Lingkungan Hidup
( 5816 )Permintaan Minyak Bumi Tinggi, Energi Hijau Ditumbuhkan
Permintaan minyak bumi yang diproyeksi masih tinggi dalam 10 tahun ke depan membuat PT Pertamina Hulu Energi terus memperkuat sektor tersebut. Namun, lini energi baru dan terbarukan juga dikembangkan untuk mengantisipasi perkembangan tren konsumsi energi dunia. Hal itu diungkap Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Rachmat Hidajat saat menjadi pembicara dalam acara Pertamina Goes to Campus, yang dihadiri 800 mahasiswa di Kampus UGM, Yogyakarta, Kamis (5/9). Rachmat menyampaikan, setidaknya dalam 10 tahun ke depan minyak bumi masih memegang peranan penting dalam sektor energi dunia. ”Konsumsi minyak dunia saat ini masih di atas 100 juta barel per hari. Itu angka yang luar biasa,” katanya.
Terkait harga, Rachmat menyebut, banyak ketidakpastian yang memengaruhinya sehingga berpotensi naik dan turun. Namun, proyeksi terbaiknya, harga akan tetap seperti sekarang di level 80 USD per barel. PHE sebagai produsen minyak dan gas bumi nasional berupaya terus meningkatkan kinerja produksi dan investasi. Hal ini juga bagian dari upaya memperkuat ke tahanan energi nasional. Meski masih berfokus di migas, lanjutnya, pihaknya juga membangun lini energi baru dan terbarukan (EBT) atau energi hijau, salah satunya bioethanol, untuk mengantisipasi perkembangan konsumsi energi masyarakat. ”Pertamina melakukan pertumbuhan ganda, yakni memaksimalkan bisnis yang ada dan membangun sektor rendah karbon,” katanya. (Yoga)
Harga Garam Anjlok Karena Produksi Meningkat Saat Panen
Sentra garam di Kabupaten Cirebon, Jabar, memasuki panen raya. Meski produksi garam meningkat, harga komoditas itu di tingkat petani justru terus anjlok hingga Rp 450 per kg. Penurunan harga diprediksi masih akan terjadi seiring masa panen. Panen raya garam, antara lain, di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kamis (5/9). Petani memanen garam langsung dari tambaknya. Tumpukan karung garam tersebut lalu dijual ke bakul. Dede Tafsir (25), petani garam, mengatakan, produksi garam terus meningkat karena panen raya. ”Setiap hari, saya bisa panen 8 kuintal garam. Waktu awal panen bulan lalu, paling dapat dua karung (1,2 kuintal),” ujar Dede yang mengolah seperempat hektar tambak garam.
Bahkan, produksi garam semakin meningkat jika cuaca terik. Dede bisa memanen sampai 1 ton garam setiap hari dari delapan petak tambak. Setiap petak tambak berukuran 24 x 3,7 meter. Garam berwarna putih yang dikemas dalam karung biru itu pun masih menumpuk di tambak. ”Cuma, yang disayangkan, harganya lagi turun. Sekarang, Rp 450 per kg,” ucap Dede. Padahal, ketika masa awal panen Juli dan Agustus, harga garam di tingkat petani Rp 800 per kg. Bahkan, pada periode yang sama tahun lalu, harga garam di atas Rp 1.000 per kg. ”Dengan harga garam Rp 450 per kg, petani jelas rugi. Apalagi, sudah banyak modal keluar, seperti beli plastik. Itu enggak murah,” tuturnya.
Dede, membeli plastik Rp 6,8 juta untuk alas tambak garam, agar garam tidak bercampur tanah. Ia juga membeli kincir Rp 900.000, alat untuk meratakan lahan seharga Rp 500.000, hingga ongkos kerja Rp 3 juta. Jika dihitung modal penyiapan lahan, Dede menghabiskan Rp 12 juta. Itu pun ia tak menghitung upah kerjanya. Dengan harga garam Rp 450 per kg, ia khawatir hasil panennya tidak bisa menutup modalnya. Jika produksi garam mencapai 20 ton dan harga jualnya Rp 450 per kg, ia hanya mendapatkan Rp 9 juta atau di bawah modal penyiapan lahan garam. Artinya, usaha garam Dede merugi. ”Makanya, (hasil panen garam) mau disimpan dulu. Nanti, dijualnya pas musim hujan. Harganya pasti naik,” ucapnya. (Yoga)
Tergusurnya Sawah Produktif demi PIK 2
Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia Sudah di Ambang Pintu
Stok Gabah yang Terakhir
Arsimah, seorang petani, terlihat sedang menjemur gabah di Desa Sukabudi, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada Hari Rabu (4/9/2024). Gabah kering panen ini adalah stok terakhir yang dijual seharga Rp 7.500 per kilogram. Sudah 3 bulan persawahan di kawasan tersebut mengalami kekeringan. Sehingga hasil panen tidak maksimal, padahal harga gabah kering panen sedang bagus. (Yoga)
Ketika Tanah 0,75 Meter Persegi Terkena Pembebasan Jalan Tol di DIY
Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo di DI Yogyakarta terus bergulir. Dari puluhan bidang tanah, terdapat satu bidang lahan yang dibebaskan dengan luasan hanya 0,75 meter persegi. Hal itu terungkap saat pembayaran ganti rugi lahan untuk proyek Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo seksi II dilaksanakan di Kantor Desa Sendangadi, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (3/9). Hari itu, sebanyak 52 bidang tanah menerima pembayaran ganti rugi senilai total Rp 88 miliar. Salah satu bidang tanah yang dibayarkan ganti ruginya adalah tanah warisan orangtua Heru (50) di Dusun Ngemplak, Desa Sendangadi.
Tak seperti pemilik lahan lain yang dibayar ratusan juta rupiah hingga miliaran rupiah, keluarga Heru harus puas dengan nilai ganti rugi terendah, yakni Rp 5,4 juta. Luas lahan yang dibebaskan hanya 0,75 meter persegi. ”Waktu tahu yang kena pembebasan seluas itu, saya juga tertawa. Tidak sampai 1 meter persegi,” ujar Heru di rumahnya di Jombor, Sleman. Secuil tanah yang kena pembebasan proyek tol itu masih berstatus milik orangtuanya yang diwariskan kepada delapan anak, termasuk Heru sebagai anak keenam, dengan total luas tanah 640 meter persegi. ”Waktu mengurus pengukuran tanah untuk pembagian warisan, diblokir BPN karena akan dibebaskan untuk pembangunan tol. Jadi, tanah tidak bisa dibagi dulu,” ujarnya.
Saat mengetahui luasan yang kena pembebasan hanya 0,75 meter persegi, pihak keluarga berniat mengikhlaskan tanah tersebut agar pembagian tanah warisan bisa dilanjutkan. Meskipun begitu, hal itu tak dimungkinkan sehingga pihak keluarga, yang diwakili kakak tertua Heru, mengikuti prosedur ganti rugi tersebut. Tanah yang terkena proyek tol itu hanya terpotong sedikit di bagian pojok karena masuk dalam ruang udara tol layang (elevated) yang akan dibangun melintasi wilayah tersebut. Sebagian konstruksi Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo di wilayah DIY memang dibangun melayang. Nasib berbeda dialami Maryadi (74) yang menerima ganti rugi terbesar, yakni Rp 4,1 miliar dengan total lahan 565 meter persegi. ”Nilai ganti rugi memuaskan karena di atas harga pasaran di lokasi tersebut, alhamdulillah,” ujar Maryadi. (Yoga)
Program Hilirisasi Batu Bara Beroperasi pada 2030
Harga Komoditas Melonjak, Emiten CPO Semakin Bersinar
Prospek kinerja emiten perkebunan sawit semakin licin. Tren naiknya harga minyak sawit atau
crude palm oil (
CPO) di kuartal tiga tahun ini diproyeksi bakal jadi sentimen pendorong kinerja emiten CPO.
Berdasarkan data
Trading Economics, harga CPO pada penutupan Selasa (3/9) di posisi MYR 3.990 per ton. Jika dihitung dalam sebulan, harga CPO sudah mendaki 5,33%.
Contoh ASP PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).
Head of Investor Relation
Sampoerna Agro, Stefanus Darmagiri mengatakan, di semester pertama tahun ini, ASP SGRO mencapai Rp 12.300 per kilogram (kg). "ASP ini tumbuh 4% secara tahunan," kata Stefanus pada KONTAN, Senin (2/9).
Sekretaris Perusahaan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) Joni Tjeng mengatakan, enam bulan pertama tahun ini, ASP TAPG berada di kisaran Rp 12.500 per kg. "ASP ini diperkirakan masih tumbuh
single
digit, melihat sentimen positif dari belum membaiknya stok minyak nabati global," katanya.
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menimpalli, kenaikan harga CPO sudah terjadi sejak bulan Juli 2024 dan akan berlanjut pada September ini. Sentimen pendorongnya adalah peningkatan permintaan CPO di periode itu akibat keterbatasan suplai global.
Emiten Batubara Tetap Menggelora
Kinerja emiten batubara dibayangi sejumlah sentimen di pasar domestik dan global. Selain sentimen harga, kinerja emiten batubara ke depan juga akan bergantung pada permintaan komoditas emas hitam ini. Direktur Pasar Energi dan Keamanan IEA, Keisuke Sadamori menjelaskan, penerapan tenaga surya dan angin yang terus berlanjut, dikombinasikan dengan pemulihan tenaga air di Tiongkok, akan memberikan tekanan yang signifikan pada penggunaan batubara. Namun, di sisi lain, sektor kelistrikan jadi pendorong utama permintaan batubara global. "Konsumsi listrik masih kuat di beberapa negara ekonomi utama," ujarnya, dalam laporan yang dirilis belum lama ini. Pada 2024 dan 2025, pertumbuhan permintaan listrik diperkirakan naik 4%.
Kenaikan permintaan listrik, salah satunya didorong pengembangan pusat data.
Head of Investment
Nawasena Abhipraya Investama, Kiswoyo Adi Joe melihat, permintaan batubara berasal dari industri dan penggunaan teknologi, khususnya pengoperasian perangkat lunak
artificial inteligence
(AI). Konsumsi listrik menggunakan bahan bakar yang besar dari batubara. "Peningkatan permintaan batubara dari situ," ujarnya.
Di sepanjang Juli 2024, rata-rata harga batubara di bursa Newcastle naik 6% ke US$ 134 per ton. Secara historis, harga batubara cenderung naik pada September, karena menyambut musim dingin. "Harga batubara di kuartal tiga bisa di kisaran US$ 136-US$ 150 per ton," kata Rizkia Darmawan, Analis Mirae Asset Sekuritas.
Dengan cuaca yang diprediksi lebih cerah, produksi batubara pada kuartal III-2024 bisa naik 6% secara kuartalan menjadi 213 juta ton. "Kami memperkirakan produksi batubara di 2024 mencapai 820 juta ton," ujar Darmawan.
Pendaftaran Program Subsidi Tahap Pertama dan Kedua
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









