UMKM
( 688 )Bank Digital Afrika Membidik Pasar UMKM Indonesia
48 Juta Debitur Nikmati Subsidi Kredit Usaha Rakyat
Kementerian Koperasi dan UKM mencatat bahwa sebanyak 48 juta debitur telah menerima subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menurut Deputi Bidang Usaha Mikro Kemenkop UKM, Yulius, total penyaluran KUR dari 2015 hingga 30 September 2024 mencapai Rp1.739 triliun. Program KUR ini dirancang untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM dan memperkuat posisi mereka sebagai pilar ekonomi nasional. Subsidi bunga KUR juga telah mencapai Rp163 triliun dalam periode yang sama untuk meringankan beban debitur, terutama dalam situasi ekonomi sulit seperti pandemi Covid-19.
Plt. Deputi Bidang UKM Temmy Satya Permana menyatakan bahwa pembiayaan adalah isu penting bagi UMKM, dan Presiden Jokowi telah memberikan berbagai regulasi untuk memudahkan akses pembiayaan. Jokowi menetapkan target agar porsi kredit UMKM minimal 30% dari total kredit perbankan, serta memperkenalkan KUR klaster untuk mendukung usaha produktif di berbagai sektor.
Ellynawati Mengangkat Kuliner Seruit Lampung
Resep turun-temurun keluarga mengantarkan Ellynawati (57) sukses mengembangkan usaha kuliner tradisional seruit Lampung. Lewat usaha itu, ia turut memopulerkan kuliner khas setempat sekaligus memberdayakan puluhan orang. kan, rumah makan Sambal Seruit Buk Lin milik Ellynawati yang berada di Kota Bandar Lampung, Lampung, selalu dipadati pengunjung. Belasan mobil, bahkan bus, yang didominasi pelat nomor dari Sumatera Selatan, Jakarta, dan beberapa kota lain berjajar di lahan parkir restoran tersebut. Tak sedikit pula kendaraan yang rela parkir di bahu jalan raya karena lahan parkir sudah penuh. Pengunjung yang sebagian besar wisatawan dari luar kota itu sengaja mampir ke sana untuk mencicipi kenikmatan makanan tradisional Lampung itu. Sambal seruit kian populer dua tahun terakhir berkat usaha yang dirintis perempuan asli keturunan Lampung tersebut. Sesuai namanya, Sambal Seruit Buk Lin memang menyajikan menu utama sambal.
Sambal yang disajikan dalam restoran itu merupakan sambal terasi yang terbuat dari bahan cabai rawit, cabai merah, terasi, serta tomat kecil yang sering disebut ”rampai”.Campuran bahan itu diulek dalam cobek besar dan dipadukan dengan bumbu masakan, seperti garam, penyedap rasa, dan jeruk sambal atau jeruk limau. Sambal ini disajikan dengan menu olahan ikan, seperti ikan pindang, pepes, dan ikan bakar atau goreng. Sebagai bahan pelengkap, masakan itu disajikan bersama aneka lalapan segar, sepert timun, kemangi, petai, jengkol, leunca, dan kenikir.
Ada juga rebusan daun singkong, bayam, sawi, labu siam, dan terung. Menu pelengkap lainnya adalah tempoyal atau daging durian yang sudah difermentasi. Jika ingin menu tambahan, ada tahu atau tempe goreng dan ayur asam. Dalam masyarakat Lampung, kata ”seruit” sendiri mengacu pada perpaduan aneka makanan sambal, olahan ikan, dan lalapan. Sementara kata ”nyeruit” mengacu pada kata kerja yang menggambarkan cara makan sambal khas masyarakat Lampung Sebelum dimakan bersama nasi, sambal terasi biasanya akan dicampur dulu dengan ikan, terung, dan serutan timun dalam sebuah piring. Perpaduan aneka bahan makanan itu kemudian diaduk menggunakan tangan sampa benar-benar menyatu. Campuan inilah yang dikenal sebagai seruit. (Yoga)
UMKM Industri Perbankan Tumbuh Merosot
UMKM industri perbankan per Agustus 2024 tercatat tumbuh 4,3% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.379,4 triliun. Pertumbuhan tersebut menjadi yang terendah di sepanjang tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun Investor Daily, per Januari 2024 kredit UMKM tumbuh 7,9% (yoy) utamanya ditopang oleh kredit mikro yang tumbuh tinggi 24,5% (yoy), sedangkan kredit kecil dan menengah terkontraksi masing-masing 2,8% dan 3,5%. Kemudian pertumbuhan UMKM meningkat pada posisi Februari menjadi 8,9% (yoy), meski ada penurunan dari kredit mikro, dan kecil, sedangkan kredit menengah berbalik arah menjadi tumbuh positif 3,1% (yoy). Penyusutan pertumbuhan UMKM mulai terjadi pada Maret hingga Agustus tahun ini. Dimana yang paling jelas terlihat adalah perlambatan dari pertumbuhan kredit mikro dari yang tumbuh diatas 24% (yoy) per Januari hingga hanya 5,6% (yoy) per Agustus. Sementara itu kredit usaha kecil membaik dari yang sebelumnya terkontraksi menjadi tumbuh positif 4% (yoy) per Agustus. Meski data BI per Agustus 2024 masih sementara, namun apabila dibandingkan secara bulanan juga mengalami perlambatan dari Juli yang tumbuh 5,1% (yoy).
Pembiayaan UMKM: Kunci Pemulihan Ekonomi Nasional
Selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, berbagai kebijakan untuk memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah membuka peluang besar bagi pelaku usaha di seluruh Indonesia. Konsistensi kebijakan pemerintah, termasuk fasilitasi pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), mampu mendorong pengembangan usaha dan memperkuat perekonomian nasional.
Contohnya, Deny Martindo, pemilik merek Kopi Benawa dari Palembang, berhasil mengembangkan usahanya dari gerobak kecil menjadi produsen kopi yang menembus pasar nasional. Hal serupa juga dialami Zulhadi, produsen minyak kelapa dari Lombok, yang berhasil memperluas pasarnya hingga Yogyakarta dan berbagai kota besar lainnya. Mereka merasakan manfaat dari stabilitas ekonomi dan iklim usaha yang kondusif, serta dukungan dari lembaga pemerintah.
Program KUR juga terbukti efektif bagi pelaku UMKM seperti Nizar Lubis, pekebun sawit, dan Partono, penjual LPG di Bogor, yang menggunakan fasilitas pinjaman untuk mengembangkan bisnis mereka. Pada 2022, penyaluran KUR mencapai nilai tertinggi sebesar Rp365,5 triliun, memberikan manfaat bagi 7,62 juta penerima.
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, menekankan empat hal penting untuk memperkuat UMKM, yakni perluasan akses pembiayaan, peningkatan inovasi pembiayaan, penguatan sinergi lintas sektor, dan evaluasi berkala untuk memastikan program berjalan sesuai target.
UMKM yang Kuat, Fondasi Ekonomi yang Stabil
Selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, berbagai kebijakan untuk memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah membuka peluang besar bagi pelaku usaha di seluruh Indonesia. Konsistensi kebijakan pemerintah, termasuk fasilitasi pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), mampu mendorong pengembangan usaha dan memperkuat perekonomian nasional.
Contohnya, Deny Martindo, pemilik merek Kopi Benawa dari Palembang, berhasil mengembangkan usahanya dari gerobak kecil menjadi produsen kopi yang menembus pasar nasional. Hal serupa juga dialami Zulhadi, produsen minyak kelapa dari Lombok, yang berhasil memperluas pasarnya hingga Yogyakarta dan berbagai kota besar lainnya. Mereka merasakan manfaat dari stabilitas ekonomi dan iklim usaha yang kondusif, serta dukungan dari lembaga pemerintah.
Program KUR juga terbukti efektif bagi pelaku UMKM seperti Nizar Lubis, pekebun sawit, dan Partono, penjual LPG di Bogor, yang menggunakan fasilitas pinjaman untuk mengembangkan bisnis mereka. Pada 2022, penyaluran KUR mencapai nilai tertinggi sebesar Rp365,5 triliun, memberikan manfaat bagi 7,62 juta penerima.
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, menekankan empat hal penting untuk memperkuat UMKM, yakni perluasan akses pembiayaan, peningkatan inovasi pembiayaan, penguatan sinergi lintas sektor, dan evaluasi berkala untuk memastikan program berjalan sesuai target.
Pasar Murah Kurang Diminati Warga
Petugas pasar murah PT Food Station terlihat sedang melayani warga yang berbelanja kebutuhan pokok di Kantor Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta, Kamis (12/9/2024). Keberadaan pasar murah ini kurang mendapat sambutan dan tidak diminati warga setempat. Alasannya adalah harga barang-barang kebutuhan pokok yang dijual tidak berbeda jauh dengan harga di warung dan pasar tradisional, sehingga sepi pembeli. (Yoga)
Bisnis UMKM: Jangan Lupakan Segmen 'Wong Cilik'
Pandemi Covid-19 membawa tantangan berat bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, yang sempat terhenti aktivitasnya. Meskipun stimulus pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membantu meringankan UMKM dengan kebijakan restrukturisasi kredit, kondisi bisnis mereka masih belum pulih sepenuhnya.
Stimulus Pemerintah: Stimulus tersebut mencakup perpanjangan tenor dan diskon suku bunga yang membantu bank mempertahankan laba positif, meskipun kredit macet meningkat. Namun, dengan berakhirnya kebijakan relaksasi ini pada tahun 2024, bank kini harus menambah pencadangan akibat naiknya rasio kredit bermasalah (NPL), yang tercermin dari NPL gross sebesar 2,27% pada Juli 2024.
OJK menolak perpanjangan kebijakan relaksasi kredit bermasalah kecuali untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), meskipun ada desakan dari bank pelat merah seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri. Akibatnya, bank-bank besar mulai mengalihkan fokus mereka dari UMKM ke sektor korporasi yang dianggap lebih rendah risikonya.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang ketidakmerataan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kesenjangan antara pelaku usaha besar dan kecil. Untuk itu, dibutuhkan peran aktif pemerintah dalam memberikan stimulus lebih lanjut dan memperkuat UMKM. Selain itu, bank harus berperan dalam mendampingi UMKM agar mereka dapat kembali pulih, bukan hanya mengambil keuntungan saat sektor ini menguntungkan.
Mendorong Siswa Pendidikan Vokasi Berwirausaha Produk Lokal
Peserta didik pendidikan vokasi didorong mendalami ilmu wirausaha untuk menjadi pengusaha baru yang memajukan produk lokal Nusantara. Berbagai pelatihan kriya hingga pemodalan dan pemasaran ditanamkan agar mereka sukses dan mandiri menjalani usaha. Plt Dirjen Vokasi Kemendikburistek, Tatang Muttaqin mengutarakan, para peserta didik di pendidikan vokasi memiliki potensi besar berkembang menghadapi pasar nasional ataupun global. Produk lokal Nusantara yang dihasilkan mereka sudah diakui tak kalah bersaing dengan produk pabrikan besar. Kemendikbudristek melalui Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) sejak 2020 sudah meluluskan 4.699 wirausaha baru dan perajin produk Nusantara yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka adalah anak usia 15-25 tahun yang tidak sekolah dan tidak bekerja.
”Mereka yang mau berwirausaha dengan pendidikan kecakapan wirausaha dilatih di Lembaga Kursus dan Pelatihan selama satu bulan. Lalu mereka dibantu peralatan dan pemodalan agar bisa mulai berwirausaha,” kata Tatang, di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Sabtu (31/8). Para wirausaha ini didorong berkarya memajukan kebudayaan lokal, seperti membuat tenun dan kriya Nusantara. PKW Tekun Tenun dan Kriya telah melatih sekitar 3.000 peserta didik sejak 2020 bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). Tatang menyebut, hasilnya tidak hanya melatih keterampilan peserta didik, tetapi juga kewirausahaan sehingga mereka dapat merintis usaha dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan lingkungannya. Program tersebut pun tidak memaksa mereka dan dinilai tidak mengganggu pendidikan akademisnya. Beberapa peserta didik justru bisa melanjutkan studi dengan hasil wirausahanya. (Yoga)
Festival BTV Semesta Berpesta Gairahkan Industri UMKM.
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









