Ekonomi
( 40733 )Misi Besar Membangun Eksositem Digital Indonesia di Tanah Air
Pembagian Dividen Dorong Optimisme Pasar
Gelombang pembagian dividen oleh sejumlah emiten sepanjang bulan Mei 2025 telah memberikan sentimen positif yang signifikan terhadap pasar saham Indonesia. Aksi ini tidak hanya mencerminkan kekuatan fundamental dan kesehatan keuangan perusahaan, tetapi juga menunjukkan optimisme manajemen terhadap prospek usaha ke depan, sekaligus menjadi insentif nyata bagi investor.
Tokoh-tokoh penting turut menegaskan dampak positif fenomena ini. Martin Aditya dari Capital Asset Management menyatakan bahwa konsistensi pembagian dividen memperkuat persepsi stabilitas emiten di mata investor. Nafan Aji Gusta, analis dari Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa selain pembagian dividen, aksi korporasi seperti buyback saham turut mendorong likuiditas dan penguatan IHSG, yang tetap bertahan di atas level 7.000. Di sisi lain, Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas mengingatkan bahwa pasar Indonesia sebagai emerging market tetap terpapar sentimen global, sehingga dukungan makroekonomi domestik dan iklim global yang kondusif tetap diperlukan untuk menjaga aliran modal asing.
Dari sisi emiten, sejumlah perusahaan besar mengambil peran penting. Bob Tyasika Ananta, Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BRIS), menyampaikan pembagian dividen sebesar Rp1,05 triliun sebagai bentuk optimisme terhadap kinerja perusahaan ke depan. Bernardus Irmanto, Plt. Presiden Direktur Vale Indonesia (INCO), menekankan bahwa efisiensi kapital memberi ruang bagi pembagian dividen tanpa mengganggu proyek strategis. Sementara itu, Yusak Lumba Pardede, Direktur Cita Mineral Investindo (CITA), menegaskan komitmen perusahaan dalam konsistensi pembagian dividen, dengan nilai Rp1,29 triliun dari laba 2024.
Dengan setidaknya 30 emiten telah menjadwalkan cum date dividen, fenomena ini mempertegas peran dividen sebagai motor penggerak IHSG dan penguatan sentimen investor, baik domestik maupun asing.
BSI Optimistis Terus Cetak Kinerja Positif
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan bisnis dan layanan perbankan syariah guna memenuhi ekspektasi nasabah serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, menyampaikan bahwa optimisme terhadap kinerja perusahaan didorong oleh dukungan pemegang saham dan momentum ekonomi yang positif. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 16 Mei, pemegang saham menyetujui sejumlah keputusan strategis, termasuk pengangkatan Anggoro Eko Cahyo sebagai Direktur Utama menggantikan Hery Gunardi, serta pembagian dividen sebesar Rp1,05 triliun dari laba bersih tahun 2024. Selain itu, RUPST juga menyetujui pengangkatan pengurus baru, termasuk Muhadjir Effendy sebagai Komisaris Utama, dan menyepakati kebijakan pengelolaan keuangan serta audit ke depan. Susunan direksi baru ini diharapkan memperkuat posisi BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia.
Dinar dan Dirham Menguat di Tengah Ketidakpastian
Potensi Keuntungan dari Dividen BSI
Retailer Amerika Kembali Serbu Produk China
Penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif
Pemilihan Indonesia sebagai negara pertama tujuan lawatan PM Australia, Anthony Albanese memberi harapan besar. Presiden Prabowo dan PM Albanese pun berkomitmen untuk menguatkan kemitraan strategis komprehensif kedua negara. Sehari setelah dilantik untuk periode kedua, Rabu (14/5) petang, PM Albanese tiba di Jakarta. Pemimpin Partai Buruh Australia ini pun melakukan kunjungan resmi ke Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/5). Presiden Prabowo menyambut hangat dan menghargai langkah PM Australia ini. Dia pun menyebut pemilihan Indonesia sebagai tujuan pertama Albanese ini sebagai kehormatan. Dalam pertemuan empat mata dan dalam pernyataan pers bersama, Presiden Prabowo menyinggung keberadaan Indonesia dan Australia sebagai tetangga dekat.
”Itu ditakdirkan semesta. Karena itu, kita sebagai pemimpin bisa komit untuk menjadi tetangga yang baik. Tetangga akan menolong ketika kita sedang kesulitan. Kalau keluarga bisa saja sedang jauh,” tuturnya. Prabowo dalam pernyataan pers bersama menyebut Australia sebagai mitra strategis Indonesia. Kedua negara pun sudah memiliki kemitraan strategis komprehensif sehingga berbagai kesepakatan bilateral di berbagai sektor telah dicapai dan hubungan antarmasyarakat semakin baik. ”Dengan pertemuan kali ini, pertemuan saya dengan PM Albanese telah membahas perkembangan hubungan bilateral kedua negara. Kami sepakat untuk meneruskan hal-hal yang menjadi kesepakatan kedua negara dalam berbagai bidang,” tutur Presiden yang pada keterangan pers bersama berbicara dalam bahasa Indonesia.
Komitmen lain meliputi kerja sama di bidang pertahanan, pertanian, ekonomi, hubungan antar masyarakat, dan hubungan luar negeri. Di bidang pertahanan, proses ratifikasi perjanjian kerja sama pertahanan yang sudah disepakati tahun lalu segera diselesaikan. Kemungkinan untuk meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan juga terus dibahas. Di bidang ekonomi, didorong peningkatan perdagangan dan investasi. Pemerintah Indonesia mengundang pelaku usaha Australia untuk lebih berpartisipasi dalam ekonomi Indonesia.(Yoga)
Pengangguran Terdidik dan Ekonomi
Dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang diprediksi berlanjut sepanjang 2025, bahkan 2026, adalah meningkatnya pengangguran terdidik. BPS mencatat, sejalan dengan perlambatan ekonomi yang terjadi, jumlah penganggur di Indonesia setahun terakhir meningkat 83.000 menjadi 7,28 juta orang per Februari 2025 (Kompas, 14/5/2025). Penganggur berpendidikan diploma IV, S-1, S-2, dan S-3 meningkat, sementara tamatan SMA ke bawah cenderung turun disbanding tahun sebelumnya. Tenaga kerja terdidik berpendidikan menengah dan tinggi lebih rentan terdampak perlambatan ekonomi ketimbang tenaga kerja kurang terdidik karena dampak langsung perlambatan ekonomi ke sektor formal. Selain itu, juga karena kelompok terdidik cenderung kurang fleksibel dalam memperoleh kembali pekerjaan setelah kena PHK (Kompas, 15/5/2025).
Situasi ini sebenarnya gambaran problem struktural laten ketenagakerjaan kita. Angka pengangguran terdidik meningkat dari tahun ke tahun, dan didominasi angkatan kerja terdidik. Tenaga kerja terdidik, yakni mereka yang berpendidikan SMA ke atas yang masih menganggur, mendominasi angka pengangguran di Indonesia, mencapai 65 % total jumlah penganggur. Ijazah dan gelar terbukti tak menjamin pekerjaan layak. Kelompok usia muda produktif dan terdidik yang diharapkan jadi penopang bonus demografi justru terjebak dilema pengangguran terdidik dan mempertinggi rasio ketergantungan. Kian tinggi pendidikan, kian tinggi pula potensi jadi penganggur karena peningkatan tingkat pendidikan tak diiringi pe-ningkatan kualitas lulusan dan cenderung semakin pilih-pilih. Perguruan tinggi lebih berorientasi pada kelulusan, bukan menghasilkan tenaga siap pakai sesuai kebutuhan industri. (Yoga)
Pengajuan Kredit UMKM Masih Terkendala
Sebagian pelaku UMKM masih enggan mengambil kredit perbankan. Kendala yang dihadapi mereka pun masih sama, yakni tingginya suku bunga kredit, tidak adanya agunan, serta kecilnya jumlah pinjaman yang diajukan. Demikian temuan dalam laporan Studi Barometer Usaha Kecil yang dirilis Mastercard bersama 60 Decibels bertajuk ”Striving to Thrive The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2024/2025”, yang dipaparkan di Jakarta, Kamis (15/5). Laporan ini berdasarkan hasil survei kepada 827 pelaku UMKM selama Oktober-Desember 2024. Dari hasil survei, 27 % pelaku UMKM mengaku tidak mengakses kredit dengan alasan terbesar tidak membutuhkannya dan cenderung telah menjalankan bisnis lebih dari setahun. Mereka yang tidak mengambil pinjaman notabene lebih mengandalkan pendapatan serta tabungan sendiri.
Jumlah tersebut relatif berkurang dibanding hasil survei tahun lalu, yang melaporkan sebanyak 67 % usaha mikro dan kecil tak mengambil kredit selama 12 bulan terakhir. Kendati demikian, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi kendala yang sama ketika hendak mengakses kredit. Tingginya tingkat suku bunga kredit menjadi salah satu hambatan yang paling sering dilaporkan (27 %). Data OJK per Februari 2025 menunjukkan, rerata suku bunga dasar kredit bank umum kepada segmen mikro sebesar 10,76 %, segmen kecil 9,74 % dan segmen menengah 9,5 %. Pelaku UMKM juga masih menghadapi sejumlah tantangan saat hendak mengajukan kredit, seperti kurangnya agunan (13 %) dan kecilnya jumlah pinjaman (13 %). Hasil dari Studi Barometer 2024/2025 turut menemukan, dukungan bisnis kepada UMKM telah meningkatkan keuntungan dan kinerja. (Yoga)
Pertanian Cabai secara Hibrida
Petani terlihat sedang menancapkan pasak bambu yang akan dipasangi tali penahan cabai keriting hibrida Santavi di Desa Donotirto, kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Hari Kamis (15/5/2025). Tanaman cabai pada beberapa musim tanam terakhir ini menjadi pilihan petani setempat karena dinilai lebih tahan terhadap penyakit bulai atau virus Gemini. Cabai tersebut dapat dipanen dalam waktu 65 hari dan harga jual di tingkat petani saat ini berkisar Rp 20.000 per kilogram. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









