Menakar Ambisi Pusat Finansial Internasional RI: Antara Obral Pajak dan Kepastian Hukum
Pemerintah tengah
mengakselerasi pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII)
sebagai instrumen untuk menarik investasi global, memperdalam sektor keuangan,
dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional. Ambisi yang
dipasang tidak kecil. Pemerintah memperkirakan PFII berpotensi menarik
investasi hingga Rp300 triliun-Rp500 triliun sekaligus menjadi pintu masuk bagi
arus modal internasional yang selama ini lebih banyak mengalir ke pusat-pusat
keuangan global lainnya.
Untuk mencapai tujuan
tersebut, pemerintah menyiapkan berbagai insentif yang kompetitif, termasuk
usulan pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) hingga 0 persen selama 50 tahun,
fasilitas bagi tenaga ahli asing, serta berbagai kemudahan perpajakan dan
perizinan lainnya. Langkah ini dapat dipahami mengingat persaingan
antarjurisdiksi dalam menarik modal global semakin ketat.
Namun, pengalaman
berbagai pusat keuangan internasional menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah international financial center
tidak ditentukan oleh insentif pajak semata. Faktor yang lebih menentukan
justru adalah kepercayaan investor, kepastian hukum, kualitas regulasi, dan
kredibilitas pengawasan. Bahkan dalam berbagai diskusi dengan investor
internasional, kebutuhan akan sistem hukum yang lebih prediktabel disebut
sebagai salah satu prasyarat utama sebelum mempertimbangkan insentif fiskal
yang ditawarkan.
Selain itu, efektivitas
strategi berbasis insentif pajak juga menghadapi tantangan baru. Di tengah
penerapan Global Minimum Tax (GMT) sebesar 15 persen yang mulai diadopsi banyak
negara, ruang kompetisi melalui tarif pajak yang sangat rendah menjadi semakin
terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya tarik PFII pada akhirnya tidak
dapat hanya bergantung pada fasilitas fiskal, tetapi harus ditopang oleh
kualitas institusi yang mampu memberikan kepastian bagi investor jangka
panjang.
Risiko fiskal dan tata
kelola juga perlu mendapat perhatian. Sejumlah ekonom mengingatkan potensi
praktik capital round tripping,
yakni modal domestik yang keluar negeri lalu kembali sebagai investasi asing
untuk memperoleh fasilitas perpajakan. Jika tidak diantisipasi melalui
pengujian substansi ekonomi (substance
over form) yang memadai, PFII berisiko menjadi kanal arbitrase
pajak ketimbang pusat intermediasi keuangan yang produktif.
Tantangan lain terletak
pada desain kelembagaan. RUU PFII mengusulkan pembentukan regulator dan
pengadilan khusus guna meningkatkan kepastian hukum dan efisiensi layanan. Di
satu sisi, skema ini menjanjikan kemudahan bagi pelaku usaha. Namun di sisi
lain, muncul pertanyaan mengenai koordinasi dengan OJK, Bank Indonesia, PPATK,
serta mekanisme pengawasan terhadap konglomerasi keuangan yang beroperasi
lintas yurisdiksi. Celah koordinasi berpotensi menciptakan regulatory arbitrage yang
justru mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Perkembangan terbaru
mengenai kemungkinan keterlibatan Danantara menambah dimensi baru dalam
pembahasan PFII. Dukungan modal dari lembaga investasi negara berpotensi
mempercepat pembangunan ekosistem awal PFII. Namun, langkah tersebut juga
menuntut tata kelola yang kuat agar risiko reputasi, risiko investasi, dan
manfaat ekonomi yang diharapkan dapat dikelola secara transparan dan akuntabel.
Karena itu, PFII
seharusnya tidak diposisikan sekadar sebagai kawasan berinsentif pajak rendah.
Keunggulan Indonesia justru berada pada kebutuhan pembiayaan sektor-sektor
strategis yang sulit ditiru negara lain, mulai dari hilirisasi sumber daya
alam, transisi energi, pembangunan infrastruktur, hingga ekonomi karbon yang
didukung pasar domestik yang besar. PFII akan memiliki nilai strategis apabila
mampu menghubungkan modal global dengan kebutuhan pembiayaan sektor-sektor
tersebut.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023