;
Tags

Ekonomi Makro

( 699 )

Ekonomi Dibayangi Harga Komoditas & Laju Rupiah

HR1 11 Jul 2023 Kontan

Kementerian Keuangan (Kemkeu) telah menetapkan outlook asumsi dasar ekonomi makro di 2023. Di tengah ketidakpastian global dan pelemahan harga komoditas, outlook pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan berkisar 5%-5,3%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan didukung oleh konsumsi rumah tangga dan ekspor yang masih terjaga. Outlook pertumbuhan ekonomi tersebut tak berubah dari target APBN sebelumnya yang di posisi 5,3%. Hanya, pemerintah menetapkan batas bawah outlook pertumbuhan ekonomi sebesar 5%. "Nilai tukar rupiah mengalami tekanan di tengah pengetatan kebijakan moneter global," tutur Menkeu dalam rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR, Senin (10/7). Menurut Sri Mulyani, laju inflasi tahun ini akan tetap terjaga dengan terkendalinya inflasi pangan dan administered price. Hanya saja, batas atas perkiraan inflasi 2023 masih lebih tinggi dari target dalam APBN yakni sebesar 3,6%. Ketua Banggar DPR, Said Abdullah mengemukakan, parlemen mengharapkan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester kedua tahun ini jauh lebih baik dibandingkan kuartal I-2023 yang sebesar 5,03% secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Awas, Tanda-Tanda Ekonomi Mulai Melambat

HR1 11 Jul 2023 Kontan (H)

Laju perekonomian Indonesia mulai memperlihatkan tanda-tanda perlambatan. Ini tecermin dari sejumlah indikator survei dan data terbaru. Terbaru adalah hasil survei Bank Indonesia (BI). Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI pada periode Juni 2023 tercatat di level 127,1. Angka ini menurun 1,2 poin dari bulan Mei yang sebesar 128,3. Benar angkanya masih di atas 100 yang menunjukkan optimisme. Namun, penjelasan Direktur Eksekutif, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono layak kita simak. "Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi terhadap ekonomi ke depan sedikit menurun dibandingkan Mei 2023," tutur dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/7). Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) Juni 2023 juga tercatat sebesar 116,8. Level ini turun dari 118,9 pada bulan sebelumnya. Sedang Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Juni 2023 di level 137,5 atau turun dari 137,8 pada Mei 2023. Indeks Keyakinan CEO Indonesia atau Indonesia CEO Confidence Index (ICCI) kuartal III 2023 di level 3,62. Angka itu turun dari level 3,69 di kuartal II-2023. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, masyarakat masih khawatir dengan ekonomi saat ini dan ke depan. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, dalam kondisi saat ini, pemerintah juga perlu segera mengatur belanja fiskal agar cepat dan tepat. Ia menyayangkan dana pemerintah pusat maupun daerah yang masih banyak mengendap di perbankan maupun BI. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky juga melihat ada potensi sandungan di tahun ini karena tensi pemilu mulai menghangat. Dalam kondisi ini, para investor cenderung menanti hasil pemilu sebelum berinvestasi.

Konsentrasi Kapital dan Oligarki

KT1 11 Jul 2023 Tempo

Indonesia sudah lama menghadapi masalah kesenjangan ekonomi. Konsentrasi kapital secara signifikan terlihat sejak 1970-an dan semakin kuat sepanjang era Orde Baru, yang bahkan tidak mampu diluruhkan oleh krisis besar pada 1997-1998. Di era reformasi, kesenjangan tampak tidak memudar. Bahkan konsentrasi kapital di tangan segelintir elite justru menguat. Dalam dua dekade terakhir, konsentrasi kapital semakin kental di Indonesia.

Sepanjang 2006-2022, jumlah dan nilai kekayaan miliuner Indonesia melonjak tajam. Sementara pada 2006 hanya terdapat tujuh orang atau keluarga di Indonesia dengan kekayaan di atas US$ 1 miliar (Rp 14,9 triliun), pada 2022 angkanya melonjak menjadi 46 orang atau keluarga. Dalam dua windu, total kekayaan miliuner ini meningkat lebih dari 14 kali lipat, dari US$ 12,3 miliar (Rp 182,9 triliun) pada 2006 menjadi US$ 176,7 miliar pada 2022 (Rp 2.627,7 triliun), yang berarti tumbuh 18,1 persen per tahun (compound annual growth rate). (Yetede)

Habis Pandemi, Terbitlah Disinflasi

KT1 10 Jul 2023 Tempo

Angka inflasi belakangan ini telah menunjukkan tren penurunan. Inflasi pada Juni 2023, misalnya, mencapai 3,52 persen secara tahunan. Angka itu lebih rendah daripada bulan sebelumnya yang bertengger persis di level 4 persen. Inflasi tampaknya lebih cepat masuk ke dalam rentang target daripada perkiraan sebelumnya. Pemerintah menetapkan target inflasi pada 2023 sebesar 3 persen plus-minus 1 persen. Konsistensi penurunan inflasi ini terasa saat memasuki awal 2023, setelah angkanya sempat meninggi pada tiga bulan terakhir 2022. Hal ini turut dipengaruhi perang Rusia-Ukraina, yang telah menyumbang pada peningkatan harga energi dan beberapa komoditas pangan di pasar global.

Paparan imbas kenaikan harga kedua komoditas strategis itu juga sampai ke Tanah Air. Kenaikan harga pangan bergejolak tak terhindarkan, meskipun harganya diatur pemerintah. "Puncak" inflasi, sebesar 5,95 persen, terjadi pada September 2022 saat pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Walhasil, disinflasi atau penurunan laju inflasi tengah berlangsung. Proses disinflasi bukan lantaran deflasi (inflasi yang minus). Besaran inflasi toh masih tetap positif, tapi selisih dari satu periode ke periode berikutnya terus mengecil. Jika tren disinflasi berlanjut, batas bawah target inflasi 2 persen bisa dicapai sampai akhir tahun. (Yetede)

Belanja dan Belanja, tetapi Kulkas Tak Juga Penuh

KT3 09 Jul 2023 Kompas

Pekerja dan keluarga kelas menengah kini menemukan kembali kesenangannya berkumpul bersama teman, makan bareng di luar, membeli produk-produk yang menarik hati, juga jalan-jalan. Namun, di balik sukacita pendongkrak ekonomi negara itu, terpapar fakta lain. Keinginan atau kebutuhan membelanjakan uang itu terkadang, bahkan sering kali, tak sebanding dengan kemampuan. Data terakhir OJK, Jakarta memiliki 2,3 juta rekening aktif di platform pinjaman daring untuk berutang Rp 10,5 triliun per Mei 2023. Persis di atas Jakarta ada Jabar dengan Rp 13,8 triliun (Kompas.id, 6/7/2023). Ada pengguna platform pinjaman daring karena tergoda iklan, iming-imingi bunga ringan, atau tertipu pihak tak bertanggung jawab.

Namun, secara umum, tingginya angka utang disebut OJK berkorelasi dengan belum pulihnya kemampuan ekonomi warga yang terdampak pandemi Covid-19. ”Sekarang, belanja Rp 1 juta ke atas, tiba di rumah kulkas belum terisi penuh. Enggak sampai seminggu, sudah kosong. Belanja lagi,” kata teman. Walau tak sampai mengganggu, sebagian orang itu tetap merasakan kenaikan harga menambah anggaran kebutuhan sehari-hari keluarganya. Di luar mereka, sebagian orang lagi terpaksa mengurangi kesenangan makan di luar. Pilihan produk makanan yang dibeli turun kelas agar kebutuhan harian terpenuhi. Sebagian lainnya, seperti temuan OJK, terpaksa berutang. Belanja makanan ditekan habis asal tetap kenyang dan masih bisa menambal kebutuhan lain, seperti pendidikan. (Yoga)


Imbas Pandemi, Sektor Ritel di Manado Lesu

KT3 07 Jul 2023 Kompas

Sektor ritel dan konsumsi masyarakat di Manado terindikasi menurun seiring dengan penutupan dua gerai ritel besar di ibu kota Sulawesi Utara itu. Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Sulut Robert Najoan mengatakan, perubahan perilaku belanja konsumen belum betul-betul pulih setelah pandemi. ”Bahkan, tahun 2022 masih lebih bagus dari semester awal 2023,” katanya, Kamis (6/7/2023). (Yoga)

Membidik Pembiayaan Utang Lebih Murah

HR1 06 Jul 2023 Kontan

Pemerintah bakal menjajaki pembiayaan utang yang lebih murah pada tahun ini. Di saat yang sama, pemerintah juga akan melakukan penghematan dengan mengurangi pembiayaan utang di sepanjang 2023. Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menghitung, pembiayaan utang pada tahun ini bisa dikurangi hingga Rp Rp 289,9 triliun. Artinya, pembiayaan utang menurun 41,6% dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 yang sebesar Rp 696,3 triliun. Hal tersebut sejalan dengan defisit anggaran yang diperkirakan lebih rendah, yakni 2,28% terhadap produk domestik bruto (PDB) dari target 2,84% terhadap PDB. Selama ini, pembiayaan utang pemerintah berasal dari dua sumber, yakni penerbitan surat berharga negara (SBN) dan penarikan pinjaman dari lembaga asing. Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemkeu) Sumito menyebutkan, pemerintah mengutamakan sumber pembiayaan dengan biaya dan risiko yang terkendali. "Portofolio utang sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Utang dalam rupiah sebesar 72% sehingga mengurangi risiko nilai tukar," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, sebaiknya pemerintah mengutamakan porsi penerbitan SBN karena lebih fleksibel. Artinya, pemerintah bisa memutuskan akan mengurangi atau menambah penerbitan SBN dengan mempertimbangkan kondisi penerimaan negara. Dengan adanya penghematan utang tersebut, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, rasio utang pemerintah pada akhir tahun 2023 akan berada pada kisaran 37% hingga 39% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dari target pemerintah yang sekitar 40,5% hingga 42,3% terhadap PDB. Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga memperkirakan, rasio utang pemerintah pada akhir tahun ini masih akan berada di kisaran 36% hingga 38% terhadap PDB. Namun, level itu masih lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

S&P Pertahankan Peringkat RI dengan Outlook Stabil

KT1 06 Jul 2023 Investor Daily

JAKARTA,ID-Lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada BBB dengan outlook stabil pada 4 juli 2023. Keputusan ini mempertimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, rekam jejak kebijakan yang baik, dan konsolidasi fiskal yang lebih cepat dari target awal. Di sisi lain, outlook stabil mencerminkan keyakinan S&P terhadap keberlanjutan pemulihan ekonomi Indonesia untuk dua tahun kedepan, yang akan mendukung kinerja fiskal dan stabilisasi utang.  Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, afirmasi rating Indonesia menunjukkan kayakinan kuat pemangku kepentingan internasional atas stabilitas makroekonomi dan prospek ekonomi jangka menengah Indonesia  yang tengah terjaga, ditengah peningkatan resiko global. Kepercayaan dunia internasional ini didukung oleh kredibilitas kebijakan yang tinggi dan sinergi bauran kebijakan yang antara pemerintah dan BI. "Ke depan, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global dan domestik, merumuskan dan melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, termasuk penyesuaian lebih lanjut atau stance kebijakan, serta tetap memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan." jelas Perry dalam siaran pers, Rabu (5/7/2023). (Yetede)

Naik Kelas, Kualitas Pertumbuhan Perlu Dikejar

KT3 05 Jul 2023 Kompas

Dalam laporan terbaru yang dirilis 1 Juli 2023, Bank Dunia menyatakan Indonesia kembali ke dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper middle-income country) dengan pendapatan nasional bruto (PNB) per kapita Indonesia sebesar 4.580 USD pada tahun 2022, naik 9,8 % dari tahun sebelumnya sebesar 4.170 USD. Dengan capaian itu, Indonesia kembali masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah atas. Negara-negara yang termasuk dalam kategori ini memiliki PNB per kapita berkisar 4.466 USD-13.845 USD. Sebelumnya, akibat terpukul pandemi Covid-19, Indonesia sempat turun kelas menjadi negara berpendapatan menengah bawah (lower middle-income country) pada 2020.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, Selasa (4/7) meningkatnya pendapatan per kapita Indonesia itu terjadi akibat pemulihan ekonomi yang cepat pascapandemi dan hilirisasi yang sedang digencarkan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian. Di sisi lain, Indonesia juga mendapat berkah ledakan harga komoditas pada tahun lalu. Namun, ia menilai, masih banyak pekerjaan rumah untuk mempertahankan status sebagai negara berpendapatan menengah atas itu. Apalagi untuk naik kelas menjadi negara bependapatan tinggi. ”Kalau pendapatan per kapita tinggi, tetapi ketimpangan juga masih tinggi, sama saja sia-sia karena pembangunan sekarang baru dinikmati segelintir orang,” katanya. Strategi hilirisasi di sektor mineral dan batubara sejauh ini dinilai belum mampu mendorong pembangunan yang berkualitas meski mampu mendongkrak kinerja ekspor dan pertumbuhan ekonomi. (Yoga)


Inflasi pada Juni 2023 Diperkirakan Melandai

KT3 03 Jul 2023 Kompas

Tingkat inflasi Juni 2023 secara tahunan diperkirakan di bawah 4 %. Artinya, tingkat inflasi akan mulai berada di rentang target pengendalian inflasi 2023 yang dicanangkan BI dan pemerintah, yakni sebesar 2-4 %. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berdasarkan hitungan tim ekonom Bank Permata, tingkat inflasi Juni 2023 diperkirakan 3,64 % secara tahunan. Artinya,tingkatinflasi akan mulai masuk dalam rentang target pengendalian inflasi tahun ini. ”Tingkat inflasi tahunan menunjukkan tren melandai dan akan berlanjut pada Juni 2023,” ujar Josua saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (1/7).

BPS mencatat, tingkat inflasi Mei 2023 mencapai 4 % secara tahunan. Angka ini menurun dibandingkan inflasi April 2023 yang tercatat 4,33 % secara tahunan. Kendati demikian, secara bulanan, inflasi Juni 2023 diprediksi lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Mei 2023. Kenaikan ini berasal dari aspek harga pangan bergejolak, seperti daging, cabai merah, dan cabai rawit. Kenaikan harga beberapa komoditas itu di antaranya dipicu oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari raya Idul Adha. Selain itu, ada juga kenaikan inflasi inti. Namun, inflasi harga diatur  pemerintah (administered price) justru diperkirakan turun seiring dengan penurunan harga BBM nonsubsidi pada awal Juni 2023. (Yoga)