Investor Siap Melego Saham Emiten Tekno
Emiten teknologi di Tanah Air masih dihantui sentimen negatif. Terbaru, sejumlah emiten teknologi harus menghadapi rencana hengkangnya investor kakap pemilik sebagian saham perusahaan. Kabar tak sedap ini melanda dua emiten teknologi, yakni PT Bukalapak Tbk (BUKA) dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Sumber KONTAN, menyebutkan, perusahaan pengelola dana kekayaan alias sovereign wealth fund (SWF) asal Singapura yakni Government of Singapore Investment Corporation (GIC) sedang mempertimbangkan untuk menjual kepemilikannya di BUKA dan EMTK. Jejak investasi GIC di pasar modal Indonesia dilakukan secara langsung lewat melalui entitas anak usahanya, yaitu Archipelago Investment Pte Ltd dan Salween Investment. Terlebih, GIC bukan lembaga SWF kacangan. Jejaring portofolio investasi SWF milik pemerintah Singapura ini tersebar di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk di emiten Indonesia.
Dikutip dari data Global SWF, saat ini total assets under management (AUM) atau dana yang dikelola GIC mencapai US$ 769 miliar atau setara Rp 12.380 triliun.
Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee melihat, langkah melego saham emiten teknologi dari private equity dipicu sejumlah faktor. Terutama, investor tidak melihat prospek emiten di masa depan.
Di tengah perjuangan berat memperbaiki kinerja, emiten teknologi dituntut untuk terus menggelar program promo agar bisa berkompetisi. "Emiten masih harus bakar uang untuk menjaga pertumbuhan dan pangsa pasar. Ini yang membuat investor cabut dari emiten itu," ujarnya, kemarin.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, jika investor kakap pergi, berarti mereka telah mencapai target investasi. Atau justru rugi dan beralih ke sektor lebih menguntungkan. Jadi ini bagian dari strategi investasi.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mencermati, peralihan investasi dari dan ke sektor teknologi dipengaruhi term of investment investor yang sudah berakhir. Dus, emiten harus bisa mencari sumber dana lain untuk menjaga pertumbuhan dan ekspansi bisnis.
Penetrasi Pasar Bikin Kinerja Sehat
Kinerja PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) berpeluang lebih sehat di tahun ini. Sejumlah agenda ekspansi KLBF untuk memperluas pasar bisa berbuah manis dalam jangka panjang. Salah satu ekspansi KLBF baru-baru ini adalah mengakuisisi saham Alliance Pharma Co Ltd, perusahaan farmasi asal Thailand. Akuisisi sebanyak 49% saham itu dilakukan melalui Kalbe International Pte Ltd. KLBF akan mengklasifikasikan investasinya di Alliance sebagai investasi pada entitas asosiasi. Karena kepemilikannya kurang dari 50%, pendapatannya tidak akan dikonsolidasikan ke KLBF. Tapi, analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih menilai akuisisi ini bisa mendorong pendapatan ekspor KLBF yang menurun pada tiga bulan pertama tahun lalu. Pendapatan ekspor KLBF biasanya berkontribusi sekitar 6% dari total pendapatan. Namun, pada tiga bulan pertama tahun lalu, kontribusinya turun menjadi 4,5% di karena nilai penjualan yang melorot 22,7% year on year (yoy) menjadi Rp 382 miliar.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo juga sepakat, kinerja keuangan KLBF berpotensi tumbuh positif. Pendorongnya bukan cuma dari ekspansi perusahaan, tapi juga permintaan produk kesehatan yang masih tinggi. KLBF pun membidik pertumbuhan laba bersih 15% pada tahun ini. Andreas menambahkan, kinerja KLBF di kuartal pertama lalu masih solid. Pendapatan KLBF tumbuh 6,3% yoy dan 6% quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 8,36 triliun. Pendapatan KLBF didorong oleh pertumbuhan volume di pasar lokal dan penyesuaian rata-rata harga jual (ASP) tahunan sebesar 3%-5% untuk produk-produk tertentu. Sedangkan laba bersih KLBF tumbuh 11,9% yoy dan 36,4% qoq menjadi Rp 958 miliar. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, pangsa pasar KLBF masih kuat. Hanya saja, ada sejumlah tekanan yang bisa menjadi risiko untuk KLBF. Karena itu, Nico memperkirakan pertumbuhan laba bersih KLBF tahun ini hanya berkisar 7%-9% secara tahunan, lebih rendah dari target yang dipasang perusahaan. Sedangkan Andreas memperkirakan, pendapatan KLBF akan menyentuh Rp 33,1 triliun dengan laba bersih Rp 3,15 triliun pada akhir 2024 ini.
BI Tak Kendurkan Fokus Penguatan Rupiah
Bank Indonesia (BI) memastikan, fokus kebijakan moneter bank sentral dalam jangka pendek terus diarahkan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar (kurs) rupiah dan menarik aliran masuk modal asing. Langkah itu diambil meski belakangan ini kurs rupiah terus menguat terhadap dolar AS, setelah pada akhir Juni lalu sempat melemah hingga level terendah dalam empat tahun terakhir. Kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui pertama, struktur suku bunga di pasar uang rupiah dengan menjaga daya tarik imbal hasil (yield), terutama bagi portofolio asing.
Kedua optimalisasi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan Valas bank Indonesia, dan Sukuk Valas BI. "Fokus kebijakan moneter dalam jangka pendek diarahkan untuk memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah dan menarik aliran masuk modal asing. Sedangkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujar Perry Warjiyo. (Yetede)









