;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Biaya Platform Naik Akibat Perubahan Status

21 Feb 2025

Sikap Kemenaker yang mengakui pengemudi transportasi daring sebagai pekerja atau karyawan tetap, bukan lagi sebagai mitra, mendapat tentangan dari perusahaan aplikasi on demand services. Mereka menganggap sikap pemerintah yang akan diikuti pembuatan peraturan sebagai dasar hukum itu berpotensi menyebabkan perusahaan platform gulung tikar. Alasannya, biaya operasional akan naik dan permintaan turun. Aplikasi on demand service merupakan aplikasi yang menyediakan layanan berdasarkan permintaan konsumen. Layanan ini dapat berupa penyediaan barang,jasa, atau produk digital.

Contoh aplikasi ini yaitu transportasi daring, pemesanan makanan, pengiriman paket, serta jasa belanja dan kebersihan. Direktur Eksekutif Asosiasi Mobilitas dan Pengantaran Digital Indonesia Agung Yudha dalam keterangan tertulis, Kamis (20/2), di Jakarta, mengatakan, industri aplikasi on demand services memberi akses bagi individu untuk memperoleh penghasilan alternatif dengan fleksibilitas tinggi. Pola hubungan kemitraan memberikan kebebasan kepada pengemudi untuk bekerja, termasuk menentukan jam kerja. Di beberapa negara yang telah menetapkan regulasi yang mengharuskan perubahan status mitra menjadi karyawan tetap malah menimbulkan efek negatif, baik kepada perusahaan platform maupun usaha turunannya.

Sebagai contoh, Inggris mengubah status mitra Uber menjadi pekerja serta memberi hak cuti dan upah minimum, yang berdampak pada pengurangan jumlah pengemudi hingga 85.000 orang. Contoh lain di Singapura yang telah menerapkan Undang-Undang Pekerja Platform mengharuskan kontribusi skema tabungan wajib bagi pengemudi transportasi daring dan pengantar makanan. Hal ini menyebabkan kenaikan biaya operasional dan menurunkan daya tarik kerja fleksibel sehingga sejumlah pengemudi transportasi daring beralih ke sektor informal lainnya. Kebijakan yang mewajibkan pengemudi berubah status dari mitra sebagai pekerja/karyawan tetap menyebabkan kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga layanan yang lebih tinggi. Agung meyakini situasi itu bakal membuat perusahaan platform kesulitan finansial dan harus menutup layanan. (Yoga)


Maybank Islamic, Bank Syariah Terbesar Keempat, Sasar Indonesia

21 Feb 2025

Berbekal aset senilai hingga 91 miliar USD atau Rp 1.486 triliun, Maybank Islamic kini menjadi bank syariah terbesar keempat di dunia. Bank asal Malaysia ini menargetkan memperluas pasarnya, termasuk ke Indonesia yang memiliki pasar ratusan juta warga Muslim. ”Secara global, kami berada di peringkat keempat bank syariah terbesar. (Peringkat) ini naik,” ucap Dato’ Muzaffar Hisham, Group Chief Executive Officer Maybank Islamic, kepada harian Kompas (Kompas.id) dan dua jurnalis Indonesia lainnya, Kamis (20/2), di Malaysia. Pada awal 2024, Maybank Islamic menduduki peringkat kelima bank syariah terbesar di dunia dengan nilai aset 73 miliar USD (Rp 1.189,9 triliun). Anak usaha Maybank Group ini bahkan menjadi salah satu bank syariah terbesar Asia menurut Global Finance. Sampai 30 September 2024, posisi Maybank Islamic naik ke peringkat keempat dengan nilai asset 91 miliar USD atau Rp 1.486 triliun.

”Tiga bank syariah terbesar lainnya ada di Timur Tengah. Mereka sudah lebih dulu punya ekonomi yang lebih besar,” ujar Muzaffar. Menurut dia, sebagai salah satu institusi keuangan syariah terbesar di dunia, Maybank Islamic selalu mengedepankan prinsip ekonomi syariah, seperti larangan riba atau bunga lantaran dianggap bersifat eksploitatif serta menawarkan prinsip bagi hasil. Konsep ini dapat mendorong kemitraan secara berkeadilan dan bertanggung jawab. Ekonomi syariah juga memperkenalkan produk berupa zakat, infak, sedekah, serta wakaf, yang memiliki fungsi strategis dalam redistribusi kekayaan. Prinsip ini dapat mengurangi kesenjangan sosial. Meski mengusung syariah, pelanggan Maybank Islamic tidak hanya berasal dari warga Muslim. Bahkan, etnis lainnya, seperti China, juga menjadi nasabah bank. ”Ini karena produk dan layanan kami yang sesuai dengan kebutuhan nasabah,” ungkapnya. (Yoga)


Investor Beralih ke ORI di Tengah Gejolak Pasar

21 Feb 2025

Obligasi Negara Ritel (ORI) saat ini menjadi pilihan utama bagi investor di tengah pasar modal yang meredup. Penjualan ORI27 tercatat mencapai Rp37,36 triliun, mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi terhadap ORI sebagai instrumen investasi. Tiga faktor utama yang mendorong tingginya permintaan ORI027 adalah bunga yang relatif lebih tinggi, prospek pelonggaran kebijakan moneter yang menurunkan suku bunga, serta ketidakpastian ekonomi global yang membuat obligasi negara menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan saham.

Di sisi lain, dengan pasar modal yang mengalami penurunan dan ketidakpastian ekonomi, banyak investor yang beralih ke obligasi negara sebagai aset yang lebih stabil. Sentimen ini diperkuat oleh komunikasi kebijakan pemerintah yang kurang jelas, yang menyebabkan kebingungannya masyarakat dan membuat investor mencari investasi yang lebih aman. Selain itu, diversifikasi portofolio juga disarankan untuk memitigasi risiko pasar yang tidak pasti, dengan mengalokasikan porsi yang lebih besar pada instrumen aman seperti obligasi negara dan sukuk tabungan.

Pemerintah Indonesia juga memiliki rencana untuk menerbitkan tujuh seri obligasi ritel lainnya tahun ini, yang memberikan peluang besar bagi investor untuk berinvestasi dalam SBN ritel. Deni Ridwan, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, mengungkapkan bahwa tingginya book order ORI027 juga didorong oleh investor yang melakukan reinvestasi atas SBN ritel yang jatuh tempo, menambah optimisme terhadap prospek pasar obligasi negara.


Bitcoin di Bawah Tekanan, Kabar Tak Sedap Menghantui

21 Feb 2025

Harga aset kripto, seperti Bitcoin, tertekan seiring dengan kebijakan tarif dagang yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Dalam sebulan terakhir, Bitcoin mengalami penurunan sebesar 4,95%, sementara Ethereum dan XRP juga mengalami penurunan signifikan. Meskipun harga Bitcoin sempat melonjak ke level US$100.000 pada awal tahun ini, harga tersebut kemudian turun kembali ke sekitar US$90.000, yang dipengaruhi oleh kebijakan perang dagang Trump dan faktor ekonomi global lainnya.

Menurut Fyqieh Fachrur, trader Tokocrypto, pasar kripto masih dalam tekanan, terutama setelah Bitcoin gagal mempertahankan level US$95.000. Selain itu, kebijakan inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dan sikap hawkish dari The Fed turut mempengaruhi sentimen pasar. Aliran keluar dari ETF Bitcoin Spot juga meningkat, menandakan adanya aksi profit-taking dan pengurangan eksposur terhadap aset berisiko.

Meskipun pasar kripto sempat optimis setelah kemenangan Trump, dengan harapan kebijakan ekonomi yang lebih longgar dan regulasi kripto yang ramah, sentimen tersebut kini berbalik negatif. Meskipun demikian, selama Bitcoin tetap bertahan di atas US$95.000, tren bullish jangka panjang masih bisa terjaga. Namun, jika harga Bitcoin turun lebih rendah, menembus level support di US$94.000, maka harga bisa tergerus lebih dalam hingga mencapai level US$90.000.


APLN Catatkan Pendapatan Rp1,9 Triliun

21 Feb 2025

PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) mencatatkan pendapatan prapenjualan atau marketing sales sebesar Rp1,9 triliun pada 2024, mengalami lonjakan 60% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp1,2 triliun. Bacelius Ruru, Direktur Utama APLN, mengungkapkan bahwa peningkatan ini didorong oleh penjualan aset strategis dan pembangunan proyek baru, seperti penjualan saham Central Park Mall, Neo Soho, dan tanah di Karawang. Langkah divestasi tersebut dianggap sebagai strategi untuk memperkuat fundamental perusahaan, bukan akibat kesulitan finansial.

Selama periode 2017–2024, APLN telah menjual tujuh aset besar, termasuk mal, hotel, dan tanah, dengan total nilai sekitar Rp14 triliun. Hasil penjualan sebagian besar digunakan untuk membiayai proyek baru dan melunasi utang. Bacelius Ruru menegaskan bahwa meskipun aset dijual, strategi ini tidak berdampak signifikan pada penurunan nilai aset APLN, melainkan bertujuan menciptakan nilai lebih dengan mengalihkan dana untuk proyek-proyek baru seperti Podomoro Park di Bandung dan Parkland Podomoro di Karawang.


Ratusan Triliun Mengalir, Perbankan Kebanjiran Likuiditas

21 Feb 2025
Bank Indonesia (BI) memberikan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) hingga Rp 341 triliun pada 2025, termasuk tambahan insentif bagi sektor perumahan dari Rp 23,19 triliun menjadi Rp 80 triliun. Insentif ini bertujuan mendorong pertumbuhan kredit dan penciptaan lapangan kerja. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan ini akan terus dikaji untuk mendukung sektor prioritas seperti pertanian, manufaktur, dan sektor hijau.

Efek dari kebijakan ini sudah terlihat, dengan penurunan giro bank di BI sebesar 15,79% secara tahunan hingga November 2024. Perry optimistis kebijakan ini akan menjaga pertumbuhan kredit, yang sudah mencapai 10,27% YoY pada Januari 2025.

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyambut baik kebijakan ini, mengingat BTN menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2024, yang menyebabkan pendapatan bunga bersih turun 14,1% menjadi Rp 11,73 triliun. Ia yakin tambahan insentif akan memperbaiki kondisi BTN dan menargetkan pertumbuhan laba 10%-15% pada 2025.

Sementara itu, Direktur BCA, Haryanto T. Budiman, lebih berhati-hati dalam merespons insentif ini. Ia menyebut banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhan kredit, sehingga BCA hanya menargetkan pertumbuhan kredit 6%-8% pada 2025.

Namun, SVP LPPI, Trioksa Siahaan, mengingatkan bahwa potongan Giro Wajib Minimum (GWM) ini hanya berdampak jangka pendek. Bank tetap perlu menjaga likuiditas jangka panjang, terutama melalui penempatan dana di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Utang Pemerintah Naik, Waspada Risiko Fiskal

21 Feb 2025
Rasio utang pemerintah Indonesia kembali meningkat pada 2024 mencapai 39,36% dari PDB, mendekati level awal pandemi Covid-19 pada 2020. Staf Ahli Menteri Keuangan Parjiono menegaskan pentingnya pengelolaan utang yang hati-hati dan prudent untuk menjaga stabilitas fiskal.

Meskipun masih di bawah batas aman 60% dari PDB menurut UU No. 17 Tahun 2023, terdapat kekhawatiran terkait menurunnya rasio pendapatan negara terhadap PDB menjadi 12,84%. Ahmad Nawardi, Ketua Komite IV DPD RI, menyatakan bahwa penerimaan negara sebesar Rp 3.005,1 triliun di APBN 2025 sulit tercapai karena beberapa kebijakan, seperti pengelolaan dividen BUMN oleh Danantara, gagalnya implementasi Coretax DJP, dan batalnya kenaikan PPN 12%.

Di sisi lain, belanja negara tetap tinggi di Rp 3.621,3 triliun, sehingga defisit anggaran berisiko melebar dari target Rp 616,2 triliun (2,53% PDB). Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan rasio utang Indonesia akan terus berada di kisaran 40% dari PDB hingga 2028.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memprediksi pertumbuhan ekonomi 2025 bisa turun di bawah 5%, lebih rendah dari target 5,2% di APBN. Jika defisit semakin lebar, rasio utang terhadap PDB dapat mencapai 40%, melebihi target APBN sebesar 38,7%.

Ia menyarankan agar Pemerintahan Prabowo Subianto meninjau ulang kebijakan fiskalnya, seperti memoderasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), memangkas setoran dividen ke Danantara, merancang efisiensi APBN yang lebih realistis, serta menunda megaproyek IKN untuk mengurangi tekanan fiskal.

AS Tagih Ukraina Setelah Bantuan Perang

21 Feb 2025
Donald Trump tengah menegosiasikan kesepakatan mineral dengan Ukraina, meminta 50% dari sumber daya penting seperti grafit, uranium, titanium, dan litium sebagai imbalan atas dukungan militer AS. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menolak proposal ini, menganggapnya terlalu berpihak pada kepentingan AS dan tanpa jaminan keamanan bagi Ukraina.

Trump mengutus Keith Kellogg untuk membahas perjanjian ini lebih lanjut, dan Zelenskiy dijadwalkan bertemu dengannya pada Kamis (20/2). Trump menegaskan bahwa AS berhak atas bagian mineral Ukraina karena telah memberikan bantuan militer bernilai puluhan miliar dolar selama tiga tahun terakhir. Ia bahkan mendesak Kyiv untuk memberikan konsesi mineral senilai US$ 500 miliar sebagai pengakuan atas dukungan Washington.

Zelenskiy tetap berhati-hati dalam menanggapi tekanan ini, menegaskan bahwa ia "tidak bisa menjual negara." Sumber lain menyebutkan bahwa Ukraina terbuka untuk kesepakatan, tetapi tidak ingin terlihat berada di bawah kendali AS.

Bisnis Tertekan Akibat Persaingan dan Kelesuan Ekonomi

21 Feb 2025
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menghadapi tantangan berat akibat pemangkasan anggaran infrastruktur dan persaingan ketat di industri semen. Pemotongan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan proyek IKN Nusantara turut menekan permintaan semen curah, yang berimbas pada prospek bisnis SMGR.

Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, akuisisi Semen Baturaja oleh SMGR belum berdampak signifikan dalam meningkatkan pangsa pasar, berbeda dengan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang memperkuat posisi dengan akuisisi Semen Singa Merah dan Grobogan. Ia menyarankan wait and see terhadap saham SMGR dengan target harga Rp 2.870 per saham.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Richard Jerry, memperkirakan pertumbuhan volume penjualan semen nasional sebesar 2,3% yoy pada 2025, dengan semen curah naik 8%, sementara semen kantong turun tipis -0,3%. Namun, daya beli yang masih lemah dan program pemerintah yang belum berjalan maksimal membuat tren penjualan semen dalam negeri masih stagnan.

Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menyoroti penurunan pangsa pasar SMGR meskipun telah mengakuisisi Semen Baturaja (SMBR) pada 2023. Akuisisi hanya menambah 2%-2,5% pangsa pasar, yang tetap lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi. Menurutnya, jaringan pabrik yang luas malah menjadi beban saat permintaan lesu, karena biaya pemeliharaan meningkat.

Ketiga analis ini memiliki pandangan hati-hati terhadap prospek SMGR, dengan rekomendasi hold dan wait and see atas sahamnya.

Perbankan Siapkan Jurus Atasi Kredit Macet

21 Feb 2025
Sejumlah bank masih menghadapi tantangan dalam menangani kredit macet masa lalu, terutama di sektor konstruksi. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) menjadi contoh bank yang aktif melakukan pembersihan aset bermasalah.

Direktur Assets Management BTN, Elisabeth Novie Riswanti, mengungkapkan bahwa BTN masih memiliki NPL sekitar Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun, meskipun terjadi penurunan rasio NPL sektor konstruksi dari 23,8% di 2023 menjadi 16% pada Desember 2024. BTN telah melakukan bulk sales senilai lebih dari Rp 1,3 triliun pada kuartal IV-2024, meningkat 50% dari 2023. Selain itu, metode lelang juga digunakan untuk mengurangi kredit macet.

Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Raya, Rustati Suri Pertiwi, menjelaskan bahwa rasio NPL gross Bank Raya telah menurun dari 4,75% di 2023 menjadi 3,64% pada September 2024. Bank Raya berhasil mencatatkan pendapatan recovery sebesar Rp 349 miliar, naik 91% secara tahunan. Strategi yang diterapkan mencakup negosiasi dengan nasabah, lelang melalui KPKNL, dan kerja sama dengan pihak ketiga.

Baik BTN maupun Bank Raya berkomitmen untuk terus melakukan pembersihan aset bermasalah, meskipun diakui bahwa proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat.