Keuangan
( 1023 )Ganti Rugi Nasabah MSIG Life Masih Alot
Bukan perkara mudah bagi para nasabah korban kasus polis palsu PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (MISG Life) mendapatkan kembali dananya. Meski nasabah telah mengantongi kemenangan atas dua gugatan perdata di Pengadilan Negeri Manado, namun MISG Life dan Swita Glorite Supit melakukan perlawanan dengan mengajukan upaya banding.
Dua perkara tersebut tercatat dengan nomor 54/Pdt.G/2022/PN Mnd dan 61/Pdt.G/2022/PN Mnd. Majelis hakim pada kedua perkara itu, telah memutuskan MISG Life, Swita dan Veike Alma Angelique Wakary membayar kerugian nasabah secara tanggung renteng. Perkara tersebut pun kini ditangani Pengadilan Tinggi Manado.
Pihak MSIG Life menyatakan melakukan upaya banding, karena menilai dirinya juga merupakan korban dari aksi eks karyawannya tersebut. "Kami juga sebagai korban dan kami akan memperjuangkan hak kami," ujar Lukman Auliadi Head of Customer & Marketing PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG.
Salah seorang korban berinisial JT kepada KONTAN mengatakan pada 17 April 2023 sejatinya telah berlangsung audiensi dengan pihak MSIG Life. MSIG Life, kata JT, disebut menawarkan ganti rugi senilai Rp 6,9 miliar dari total kerugian Rp 133 miliar. Tentu saja tawaran itu langsung ditolak para nasabah.
ASEAN+3 Sepakati Perkuat Kerja Sama Keuangan
Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN+3, yakni 10 negara Asia Tenggara ditambah China, Jepang, dan Korsel, sepakat memperkuat kerja sama keuangan di kawasan. Salah satunya melalui penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal atau local currency transaction. Komitmen ini disepakati dalam Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral Negara Anggota ASEAN+3 (AFMGM+3), yang diadakan Selasa (2/5) di Incheon, Korsel. Pertemuan itu diselenggarakan di bawah mitra keketuaan dari Menkeu Indonesia Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo, Menkeu Jepang Shunichi Suzuki, dan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda.
Selain kesepakatan terkait LCT, negara-negara ASEAN+3 juga sepakat memperkuat kerja sama keuangan regional melalui inisiatif di bawah Regional Financing Arrangements (RFA) Future Direction, Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), AMRO, Asian Bond Markets Initiative (ABMI), dan Disaster Risk Financing (DRF). Disepakati pula ASEAN+3 Future Initiatives, termasuk pembiayaan infrastruktur, kajian studi pada fasilitas nonpembiayaan, pembiayaan risiko bencana (DRF), serta kajian studi beberapa tema strategis atas digitalisasi keuangan, keuangan berkelanjutan, utang korporasi, dan utang rumah tangga. ”Ditengah inflasi yang tinggi, kondisi likuiditas yang lebih ketat, ruang kebijakan yang lebih sempit, dan pengaruh kuat dolar, negara ASEAN+3 perlu berinovasi,” ujar Perry, dalam siaran pers, Rabu (3/5). (Yoga)
Indonesia Perluas Kerja Sama ”Dedolarisasi”
BI bekerja sama dengan bank sentral Korsel mendorong penggunaan mata uang lokal setiap negara dalam transaksi bilateral atau local currency transaction/LCT. Kerja sama ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dollar AS. Korsel menjadi negara kelima yang telah bekerja sama dengan Indonesia dalam LCT. Kesepakatan tersebut dituangkan melalui penandatanganan nota kesepahaman oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur Bank of Korea, RHEE, Chang Yong di sela-sela Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3, Selasa (2/5) di Korsel.
Melalui kerja sama itu, penyelesaian transaksi bilateral, seperti transaksi berjalan, investasi langsung, dan perdagangan di antara kedua negara, akan menggunakan mata uang local kedua negara. Ini mengubah transaksi sebelumnya yang menggunakan mata uang dollar AS. ”Pelaku usaha dapat memanfaatkan kerja sama ini untuk mengurangi biaya transaksi dan eksposur terhadap risiko nilai tukar dalam melakukan transaksi bilateral, antara lain, melalui penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung antara mata uang Korean won dan rupiah dalam perdagangan antarbank,” tutur Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Selasa. (Yoga)
Bokek, AS Terancam Gagal Bayar per Juni
AS lagi-lagi terancam gagal bayar. Uang tunai hasil penerimaan negara dan langkah-langkah di luar kebiasaan yang dikelola Departemen Keuangan AS tak akan cukup untuk membayar kewajiban-kewajiban pemerintah federal mulai Juni 2023. Situasi darurat keuangan Pemerintah AS itu disampaikan Menkeu Janet Yellen dalam surat resmi kepada Ketua DPR AS Kevin McCarthy. Surat tertanggal 1 Mei itu merupakan surat tindak lanjut atas surat Yellen kepada McCarthy per 13 Januari tentang batas maksimal atau pagu utang Pemerintah AS dan kemampuan Departemen Keuangan AS membiayai operasionalisasi pemerintah federal.
”Pada surat 13 Januari, saya memberi catatan bahwa uang tunai dan langkah-langkah di luar kebiasaan untuk membiayai operasionalisasi pemerintah federal AS akan habis pada awal Juni,” kata Yellen dalam surat terakhirnya. Setelah mengevaluasi realisasi penerimaan pajak federal baru-baru ini, menurut Yellen, perkiraan optimistis menunjukkan bahwa Departemen Keuangan AS tidak akan mampu membayarkan kewajiban-kewajiban pada awal Juni. ”Dan itu sangat mungkin terjadi sejak 1 Juni jika Kongres tidak menaikkan atau menunda pagu utang,” katanya. Yellen menegaskan, kegagalan Kongres meningkatkan pagu utang pemerintah akan menyebabkan kesulitan bagi warga AS dan mencederai posisi kepemimpinan global AS. Persoalan itu juga akan menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan AS mempertahankan kepentingan keamanan nasionalnya. (Yoga)
Asuransi Jiwa Pilih Instrumen Minim Risiko
Dalam kondisi ekonomi global yang serba tak pasti, industri asuransi jiwa lebih banyak memindahkan penempatan investasinya di Surat Berharga Negara (SBN). Secara keseluruhan, aset investasi secara industri juga masih turun.
Jika mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2023, aset industri asuransi jiwa turun tipis 0,48% secara tahunan menjadi Rp 517,84 triliun. Aset saham masih menjadi yang terbesar, dengan nilai Rp 153,77 triliun.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu menyadari, saat ini yang terjadi adalah banyak perusahaan asuransi jiwa memilih aset SBN. Bahkan, ada fenomena peralihan investasi dari aset saham ke SBN.
Pengalihan aset tersebut dinilai menjadi antisipasi perusahaan asuransi dalam berinvestasi. Saat ini, aset saham secara nominal masih yang paling tinggi.
Direktur Keuangan BNI Life Eben Eser Nainggolan mengungkapkan, saat ini total dana kelolaan investasi, termasuk syariah, sebesar Rp 21,9 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 1,4% bila dihitung sepanjang 2023 berjalan ini.
Direktur MNC Life Johannes mengungkapkan, di kuartal I-2023, pihaknya lebih banyak menempatkan dana pada instrumen saham. “Karena dana kelolaan terbesar kami berasal dari sub dana dengan strategi penempatan investasi pada instrumen saham,” kata Johannes.
Pendapatan Non Bunga Belum Optimal
Penopang pendapatan bank-bank besar di Tanah Air sepanjang tiga bulan pertama tahun ini tampil beragam. Ada bank yang tetap mengandalkan pendapatan dari bunga. Ada juga bank yang terus mengoptimalkan pendapatan dari non bunga.
Sejatinya, perbankan ingin mengoptimalkan pendapatan non bunga tahun ini agar bisa tumbuh dua digit di saat bunga acuan dalam tren meningkat. Namun, volatilitas nilai tukar rupiah menekan pendapatan berbasis komisi dari lini bisnis
foreign exchange trading, revaluation
dan derivatif.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri tercatat mampu mengandalkan pendapatan non bunga sebagai penopang pertumbuhan bisnis mereka kuartal I 2023. BRI mencatat non interest income tumbuh 14,3% secara tahunan alias
year on year
(yoy), sedangkan pendapatan bunga bersih hanya tumbuh 8,3% yoy.
Bank Mandiri bisa mengimbangi pertumbuhan pendapatan dari bunga dan non bunga yakni masing-masing sekitar 12% yoy.
Sementara pendapatan Bank Centtral Asia (BCA) dan Bank BNI di tiga bulan pertama ditopang dari bunga.
Net interest income
(NII) BCA melonjak 28% yoy. Sedangkan pendapatan non bunganya baru tumbuh 5,6% yoy. BNI mencatat penurunan pendapatan non bunga hingga 19,7% yoy. NII bank pelat merah ini tumbuh 12,7% yoy.
Permintaan Kredit Akan Tetap Tinggi Tahun Ini
Laju kredit perbankan secara tahunan sedikit melandai pada Maret, dibanding dua bulan sebelumnya. Mengutip data Bank Indonesia (BI), kredit per Maret tumbuh 9,93%
year on year
(yoy). Sebagai pembanding, kredit per Januari dan Februari masing-masing tumbuh 10,53% dan 10,64% yoy.
Industri perbankan dan BI meyakini permintaan kredit tetap tinggi di kuartal kedua hingga akhir tahun. Survei BI menunjukkan permintaan kredit korporasi di triwulan II akan lebih tinggi dari kuartal I. Proyeksi itu terindikasi dari saldo bersih tertimbang (SBT) korporasi 30,0% per Maret 2023, meningkat dari SBT di bulan sebelumnya, yaitu 26%.
Survei menyebut, permintaan datang dari sektor pertanian, industri pengolahan, dan penyediaan makanan dan minuman. Secara keseluruhan, BI tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit perbankan tahun ini di kisaran 10%-12%.
Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan, pertumbuhan terutama berasal dari industri yang cukup potensial seperti pengolahan, perdagangan, dan konsumsi rumah tangga. "Kami juga perkirakan permintaan kredit akan terus positif hingga akhir tahun sejalan dengan kondisi prospek ekonomi yang stabil dan PDB tumbuh 5% di 2023,” kata dia, belum lama ini.
Penilaian senada datang dari PT Bank BNI Tbk. Namun, bank ini tetap fokus pada kualitas aset, hingga penyaluran kredit akan difokuskan pada segmen prioritas yakni segmen wholesale serta ekosistem turunannya.
“Pertumbuhan kredit kuartal I masih sesuai
guidance
bisnis, yaitu 7,2% yoy. BNI optimistis menjaga pertumbuhan kredit hingga 10% di tahun ini,” ujar Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati.
KEUANGAN, Kaya dan Miskin Sama-sama Terjerat
Beberapa waktu terakhir, ramai pemberitaan soal pembunuhan dengan modus penipuan dukun pengganda uang di Banjarnegara, Jateng. Pelakunya, Slamet Tohari (45) yang biasa dipanggil Mbah Slamet, menjerat korban dengan iming-iming kemampuan menggandakan uang dengan kekuatan mistis. Para korban kebanyakan datang dari kalangan yang terimpit beban ekonomi. Mereka tergiur iming-iming kaya dengan instan. Tentu saja, kemampuan penggandaan uang Mbah Slamet omong kosong belaka. Ia menipu korban dengan mengambil uangnya, juga mencabut nyawa korban untuk menutupi kejahatannya. Sejauh ini, sudah ada 12 korban meninggal. Ini bukan kali pertama mencuat fenomena penipuan dukun dengan modus penggandaan uang. Sebelumnya, pada 2016, publik dihebohkan dengan aksi penggandaan uang dari Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dia juga memerintahkan pembunuhan korban yang meragukan kemampuannya. Kini, Dimas Kanjeng meringkuk di bui dengan vonis 21 tahun.
Publik juga dihebohkan sejumlah kasus penipuan investasi bodong. Mulai dari kasus investasi bodong dengan iming-iming influencer, seperti Indra Kenz dan Doni Salmanan, hingga kasus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya yang menyasar kalangan ekonomi menengah ke atas di kawasan perkotaan. Indra Kenz dan Doni Salmanan beroperasi dengan menumpang derasnya arus informasi media sosial dan pesatnya aplikasi keuangan digital. Indra dan Doni mengimingi-imingi warganet hidup bergelimang harta dan mengajarkan mereka berinvestasi di instrumen tertentu yang pada akhirnya terungkap bahwa itu pun penipuan. Ribuan korban tertipu dan merugi jutaan rupiah hingga miliaran rupiah. Kendati menyasar segmen masyarakat yang berbeda dan menggunakan modus operandi berbeda, kasus-kasus penipuan ini punya satu kesamaan, yakni memanfaatkan hasrat ingin kaya secara instan dengan mudah tanpa bekerja.
Banyaknya warga yang terjerat investasi bodong ini juga mencerminkan masih rendahnya tingkat literasi keuangan di Tanah Air. Mengutip Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dirilis OJK pada 2022, tingkat literasi keuangan pada level 49,68 %, naik dibanding pada 2019, di level 38,03 %. Survei dilakukan kepada 14.634 responden yang tersebar di 34 provinsi. Adapun yang dimaksud dengan literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku keuangan seseorang. Fenomena kondisi literasi keuangan yang belum merata ditambah kebutuhan pendanaan masyarakat yang tinggi, serta perilaku masyarakat yang ingin kaya instan, ini pun dibaca sebagai peluang bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya. (Yoga)
Tak Atur Keuangan, Babak Belur Kemudian
Selama Ramadhan hingga masa libur Lebaran, pengeluaran tentu akan jauh membengkak. Persiapan jauh-jauh hari terkadang tidak sesuai prediksi. Dompet menipis, tabungan terkuras. Perlu perencanaan maksimal agar keuangan tak jebol lagi di kemudian hari. Sejak jauh-jauh hari, Nafila (24) yang ditemui Selasa (25/4) telah merencanakan pengeluaran mudik tahun ini dengan matang. Pekerja BUMN di Cilegon, Banten, ini merencanakan THR-nya untuk sejumlah keperluan. Namun, lagi-lagi pengeluaran tak terduga tidak dapat dihindari. Sebelumnya, alokasi penggunaan THR-nya telah dirancang 75 % untuk keperluan Lebaran dan 25 % untuk ditabung.
Total Rp 5 juta ia anggarkan untuk tiket mudik ke Kebumen (Jateng), THR keluarga, membeli kue Lebaran, dan membantu memperbaiki rumah orangtua. Ternyata jatah untuk THR bertambah beberapa ratus ribu rupiah untuk saudaranya yang perkiraan awal Rp1juta. Tidak hanya itu, mudik dari Cilegon ke Kebumen juga membengkakkan anggarannya, dari Rp 2 juta untuk akomodasi dan transportasi, ia menambah Rp 500.000. Tidak mengira akan terjadi pembengkakan, Nafila akhirnya mengambil uang tabungan dan gaji. Alhasil, peruntukan menabung berkurang menjadi 20 % dari THR kali ini.
Nasib Olivia Putri (26) jauh lebih tragis, sebab ia tidak mendapat THR dari tempat kerjanya, sebuah perusahaan rintisan pendidikan di Jaksel. Informasi ini ia dapatkan H-8 Lebaran, persis sehari sebelum tenggat terakhir pembayaran hak pekerja oleh pengusaha. Tidak mendapatkan THR membuat ia harus merogoh tabungan untuk mudik dan berbagi rezeki kepada keluarga di kampung. ”Semenjak bekerja dan punya penghasilan sendiri, kebutuhan Lebaran jadi tanggunganku. Apalagi, semenjak bekerja jauh dari rumah, anggarannya berkali-kali lipat.
Selain beli tiket balik kampung, juga harus memberi rezeki ke nenek dan kakek untuk dibagi-bagikan ke saudara,” tutur Olivia, Senin (24/4). Baik Olivia, kakek, nenek, maupun adiknya yang tinggal di Ngaglik, Sleman, DIY, beragama Katolik. Namun, karena banyak kerabat dan tetangganya yang beragama Islam, mereka turut merayakan Lebaran. Jika seseorang disiplin dengan bujet yang sudah direncanakan, mereka akan lebih tahu kapan bujet sudah habis atau melampaui batas yang ditentukan. Jika tidak, tabungan akan terkuras habis. (Yoga)
Lebaran, Perputaran Uang Rp 92,25 Triliun
Perputaran uang di daerah selama periode libur Lebaran 2023 diperkirakan mencapai Rp 92,25 triliun. Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang, Minggu (23/4/2023), berharap hal itu bakal memutar ekonomi berbagai sektor di daerah, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Jalan Berliku Energi Ramah Lingkungan
25 Sep 2020 -
Membaik, Belanja Iklan Tembus RP 122 T
27 Aug 2020 -
Isu Kepemilikan Asing Kembali Mencuat
30 Jul 2020 -
Langsa Ekspor Cangkang Sawit ke Jepang
14 Aug 2020 -
Bisnis Laptop Laris Manis di Masa Pandemi
13 Aug 2020









