;
Tags

Pasar Modal

( 329 )

IHSG Harus Kembali Distimulus Agar Bangkit

KT1 12 Feb 2025 Investor Daily (H)

Ketidakberdayaan fund besar dan peritel lokal dalam mengimbangi tekanan jual bersih (net sell) asing membuat IHSG terkoreksi dan rawan kembali tergelincir. Laporan keuangan emiten yang positif dan distribusi dividen jumbo diharapkan menjadi stimulus kebangkitan IHSG dalam waktu dekat. IHSG terakhir terperosok ke level terendah pada November 2021. Kala itu, IHSG menyentuh level 6.554. Bahkan, posisi tersebut masih sedikit lebih tinggi daripada posisi IHSG pada perdagangan Selasa (11/2/2025)  kemarin yang finish di level 6.514. Tak pelak, posisi ini menjadi level terendah IHSG terhitung sejak 2023.

Selama dua tahun perdagangan terakhir, IHSG secara beruntun berada di teritori merah akibat derasnya transaksi net sell asing yang memberikan tekanan tiada ampun. Berdasarkan data statistik harian Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi jual bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp469,49 miliar atau setara US$ 28,66 juta. Akibatnya total net sell sepanjang tahun berjalan (year on date/ytd) terus bertambah menjadi Rp8,90 triliun dari sebelumnya Rp8,43 triliun. Tercatat, net sell asing pada penutupan Selasa (11/2/2025) kemarin, paling signifikan  melanda lima saham ternama seperti BMRI dengan net sell mencapai Rp237 miliar. Kemudian, BBCA dengan net sell sebesar Rp119,2 miliar, TLKM sebesar Rp118,8 miliar, BREN sebesar Rp95,8 miliar, dan GOTO sebesar Rp95,6 miliar. (Yetede)

Investor Besar Keluar, IHSG Merosot

HR1 07 Feb 2025 Kontan (H)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan akibat keluarnya dana asing dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Pada Kamis (6/2), IHSG turun lebih dari 2%, menjadikannya salah satu indeks dengan penurunan terdalam di Asia Pasifik. Sejak awal 2025, IHSG telah melemah 2,89% karena investor beralih ke aset yang lebih stabil, seperti obligasi dan pasar uang.

Investor institusi, termasuk perusahaan asuransi dan dana pensiun, semakin mengurangi portofolio mereka di pasar saham. Menurut Direktur Utama Dana Pensiun BCA, Budi Budi Sutrisno, pihaknya telah menurunkan alokasi investasi di saham dan reksa dana akibat penurunan imbal hasil pasar modal dan keluarnya investor asing. Data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan nilai investasi industri asuransi di pasar saham turun dari Rp 238,33 triliun pada 2022 menjadi Rp 193,31 triliun pada Januari 2025.

Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyebut tren penyusutan investasi ini sudah terjadi lama karena IHSG stagnan dalam lima tahun terakhir dan memiliki risiko tinggi. Sementara itu, CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo, menilai investor masih wait and see terkait kebijakan pemerintahan baru.

Agar dana investor institusi kembali ke pasar saham, Wawan menekankan perlunya kejelasan kebijakan dan insentif dari pemerintah. Salah satu peluang adalah melalui Undang-Undang (UU) Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), yang membolehkan cut loss untuk investasi yang dikelola BUMN. Namun, diperlukan aturan turunan untuk menentukan batasan cut loss yang diperbolehkan.

IHSG masih dalam tekanan akibat keluarnya dana asing, stagnasi pasar, serta ketidakpastian ekonomi dan kebijakan. Pemulihan pasar saham membutuhkan kejelasan regulasi serta langkah-langkah strategis untuk menarik kembali dana investor institusi ke saham, terutama saham blue chip yang saat ini terkoreksi.

IHSG Terkoreksi Tajam Hingga 2,12% ke Level 6.875,54

KT1 07 Feb 2025 Investor Daily (H)
IHSG terkoreksi tajam hingga 2,12% ke level 6.875,54 pada perdagangan Kamis (06/02/2025). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global yang negatif, di antaranya terkait kebijakan tarif dagang Amerika Serikat terhadap beberapa negara serta kehawatiran terhadap perlambatan ekonomi domestik. Meski demikian, sejumlah analis menilai, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang tengah mengalami koreksi harga. Di antaranya saham-saham berkapitalisasi besar yang mengalami koreskasi adalah saham perbankan. Head of Costumer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi Kasmarandana menjelaskan, volatilitas pasar saham saat ini mashi cukup tinggi, dengan beberapa faktor eksternal yang menjadi perhatian utama. Ia melihat, setidaknya ada faktor utama yang memengaruhi pasar. "Ketiganya yaitu kebijakan tarif dagang AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China; potensi relaksasi kebijakan moneter oleh The Fed dan Bank Indonesia; serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Jika ketiga faktor ini berkembang positif, maka pasar berpotensi mengalami rebound," papar Oktavianus. (Yetede)

Tren Suram di Bursa Saham

HR1 07 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)
Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melempem belakangan ini menjadi indikasi bahwa pasar saham Indonesia rentan terhadap sentimen global dan domestik. Penurunan IHSG yang signifikan, yang tercatat anjlok 2,12% pada 6 Februari 2025, di tengah kinerja pasar regional yang menguat, mengindikasikan adanya reaksi negatif terhadap berbagai faktor, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kebijakan pemerintah yang membangkitkan reaksi pasar negatif, misalnya terkait dengan distribusi LPG dan penghematan anggaran aparatur sipil negara (ASN).

Para analis, seperti Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas dan Adityo Nugroho dari Mirae Asset Sekuritas, memberikan pandangan yang beragam. Wicaksana memperkirakan IHSG akan menghadapi tekanan lebih lanjut, dengan potensi penurunan lebih dalam, terutama dipengaruhi oleh saham bank-bank besar yang terkoreksi. Sementara itu, Adityo Nugroho masih mempertahankan proyeksi IHSG hingga akhir tahun di level 8.000, dengan harapan pemulihan akan terjadi jika tekanan berita negatif mereda dan arus dana asing kembali mengalir ke Indonesia.

Beberapa analis, seperti Arief Budiman dari Ciptadana Sekuritas dan Erindra Krisnawan dari BRI Danareksa Sekuritas, memutuskan untuk memangkas target IHSG. Arief memangkas targetnya dari 8.400 menjadi 7.850, dengan alasan sulitnya mencapai target tersebut setelah kinerja IHSG yang negatif pada 2024. Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi juga menyoroti dampak kebijakan perdagangan global, khususnya terkait tarif impor Donald Trump, yang dapat mempengaruhi pasar Indonesia melalui nilai tukar dan penjualan aset berisiko tinggi.

Menanggapi kondisi ini, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menyarankan investor untuk berhati-hati dan memperhatikan analisis kebijakan pemerintah, reaksi negara lain, serta tren pasar. BEI juga tengah menyiapkan instrumen keuangan baru, seperti short selling dan intra-day short selling, untuk membantu investor mengelola portofolio mereka di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan.

Secara keseluruhan, meskipun IHSG menghadapi tekanan yang cukup besar, investor disarankan untuk tetap waspada dan mengikuti perkembangan pasar dengan cermat, sambil memanfaatkan instrumen keuangan baru yang disiapkan oleh BEI.

Dampak Trump terhadap Rupiah dan Pasar Modal

HR1 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Pasar modal Indonesia memulai tahun 2025 dengan kinerja yang sangat positif, tercermin dari kenaikan IHSG lebih dari 2% dan IDX30 yang naik 2,5% year-to-date (YtD). Selain itu, indeks saham dan reksa dana yang mayoritas konstituennya adalah emiten perbankan juga menunjukkan kinerja yang solid, dengan reksa dana indeks seperti IDX Pefindo Prime Bank dan IDX Pefindo I-Grade masing-masing mengalami kenaikan sekitar 3% YtD.

Kinerja positif ini didukung oleh beberapa faktor eksternal dan domestik. Faktor eksternal seperti penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS, serta faktor domestik berupa kebijakan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan, turut mendukung likuiditas pasar keuangan Indonesia. Kebijakan tersebut juga menguntungkan saham-saham perbankan yang undervalued, seperti Bank BNI dan BRI.

Pasar obligasi dan pasar uang juga menunjukkan kinerja yang baik, dengan reksa dana pasar uang mencatatkan hasil positif sekitar 0,45%—0,50% YtD dan reksa dana pendapatan tetap dengan durasi pendek mencatatkan kinerja positif sekitar 0,5%—0,8% YtD.

Dengan valuasi pasar yang rendah, rasio price to earnings (P/E) yang berada di bawah rata-rata historis, dan dividend yield yang relatif tinggi, prospek pasar saham Indonesia di tahun 2025 diperkirakan akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Potensi return IHSG diperkirakan mencapai 13%—18% dengan estimasi pertumbuhan laba bersih sekitar 8%. Selain itu, imbal hasil dari instrumen pendapatan tetap dan pasar uang juga diperkirakan akan memberikan potensi keuntungan yang baik.

Secara keseluruhan, kinerja investasi di pasar modal Indonesia pada awal tahun 2025 memperlihatkan prospek yang menjanjikan, meskipun investor perlu memperhatikan strategi investasi yang tepat dan memperhitungkan risiko serta imbal hasil yang dapat dicapai dalam jangka panjang.


Optimisme Pasar Modal di Tahun Ular Kayu

HR1 25 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Pasar modal Indonesia diprediksi akan mendapatkan momentum pertumbuhan pada Tahun Ular Kayu 2025, meskipun terdapat tantangan dari ketidakpastian global, seperti perlambatan ekonomi China, ketegangan perdagangan, dan dinamika geopolitik. Sektor-sektor unggulan seperti teknologi, energi, dan konsumsi diperkirakan akan mencatatkan performa positif, sementara sektor berbasis logam, seperti tambang dan otomotif, menghadapi risiko tekanan.

Menurut CLSA Feng Shui Index 2025, sektor berbasis elemen kayu (seperti pendidikan, ekonomi baru, dan manajemen dana) dan elemen api (seperti teknologi, minyak, dan gas) memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi. Di sisi lain, sektor berbasis elemen logam, seperti tambang dan kripto, diperkirakan menghadapi tantangan.

Ekky Topan, analis dari Infovesta Utama, menyarankan investor untuk memanfaatkan penurunan harga saham sebagai peluang, dengan merekomendasikan sektor-sektor unggulan seperti perbankan (BBRI dan BMRI), properti (PWON dan SMRA), serta konsumsi (JPFA dan MYOR). Di sektor energi, saham batu bara (PTBA dan AADI) juga dipandang memiliki prospek cerah, berkat harga komoditas yang stabil dan permintaan domestik yang kuat.

Secara keseluruhan, meskipun pasar modal menghadapi berbagai tantangan global, sektor-sektor tertentu di Indonesia diharapkan dapat mencatatkan pertumbuhan yang positif, memberikan peluang bagi investor yang bijak dalam memilih sektor yang tepat.


Mengamankan Momentum Positif di Pasar Modal

HR1 14 Jan 2025 Bisnis Indonesia

Meskipun maraknya aksi Initial Public Offering (IPO) oleh perusahaan besar di pasar modal Indonesia pada awal tahun 2025, hal ini belum mampu mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) ke tren positif. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan sejumlah perusahaan besar yang melantai di bursa, dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp1,13 triliun. Namun, meskipun IPO besar ini mencatatkan permintaan yang tinggi dan melibatkan nama-nama terkemuka, IHSG masih mengalami penurunan dan rata-rata nilai transaksi harian belum mencapai Rp10 triliun. Penyebab lesunya pasar ini antara lain adalah aksi net sell oleh investor asing, ketidakpastian global, dan kurangnya sentimen positif di pasar domestik. Fokus investor yang terlalu terpusat pada IPO sementara perdagangan di pasar sekunder kurang bergairah menjadi salah satu masalah utama. Oleh karena itu, meskipun IPO besar menjadi perhatian, otoritas pasar modal perlu menjaga sentimen positif dan selektif dalam meloloskan emiten agar pasar tetap sehat dan tidak mengalami pelarian modal.


Modal Kuat Jadi Penopang Utama Pasar Modal

HR1 03 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Optimisme terhadap kinerja pasar modal Indonesia di awal tahun 2025, didorong oleh sentimen positif serta komitmen dari pemangku kebijakan untuk mendorong aktivitas transaksi di bursa. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp13,5 triliun, pencatatan 66 emiten baru, dan penambahan 2 juta investor baru. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menekankan penguatan ekosistem pasar modal melalui peningkatan kualitas perusahaan tercatat, pengembangan produk dan infrastruktur, serta penegakan hukum yang konsisten untuk melindungi investor ritel.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa pemerintah akan bersinergi dengan berbagai pihak untuk mendalami pasar modal, termasuk melalui penerbitan regulasi turunan dari UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. BEI juga optimistis penggalangan dana di pasar modal akan tetap berjalan meskipun perekonomian global menghadapi risiko suku bunga tinggi.

Di sisi lain, Fath Aliansyah dari Maybank Sekuritas Indonesia memprediksi adanya January Effect yang dapat mendorong kenaikan harga saham di awal tahun 2025. Fokus pasar diperkirakan akan tertuju pada saham konglomerasi dan perusahaan dengan potensi aksi korporasi. Sementara itu, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai penguatan IHSG dipengaruhi oleh aksi korporasi dan kinerja laporan keuangan perusahaan, dengan IHSG diperkirakan berada di level 7.324 (resistance) dan 6.932 (support) sepanjang Januari 2025.


BEI Bertekad untuk Menjadikan Pasar Modal Nasional Menjadi Makin Inklusif

KT1 03 Jan 2025 Investor Daily (H)
Busa Efek Indonesia (BEI) bertekad untuk menjadikan pasar modal nasional menjadi makin inklusif dengan menargetkan pencatatan 66 perusahaan atau emiten baru lewat penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham serta tambahan dua juta investor baru pada 2025. Peningkatan jumlah emiten dan investor itu sekaligus akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi nasional. Jumlah investor pasar modal Indonesia 2024 mencapai 14,84 juta Single Investor Identification (SID), melonjak 22% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 12,17 juta SID. Namun dari total 14,84 juta SID, investor saham  pada 2024 tercatat baru 6,37 juta SID yang mengalami peningkatan 1 juta SID dibandingkan akhir tahun 2023. Jumlah tersebut baru, 2,26% dari total penduduk Indonesia. Rasio itu jauh di bawah negara-negara Asean lain yang pada 2022 saja, seperti Vietnam sudah memiliki investor 2,2% dari jumlah penduduk, Thailand 5%, dan Malaysia 8,7%, dan Singapura 16,2%. Begitupun dengan kapitalisasi pasar saham Indonesia, saat ini masih di 56%, dari produk domestik bruto. Sementara kapitalisasi pasar saham India sebesar 106%, Thailand sebesar 101%, dan Malaysia sebesar 97%, masing-masing dari PDB. (Yetede)

Pasar Keuangan Domestik Konsolidasi pada Pekan Ini

KT1 23 Dec 2024 Investor Daily (H)
Pasar keuangan domestik diprediksi konsolidasi pada pekan ini, setelah pekan lalu babak belur dihajar rentetan sentimen negatif, terutama dari kembali munculnya sikap hawkish The Federal Reserve (The Fed). Ini merupakan pukulan telak ke pasar  keuangan Indonesiam, mulai dari saham, obligasi, hingga rupiah. Pekan lalu, indeks hrga saham gabungan (IHSG) Burse Efek Indonesia (BEI) turun 4,65% ke level 6.983. Kapitalisasi pasar saham pada periode 16-20 Desember 2024 turun 3,28% menjadi Rp12.919 triliun dari Rp12.604 triliun pada sepekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian bursa naik 12,71% menjadi 1,08 juta kali  dari 1,24 juta kali. Selama sepekan, rata-rata nilai transaksi harian bursa anjlok 39,36% menjadi Rp12,25 triliun dari Rp20,19 triliun pada pekan sebelumnya. Sementara itu, imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun menembus 7%, begitu masif, pada pekan lalu. Rupiah terkapar ke level Rp 16.300 per dolar AS, begitu The Fed mengirimkan kisi-kisi penurunan suku bunga acuan Federal Fund Rate (FR) tahun 2025 dan 2026. (Yetede)