;
Tags

Investasi lainnya

( 1343 )

Stimulus Konsumsi Dinilai Masih Kurang Atraktif

HR1 04 Jun 2025 Kontan
Pemerintah telah mengucurkan stimulus senilai Rp 24,4 triliun untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Namun, menurut sejumlah ekonom, daya dorong stimulus ini terhadap konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi akan sangat terbatas.

Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, menilai stimulus ini tidak signifikan karena hanya setara 0,2% dari PDB Indonesia yang mencapai Rp 22.000 triliun. Menurutnya, stimulus ini hanya bersifat simbolik dan lebih bertujuan meredam pelemahan konsumsi, bukan mendorong pertumbuhan baru. Ia menyoroti bahwa kenaikan konsumsi rumah tangga kuartal I-2025 yang hanya 4,89% menunjukkan lemahnya daya beli di tengah tekanan global dan inflasi pangan.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, juga menyebut stimulus ini hanya 0,1% dari PDB, bahkan lebih kecil dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 40 triliun. Ia menegaskan, meski mencakup 39 juta penerima manfaat, bantuan per individu terlalu kecil untuk memberikan dampak konsumsi yang berarti. Selain itu, pembatalan program diskon listrik senilai Rp 10,9 triliun dinilai mempersempit dampak stimulus yang bersifat luas dan jangka pendek.

Sementara itu, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, memperkirakan tidak ada efek signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dari stimulus ini. Ia memproyeksikan pertumbuhan PDB kuartal II-2025 akan stagnan di kisaran 4,7%-4,8%, sama dengan kuartal I.

Meskipun pemerintah menggelontorkan stimulus besar yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, para tokoh ekonomi seperti Syafruddin Karimi, Josua Pardede, dan Bhima Yudhistira sepakat bahwa dampaknya terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi sangat terbatas, hanya bersifat penahan laju pelemahan, bukan pendorong pertumbuhan struktural.

Sinyal Perbaikan Ekonomi Semakin Terlihat

HR1 02 Jun 2025 Kontan
Sepanjang tahun 2025, saham sektor konsumen nonprimer (consumer cyclicals) mengalami tekanan berat, dengan penurunan kinerja sebesar 12,14% year to date (ytd) — menjadikannya sektor berkinerja terburuk di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penurunan ini dipicu oleh perlambatan kinerja keuangan emiten, penguatan indeks dolar AS, pengetatan moneter, deflasi, dan berkurangnya daya beli masyarakat.

Namun, Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, menilai bahwa sektor ini berpeluang pulih. Faktor pendorongnya antara lain ekspektasi kebijakan dovish dari The Fed, stabilitas ekonomi domestik, nilai tukar rupiah yang menguat, serta potensi rotasi sektor ke saham-saham siklikal. Selain itu, program pemerintah seperti diskon tarif listrik juga diperkirakan bisa mendorong konsumsi rumah tangga terhadap barang nonprimer.

Jessica Leonardy, Equity Analyst OCBC Sekuritas, menyoroti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) sebagai salah satu saham yang menarik. MAPI diprediksi tumbuh kuat berkat portofolio merek internasional dan tren gaya hidup aktif di kalangan Gen Z dan milenial. MAPI juga ekspansif dengan rencana membuka 450 toko baru pada 2025.

Sementara itu, Laras Nadira dari Bahana Sekuritas menilai Grup Alfamart, melalui AMRT dan MIDI, sebagai pemain defensif yang tetap berpotensi tumbuh. MIDI bahkan diproyeksikan mencetak laba bersih sebesar Rp 758,8 miliar tahun ini, naik 25% dari estimasi sebelumnya. MIDI juga dinilai lebih fokus dan efisien setelah keluar dari bisnis Lawson.

Meskipun Kiwoom Sekuritas masih memberikan pandangan netral terhadap sektor ini, Audi menyarankan perhatian khusus terhadap saham AUTO dan MAPI, dengan target harga masing-masing Rp 2.480 dan Rp 1.700. Kesimpulannya, sektor konsumen nonprimer menghadapi tekanan jangka pendek, tetapi memiliki peluang pemulihan di paruh kedua 2025, terutama bagi emiten dengan strategi dan posisi pasar yang kuat.

Program Stimulus Ekonomi yang Akan Diberlakukan Pemerintah Mulai 5 Juni

KT1 02 Jun 2025 Investor Daily (H)

Program stimulus ekonomi yang akan diberlakukan pemerintah mulai 5 Juni diharapkan  dapat meredam dampak  PHK yang belakangan  marak  terjadi. Dengan stimulus, daya beli  masyarakat dapat terjaga dan pada akhirnya bisa menjga pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, paket stimulus  ini perlu dirancang  sebagai bagian dari policy mix yang lebih komprehensif yakni kombinasi antara dorongan konsumsi, penguatan investasi dan ekspor, intensif sektor produksi, dan stabilitas kebijakan agar mampu  mendorong  pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Merujuk data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), angka PHK per 20 Mei 2024 lalu yang jumlahnya tak sampai 5.000 orang. PHK terbanyak terjadi di tiga provinsi yakni Jawa Tengah sebanyak 10.695 orang, Jakarta 6.279 orang dan Riau 3.570 orang, sisanya provinsi lain, PHK ini, paling banyak datang dari berbagai sektor, terutama perdagangan  hingga jasa. Gelombang PHK ini meningkatkan angka pengangguran di Indonesia. Tercatat tingkat pengangguran tertinggi di Indonesi terdapat pada usia 19-24 tahun. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatatkan jumlah pengangakatan tertinggi, disusul SMA, SD, Diploma, lalu perguruan tinggi. Per Februari saja jumlah pengangkutan di Indonesia mencapai 7,28 juta orang. (Yetede)



Kredit Investasi Tumbuh Paling Pesat Tahun Ini

HR1 31 May 2025 Kontan
Di tengah melambatnya pertumbuhan kredit secara umum, kredit investasi justru menunjukkan lonjakan signifikan. Data Bank Indonesia mencatat kredit investasi tumbuh 15,3% secara tahunan pada April 2025 menjadi Rp 2.215,7 triliun, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Sektor yang mendorong pertumbuhan ini terutama adalah pertambangan dan penggalian (tumbuh 51,4%) serta pengangkutan dan komunikasi (tumbuh 25,7%).

Namun, kontribusi kredit investasi terhadap total kredit masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan kredit modal kerja dan konsumsi, sehingga pertumbuhan total kredit secara keseluruhan hanya mencapai 8,88% secara tahunan, turun dari bulan sebelumnya.

Tokoh-tokoh kunci dalam artikel ini menguatkan pandangan positif terhadap kredit investasi. M. Ashidiq Iswara, Corporate Secretary Bank Mandiri, menjelaskan bahwa sektor infrastruktur, telekomunikasi, dan transportasi mendorong pertumbuhan kredit investasi yang tinggi di Bank Mandiri, yakni 25,4% secara tahunan hingga Maret 2025. Ia menekankan pentingnya fokus pada sektor-sektor prospektif dan tahan banting sambil tetap menjaga prinsip kehati-hatian.

Sementara itu, Hera F. Haryn, EVP CSR BCA, menyampaikan bahwa kredit investasi BCA juga tumbuh pesat sebesar 17,9%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit total BCA yang hanya 12,6%. Ia menegaskan bahwa penyaluran kredit BCA tetap diarahkan ke sektor potensial dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang berkembang..

Bitcoin Melemah, Altcoin Curi Perhatian

HR1 31 May 2025 Kontan (H)
Bulan Juni historisnya menjadi periode yang kurang menguntungkan bagi investor kripto, dengan data menunjukkan rata-rata imbal hasil Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) cenderung negatif setiap Juni sejak 2013. Menjelang Juni 2025, Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur memperkirakan potensi koreksi BTC sebesar 5–10%, dengan penurunan jangka pendek hingga ke level sekitar US$ 102.000 dari posisi terakhir di US$ 105.958.

Fyqieh menyoroti bahwa sentimen pasar kripto saat ini juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter global dan arah suku bunga AS, dengan pertemuan FOMC pada 17–18 Juni 2025 menjadi perhatian utama pasar. Ia juga menyarankan investor untuk mempertimbangkan altcoin seperti XRP, yang sedang mendapat sorotan setelah Webus International Limited berencana menghimpun dana hingga US$ 300 juta untuk membentuk cadangan strategis dalam XRP.

Inovasi lain yang mendorong sentimen positif datang dari Coinbase, yang meluncurkan kontrak futures BTC, ETH, dan altcoin lainnya seperti SOL, ADA, dan HBAR, memungkinkan perdagangan 24 jam. Ini dianggap Fyqieh sebagai sinyal positif yang bisa mendorong legitimasi dan eksposur lebih besar terhadap aset kripto.

Altcoin lain yang dinilai prospektif antara lain TON, yang mendapat sentimen positif dari perekrutan Nikola Plecas, mantan eksekutif Visa, sebagai VP of Payments untuk mengintegrasikan TON dalam ekosistem Telegram. Adopsi ini dianggap mampu mendongkrak potensi TON dalam sistem pembayaran digital.

Dari sisi lokal, Robby, Chief Compliance Officer Reku, menilai tren investasi kripto di Indonesia terus berkembang. Ia optimistis jumlah investor akan terus meningkat dan menyebut bahwa kripto kini mulai dilihat sebagai bagian dari portofolio jangka panjang, sejalan dengan proyeksi Statista bahwa jumlah investor kripto Indonesia bisa menembus 28,65 juta orang pada tahun 2025.

Suzuki Investasi Rp 1 T

KT1 30 May 2025 Investor Daily
PT Suzuki Motor (SIM) menggelontorkan investasi sedikitnya Rp 1 triliun untuk mengembangkan model terbarunya, Suzuki Fronx di Indonesia. SUV ringkas yang hadir dalam varian bensin maupin mild hybrid ini telah dirakit secara lokal dan memiliki kandungan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang disebut sekitar 60%. Suzuki Fronx hadir dalam beberapa varian, yakni GL, seharga Rp 259 juta MT (transmisi manual) dan Rp271 juta AT (transmisi otomatis), GX seharga Rp271 juta (MT) dan Rp293,3 juta (AT), serta GSX seharga Rp 319,9 juta (AT). "Komponen saja investasi yang telah kita keluarkan lebih dari Rp1 triliun untuk pengadaan komponen (fronx) untuk produksi tidak hanya supplier tapi tentunya di pabrik perlu ada investasi, sehingga bisa dipastikan jumlahnya lebih dari Ro 1 triliun untuk mengembangkan Fronx," ujar Direktur Pelaksana  PT SIM Shodiq Wicaksono. PT SIM mendapatkan kepercayaan dari Suzuki Motor Corporation (SMC) Japan untuk memproduksi Suzuki Fronx secara lokal di Indonesia. Proses manufaktur keseluruhan model ini berlangsung di fasilitas Suzuki Cikarang Plant, Jawa Barat, yang telah memenuhi standar global dan didukung oleh berbagai pelaku industri lokal. (Yetede)

Di Indonesia Daya Saing Digital Meningkat

KT1 28 May 2025 Investor Daily (H)
East Ventures, perusahaan venture capital dan pionir investasi startup di Indonesia dan Asia Tenggara (Asean) bersama dengan Katada Insight Center, meluncurkan laporan East Ventures-Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2025. Melalui laporan ini, diungkapkan lanskap daya saing digital Indonesia meningkat. Ini tercermin dari skor EV-DCI 2025 sebesar 38,8. Skor ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu 38,1 (2024), 37,8 (2023), dan 35,2 (2022). Adapun EV-DCI 2025 menyajikan data daya saing digital di 38 provinsi dan 157 kota/kabupaten di Indonesia. "Laporan tahun ini menunjukkan peningkatan yang konsisten dan menegaskan pertumbuhan berkelanjutan dari ekonomi digital Indonesia. Hal yang menggembirakan adalah sejumlah provinsi dari wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) kini menunjukkan tren peningkatan yang menjanjikan," kata Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Wilson Cuaca. Peningkatan paling signifikan yang terlihat dalam pelaporan tahun ini adalah meningkatnya persentase pekerja yang menggunakan internet dan perluasan jangkauan 3G dan 4G di desa-desa. "Kesenjangan digital antardaerah juga terus menyempit, mencerminkan kemajuan yang stabil  menunjukkan pemerataaan digital reginal yang semakin baik," ujar Wilson. (Yetede)

UE Mengumpulkan Info Tentang Bisnis di AS

KT1 28 May 2025 Investor Daily (H)
Para pembuat kebijakan di Uni Eropa (UE) sedang mengumpulkan informasi dari perusahaan-perusahaan dan CEO terkemuka di blok mata uang tunggal itu tentang rincian rencana investasi mereka di AS. Hal  ini dilakukan seiring upaya UE yang bersiap-siap untuk melakukan negosiasi perdagangan dengan AS. Pada Senin (26/05/2025), anggota Konfederasi Bisnis di Eropa, atau dikenal sebagai Business Europe- yang terdiri dari aliansi 42 federasi di seluruh wilayah- dilaporkan telah menerima survei dari Komisi Eropa. Ada dua isi survei berupa permintaan informasi mengenai investasi AS yang akan datang dengan instruksi untuk merespons sesegera mungkin. Menurut sumber, yang dilansir berita Reuters pada Selasa (27/05/2025), catatan permintaan informasi tentang rencana investasi  untuk lima tahun ke depan telah dikirim ke 59 orang European Roundtable for Industry, dengan catatan bahwa permintaan itu datang secara pribadi dari Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Tetapi saat dimintai tanggapan tentang lembaran survey, baik BusinessEurope, European Roundtable for Industry dan Komisi Eropa menolak menanggapi. Bahkan mereka meminta untuk tidak membuka identitasnya, karena tidak memiliki kewenangan resmi untuk membahasnya. (Yetede)

Era Ekonomi Digital dan Kesiapan AI dan Transformasi Digital

KT1 27 May 2025 Investor Daily (H)
Indonesia memasuki era kecerdasan buatan (artificial intelegence/AI) dan transformasi digital dengan ambisi besar. Pemerintah menargetkan nilai ekonomi digital nasional mencapai US$ 130 miliar pada tahun 2025 ini dan US$ 315 miliar pada tahun 2030. Namun, ditengah melambatnya investasi teknologi dan kesenjangan digital yang mencolok di Tanah Air, muncul pertanyaan mendasar, apakah Indonesia benar-benar siap menjadi kekuatan digital baru di dunia? Beberapa tahun terakhir ini Indonesia menjadi sorotan sebagai pasar digital paling potensial di Asia Tenggara. Dengan populasi lebih dari 270  jiwa dan pengguna internet aktif lebih dari 210 juta, potensial pasar memang luar biasa. Namun, potensi tanpa kesiapan hanya akan menghasilkan kesenjangan-dan itulah yang dirasanya kini kita hadapi. Transformasi digital Indonesia masih berlangsung secara merata. Sebagian besar adopsi digital masih terkonsentrasi di sektor e-commerce dan fintech, terutama di   kawasan perkotaan. Sementata itu, pelaku UMKM di daerah terutama di luar Jawa dan menufaktur masih tertinggal jauh. (Yetede)

Emiten Konglomerat Pegang Porsi Terbesar di BEI

HR1 27 May 2025 Kontan (H)
Konglomerat Prajogo Pangestu mencatat tonggak bersejarah di pasar modal Indonesia, setelah dua emiten miliknya—PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)—masuk ke jajaran tiga besar kapitalisasi pasar (market cap) tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 26 Mei 2025. BREN menempati posisi kedua dengan nilai Rp 873 triliun, disusul TPIA di posisi ketiga dengan Rp 843 triliun.

Meskipun market cap BREN sempat menjadi yang tertinggi pada akhir 2024, posisinya kini kembali di bawah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang tetap bertahan sebagai pemuncak dengan kapitalisasi Rp 1.175 triliun. Koreksi harga saham menjadi faktor utama penurunan nilai BREN.

Sebaliknya, TPIA menunjukkan performa impresif berkat sejumlah sentimen positif. Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, penguatan TPIA dipicu oleh akuisisi kilang Shell di Singapura melalui kerja sama dengan Glencore, serta proyek CAP2 senilai US$5 miliar yang meningkatkan prospek pertumbuhan jangka panjang. Tambahan sentimen positif datang dari rencana IPO anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi.

Sementara itu, saham milik konglomerat lain seperti Sugianto Kusuma (Aguan) melalui PT Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) tergeser dari 10 besar market cap BEI, digantikan oleh PT DCI Indonesia (DCII). Saham emiten pelat merah seperti BBRI pun masih tertinggal, berada di posisi lima besar dengan market cap Rp 648 triliun.

Menurut analis Ekky Topan dari Infovesta Kapital Advisory, ada peluang saham dari Grup Salim (DNET) dan Sinarmas (SMMA) menyusul ke 10 besar. Ia juga menyebut saham CUAN dan PANI sebagai kandidat realistis, sementara saham AMMN berpotensi keluar dari 10 besar jika tidak ada katalis baru.

Dengan pencapaian ini, Prajogo Pangestu semakin memperkuat pengaruhnya di pasar modal Indonesia, menandai kebangkitan Grup Barito sebagai pemain utama dalam sektor energi terbarukan dan petrokimia regional.