Pertumbuhan Ekonomi
( 473 )Tingkat Konsumsi Diperkirakan Tetap Kuat hingga Akhir Tahun
Konsumsi diproyeksikan tumbuh kuat hingga akhir tahun 2023. Menjaga tingkat konsumsi diperlukan agar pertumbuhan tetap tinggi dan daya beli masyarakat terjaga. Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum yang tepat untuk mulai memacu konsumsi masyarakat hingga akhir tahun 2023. Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menjelaskan, konsumsi masyarakat Indonesia mulai membaik sejak awal tahun 2023, dan diproyeksikan tetap kuat hingga akhir tahun. Hal tersebut didasarkan pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI yang berada di batas optimis, di atas angka 100, sejak Desember 2022-Maret 2023. Hingga awal Maret 2023, IKK berada di angka 122,4. Menjaga tingkat konsumsi penting karena menjadi salah satu pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023.
”Angka IKK ini menunjukkan sentimen terhadap konsumsi terus meningkat, apalagi bila dibandingkan dengan tahun lalu. Angkanya mungkin tidak akan naik tajam, tetapi lebih stabil ke depannya,” ucapnya di Jakarta, Selasa (28/3). Sejumlah hal menjadi pendorong tingkat konsumsi, salah satunya tingkat belanja yang tinggi di periode Ramadhan dan Idul Fitri 2023. Aktivitas jual beli diharapkan terus bergulir serta tidak adanya lagi pembatasan memungkinkan masyarakat untuk berwisata. Selain itu, pihaknya memproyeksikan konsumsi tetap kuat karena tingkat upah minimum akan terus naik setiap tahunnya. Di tahun 2023, upah minimum diprediksikan naik 7 %. (Yoga)
2023, IMF Proyeksikan Ekonomi RI Tetap Kuat dan Tumbuh 5%
JAKARTA, ID Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap kuat dan tumbuh 5% pada tahun ini. IMF juga menilai pemerintah Indonesia berhasil menekan defisit anggaran tahun 2022 ke bawah level 3% dari produk domestik bruto (PDB), mencapai 2,4% dari PDB atau satu tahun lebih dari jadwal. "Pemulihan yang lebih cepat di Tiongkok atau mereda tekanan inflasi global dapat memperkuat permintaan ekspor Indonesia," jelas Asisten Direktur Departemen Western Hemisphere IMF Cheng Hoon Lim dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (24/3/2023). Dengan begitu Lim mengungkapkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini sedikit menurun dari capaian tahun 2022 sebesar 5,3% (yoy) lantaran didukung oleh harga yang tinggi untuk sebagian besar ekspor komoditas Indonesia. "Kebijakan Indonesia yang masuk akal, berwawasan kedepan, dan terkordinasi dengan baik membantunya menutup lingkungan global yang sangat menantang di tahun 2022 dengan pertumbuhan yang sehat, penurunan inflasi, dan sitem keuangan yang stabil dan menguntungkan," ungkap dia. (Yetede)
Siap-Siap Kinerja 2023 Merayap
Sejumlah emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis kinerja keuangan tahun 2022. Dari sekitar 823 emiten yang tercatat di BEI, hingga pekan lalu (17/3), sekitar 144 emiten sudah merilis laporan kinerja keuangan tahun 2022.
Dari jumlah itu, lima emiten membukukan nilai pendapatan di atas Rp 100 triliun. Salah satunya PT Astra International Tbk (ASII) yang meraup pendapatan sebesar Rp 301,38 triliun, naik 29,1% secara tahunan.
Di bawah ASII, ada dua emiten bank yang memiliki pendapatan di atas Rp 100 triliun. Yakni, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Tahun lalu, BBRI berhasil meraup pendapatan Rp 151,87 triliun, naik 5,82% secara tahunan. Sedangkan BMRI mencetak pendapatan Rp 112,38 triliun atau melonjak 14,97% secara tahunan.
Head of Business Development
FAC Sekuritas Indonesia Kenji Putera Tjahaja menyebut, kinerja keuangan emiten-emiten tersebut masih akan ciamik tahun ini, terutama emiten perbankan. Menurut Kenji, sentimen negatif kolapsnya tiga bank di Amerika Serikat (AS) hanya bersifat sementara.
Cuma, kinerja ASII tahun ini diproyeksi tidak akan sedahsyat tahun lalu. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Yanuar Hardy memproyeksi pertumbuhan penjualan ASII tahun ini hanya 3%-4% secara tahunan.
BI Perkirakan Pertumbuhan ekonomi Global 2023 Capai 2,6%
JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 mencapai 2,6%. Proyeksi tersebut sejalan dengan dampak positif pembukaan ekonomi Tiongkok dan penurunan disrupsi suplai global. BI juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa lebih baik dari proyeksi sebelumnya, hal ini diikuti oleh risiko resesi yang menurun. “BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 akan mencapai 2,6%. Perbaikan prospek ekonomi global diperkirakan menaikkan harga komoditas non-energi, di tengah harga minyak yang menurun akibat berkurangnya disrupsi suplai,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Maret 2023 pada Kamis (16/3/2023). Perry menuturkan, perkembangan ekonomi global serta ekspektasi kenaikan upah karena keketatan pasar tenaga kerja di AS dan Eropa mengakibatkan proses penurunan inflasi global berjalan lebih lambat. Hal tersebut mendorong kebijakan moneter ketat negara maju berlangsung lebih lama sepanjang 2023. Pengetatan kebijakan moneter dimaksud, ditambah munculnya kasus penutupan tiga bank di AS, meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global yang menahan aliranmodal ke negara berkembang dan meningkatkan tekanan nilai tukar di berbagai negara. (Yetede)
Konsumsi dan Investasi Dorong Ekonomi RI
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Keyakinan ini didasarkan konsumsi dalam negeri yang kuat dan lonjakan investasi dari kebijakan hilirisasi sumber daya alam. ”Semua faktor ini akan membuat Indonesia menjadi bintang bersinar di kawasan Asia Tenggara,” ujar Presdir PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong pada acara DBS Asian Insight Forum 2023, Jakarta, Rabu (15/3). Peran Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun ini juga sangat strategis. Ditambah, Indonesia baru saja menyelesaikan kepemimpinan G20 tahun lalu. (Yoga)
Pasar Software Indonesia Diproyeksikan US$ 1,4 Miliar
JAKARTA, ID – Nilai omzet pasar perangkat lunak (software) di Indonesia diproyeksikan mencapai US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 21,46 triliun pada 2023, bertumbuh dibandingkan tahun 2022 sebesar US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 19,92 triliun. Nilai proyeksi tersebut akan berkontribusi sekitar 10% terhadap total penjualan software maupun perangkat keras (hardware) di Tanah Air. Total nilai pasar software tersebut dihitung dari berbagai produk dan semua perangkat lunak yang dibeli/ditransaksikan secara nasional di Indonesia, termasuk produk perangkat lunak terpaket, lisensi, dan pemeliharaan. Associate Market Analyst IDC Indonesia Sandika Putra mengatakan, pada 2023, pasar software nasional akan terus tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya (year over year/ YoY). Pasarnya sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2022 yang tumbuh sebesar 14,4% YoY. “Penjualan software diperkirakan mencapai US$ 1,3 miliar tahun 2022 dan tumbuh menjadi US$ 1,4 miliar pada 2023, dengan kontribusi 10% tahun 2022 dan 2023 dari total penjualan software dan hardware,” ujar Sandika kepada Investor Daily, dikutip Selasa (14/3/2023). Kontribusi pasar software Indonesia tersebut di pasar kawasan Asia Tenggara mencapai sebesar 10,8%. (Yetede)
BI: Kinerja Ekonomi Terbaik Pascapandemi, RI Negara Tepat untuk Investasi
JAKARTA, ID – Indonesia memiliki kinerja ekonomi terbaik pascapandemi dengan pertumbuhan sebesar 5,31% pada 2022. Dengan pertumbuhan positif tersebut, investor mancanegara dapat berinvestasi di Indonesia dibandingkan di negara lain. Hal itu dikemukakan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat mempromosikan peluang investasi dan perdagangan melalui penyelenggaraan Indonesian Invesment Forum in Dubai (IIFD) 2023 di Dubai, Uni Emirat Arab. “IIFD bertujuan membuka kesempatan untuk menarik foreign direct investment (FDI), sekaligus memperluas pasar bagi produk berorientasi ekspor,” jelas Perry dalam keterangan resmi, di Jakarta, Kamis (9/3/2023). Rangkaian IIFD 2023 diselenggarakan oleh BI bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai, Kedutaan RI di Abu Dhabi, Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC)-Kementerian Investasi RI, dan Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC)-Kementerian Perdagangan RI pada 8 Maret 2023. Dalam kegiatan itu, Perry menyampaikan tiga alasan penting mengapa investor mancanegara harus berinvestasi di Indonesia dibandingkan di negara lain. Pertama, Indonesia memiliki kinerja ekonomi terbaik pascapandemi. Fundamental ekonomi Indonesia tergolong kuat dengan akselerasi digitalisasi yang optimal. “Perekonomian Indonesia lebih stabil dalam moneter dan keuangan, hal ini baik untuk investasi,” ujar dia. (Yetede)
Pertumbuhan Ekonomi 2023 Perlu Dukungan Sektor Digital
JAKARTA, ID – Pemerintah menilai, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada tahun ini perlu didukung oleh potensi di sektor digital. Di sisi lain, penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mendukung transformasi dan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Dua tahun terakhir, perilaku masyarakat semakin contactless dan ini salah satunya ditopang oleh layanan e-commerce dan on demand seperti ride hailing (ojek online) online food delivery, juga bisnis logistik berbasis online,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartato secara virtual dalam acara Executive Forum Media Indonesia: Menerangi Gelap 2023: Digital dan Konsumen jadi Andalan di Jakarta, Kamis (9/3/2023). Pada 2022, Indonesia disebut menjadi pemain utama di sektor digital Asean karena 40% dari total transaksi di kawasan Asia Tenggara berasal dari Indonesia. Nilai ekonomi digital pada 2025 diprediksi mencapai US$ 130 miliar dan akan terus meningkat hingga US$ 300 miliar pada 2030. Untuk merealisasikan potensi ekonomi digital yang sangat besar itu, lanjut dia, beberapa hal menjadi penting patut diperhatikan. “Di antaranya jumlah penduduk Indonesia yang sebagian besar dalam usia produktif (15-46 tahun), memiliki lebih dari 2.400 startup atau peringkat ke-6 negara dengan startup terbanyak di dunia, dan penetrasi internet telah mencapai 76,8%,” ucap dia. (Yetede)
Survei BPS: 72,19% Petani Indonesia Berskala Kecil
JAKARTA, ID–Hasil Survei Pertanian Terintegrasi (Sitasi) 2021 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sekitar 72,19% petani di Indonesia masuk kelompok skala kecil dengan ukuran fisik di antaranya kepemilikan lahan kurang dari 2 hektare (ha). Dari ukuran ekonomi, rata-rata pendapatan bersih petani skala kecil tersebut hanya Rp 5,23 juta per tahun. Melalui Sitasi 2021, diharapkan pemerintah bisa menentukan kebijakan yang paling tepat dalam memperbaiki nasib para petani skala kecil di Tanah Air. Deputi Bidang Stastistik Produksi BPS M Habibullah menyampaikan, ambang batas yang dihasilkan Sitasi 2021 untuk pengukuran petani skala kecil adalah luas lahan kurang dari 2 ha dan jumlah ternak yang dipelihara 3 TLU (tropical livestock unit). Untuk ukuran ekonomi, pendapatan pertanian mereka maksimal Rp 18,8 juta per tahun. “Persentase petani skala kecil di Indonesia pada 2021 sebanyak 72,19%. Sebaran terbesar di Pulau Jawa 58,18%, di Sumatra 20,29%, diikuti Bali dan Nusa Tenggara 7,45%, Sulawesi 6,89%, Kalimantan 4,41%, serta Maluku dan Papua 2,78%,” papar Habibullah saat diseminasi dan diskusi hasil survei BPS terkait Sitasi 2021 yang digelar Ombudsman RI, Selasa (07/03/2023). (Yetede)
Januari, Total Simpanan Jumbo Mencapai Rp 4,254 Triliun
JAKARTA, ID – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan total simpanan nasabah kaya dengan tiering nominal di atas Rp 5 miliar mencapai Rp 4.254 triliun di awal tahun ini. Nilai simpanan tersebut tumbuh paling tinggi diantara tiering lainnya sebesar 11,7% dibandingkan periode Januari 2022. Berdasarkan distribusi nominal simpanan, total simpanan sebesar Rp 8.004 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan dari sisi kepemilikannya, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 7.931 triliun tumbuh 8% (yoy) per Januari 2023. Merujuk tiering simpanan, nominal simpanan terbesar terdapat pada tiering simpanan lebih dari Rp 5 miliar yang mencakup 53,2% total simpanan. Apabila dibandingkan dengan tiering lainnya, hanya pertumbuhan simpanan jumbo yang naik dua digit secara tahunan. Disusul dengan pertumbuhan 5,1% (yoy) untuk simpanan dengan tiering Rp 200-500 juta yang sebesar Rp 558 triliun. Berikutnya, simpanan dengan tiering Rp 2-5 miliar naik 4,7% (yoy) menjadi Rp 650 triliun. Kemudian, simpanan nominal Rp 100-200 juta yang naik 3% (yoy) menjadi Rp 412 triliun per Januari 2023. Untuk tiering nominal di bawah Rp 100 juta tumbuh 2,8% (yoy) menjadi Rp 976 triliun.(Yetede)
Pilihan Editor
-
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
21 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022









