;
Tags

Pasar Modal

( 329 )

Ekonomi Terpuruk, Bursa Menurun

HR1 01 Mar 2025 Kontan (H)
Tahun 2025 menjadi tantangan berat bagi ekonomi Indonesia, ditandai dengan pelemahan IHSG dan rupiah yang mencapai level terburuk sejak pandemi Covid-19 dan krisis moneter 1998. Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, menilai bahwa ketidakpastian suku bunga The Fed dan perang dagang global mendorong investor asing keluar dari Indonesia.

Di pasar saham, Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal UI, menyoroti tidak adanya market maker yang mampu menahan arus jual asing, sementara Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, menyebut turunnya return on equity (ROE) dan kontribusi manufaktur sebagai penyebab lemahnya kepercayaan investor.

Hans Kwee, Co-Founder PasaRDana, mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, seperti penghapusan subsidi gas 3 kg yang justru merugikan ekonomi rakyat kecil. Iman Rachman, Direktur Utama BEI, menegaskan bahwa pertemuan dengan pelaku pasar diperlukan, tetapi kebijakan ekonomi yang tidak stabil tetap menjadi ancaman utama bagi investor.

Secercah Harapan bagi IHSG di Tengah Tekanan Global

HR1 28 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)

Pasar modal Indonesia sedang menghadapi penurunan, terdapat optimisme yang ditunjukkan melalui aksi rights issue oleh sejumlah emiten. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,83% pada akhir Februari 2025 dan banyak modal asing yang keluar, emiten-emiten seperti PT MNC Energy Investments dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. masih berencana untuk melakukan rights issue. Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, mendukung langkah ini sebagai sarana pendanaan perusahaan. Namun, seperti yang disampaikan oleh Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas, tantangan utama adalah ketidakstabilan pasar dan ketidakpastian makroekonomi yang dapat mempengaruhi partisipasi investor. Felix Darmawan dari Panin Sekuritas juga menyoroti bahwa meski ada tantangan besar, rights issue tetap menjadi opsi menarik bagi emiten dengan fundamental kuat, terutama dalam kondisi pasar yang tidak stabil. Ekky Topan dari Infovesta menambahkan bahwa keberhasilan rights issue sangat bergantung pada peningkatan kepercayaan investor dan kondisi pasar yang lebih positif.

BPI Danantara Memiliki Peluang Besar Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

KT1 27 Feb 2025 Investor Daily (H)
BPI Danantara memiliki peluang besar untuk berinvestasi di pasar saham terbuka guna memaksimalkan return dan diversifikasi aset. Dengan mengelola aset BUMN senilai US$ 900 miliar atau sekitar Rp14.715 triliun (kurs Rp16.350 per US$), lembaga ini dinilai memiliki potensi besar menjadi liquidity provider bagi pasar modal Indonesia dan mendorong IHSG ke level tertinggi. "Kami berpandangan bahwa peluang dana tersebut masuk ke pasar saham terbuka cukup besar, terutama dalam rangka diversifikasi dan  optimalisasi return. Namun, hal ini tentu perlua perhitungan yang matang serta mempertimbangkan momentum yang tepat," kata VP, Head of Marketing, Strategy & Planning PT Kiwoon Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi Kasmaranda. Menurutnya, dengan asumsi rata-rata nilai transaksi hari BEI tahun 2025 sebesar Rp13,5 triliun, angka itu hanya sekitar 4,5% dari dana kelolaan awal lembaga tersebut memiliki potensi likuiditas yang besar bagi pasar modal. Namun, Oktavinus juga mengingatkan adanya potensi risiko jika intervensi Danantara di pasar modal terlalu dominan. "Jika Danantara terlalu aktif di pasar, bisa menimbulkan ketergantungan yang berisiko bagi pergerakan pasar," tambahnya. (Yetede)

Investor Asing Tarik Dana Rp 3,47 Triliun Sehari Pasca Peluncuran Danantara

KT1 25 Feb 2025 Tempo
 Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih bergerak melemah pada perdagangan Selasa, 25 Februari 2025. Hingga pukul 10.07 WIB, indeks diperkirakan masih berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari terakhir (MA20), dengan indikator Relative Strength Index (RSI) yang menurun dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang menunjukkan tren melambat. Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, IHSG diprediksi bergerak dalam rentang support di level 6.640 dan resistance di 6.832 hingga penutupan hari ini. Audi menyebut pelemahan IHSG tidak lepas dari beberapa sentimen global dan domestik yang membayangi pasar. 

Di sektor domestik, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan dari aliran dana keluar (capital outflow) yang cukup besar. "Dalam satu hari kemarin, terjadi outflow sebesar Rp 3,47 triliun, yang mengindikasikan bahwa investor asing masih melakukan pergeseran aset ke instrumen yang lebih aman (low risk and safe havens)," kata Audi saat dihubungi, Selasa, 25 Februari 2025.  Fenomena itu, kata dia, berkaitan dengan peluncuran Sovereign Wealth Fund (SWF) Danantara pada 24 Februari 2025. Dia menyebut peluncuran Danantara masih memunculkan pertanyaan di kalangan investor mengenai transparansi dan tata kelolanya.

Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, investor diperkirakan tetap berhati-hati dalam mengambil posisi. "Selama belum ada kejelasan mengenai arah kebijakan ekonomi global dan mekanisme pengelolaan SWF Danantara, IHSG masih berpotensi bergerak dalam tekanan," ujar Audi. Samuel Sekuritas: IHSG Ditutup Menguat di Sesi I, Bukalapak Dapat Angin Segar di Tengah Isu Akuisisi Temu Faktor lain yang mempengaruhi melemahnya pergerakan IHSG ialah ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif resiprokal yang digulirkan kembali oleh mantan Presiden AS Donald Trump.  "Pasar khawatir kebijakan ini akan memicu inflasi dan memperlambat ekonomi global," ujar dia. Ia juga mencatat bahwa beberapa bank sentral, seperti Bank of Korea (BoK), telah memangkas suku bunga dan menurunkan target pertumbuhan PDB sebagai respons terhadap dampak kebijakan tersebut. (Yetede)

Turunnya Performa Saham Indonesia Pada Indeks MSCI

KT3 22 Feb 2025 Kompas

Perusahaan penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), memberi penilaian yang kurang baik terhadap sejumlah saham perusahaan terbuka di dalam negeri. Penilaian yang menjadi acuan investor asing ini menunjukkan ketidakpastian akan likuiditas saham berkapitalisasi besar di dalam negeri. Analis saham Infovesta, Ekky Topan, Jumat (21/2) menjelaskan, penilaian MSCI dengan memasukkan sejumlah saham Indonesia ke Global Standard Index mengacu pada preferensi investor asing. Penilaian MSCI juga menjadi salah satu acuan utama bagi manajer investasi global dalam menentukan alokasi dana mereka di pasar saham dalam negeri.

”Saham yang masuk ke dalam MSCI cenderung mendapatkan perhatian lebih dan berpotensi menarik inflow (dana masuk) dari investor asing,” ujarnya. MSCI pada Februari 2025 melakukan penyesuaian pembobotan saham Indonesia yang akan ditetapkan per Maret 2025. Mereka melakukan penyesuaian pembobotan saham (rebalancing) sebanyak empat kali, yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November. Pada pengumuman per awal 2025, terdapat tiga dari 20 saham milik emiten Indonesia dalam daftar MSCI Global Standards yang dikeluarkan, yaitu PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PTMerdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang turun ke daftar MSCI Small Cap Index serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

MSCI tidak akan menambahkan saham perusahaan Indonesia lainnya ke dalam daftar tersebut sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pada 11 Februari 2025, MSCI mengumumkan bahwa mereka tidak mempertimbangkan saham konglomerat berkapitalisasi besar untuk masuk daftar pada awal 2025. Pada 2024, kinerja tahunan saham dalam daftar MSCI Indonesia mencatatkan -11,94 %. Padahal, sejak 2021 kinerjanya selalu tumbuh positif. Kinerja tahunan pada 2024 juga lebih buruk dari kinerja tahunan pada tahun awal pandemi Covid-19, 2020, sebesar -7,46 %. (Yoga)


Investor Beralih ke ORI di Tengah Gejolak Pasar

HR1 21 Feb 2025 Bisnis Indonesia (H)

Obligasi Negara Ritel (ORI) saat ini menjadi pilihan utama bagi investor di tengah pasar modal yang meredup. Penjualan ORI27 tercatat mencapai Rp37,36 triliun, mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Hal ini menunjukkan minat yang tinggi terhadap ORI sebagai instrumen investasi. Tiga faktor utama yang mendorong tingginya permintaan ORI027 adalah bunga yang relatif lebih tinggi, prospek pelonggaran kebijakan moneter yang menurunkan suku bunga, serta ketidakpastian ekonomi global yang membuat obligasi negara menjadi pilihan yang lebih aman dibandingkan saham.

Di sisi lain, dengan pasar modal yang mengalami penurunan dan ketidakpastian ekonomi, banyak investor yang beralih ke obligasi negara sebagai aset yang lebih stabil. Sentimen ini diperkuat oleh komunikasi kebijakan pemerintah yang kurang jelas, yang menyebabkan kebingungannya masyarakat dan membuat investor mencari investasi yang lebih aman. Selain itu, diversifikasi portofolio juga disarankan untuk memitigasi risiko pasar yang tidak pasti, dengan mengalokasikan porsi yang lebih besar pada instrumen aman seperti obligasi negara dan sukuk tabungan.

Pemerintah Indonesia juga memiliki rencana untuk menerbitkan tujuh seri obligasi ritel lainnya tahun ini, yang memberikan peluang besar bagi investor untuk berinvestasi dalam SBN ritel. Deni Ridwan, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu, mengungkapkan bahwa tingginya book order ORI027 juga didorong oleh investor yang melakukan reinvestasi atas SBN ritel yang jatuh tempo, menambah optimisme terhadap prospek pasar obligasi negara.


Investor Asing Lepas Saham Unggulan, IHSG Tertekan

HR1 20 Feb 2025 Kontan (H)
Setelah menguat sehari, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah 1,14% ke level 6.794,86 pada 19 Februari 2025. Aksi jual bersih asing (net sell) masih menjadi faktor utama pelemahan IHSG, dengan aliran dana asing keluar mencapai Rp 1,13 triliun dalam sehari dan Rp 10,18 triliun sejak awal tahun.

Pelemahan IHSG dipicu oleh penjualan saham big caps, terutama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatat net sell Rp 4,48 triliun sejak awal tahun dan terkoreksi 7,49%. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mengalami penurunan 9,21%, dengan net sell mencapai Rp 2,71 triliun. Kedua saham ini berkontribusi signifikan terhadap penurunan IHSG.

Sebaliknya, aliran dana asing masuk ke saham-saham dengan bobot kecil terhadap IHSG, seperti PT Hero Global Investment Tbk (HGII) dan PT MD Entertainment Tbk (FILM). Namun, dampak positifnya terhadap IHSG masih terbatas.

Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning di Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa sektor keuangan memiliki bobot terbesar dalam kapitalisasi IHSG (29,9%), sehingga pergerakan saham bank sangat mempengaruhi indeks. Tekanan pada saham bank disebabkan oleh kinerja keuangan yang tidak sesuai ekspektasi dan kekhawatiran investor terhadap suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) yang bertahan tinggi lebih lama (higher for longer).

Meskipun saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menguat 14,29% dan menyumbang 21,98 poin ke IHSG, bobotnya masih kecil dibandingkan saham

Pasar Cemas Efek Kebijakan Trump dan Kenaikan Harga Emas

KT1 20 Feb 2025 Tempo
 Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada perdagangan Rabu, 20 Februari 2025, masih tertahan di bawah level 6.906, dengan tekanan terbesar berasal dari sektor keuangan. Analis Pasar Modal Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi, mencatat indeks kesulitan menembus resistance moving average (MA) 20, sementara Relative Strength Index (RSI) mulai berbalik arah dan Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan tren melemah.

“Tekanan di IHSG hari ini didorong oleh koreksi sejumlah saham perbankan besar. Hingga pukul 10.39 WIB, saham BBRI turun 1,99 persen, sementara BBNI terkoreksi 1,55 persen,” ujar Oktavianus saat dihubungi, Kamis, 20 Februari 2025. IHSG diperkirakan ditutup di kisaran 6.760–6.770. Jika indeks gagal bertahan di atas 6.770, maka ada potensi kelanjutan pelemahan dengan support berikutnya di 6.725. Pasar domestik, kata Audi, juga ikut terpengaruh oleh sentimen global, terutama setelah pernyataan Federal Reserve soal kekhawatiran inflasi yang meningkat. Hal ini berkaitan dengan kebijakan tarif yang akan diterapkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump yang kini kembali menjadi perhatian investor global.

"Trump berencana menaikkan tarif 25 persen untuk sektor otomotif, semikonduktor, dan farmasi. Kebijakan ini berisiko memicu ketidakpastian ekonomi global sekaligus meningkatkan tekanan inflasi," kata Oktavianus.
Ketidakpastian ini juga mendorong investor beralih ke aset safe haven. Harga emas dunia saat ini telah bergerak di atas US$ 2.940 per troy ounce pada pukul 10.44 WIB, menandakan meningkatnya permintaan logam mulia di tengah volatilitas pasar. Di tengah tekanan global dan domestik, investor disarankan tetap waspada terhadap potensi pelemahan IHSG lebih lanjut, terutama jika indeks gagal mempertahankan level support kritisnya. (Yetede)

Menjaga Stabilitas di Era Gejolak Global

HR1 20 Feb 2025 Bisnis Indonesia

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18–19 Februari 2025 menunjukkan sikap kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan upaya menjaga inflasi tetap terkendali, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Meskipun di dalam negeri inflasi relatif terkendali, BI tetap waspada terhadap pergerakan nilai tukar rupiah yang terpengaruh oleh kebijakan ekonomi eksternal, terutama dari AS.

Dari sisi perbankan, keputusan ini memberikan kepastian dalam menghadapi dinamika pasar, meski perbankan berharap BI dapat fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan suku bunga ke depan. Pemerintah juga diharapkan lebih gesit dalam mendukung stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal yang akomodatif, seperti insentif pajak dan stimulus ekonomi.

Ke depan, kebijakan suku bunga BI akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan The Fed dan dinamika ekonomi global. Jika The Fed menurunkan suku bunga lebih agresif, BI mungkin memiliki ruang lebih besar untuk pelonggaran kebijakan moneter. Oleh karena itu, keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi menjadi kunci dalam kebijakan moneter BI.


Daya Tarik Bursa Indonesia Kian Memudar bagi Investor Asing

HR1 17 Feb 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada awal 2025. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat naik 0,38% ke 6.638,46 pada akhir pekan, secara keseluruhan IHSG anjlok 1,54% dalam sepekan dan sudah turun 6,24% sejak awal tahun. Hal ini berdampak pada penurunan kapitalisasi pasar, yang menyusut 1,67% menjadi Rp 11.401 triliun, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2023.

Faktor utama yang menyebabkan pelemahan IHSG adalah capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia. Sejak awal tahun, asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp 10,52 triliun, meningkat dari Rp 3,70 triliun pada Januari. Akibatnya, IHSG menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di Asia Tenggara, tertinggal dari Filipina (-1,52%), Thailand (-0,78%), dan Vietnam (-0,38%). Bursa Singapura dan Malaysia justru mencatat kenaikan tipis masing-masing 0,42% dan 0,04%.

Selain itu, kurangnya IPO dari perusahaan besar dan kegagalan beberapa emiten berkapitalisasi besar masuk indeks global juga membuat pasar saham Indonesia kurang menarik. Salah satu contohnya adalah BREN, yang beberapa kali gagal masuk indeks MSCI Global Standard. Hal ini mengurangi daya tarik bursa Indonesia bagi investor global.

Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, menilai investor asing masih menunggu momentum yang lebih baik. Setelah rebalancing MSCI pada Februari 2025, banyak saham mengalami perubahan bobot investasi. Reza juga menyebut bahwa dalam waktu dekat, IHSG masih sulit kembali ke level 7.000 kecuali ada sentimen positif yang signifikan.

Sementara itu, Oktavianus Audi, Vice President Marketing Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, berpendapat bahwa belum ada katalis kuat yang bisa mendongkrak IHSG dalam waktu dekat. Meskipun secara price to earnings ratio (PER), IHSG saat ini 11,53 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata PER lima tahun terakhir (13,6 kali), investor masih cenderung wait and see sebelum kembali masuk ke pasar saham Indonesia.