Tak Semua Barang-Jasa Kena Tarif PPN 12 Persen
Rencana kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPN dari
11 % menjadi 12 % akan dilakukan pada 2025 sesuai amanat UU Harmonisasi Peraturan
Perpajakan. Pemerintah menegaskan tidak semua barang dan jasa dikenai tariff PPN
12 %. PPPN
adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa. Namun, penerapannya tidak dipukul
rata. Ada beberapa jenis barang dan jasa yang tidak akan terdampak kenaikan
tarif PPN tahun depan karena memang dikecualikan dari pengenaan PPN. Tarif baru
PPN 12 %, menurut rencana, akan berlaku paling lambat 1 Januari 2025. Menurut
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Bidang Perekonomian
Ferry Irawan, pemberian fasilitas PPN atau pengecualian atas barang dan jasa
tertentu itu diterapkan agar kenaikan tarif PPN tidak terlalu memberatkan
masyarakat dan berdampak buruk bagi perekonomian. ”Penyesuaian tarif itu tetap
diiringi ruang pemberian fasilitas PPN untuk menjaga kepentingan masyarakat.
Sejumlah barang dan jasa tetap dibebaskan dari pengenaan PPN,” kata Ferry, Rabu
(13/3).
Sejauh ini, pengecualian pengenaan tarif PPN itu masih mengacu
pada UU No 42 Tahun 2009 tentang PPN Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah. Beberapa barang yang tidak dikenai PPN (non-barang kena pajak/non-BKP)
adalah barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan rakyat banyak alias sembako
antara lain, beras, kedelai, jagung, sagu, garam, daging, telur, susu, buah-buahan,
dan sayur-sayuran. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah
makan, warung, serta makanan yang disediakan oleh usaha jasa boga (katering)
juga tidak dikenai PPN. Jenis barang ini telah dikenai pajak daerah alias Pajak
Restoran atau Pajak Bangunan yang tarifnya maksimal 10 %. Pemerintah juga
memberikan pengecualian bagi pelaku usaha dengan skala tertentu. Salah satunya,
pemungutan dan penyetoran PPN tidak diwajibkan untuk pengusaha kecil seperti pedagang
warung kelontong yang jumlah penerimaan brutonya di bawah Rp 4,8 miliar dalam
satu tahun. (Yoga)
Skema KPR Flat 35 Tahun Dikaji Kembali
Pemerintah melalui Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP
Tapera) berencana mengkaji kembali opsi pembiayaan perumahan dengan suku bunga
kredit tetap selama 35 tahun. Skema flat itu dinilai akan memberikan kesempatan
bagi generasi Z dan milenial memiliki rumah dengan cicilan kredit yang lebih
terjangkau. Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho, mengemukakan, pihaknya akan
mengkaji kembali skema kredit pemilikan rumah suku bunga tetap dengan tenor 35
tahun. Hal itu dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan terkait,
seperti PT Sarana Multigriya Finansial dan perbankan. Skema diarahkan agar lebih
terjangkau untuk kepesertaan ke depan.
”Kami sedang mengkaji skema-skema yang lebih terjangkau dengan pelaku ekosistem perumahan. Kami belum ada target karena skema juga harus memperhatikan keberlanjutan pembiayaannya,” kata Heru, dalam konferensi pers seusai pelantikan Komisioner dan Deputi Komisioner BP Tapera periode 2019-2024 di Jakarta, Rabu (13/3). Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana, Sid Herdi Kusuma, menambahkan, skema KPR 35 tahun dengan suku bunga tetap memberikan kesempatan bagi kawula muda yang baru masuk kerja bisa memiliki rumah dengan cicilan kredit lebih terjangkau.
Skema tersebut bukan berarti debitor harus menunggu pelunasan dengan waktu sepanjang itu. ”Jika punya rezeki lebih bisa melakukan pelunasan sebagian atau pelunasan penuh lebih awal,” ujar Herdi. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengemukakan, KPR tenor 35 tahun dengan suku bunga tetap dapat bermanfaat untuk masyarakat umum. Suku bunga KPR tetap dinilai memudahkan karena biasanya suku bunga KPR cenderung berubah-ubah, bahkan naik selama masa tenor kredit. ”Suku bunga dibuat flat agar lebih terjangkau,” katanya. (Yoga)
Gerai Es Teh dan Es Kopi Gula Aren Gerus Pasar Minuman Kemasan
Merebaknya gerai es teh dan es kopi gula aren di berbagai
penjuru kota mulai berdampak pada menurunnya penjualan minuman dalam kemasan di
toko ritel dan warung kelontong. Fenomena ini menandakan adanya perubahan pola
konsumsi masyarakat terhadap minuman ringan. Mengutip data Nielsen, seperti
diolah Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), volume penjualan produk minuman
dalam kemasan di luar air minum dalam kemasan (AMDK) pada 2023 adalah 3 juta liter.
Angka ini menurun 2,59 % dibandingkan tahun 2022 di 3,08 juta liter. Yang
termasuk minuman ringan dalam kemasan antara lain minuman teh dalam kemasan,
minuman kopi dalam kemasan, minuman mengandung susu dalam kemasan, minuman
berkarbonasi, dan minuman sari buah.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics
(CORE) Mohammad Faisal, salah satu faktor penyebab menurunnya penjualan minuman
dalam kemasan di tingkat ritel adalah menjamurnya gerai es teh dan es kopi gula
aren di berbagai sudut kota. ”Sedikit atau banyak (penurunan penjualan minuman
dalam kemasan) dipengaruhi oleh merebaknya gerai-gerai (es teh dan kopi gula
aren),” ujarnya dalam konferensi pers yang diselenggarakan Asrim bertajuk ”Kinerja
Industri Minuman di 2023 serta Peluang dan Tantangan di Tahun 2024” di Jakarta,
Rabu (13/3). Cara konsumsi minuman ringan di masyarakat telah berubah. Kini
masyarakat kian menggemari minuman es teh dan es kopi gula aren karena dianggap
sedang tren. Selain itu, konsumen juga lebih mudah mengaksesnya karena mudah
ditemui dan dibeli di pinggir jalan. Tidak seperti minuman dalam kemasan yang
disimpan di dalam lemari pendingin toko ritel. (Yoga)
BERAS, Pasokan Naik, Warga Diimbau Tidak Panik
Pasokan gabah dan beras ke pasaran diprediksi meningkat
seiring meluasnya area panen padi hingga 1-2 bulan ke depan. Masyarakat diimbau
tidak panik dalam membeli barang kebutuhan pokok, khususnya beras, karena dapat
berdampak pada kenaikan harga. Stok beras di Jabar, salah satu sentra produksi
beras nasional, diperkirakan dalam kondisi surplus 50.000 ton selama Maret
2024. Produksi akan meningkat pada puncak panen raya yang diperkirakan terjadi
bulan depan. Pergeseran masa tanam membuat panen padi di Jabar meningkat dan
mencapai 1,27 juta ton pada April 2024. Kepala Dinas Tanaman Pangan dan
Hortikultura Jabar Dadan Hidayat memaparkan, produksi padi di Jabar diprediksi
mencapai 620.989 ton dalam bentuk gabah kering giling (GKG) pada Maret 2024.
Jumlah ini jauh lebih tinggi disbanding produksi pada Februari yang sebanyak 148.560
ton GKG, sementara pada Januari 2024 angkanya 243.362 ton GKG.
Menurut Dadan, selain pada volume produksi, fenomena El Nino
berdampak pada pergeseran masa tanam hingga 2-3 bulan. Akibatnya, masa tanam
dimulai pada Desember 2023 hingga Januari 2024. ”Secara kumulatif, pada Maret
2024, Jabar surplus hingga 50.000 ton. Memang ini cukup kecil. Namun, ini memastikan
masih ada kecukupan pangan. Potensi panen yang besar ada pada April 2024 karena
masa tanam bergeser jadi akhir tahun lalu dan Januari tahun ini,” ujarnya
seusai rapat pembahasan ketahanan pangan di Bandung, Jabar, Rabu (13/3). ”Dalam
kurun Oktober 2023 sampai 15 Februari 2024, ada 6.299 hektar lahan yang
terdampak bencana karena perubahan iklim. Namun, dari jumlah tersebut, yang
puso hanya 874 hektar. Jadi, kondisi awal tahun ini tidak dipengaruhi oleh bencana-bencana
tersebut,” ujarnya. Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengatakan, stok pangan
yang dinilai aman ini diharapkan bisa menenangkan masyarakat. Dia mengimbau
warga untuk tidak panik saat bulan Ramadhan karena dapat berdampak pada
kenaikan harga. (Yoga)
Generasi Z dan Milenial Kuras Gaji demi Rumah
Generasi milenial dan Z di wilayah perkotaan sulit memiliki
hunian karena harga rumah melambung tinggi. Sebagian dari mereka terpaksa
menguras gaji serta patungan bersama istri atau kekasih demi mencicil rumah.
Mereka nekat membeli rumah di tengah keterbatasan pendapatan demi tinggal di
”istana” sendiri bersama keluarga kecil yang rata-rata baru terbangun kurang
dari tiga tahun. Sejak dua tahun lalu, Antoni (31), salah satu pekerja swasta di
Kota Bekasi, Jabar, membeli rumah tapak di Kota Bekasi seharga Rp 289 juta dengan
skema kredit pemilikan rumah (KPR). ”Saya sisihkan gaji (untuk) beli rumah
supaya ada tempat tinggal setelah menikah. Selama delapan tahun merantau, saya ngekos,”
katanya, Rabu (13/3). Angsuran keseluruhan yang dia bayarkan ke bank untuk cicilan
rumah Rp 3,7 juta per bulan.
Pengeluaran itu sekitar 30 % pendapatannya. Namun, terasa
memberatkan karena dia juga menghabiskan Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per bulan
untuk biaya hidup, transportasi, dan biaya tak terduga lain. Pengeluaran untuk
membeli rumah yang menguras habis pendapatan juga dirasakan Andrianus (33).
Pekerja swasta di Jakarta dengan penghasilan Rp 8 juta per bulan ini sejak
akhir 2023 memutuskan membeli rumah di Tangerang, Banten, seharga Rp 570 juta. ”Cicilan
saya setiap bulan hampir Rp 6 juta. Kemarin disetujui bank karena memiliki
penghasilan ganda dengan istri. Kalau sendiri, tak mungkin karena pendapatan
saya sudah minus,” ujarnya. Menurut Andrianus, meski keputusan membeli rumah
bukan keputusan mudah, dia memilih opsi itu dan harus tersandera angsuran
selama 15 tahun lantaran biaya mengontrak rumah di Jakarta tak murah. Pada awal
menikah, biaya kontrakan rumah di Jakarta setiap tahun berkisar Rp 25 juta
sampai Rp 35 juta. (Yoga)
Investasi Melesat Selepas Pilpres
Arus investasi diprediksi mengalir deras ke Indonesia setelah pemilihan presiden (pilpres) berlangsung damai dan satu putaran. Itu sebabnya sejumlah kalangan meyakini, target investasi pemerintah tahun 2024 sebesar Rp 1.650 triliun, naik 16 % dari tahun lalu bisa tercapai. Investor menyukai kepastian dalam berbisnis, banyak pengusaha menghadapi ketidakpastian politik sehingga menunda rencana investasi. Tapi hal itu sirna setelah pilpres berjalan satu putaran.
Disis lain lonjakan investasi bakal menguntungkan para pemain kawasan industri (KI). Atas dasar ini, CLSA menyukai PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang mengembangkan KI di Subang, Jabar. Ketua UmumAsosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani pada Rabu (13/3) optimis target tahun ini Rp 1.600 triliun bisa tercapai, syaratnya kebijakan transformasi structural terhadap iklim usaha / investasi harus bisa ditingkatkan secara konsisten di lapangan. (Yetede)
DMO Turun, Harga Migor Melambung
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kemendag (SP2KP) per 8 maret 2024, harga minyak goreng (migor) sawit curah mencapai Rp 15.600 per liter, di atas HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 14.000 per liter dikarenakan penurunan DMO Februari 2024.
Mendag Zulkifli Hasan mengatakan harga migor curah yang mengalami kenaikan tak dapat dihindari karena menurunnya realisasi DMO produsen yang hingga akhir Februari sebesar 123.536 ton atau 41 % target pemenuhan 300.000 ton. “Hal itu imbas lesunya ekspor CPO dan produk turunannya, sehingga DMO turun disbanding bulan lalu,” ucap dia dalam raker dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (13/3). (Yetede)
Perkuat Ekonomi Umat, BSI Serahkan Zakat Lebih dari Rp 222 Miliar
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) semakin mengukuhkan komitmen untuk memperkuat ekonomi umat dengan mendorong peningkatan penyaluran zakat perusahaan. Pada Ramadhan tahun ini, BSI menyerahkan Rp 222,7 miliar zakat perusahaan melalui Baznas, melesat 29 % dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dirut BSI Hery Gunardi mengatakan, pihaknya dapat mendorong kenaikan zakat seiring pertumbuhan laba bersih perseroan sepanjang 2023. Dari total zakat yang disalurkan, Rp 189,7 miliar merupakan zakat dari laba perusahaan dan Rp 33 miliar merupakan zakat pegawai. Dengan angka tersebut BSI kembali menjadi perusahaan dengan volume zakat terbesar di Indonesia. (Yetede)
Jokowi Minta Penyediaaan Lahan Investasi di IKN Dipercepat
Presiden RI Jokowi meminta penyediaan lahan investasi di Ibu Kota Nusantara (IKN) Kaltim, bisa dipercepat. Hal tersebut disampaikan setelah Jokowi menerima banyak keluhan dari para investor tentang kecepatan investasi di IKN. Hal tersebut disampaikan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono setelah rapat internal yang dipimpin Presiden Jokowi mengenai perkembangan pembangunan IKN di Istana Kepresidenan, Jakarta.
“Tadi saran dari Menteri Investasi (Bahlil Lahadalia) yang juga disepakati Bapak Presiden, agar tanahnya dijual (kepada investor) dengan harga yang ditetapkan Otorita IKN,” kata Basuki, Rabu (13/3). Karena itu presiden memerintahkan agar lahan bagi investor segera ditetapkan statusnya dengan sistem jual beli, dengan proses percepatan penyediaan lahan bagi investasi di IKN tidak melanggar aturan. (Yetede)
Rekapitulasi Nasional Ditargetkan Rampung Sebelum 20 Maret 2024
KPU RI menargetkan rekapitulasi penghitungan perolehan suara tingkat nasional akan selesai sebelum tanggal 20 Maret 2024. Anggota KPU RI August Mellaz mengatakan ada kemungkinan proses rekapitulasi selesai pada Senin, (18/3) “Kalau target kami malah selesai sebelumnya,” kata Mellaz di Kantor KPU RI, Jakarta, Rabu (13/3).
Dia menjelaskan bahwa KPU juga memantau proses rekapitulasi yang berada di tingkat kecamatan hingga provinsi. Kendati demikian, menurutnya, proses penghitungan sudah mau selesai. Proses rekapitulasi penghitungan suara ini menyisakan 19 lagi dari 38 provinsi yang sudah dihitung. Seturut Peraturan KPU No 3 Tahun 2022, rekapitulasi suara nasional Pemilu 2024 dijadwalkan berlngsung mulai 15 Februari sampai 20 Maret 2024. (Yetede)









