Perbankan
( 2326 )Konsisten Jaga Transparansi, Bank Mandiri Raih Juara 1 Perusahaan Go Publik Keuangan Annual Report Award (ARA) 2022
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. kembali berhasil meraih gelar Juara 1 di ajang penganugerahan Annual Report Award (ARA) 2022 dalam kategori Go Publik Keuangan. Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, penghargaan ini menjadi wujud dari konsistensi dan komitmen perseroan untuk mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam memaksimalkan nilai perusahaan. “Penghargaan ini kami harap dapat semakin meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap Bank Mandiri, dengan mengedepankan budaya tata kelola yang terbuka dan transparan,” terang Rudi dalam keterangan resminya, Senin (27/11).Annual Report Award adalah penghargaan atas keterbukaan perusahaan pemerintah dan swasta, publik (Listed) dan Non Publik (Non Listed) yang ditunjukkan dalam Laporan Tahunan (Annual Report) perusahaan yang diselenggarakan Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) untuk meningkatkan kualitas informasi dan governance. ARA juga menjadi salah satu penghargaan prestisius yang menekankan pada kualitas Penerapan Good Corporate Governance (GCG).
Terlebih lagi, kinerja keuangan Bank Mandiri terus mencatatkan perbaikan yang selaras dengan kondisi perekonomian Indonesia yang masih solid serta diikuti dengan transformasi bisnis yang menyeluruh. Tercatat, pada akhir September 2023 Bank Mandiri berhasil menorehkan rekor sebagai bank pertama di Indonesia dengan total aset konsolidasi yang menembus Rp 2.007 triliun per September 2023 atau tumbuh 9,11% bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (YoY).
Pertumbuhan tersebut pun beriringan dengan protabilitas Bank Mandiri yang semakin membaik. Tercermin dari laba bersih Bank Mandiri secara konsolidasi melesat 27,4% YoY menjadi Rp 39,1 triliun hingga September 2023. Kenaikan laba tersebut merupakan hasil dari strategi Bank Mandiri yang berfokus pada ekosistem baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan.
Insentif Kartu Kredit Kembali Diperpanjang
Bank Indonesia (BI) kembali memperpanjang relaksasi kartu kredit hingga pertengahan tahun 2024. Ini sejalan dengan bisnis kartu kredit yang memang masih terlihat lesu.
BI mencatat, pada Oktober 2023, nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit mencapai Rp 664,87 triliun atau turun sebesar 3,53% secara tahunan atau year on year (yoy).
Adapun, perpanjangan relaksasi meliputi batas minimum pembayaran pemegang kartu kredit sebesar 5% dari total tagihan dan kebijakan nilai denda keterlambatan sebesar maksimum 1% dari total tagihan serta tidak melebihi Rp 100.000.
GM Divisi Bisnis Kartu BNI Grace Situmeang bilang relaksasi tersebut cukup berdampak pada peningkatan nilai maupun volume transaksi hingga sepuluh bulan pertama tahun ini di kisaran 20% secara tahunan. Hanya saja, ia tak mau menyebut nilai pastinya.
Grace meminta perpanjangan relaksasi ini juga perlu diikuti dengan peninjauan ulang terkait kebijakan tingkat bunga kartu kredit yang kini maksimal 1,75%. Mengingat, tren suku bunga sudah mengalami kenaikan.
Sependapat, SVP Credit Cards Grup Bank Mandiri Erin Young juga optimistis bahwa pertumbuhan bisnis di segmen ini akan tetap tumbuh. Ini terbukti dari volume transaksi sudah meningkat hingga 30% secara tahunan.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menilai perpanjangan insentif itu merupakan upaya dalam menjaga momentum pemulihan perekonomian domestik.
Ia menyebutkan hingga saat ini kartu kredit masih menjadi salah satu pembayaran andalan nasabah BCA. Per Septermber 2023, transaksi kartu kredit BCA mencapai Rp 78,5 triliun, naik 34% yoy.
Segmen Konsumsi Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan
Akhir Tahun, Likuiditas Perbankan Mulai Ketat
Mendorong Bank Syariah Agar Semakin Barokah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong penguatan industri perbankan syariah. Bahkan, regulator ini mengharapkan setidaknya bisa ada dua hingga tiga bank syariah besar di Tanah Air agar industrinya semakin kompetitif.
Untuk itu, OJK meluncurkan roadmap atau peta jalan perbankan syariah untuk periode 2023-2027 dengan lima pilar. Peta jalan ini akan jadi acuan dalam melakukan tranformasi pada perbankan syariah, yang pangsa pasarnya masih kecil.
Per September 2023, aset perbankan syariah tercatat sebesar Rp 831,95 triliun. Walau tumbuh 10,94% secara tahunan, namun pangsa pasarnya baru 7,27%. Padahal, sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, pangsa pasar harusnya bisa lebih tinggi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar berharap peta jalan ini bisa mempercepat pertumbuhan perbankan syariah. "Harapannya, ini membuat bank fokus terhadap pembangunan berbasis kaidah dan kekuatan dari jajaran stakeholder," kata dia, Senin (27/11).
Mahendra bercerita ada satu bank yang pada awal tahun ini melakukan konversi dari konvensional jadi syariah. Sayangnya, bank tersebut justru mengalami perlambatan pertumbuhan pembiayaan.
Menurut Mahendra, ini disebabkan karena sistem dan manajemen bank belum benar-benar siap ketika dilakukan konversi. Seperti diketahui, tahun ini BPD Kepulauan Riau sudah melakukan konversi jadi bank syariah.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, skala usaha industri perbankan syariah saat ini masih kecil. Secara rinci, baru ada tiga bank syariah dan satu UUS dengan aset sekitar Rp 20 triliun-Rp 40 triliun.
BMRI Ramai Oleh Rekomendasi Beli
Situasi ekonomi domestik yang kian pulih mendorong pertumbuhan kinerja Bank Mandiri Tbk (BMRI). Penyaluran kredit bank pelat merah itu terus bertumbuh seiring dengan perbaikan kualitas aset.
Bank Mandiri berhasil menyalurkan kredit secara konsolidasi sebesar Rp 1.315,92 triliun dari awal tahun hingga September 2023 atau tumbuh 12,71% secara tahunan (yoy).
Analis Ciptadana Sekuritas Asia Erni Marsella Siahaan dalam riset 31 Oktober 2023 mengatakan, pertumbuhan pinjaman BMRI telah melampaui panduan manajemen sebesar 10%-12% secara tahunan dan pertumbuhan industri sebesar 9%. Penggerak utama pertumbuhan pinjaman tersebut berasal dari segmen komersial. Tren ini diproyeksi masih akan berlanjut.
Head of Investment
Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe melihat pertumbuhan kredit BMRI didukung oleh perekonomian yang lebih baik pasca Covid-19. Potensi konsumsi masyarakat yang meningkat di akhir tahun serta musim kampanye pemilihan umum (pemilu) diyakini dapat meningkatkan konsumsi domestik. Pada akhirnya ini akan berdampak positif kepada penyaluran kredit BMRI di tahun depan.
Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi mengungkapkan, manajemen BMRI tetap mempertahankan panduan pertumbuhan pinjaman di kisaran 10%-12% dan merevisi panduan biaya kredit menjadi di bawah 1,1% untuk tahun 2023. Proyeksi itu mengingat BMRI sudah memiliki tingkat
coverage
yang memadai dan pengelolaan risiko kualitas aset yang lebih baik dibanding sejumlah bank lain.
Samuel Sekuritas meyakini BMRI mampu membukukan
cost to income ratio
(CIR) 36% dalam jangka panjang. Ini didukung oleh akuisisi digital yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi. Namun pengetatan likuiditas akan menjadi tantangan utama bagi sektor perbankan pada kuartal IV-2023.
BMRI tetap optimistis tingkat
Net Interest Margin
(NIM) bisa berada di kisaran 5,3%-5,6% pada 2023. Hal itu karena Bank Mandiri masih memiliki ruang untuk
repricing
imbal hasil pinjaman korporasi, dan BMRI akan terus fokus menyalurkan pinjaman ke segmen dengan imbal hasil tinggi, seperti segmen komersial dan segmen UKM.
Analis RHB Sekuritas David Chong mengerek proyeksi laba BMRI untuk 2023-2025 sekitar 2-3% karena asumsi biaya kredit yang lebih rendah yang ditopang oleh disiplin biaya yang baik.
Suku Bunga Meningkat, Bank Jaga Kualitas Kredit
Ditengah tren kenaikan suku bunga saat ini, industri
perbankan cenderung akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit agar
kualitasnya terjaga. Ke depan, reindustrialisasi sektor manufaktur diperkirakan
mampu menjadi motor baru penggerak laju pertumbuhan industri perbankan. ”Bagi
masyarakat yang memiliki kemampuan finansial mencukupi, tren kenaikan suku
bunga ini disambut dengan antusias. Sebaliknya, mereka yang memiliki pinjaman,
bebannya akan bertambah sehingga berpotensi macet. Tentu saja, setiap bank memiliki preferensi
tersendiri, tergantung dari cost of fund (biaya bunga) dan margin keuntungannya
dalam mengambil risiko kredit,” kata Komisaris Bank Jago Anika Faisal di
sela-sela kegiatan Media Gathering Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas),
di Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (24/11).
Oleh sebab itu, ketersediaan data nasabah yang merekam berbagai
transaksi secara historis menjadi instrumen penting bagi industri perbankan dalam
menjaga kualitas kredit. Data tersebut tidak hanya memuat penghasilan nasabah
dan berbagai variabelnya, tetapi juga termasuk perilaku (behavior) setiap
nasabah dalam bertransaksi. Menurut Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero)Tbk
atau BTN Winang Budoyo, era suku bunga tinggi sudah mencapai titik puncaknya
sebagaimana ekspektasi global. Dari sisi domestik, sentimen tahun politik 2024
dan dukungan kebijakan likuiditas makropudensial BI juga akan berdampak positif
bagi sektor keuangan. ”Intinya, kenaikan suku bunga mulai berhenti, akan
stabil, dan tinggal menunggu waktunya. Lalu, sepanjang tahun pemilu tentu
peredaran uang akan meningkat dan berkontribusiterhadap pertumbuhan ekonomi.
Ditambah lagi, BI menurunkan giro wajib minimum yang mulai berlaku Oktober 2023,”
ujarnya. Di tengah ketidakpastian tersebut, sektor industri manufaktur dapat
menjadi opsi untuk mendorong penyaluran kredit perbankan sekaligus memicu
pertumbuhan ekonomi melalui serapan tenaga kerja. (Yoga)
Bertempur di Lini Konsumer
Perbankan asing di dalam negeri optimistis bisa menggenjot penyaluran kredit konsumer tahun depan. Para bank asing ini akan mengandalkan sinergi grup usaha untuk mendorong kinerja.
Asal tahu saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, hingga akhir Agustus 2023, penyaluran kredit konsumer bank asing hanya sebesar Rp 11,07 triliun. Angka ini turun tipis dibanding periode yang sama di 2022, Rp 11,59 triliun
Bandingkan dengan kredit konsumer bank swasta nasional. Per Agustus 2023, penyaluran kredit konsumer bank swasta nasional mencapai Rp 654,99 triliun. Realisasi ini sekitar 26% dari total kredit yang sekitar Rp 2.900 triliun.
Direktur Bank OCBC NISP Tbk (NISP) Andrae Krishnawan menuturkan, OCBC memiliki komitmen untuk menggenjot bisnis ritel. Salah satu strateginya, mengoptimalkan sinergi dengan grup. Berdasarkan laporan keuangan, per September 2023, OCBC mencatat pertumbuhan kredit 10% secara tahunan menjadi senilai Rp 144,7 triliun.
Optimisme juga digaungkan Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Bank asal Malaysia ini akan terus menggenjot pertumbuhan bisnis kredit konsumer. "Pada tahun depan kami menargetkan pertumbuhan kredit konsumer bisa berada di kisaran 8%-10%," kata Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Tak mau kalah, Bank Danamon Indonesia Tbk juga siap tempur di bisnis kredit konsumer. Bank yang sahamnya dikendalikan MUFG Bank Ltd, gergasi keuangan asal Jepang, ini akan mengakuisisi bisnis ritel Standard Chartered Bank Indonesia.
Consumer Lending Business Head
Bank Danamon Indonesia Reza Rusly mengatakan, akuisisi tersebut bertujuan untuk memperkuat bisnis
consumer banking
. Di sembilan bulan pertama 2023, bank ini telah menyalurkan kredit konsumer Rp 15,3 triliun, tumbuh 31% secara tahunan.
Menimbang Dividen Interim Emiten Bank
Kabar baik bagi investor saham. Sejumlah emiten masih bakal membagi kado Natal berupa dividen interim. Dari emiten bank, Bank Central Asia Tbk (BBCA) sudah mengumumkan akan membagi dividen interim senilai Rp 5,2 triliun dari buku 2023, atau setara Rp 42,5 per saham.
Bila dihitung berdasarkan harga penutupan BBCA kemarin,
yield
dividen mencapai 0,48%. Kalau ingin kebagian kado BBCA ini, investor harus sudah tercatat di daftar pemegang saham paling lambat 5 Desember. Pembayaran dividen interim tunai akan dilakukan pada 20 Desember 2023.
Secara historis, BBCA tercatat rajin bagi dividen interim. Dibanding tahun lalu, nilai yang dibagikan tahun ini meningkat 21,4%. Laba BBCA di sembilan bulan tahun ini tercatat naik 25,8%.
EVP
Corporate Communication
BCA Hera F. Haryn mengatakan, penetapan dividen interim ini sudah mempertimbangan kinerja dan kebutuhan pencadangan bank. "Perhitungannya juga menggunakan kajian terkait kondisi ekonomi ke depan. Sehingga, tak akan berpengaruh besar pada bisnis di tahun mendatang," kata dia, Kamis (23/11).
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian menilai dividen interim BBCA kurang menarik bagi para pemburu dividen. Sebab,
yield
dividen hanya sekitar 0,4%. Angkanya jauh di bawah bunga deposito yang dijamin LPS, yakni 4,25%.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto juga menilai dividen interim BBCA kurang menarik diburu bila investor belum memiliki saham BBCA. Menurut dia, dividen BBCA biasanya baru menarik saat dividen final.
Kredit UMKM Bakal Dipacu
Industri perbankan berkomitmen mengoptimalkan penyaluran kredit
kepada sektor UMKM. Hal ini dilakukan melalui pengembangan infrastruktur
digital dan kebijakan pemerintah. Dirut PT Bank BTPN Tbk (Bank BTPN) Henoch
Munandar mengatakan, pihaknya akan terus mendorong penyaluran kredit kepada
segmen UMKM yang saat ini cenderung melambat. Meski ruang gerak yang dimiliki
tidak seleluasa bank pemerintah, BTPN optimistis dapat mendorong penyaluran kredit
UMKM, salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur digital. ”Menurunnya
penyerapan kredit usaha rakyat (KUR) ini mencerminkan kegiatan usaha di segmen
tertentu terbatas. Namun, pembiayaan mikro kami tahun ini justru meningkat
hampir 60 %. Kami akan terus meningkatkan penyaluran kredit UMKM dengan
berbasis infrastruktur digital (digital mikro) sebagai strategi mengatasi
kekurangan infrastruktur masing-masing bank,” katanya seusai acara BTPN
Economic Outlook 2024, di Jakarta, Rabu (22/11).
Peningkatan pembiayaan mikro yang cukup signifikan tersebut salah satunya karena dasar (base)
penyaluran kredit BTPN relatif lebih rendah ketimbang bank pemerintah lainnya.
Selain itu, transformasi digital melalui produk Jenius juga semakin mempermudah
korporasi dalam melakukan penetrasi terhadap segmen mikro. Henoch menambahkan, BTPN
optimistis pada 2024 dapat mencatatkan pertumbuhan produk digital mikro pada
level dua digit atau mencapai 40 %. Hal ini sejalan dengan ketentuan BI yang
mengamanatkan perbandingan kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit perbankan sebesar
30 %. Saat ini rasio kredit UMKM BTPN tercatat 29 persen. Komitmen serupa turut
digaungkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Selama periode
Januari-Oktober 2023, BRI telah menyalurkan KUR Rp 123,51 triliun kepada 2,7
juta debitor atau 63 % dari target yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp
194,4 triliun. (Yoga)









