;
Tags

Investasi lainnya

( 1343 )

Investasi Berbasis ESG Semakin Diminati

KT3 15 Oct 2022 Kompas

Permintaan investor institusi akan produk investasi terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, governance/ESG)  semakin tinggi. Menurut Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, Jumat (14/10) di Jakarta, dalam tiga tahun terakhir,  perkembangan minat terhadap produk reksa dana yang menggunakan prinsip ESG semakin meningkat. Pada tahun 2019, ada 10 produk reksa dana dengan dana kelolaan mencapai Rp 1 triliun. Hingga September 2022, sudah ada 22 produk reksa dana dengan dana kelolaan sebesar Rp 20 triliun. (Yoga)

Investasi Sultra Baru 30 Persen dari Target

KT3 13 Oct 2022 Kompas

Realisasi investasi di Sultra hingga triwulan II-2022 baru mencapai Rp 10,5 triliun. Nilai yang sebagian besar disumbang industri pertambangan nikel ini baru 30 % dari target tahun 2022 yang mencapai Rp 34 triliun. Kepala Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Sultra Rasiun, Rabu (12/10) menyatakan sektor industri pengolahan masih jadi penopang utama investasi di Sultra. (Yoga)

Besar Investasi daripada Konsumsi

KT3 12 Oct 2022 Tempo

Peningkatan inflasi hingga sinyal resesi perekonomian global pada tahun depan membawa perubahan dalam pola hidup masyarakat. Masyarakat mulai menghemat dan membatasi konsumsi. Di sisi lain, investasi dan tabungan terus meningkat. Peningkatan investasi tercermin dari bertambahnya pengguna platform investasi, Bibit, yang menyasar instrumen investasi konservatif dan minim risiko. “Secara khusus, kami melihat peningkatan animo masyarakat dalam berinvestasi pada surat berharga negara (SBN) dari waktu ke waktu. Terbukti, kami menjadi mitra distribusi kategori fintech yang mencetak angka terbesar untuk penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) retail seri SR017 pada 19 Agustus-14 September 2022,” ujar PR & Corporate Communication Lead, William, kepada Tempo, kemarin, 11 Oktober 2022. Sebelumnya, dalam penjualan Saving Bond Ritel seri SBR011 periode 25 Mei-16 Juni 2022, Bibit menjadi mitra distribusi kategori fintech yang mencatatkan jumlah investor terbanyak. “Banyak di antara pengguna kami yang ingin memiliki passive income yang aman, 100 persen dijamin oleh negara,” katanya.

Menurut William, hal itu tak terlepas dari peningkatan literasi keuangan secara umum yang telah membentuk kebiasaan masyarakat yang sadar berinvestasi demi masa depan keuangan yang lebih baik. “Apalagi untuk berinvestasi di berbagai instrumen pasar modal kini dapat dilakukan dengan aman, mudah, seamless, and only one click away dari smartphone para pengguna,” kata William. Dia menambahkan, selain berinvestasi pada SBN, banyak pengguna yang melirik produk reksa dana pendapatan tetap di tengah kondisi perekonomian yang tak menentu. Tak hanya Bibit yang panen kinerja positif. Platform investasi Bareksa juga mengalami peningkatan jumlah pengguna dan aktivitas transaksi dalam beberapa waktu terakhir. Head of Investment Bareksa, Christian Halim, mengatakan investasi favorit pengguna saat ini adalah reksa dana indeks yang membukukan kenaikan dana kelolaan atau asset under management (AUM) 31,9 % dan kenaikan unit penyertaan 21,9 %. “Berikutnya adalah reksa dana pendapatan tetap yang unit penyertaannya tumbuh 2,1 %, meski secara AUM turun 4,5 %,” ucapnya (Yoga)

Investor Kurangi Investasi pada Obligasi

KT3 07 Oct 2022 Kompas

Akibat kenaikan suku bunga di sejumlah negara, daya tarik investasi pada obligasi berkurang, sehingga para investor global mengurangi dana-dana investasi pada pasar obligasi. Pengurangan ini terjadi di semua kawasan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan, penarikan dana investasi berpotensi mengganggu sistem keuangan global. Kantor berita Reuters, Rabu  (5/10), memberitakan, dana-dana investasi global di pasar obligasi menurun drastis selama tiga kuartal I-2022. Ini penurunan terbesar dalam dua dekade terakhir. Penyebabnya adalah rentetan kenaikan suku bunga di banyak negara yang berpotensi mendorong resesi. Hal itu menurunkan kepercayaan investor pada kemampuan bayar para penerbit obligasi. 

Menurut data Refinitiv Lipper, dana-dana investasi pada pasar obligasi turun 175,5 miliar USD selama tiga kuartal I-2022, terbesar sejak 2002. Nilai bersih aset obligasi global juga turun 10,2 %, terbesar sejak 1990. Kenaikan suku bunga menurunkan nilai bersih aset obligasi. Sejumlah pemerintah dan korporasi penerbit obligasi dalam beberapa tahun terakhir gencar memanfaatkan rendahnya suku bunga. Kini para penerbit obligasi tersebut ketiban beban bunga lebih besar. ”Kombinasi tingkat utang yang tinggi dan kenaikan suku bunga telah menurunkan kepercayaan para investor terhadap kemampuan bayar para penerbit obligasi. Ini sekaligus menjadi penyebab penurunan investasi pada pasar obligasi,” kata Jacob Sansbury, CEO Pluto Investing. (Yoga)

Jabar Targetkan Investasi Rp 59 Triliun

KT3 06 Oct 2022 Kompas

Jawa Barat menargetkan investasi Rp 59,73 triliun di West Java Investment Summit (WJIS) 2022. Target ini meliputi sejumlah proyek ketahanan pangan hingga energi terbarukan. Selain mengantisipasi krisis, investasi diharapkan membuka lapangan kerja. ”Jabar masih jadi primadona para investor seiring data realisasi investasi hingga semester I-2022,” kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil seusai membuka WJIS 2022 di Kota Bandung, Rabu (5/10). (Yoga)

Lagi, Satgas Waspada Investasi Bekukan 18 Platform Ilegal

HR1 06 Oct 2022 Kontan

Ibarat rumput ilalang, penawaran investasi ilegal tak pernah habis dimakan waktu. Buktinya, Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih saja menemukan penawaran investasi ilegal yang merugikan masyarakat. Tongam L. Tobing, Ketua Satgas Waspada Investasi OJK menyebutkan, pada September 2022, SWI menemukan 18 entitas yang melakukan kegiatan penawaran investasi tanpa izin regulator alias ilegal. Temuan itu diperoleh SWI dari hasil crawling data. Ini merupakan pemantauan melalui big data center aplikasi SWI. Pemantauan dilakukan terhadap aktivitas penawaran investasi yang sedang marak di masyarakat melalui media sosial, website, dan Youtube. Adapun 18 entitas yang menawarkan investasi tanpa izin itu terdiri dari lima entitas yang melakukan money game, empat entitas menawarkan investasi tanpa izin, dan tiga entitas melakukan perdagangan aset kripto tanpa izin. Lalu dua entitas penyelenggara robot trading tanpa izin, satu entitas melakukan securities crowd funding tanpa izin, dan tiga entitas melakukan investasi ilegal lain.

Cosmart Kantongi Pendanaan US$ 5 Juta

KT3 05 Oct 2022 Investor Daily

Cosmart, platform berbasis keanggotaan (membership) e-commerce pertama di Indonesia untuk kebutuhan bulanan, mengumumkan pendanaan awal sebesar US$ 5 juta dari Lightspeed, East Ventures, dan Vertex Ventures SEA & India. Putaran pendanaan yang melebihi penawaran (oversubscribed) tersebut juga melibatkan partisipasi investor kawakan, yakni Henry Hendrawan dan Albert Lucius. Visi Cosmart adalah menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih mudah dan harga murah untuk kebutuhan rutin pengguna, sehingga konsumen dapat menghemat waktu, uang, dan anti ribet. “Pendanaan dari Lightspeed, East Ventures, dan Vertex Ventures akan digunakan untuk memperkuat teknologi dan infrastruktur data, sekaligus membangun kerja sama strategis dengan produsen dan para pemain kunci dalam ekosistem rantai pasokan,” Co-Founder Cosmart Alvin Kumarga, dalam keterangannya, dikutip Selasa (4/10). 

Cosmart merupakan one-stop solution bagi pengguna untuk membeli kebutuhan bulanan. Dengan membayar biaya keanggotaan yang murah untuk menjadi anggota, pengguna bisa mendapatkan akses ke produk berkualitas dengan harga lebih murah. Pengguna pun bisa membeli produk yang tidak bisa ditemukan di platform e-commerce lain dan mendapatkan produk contoh (sample) dari merek baru. Dengan transparansi harga, kualitas tinggi, dan manfaat keanggotaan lainnya, Cosmart menghadirkan klaim pengalaman belanja yang cerdas dan dijamin menguntungkan anggotanya. Alvin menyebut, sejak awal berdiri pada kuartal II-2022, Cosmart telah menjual lebih dari 100.000 produk. Start-up e-commerce berlangganan ini juga mampu meraih pertumbuhan bisnis enam kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, volume belanja bulanan pengguna tercatat empat kali lebih tinggi dibandingkan aktivitas belanja di platform lain. “Mengelola barang-barang kebutuhan bulanan bisa sangat melelahkan. Cosmart hadir sebagai solusi yang tepat untuk membantu para pengguna untuk menghemat lebih banyak waktu dan uang,” tambah Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca. (Yoga)

Portofolio Investasi: Maksimalkan Saham dan Obligasi

HR1 03 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Investor perlu menyiapkan strategi untuk memaksimalkan kinerja portofolio pada kuartal IV/2022 karena saham dan surat utang bakal menunjukkan arah pergerakan berbeda melanjutkan tren sepanjang tahun ini. Secara tahun berjalan, kinerja pasar saham yang direpresentasikan oleh indeks harga saham gabungan (IHSG) masih tumbuh 6,98%; sedangkan indeks komposit obligasi bergerak negatif 0,01%. Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani menilai saham masih berpotensi lebih baik dibandingkan dengan obligasi. Alasannya, potensi peningkatan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) berpotensi menurunkan harga obligasi. “Sementara itu, dari sisi ekonomi, Indonesia masih terbilang cukup bagus dibandingkan dengan negara lainnya, sehingga masih ada potensi bagi saham untuk tumbuh di kuartal IV/2022,” jelasnya kepada Bisnis, Minggu (2/10). Direktur Investasi Schroder Investment Indonesia Irwanti mengatakan, untuk surat utang, perusahaan fokus pada instrumen buatan pemerintah. Adapun, untuk instrumen obligasi korporasi, perusahaan memilih instrumen bertenor pendek dengan peringkat tinggi. “Kami lebih berfokus pada investasi di obligasi pemerintah dibandingkan obligasi korporasi mengingat volatilitas pasar obligasi pada saat ini dan juga kebutuhan likuiditas.”


INSTRUMEN INVESTASI : PILAH-PILAH REKSA DANA BARU

HR1 30 Sep 2022 Bisnis Indonesia

Sejumlah produk reksa dana masuk ke pasar sepanjang Juli hingga September kendati kinerja aset dasar fluktuatif pada periode tersebut. Pada periode Juli hingga September 2022, aset dasar reksa dana, yakni saham dan surat utang terpengaruh oleh indikator ekonomi. Sebagai contoh, kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve, yakni sebesar 75 basis poin (bps) mulai Juli hingga September. Di sisi lain, Bank Indonesia mulai menaikkan suku bunga acuan pada Agustus sebesar 25 bps dan 50 bps pada September. Pasar saham pun sempat memecahkan rekor tertinggi, kendati pasar surat utang belum mampu menaikkan harga surat utang. Terlepas dari itu, ternyata pasar reksa dana masih ramai dengan instrumen baru. Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, terdapat 43 produk yang didaftarkan pada periode tersebut. Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 2.180 produk yang beredar hingga pekan kedua September dengan reksa dana seperti terproteksi dan pasar uang mendominasi. Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, aksi manajer investasi menambah produk cenderung agresif untuk merambah pasar baru atau menerapkan strategi baru. Terlebih, untuk instrumen seperti reksa dana pasar uang dan terproteksi yang mendominasi pasar dari sisi jumlah produk cocok dengan karakter produk bagi investor pemula. Untuk reksa dana terproteksi, penerbitannya ramai sejalan dengan aksi penggalangan dana korporasi melalui surat utang.

KAWASAN INDUSTRI : ASIA LIRIK KARIANGAU

HR1 28 Sep 2022 Bisnis Indonesia

Investor asal Malaysia dan Korea Selatan menyatakan ketertarikannya untuk menanamkan investasinya di Kawasan Industri Kariangau, Kota Balikpapan. Kepala Bidang Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Balikpapan Elok Selvia mengungkapkan untuk investor asal Malaysia bakal membangun pabrik roti di kawasan tersebut. “Perusahaan Malaysia akan bangun pabrik roti namanya Gardenia. Selain itu, ada dari Korea Selatan yang banyak difasilitasi DPMPTSP Provinsi serta Uni Eropa yang difasilitasi dari BKPM,” katanya, Selasa (27/9). Dia juga telah mempersilahkan para investor asing lainnya untuk berinvestasi di kawasan industri yang dikelola lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Balikpapan, yaitu Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Manuntung Sukses. Elok menjelaskan saat ini Kota Balikpapan memiliki Kawasan Peruntukan Industri Kariangau (KPIK) seluas 2.500 hektare, dimana di dalamnya ada Kawasan Industri Kariangau (KIK) seluas 124 hektare.