;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Lima Tahun Pertama Akan Dibangun Pembangkit Sebesar 27,9 GW Berbasis Gas

27 May 2025
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia mengumumkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2034 sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). RUPTL PLN 2025-2034 juga menjadi fondasi penting dalam upaya Indonesia mencapai  target Net Zero Emission (NZE) pada 2060. "Komitmen Paris Agreement terkait transisi  energi tidak lagi menjadi komitmen bersama dan beberapa  negara keluar dari komitmen awal, namun kita konsisten untuk menjalankan ini dengan memperhatikan kemampuan kita dan tingkat ketersediaan energi dan keekonomian," ujar Bahlil. Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW) hingga 2034. Dari total ini, sekitar 76% kapasitas akan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi seperti baterai dan pumped storage. Pada lima tahun pertama akan dibangun pembangkit sebesar 27,9 GW berbasis gas, 12,2 GQ dari EBT,3 GW untuk sistem penyimpanan, dan 3,5 GW pembangkit batubara yang sudah dalam tahap penyelesaian konstruksi. (Yetede)

Saham Raja Memanas

27 May 2025
Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) kembali memanas +5,77% ke level Rp2.750 pada perdagangan Senin (26/5/2025), setelah satu pekan terakhir melesat 26,73%. Kalangan analis bahkan memprediksi, saham emiten penyedia energi terintegrasi dari hulu ke hilir milik pengusaha  Happy Hapso-suami Puan Maharani- ini berpotensi menembus Rp 3.000, yang ditopang fundamental kinerja dan rentetan aksi korporasi perseroan. Senior Market Chartist Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, peningkatan harga saham RAJA tidak lepas dari upaya manajeman untuk  menaikkan kinerja, baik dari sisi topline maupun bottom line. Pada kuartal 1-2025, Rukun Raharja  mencatatkan kinerja keuangan positif, denan pendapatan dan laba bersih meningkat masing-masing 8% dan 14% menjadi US$ 66 juta dan US$ 9,2 juta dibandingkan periode sama tahun lalu. RAJA, sambung Nafan, juga termasuk jajaran emiten yang berkomitmen  membagikan dividen. Di mana perseroan akan membagikan tahun buku 2024 sebesar Rp 60 per saham atau Rp 253 miliar pada 4 Juni mendatang. (Yetede)

Industri Hotel Terpuruk

27 May 2025
Industri hotel dan restoran di Jakarta tengah terpuruk. Sebanyak 96,7% hotel melaporkan penurunan tingkat hunian sepanjang kuartal 1-2025. Hal ini terungkap dari survei Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta. Bahkan ada hotel yang punya okupansi hanya 40%. Ketua Badan Pimpinan PHRI DKI Jakarta Sutrisno Iwantono  menerangkan, akibat kondisi tersebut, banyak pelaku usaha  yang terpaksa melakukan pengurangan  tenaga kerja, serta menerapkan berbagai strategi efisiensi operasional. "Industri di tengah menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi. Tingkat berat dari berbagai sisi. Tingkat hunian  hotel mengalami penurunan, sedangkan biaya operasional meningkatkan tajam dan membebani kelangsungan usaha," kata dia. BPD PHRI DKI Jakarta telah mengidentifikasi  faktor utama yang menyebabkan kondisi sektor perhotelan memburuk. Pertama,  penurunan tingkat tingkat hunian yang berimbas ke penurunan pendapatan. Sebanyak 66,7 responden menyebutkan penurunan tertinggi berasal dari segmen pasar pemerintahan, seiring dengan kebijakan pengetatan anggaran yang diterapkan oleh pemerintah. (Yetede)

Kementerian PU Dorong Kolaborasi Perkotaan Turunkan Emisi Karbon

27 May 2025
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendorong kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi sebagai  kunci dalam mewujudkan infrastruktur perkotaan yang adaptif, berkelanjutan, serta tangguh terhadap tantangan perubahan iklim dan bencana alam. Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti  mengatakan, dengan kolaborasi lintas sektor diharapkan tercipta keberlanjutan infrastruktur perkotaan yang inklusif. Ia menuturkan, bahwa pembangunan infrastruktur   perkotaan tidak cukup  dengan keandalan fisik, namun jua mampu beradaptasi. "Pembangunan infrastruktur perkotaan tidak cukup hanya kuat dan andal, tetapi juga harus mampu beradaptasi terhadap dinamika zaman, perubahan iklim, serta tantangan bencana. Semua itu harus dilakukan secara kolaboratif  dan inklusif dengan seluruh pemangku kepentingan dari berbagai sektor," kata Wamen Diana. Wamen Diana menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi karbon yang ditargetkan sebesar 31,89% dengan usaha sendiri dan 43,2% dengan bantuan internasional  pada tahun 2030. Untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, sektor konstruksi    dan bangunan yang menyumbang emisi sekitar CO2 global juga harus bertransformasi menunu pembangunan rendah karbon. (Yedete)                 

Musim Dividen, Investor Panen Cuan

27 May 2025

Sedikitnya 26 emiten dijadwalkan membayarkan dividen final pada pekan ini, yakni periode 26–30 Mei 2025, dengan beberapa perusahaan menyiapkan dana dividen dalam jumlah besar serta yield yang menarik bagi para investor. PT United Tractors Tbk. (UNTR), bagian dari Grup Astra, menjadi emiten dengan pembagian dividen final terbesar pekan ini, yaitu sebesar Rp5,38 triliun. Presiden Direktur UNTR mencatat bahwa dividen ini didukung oleh kinerja sektor alat berat dan pertambangan yang solid, dengan laba bersih tahun lalu mencapai Rp19,53 triliun. Dividen per saham UNTR sebesar Rp1.487 menghasilkan yield sekitar 6,84%.

PT Surya Citra Media Tbk. (SCMA) juga akan membagikan dividen final senilai Rp1,14 triliun atau Rp18 per saham, dengan yield mencapai 10,71% berdasarkan harga saham terakhir. SCMA mencatat kenaikan laba bersih hingga 77,7% dan membagikan dividen tambahan dari laba ditahan, yang menegaskan performa keuangan perusahaan yang kuat.

Selain itu, tiga emiten lain yang akan membagikan dividen final besar adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dengan total dividen Rp1,77 triliun, PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA) dengan Rp1,29 triliun, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang menyiapkan dana dividen final sebesar Rp1,05 triliun, dengan pembayaran dijadwalkan pada 19 Juni 2025.

Momentum pembagian dividen yang menarik ini diharapkan menjadi stimulus positif bagi pasar saham dan mencerminkan bahwa kinerja emiten-emiten tersebut tetap dalam kondisi prima. Para investor pun memanfaatkan periode cum dividen yang padat untuk mengakumulasi saham dengan potensi imbal hasil yang menggiurkan.


Freeport Siapkan Pasar Dalam Negeri untuk Katoda Tembaga

27 May 2025

PT Freeport Indonesia membidik sejumlah industri dalam negeri sebagai pasar utama untuk menyerap katoda tembaga dari smelter barunya di Gresik, Jawa Timur, yang ditargetkan beroperasi penuh dengan kapasitas 600.000 ton pada akhir tahun ini. Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa perusahaan telah memetakan berbagai industri yang memerlukan katoda tembaga, termasuk Hailiang Group yang membangun pabrik foil tembaga di sekitar smelter dan diperkirakan membutuhkan 100.000 ton katoda tembaga per tahun. Selain itu, terdapat minat dari perusahaan China dan lokal yang akan memproduksi copper rod, serta kebutuhan dari PT Pindad untuk selongsong peluru yang selama ini masih bergantung pada impor.

Tony juga menyoroti peluang besar dari proyek pembangunan jalur transmisi PT PLN sepanjang 40.000 kilometer sirkuit yang membutuhkan pasokan tembaga. Dengan beroperasinya smelter Freeport secara penuh, produksi katoda tembaga nasional diperkirakan mencapai 800.000 ton per tahun, belum termasuk pasokan dari smelter Amman Mineral.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) akan dibangun dua pabrik turunan tembaga dengan investasi sekitar Rp6-7 triliun. Pabrik-pabrik ini akan mengolah katoda tembaga menjadi copper foil dan kabel, sehingga mendukung optimalisasi penghiliran industri tembaga nasional di kawasan tersebut.

Langkah ini menunjukkan upaya strategis PT Freeport Indonesia dan pemerintah dalam mengembangkan industri pengolahan tembaga dalam negeri untuk memperkuat rantai nilai dan ketahanan industri nasional.



Emiten Konglomerat Pegang Porsi Terbesar di BEI

27 May 2025
Konglomerat Prajogo Pangestu mencatat tonggak bersejarah di pasar modal Indonesia, setelah dua emiten miliknya—PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)—masuk ke jajaran tiga besar kapitalisasi pasar (market cap) tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 26 Mei 2025. BREN menempati posisi kedua dengan nilai Rp 873 triliun, disusul TPIA di posisi ketiga dengan Rp 843 triliun.

Meskipun market cap BREN sempat menjadi yang tertinggi pada akhir 2024, posisinya kini kembali di bawah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang tetap bertahan sebagai pemuncak dengan kapitalisasi Rp 1.175 triliun. Koreksi harga saham menjadi faktor utama penurunan nilai BREN.

Sebaliknya, TPIA menunjukkan performa impresif berkat sejumlah sentimen positif. Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, penguatan TPIA dipicu oleh akuisisi kilang Shell di Singapura melalui kerja sama dengan Glencore, serta proyek CAP2 senilai US$5 miliar yang meningkatkan prospek pertumbuhan jangka panjang. Tambahan sentimen positif datang dari rencana IPO anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi.

Sementara itu, saham milik konglomerat lain seperti Sugianto Kusuma (Aguan) melalui PT Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) tergeser dari 10 besar market cap BEI, digantikan oleh PT DCI Indonesia (DCII). Saham emiten pelat merah seperti BBRI pun masih tertinggal, berada di posisi lima besar dengan market cap Rp 648 triliun.

Menurut analis Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisory, ada peluang saham dari Grup Salim (DNET) dan Sinarmas (SMMA) menyusul ke 10 besar. Ia juga menyebut saham CUAN dan PANI sebagai kandidat realistis, sementara saham AMMN berpotensi keluar dari 10 besar jika tidak ada katalis baru.

Dengan pencapaian ini, Prajogo Pangestu semakin memperkuat pengaruhnya di pasar modal Indonesia, menandai kebangkitan Grup Barito sebagai pemain utama dalam sektor energi terbarukan dan petrokimia regional.

Insentif Dinanti untuk Dorong Daya Beli

27 May 2025
Pemerintah Indonesia akan menggulirkan enam insentif fiskal mulai bulan depan, seperti diskon tarif tol dan listrik, bantuan sosial (bansos), subsidi upah (BSU), dan potongan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Tujuannya adalah untuk mendorong daya beli masyarakat serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Myrdal Gunarto, Global Markets Economist dari Maybank Indonesia, kebijakan ini berpotensi menimbulkan deflasi teknis pada Juni dan Juli 2025, meski dalam skala lebih kecil dibanding periode Januari–Februari lalu. Ia memperkirakan deflasi Juni hanya sekitar 0,08% dan Juli 0,02%, karena harga komoditas saat ini lebih stabil.

Senada, Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menyatakan bahwa diskon tarif listrik 50% dapat menciptakan disinflasi, yakni perlambatan laju inflasi, dengan pengaruh hingga 0,3 poin persentase terhadap inflasi tahunan. Namun, ia mengingatkan bahwa deflasi yang disebabkan oleh permintaan lemah adalah sinyal negatif bagi ekonomi dan harus diwaspadai.

Sementara itu, M. Rizal Taufikurahman dari INDEF menegaskan bahwa insentif ini cenderung mendorong disinflasi, bukan deflasi murni. Ia menilai deflasi yang terjadi karena penurunan konsumsi justru mencerminkan pelemahan daya beli, bukan keberhasilan kebijakan.

Para ekonom sepakat bahwa meski insentif pemerintah bisa memberi efek positif dalam jangka pendek, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi tetap memerlukan perbaikan struktural dan penguatan permintaan domestik. Stimulus harus diimbangi dengan strategi jangka panjang agar tidak menciptakan ilusi stabilitas ekonomi.

BBRI Konsisten Pulih di Tengah Tantangan

27 May 2025
Meskipun PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I-2025, prospek jangka panjang emiten perbankan pelat merah ini tetap dinilai solid dan menjanjikan. Tiga analis dari sekuritas besar—Miftahul Khaer (Kiwoom Sekuritas), Satria Sambijantoro (Bahana Sekuritas), dan Nurwachidah (Phintraco Sekuritas)—sepakat bahwa strategi konservatif BBRI dalam pembentukan cadangan kerugian kredit dan fokus pada kualitas aset merupakan langkah positif yang menopang ketahanan fundamental bank.

Miftahul memperkirakan BBRI mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih 5–8% yoy pada akhir 2025, ditopang oleh pemulihan segmen mikro dan kontribusi holding ultra mikro (UMi). Satria menilai tekanan laba kuartal I masih sesuai ekspektasi pasar dan memproyeksikan penurunan biaya pencadangan (CoC) ke depan. Ia juga menyoroti pergeseran strategi BBRI yang kini lebih mengedepankan margin dan kualitas kredit alih-alih ekspansi agresif.

Dari sisi makro, Nurwachidah menilai penurunan BI rate sejak akhir 2024 telah membantu optimalisasi margin bunga bersih (NIM), serta memperkuat harga saham BBRI. Ia memperkirakan laba bersih BBRI akan mencapai Rp 62,3 triliun pada akhir 2025, dengan potensi pertumbuhan 3,6% yoy, dan memberi rekomendasi beli dengan target harga Rp 5.325 per saham.

Rasio NPL Jadi Ancaman Bank-Bank Kecil

27 May 2025
Meskipun secara nasional rasio kredit bermasalah (NPL) industri perbankan Indonesia masih tergolong rendah — yakni 2,17% per Maret 2025 menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) — terdapat sejumlah bank yang mencatat NPL gross tinggi, bahkan melampaui ambang batas sehat 5%. Kondisi ini menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap kualitas aset perbankan, terutama di tengah pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

Contohnya, Bank Amar Indonesia mencatatkan NPL gross sebesar 10,89%, tertinggi di industri. Namun, menurut David Wirawan, SVP Finance Bank Amar, rasio tersebut disebabkan oleh fokus penyaluran kredit ke segmen UMKM, yang memang memiliki risiko tinggi. Ia menegaskan bahwa dengan cadangan kerugian (provisi) yang memadai, NPL net Bank Amar tetap rendah di 1,48%, yang dianggap aman.

Bank KB Bukopin, Bank Banten, dan Bank of India Indonesia juga mencatat NPL gross di atas 7%, namun masing-masing mengklaim telah melakukan pencadangan risiko yang memadai. Bambang Widayatmoko, Direktur Bisnis Bank Banten, menyebutkan bahwa kredit bermasalah utamanya berasal dari segmen komersial, khususnya konstruksi dan pengadaan, dan pihaknya telah menempuh penyelesaian baik litigasi maupun non-litigasi.

Sementara itu, Trioksa Siahaan, Senior VP dari LPPI, menilai bahwa tingginya NPL di beberapa bank masih merupakan warisan dampak pandemi, ditambah dengan belum optimalnya penghapusan atau pencadangan kredit bermasalah, serta berakhirnya program restrukturisasi kredit. Ia menekankan pentingnya bank untuk fokus terlebih dahulu pada penurunan NPL dan penguatan likuiditas, sebelum melakukan ekspansi kredit besar-besaran.

Industri perbankan Indonesia secara umum masih stabil, tingginya NPL di beberapa bank memerlukan pengawasan dan strategi mitigasi yang kuat. Tokoh-tokoh seperti David Wirawan, Bambang Widayatmoko, dan Trioksa Siahaan menegaskan pentingnya pencadangan risiko yang proporsional, selektivitas dalam penyaluran kredit, serta pengelolaan portofolio yang hati-hati demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan kredit.