berkala, seperti deposito, surat berharga negara ritel, obligasi
korporasi, dan saham. Yang memiliki modal cukup bisa menanamkan modal dalam
bentuk property yang memberikan penghasilan sewa. Sehingga, nantinya dapat
memasuki masa pensiun dengan tenang, sejahtera, dan bahagia. (Yoga)
Prioritas Rehab 611 Rumah Rusak
Pemerintah mendata rumah warga yang rusak akibat puting
beliung di Sumedang dan Bandung, Jabar, guna menentukan anggaran rehabilitasi.
Dari pendataan sementara, 611 rumah warga rusak akibat terjangan putting beliung
di Kabupaten Bandung dan Sumedang, Jabar, Rabu (21/2) sore. BNPB akan memprioritaskan
perbaikan rumah warga yang rusak. Di Desa Nanjung Mekar, Kecamatan Rancaekek,
Kabupaten Bandung, Jumat (23/2) warga masih menyingkirkan puing-puing atap yang
roboh. Untuk sementara, warga menutup bagian atap rumah dengan terpal.
Desa itu terdampak paling parah. Sebanyak 350 rumah di desa
yang dihuni sekitar 9.000 jiwa ini rusak. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB
Mayjen Fajar Setyawan mengunjungi warga Nanjung Mekar pada Jumat siang. didampingi
Sekretaris Kabupaten Bandung Cakra Amiyana. Menurut Fajar, BNPB akan bersinergi
dengan Pemkab Sumedang dan Kabupaten Bandung untuk mendata rumah yang rusak
ringan, sedang, dan berat. Bantuan uang untuk rehabilitasi rumah akan
disesuaikan dengan kategori kerusakan.
BPBD Kabupaten Bandung mencatat, 568 rumah rusak dan 1.879
jiwa terdampak. Sementara BPBD Kabupaten Sumedang mencatat, 43 rumah rusak dan
89 jiwa terdampak. ”Kami bersama kedua pemda masih mengkaji kerusakan setiap
rumah. Untuk warga yang rumahnya rusak ringan mendapatkan uang rehabilitasi Rp
15 juta, rusak sedangRp 30 juta, dan rusak berat Rp 60 juta,” ujarnya. Kepala
Desa Nanjung Mekar Kiki Kosasih berharap pemerintah bisa memprioritaskan bantuan
seng atau asbes bagi warga yang atap rumahnya rusak. Sementara Kabid Kedaruratan
dan Logistik BPBD Jabar Bambang Imanudin menyatakan bakal mengupayakan kajian
rumah terdampak di lima kecamatan tuntas pekan depan. (Yoga)
Menakar Utang Pemerintahan Jokowi
Pemerintahan Jokowi yang akan purnatugas pada Oktober
mendatang diperkirakan bakal meninggalkan beban utang besar kepada pemerintahan
baru melebihi para presiden sebelumnya. Menurut catatan Kemenkeu, utang pemerintah
per 31 Desember 2023 sebesar Rp 8.144,6 triliun dengan rasio utang terhadap PDB
38,59 5. Dalam dua periode kepemimpinan Jokowi, selama sembilan tahun terakhir,
utang pemerintah bertambah Rp 5.535,6 triliun atau naik tiga kali lipat (212 %).
Jokowi memulai masa jabatannya di tahun 2014 dengan warisan utang dari Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Rp 2.608 triliun. Pandemi Covid-19 adalah faktor
penting yang membuat utang di era Jokowi melonjak tinggi.
Pada akhir 2020, hanya dalam waktu satu tahun, utang pemerintah
naik Rp 1.295,9 triliun (27 %) dibandingkan tahun sebelumnya. Pandemi membuat utang
pada akhir 2020 menyentuh Rp 6.074,5 triliun. Rasio utang juga tercatat meningkat
di era pemerintahan Jokowi. Meskipun baru melonjak tinggi saat pandemi (dari
30,23 %n pada 2019 menjadi 39,43 % pada 2020), kenaikan rasio utang sudah
terjadi sejak periode pertama era Jokowi (dari 24,68 % pada 2014 menjadi 30,23
% pada 2019). Meski meningkat, kenaikan rasio utang itu masih dalam ”batas
aman” yang diatur dalam undang-undang. Sesuai UU No 17 Tahun 2023 tentang
Keuangan Negara, utang pemerintah hanya diperbolehkan maksimal 60 % dari PDB.
Jika melewati batas itu, Indonesia berpotensi bangkrut karena tidak lagi
sanggup membayar utang.
Wakil Menkeu Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN Kita,
Kamis (22/2) mengatakan, strategi pembiayaan di tahun terakhir pemerintahan
Jokowi dilakukan secara fleksibel, terukur, dan oportunistik. Menurut dia,
sejauh ini profil utang Indonesia masih sesuai jalur. Dirjen Pengelolaan
Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Suminto mengatakan, pengelolaan utang negara
tetap dalam kondisi aman meski secara total outstanding utang pemerintah telah
menembus Rp 8.000 triliun. Persentasenya pun terus menurun setelah pandemi.
Selain itu, APBN juga berhasil membukukan keseimbangan primer positif pada
tahun 2023 yang menandakan pemerintah tidak lagi ”gali lubang tutup lubang” atau
berutang untuk bayar utang. (Yoga)









