Emas Picu Inflasi, Bukan Kenaikan Daya Beli
Inflasi di Indonesia pada Oktober 2024 mencapai 0,08% (mtm) setelah mengalami deflasi selama lima bulan. Amalia Adininggar Widyasanti, Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa komoditas emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi bulan ini dengan kontribusi sebesar 0,06%. Secara tahunan, inflasi emas perhiasan mencapai 35,82% (yoy), seiring meningkatnya harga emas global akibat ketidakpastian geopolitik, seperti konflik di Timur Tengah dan Ukraina-Rusia, serta kebijakan moneter The Fed yang menurunkan suku bunga, mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset aman.
Selain emas, inflasi juga disumbang oleh komoditas lain, seperti daging ayam ras, bawang merah, dan tomat. Meski inflasi inti naik menjadi 0,22% (mtm) dan 2,21% (yoy), komponen harga bergejolak tetap mencatat deflasi 0,11% (mtm).
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai kenaikan inflasi ini belum menunjukkan perbaikan daya beli masyarakat. Menurutnya, inflasi tahunan yang rendah sejak 2021 dan tren PMI Manufaktur di bawah 50 menunjukkan lemahnya konsumsi rumah tangga. Bhima memperkirakan inflasi akan meningkat pada awal 2025 dengan penerapan tarif PPN 12%, yang bisa menekan permintaan lebih lanjut. Ia menyarankan pemerintah segera meluncurkan stimulus berupa peningkatan upah minimum dan perluasan bantuan sosial bagi masyarakat kelas menengah yang rentan.
Laba Meroket, Prospek Emiten Energi Terbarukan Cerah
United Bike Genjot Produksi Kendaraan Listrik
Performa Cemerlang Bank Digital
Eksplorasi Migas RI Tarik Kembali Minat Investor Asing
Indonesia mengalami peningkatan minat investasi di sektor minyak dan gas bumi (migas) berkat respons positif pemerintah dalam melakukan berbagai reformasi, termasuk perbaikan sistem fiskal, perpajakan, dan pemberian insentif. Hal ini menciptakan iklim investasi yang lebih menarik bagi para investor global. Salah satu indikatornya adalah kembalinya sejumlah raksasa migas internasional, seperti Exxon, Inpex, Petronas, dan Mubadala, yang terlibat dalam eksplorasi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti West Andaman, Barong, dan Seram Aru. Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas, mengungkapkan bahwa penemuan besar di laut dalam, seperti di wilayah South Andaman dan Geng North Ganal, telah mengubah persepsi dunia terhadap potensi sumber daya alam Indonesia, yang semakin menjanjikan bagi sektor migas.
Pegawai dan Staf Ahli Kominfo Terlibat Jaringan Judi Online Ditangkap
Polda Metro Jaya telah menangkap 11 orang, termasuk dua oknum pegawai dan seorang staf ahli dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), terkait dugaan keterlibatan dalam jaringan judi online. Menurut Kombes Ade Ary Syam, Kabid Humas Polda Metro Jaya, para oknum ini menyalahgunakan wewenang mereka dengan tidak memblokir situs judi online, bahkan diduga mendukung operasional situs tersebut.
Ade mengungkapkan bahwa kasus ini masih dalam penyelidikan, dengan beberapa tersangka lainnya masuk dalam daftar pencarian orang.
Sementara itu, Menteri Komdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa penegakan hukum akan dilakukan secara tegas dan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap pejabat yang mendukung atau memfasilitasi aktivitas ilegal tersebut. Langkah ini diambil untuk menjaga integritas kementerian dalam memberantas judi online.
Kemajuan Teknologi Rudal Korea Utara Kian Mengkhawatirkan
Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mencatatkan rekor penerbangan baru. Peluncuran ini menunjukkan kemampuan rudal yang semakin berkembang, memungkinkan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, untuk memuat hulu ledak yang lebih berat dan meningkatkan potensinya dalam melancarkan serangan nuklir ke daratan Amerika Serikat. Foto-foto yang dirilis oleh media pemerintah Korea Utara, KCNA, memperlihatkan rudal tersebut menggunakan peluncur bergerak dengan 11 poros, yang lebih besar dibandingkan dengan peluncuran sebelumnya yang melibatkan truk sembilan gandar. Hal ini menandakan kemajuan signifikan dalam program rudal Korea Utara.
Manufaktur Tetap Melaju: Indeks Kepercayaan di Zona Positif
Industri pengolahan di Indonesia mengalami perkembangan positif, tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 52,75 pada Oktober 2024, menunjukkan ekspansi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat 52,48. Kenaikan ini didorong oleh 22 subsektor industri yang berkontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas, meskipun hanya satu subsektor, yakni industri kayu, barang dari kayu dan gabus, yang mengalami kontraksi.
Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, menyatakan bahwa subsektor industri minuman dan barang galian nonlogam mencatatkan nilai IKI tertinggi pada Oktober 2024. Kinerja manufaktur yang tetap berada di zona ekspansi juga didorong oleh kenaikan variabel produksi dan persediaan produk, meskipun ada sedikit pelambatan dalam pesanan baru, terutama akibat lesunya pasar global.
Namun, optimisme pebisnis terhadap prospek bisnis enam bulan ke depan meningkat signifikan, mencapai 73,3%, mencerminkan kembali pulihnya keyakinan para pelaku usaha setelah sempat menurun sejak Juli 2024. Kenaikan ini juga dipicu oleh pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta pembentukan Kabinet Merah Putih, yang dianggap memberikan angin segar bagi dunia usaha dan perekonomian Indonesia ke depan.
Menguatkan Kepercayaan Investor di Tengah Tantangan Ekonomi
Pemerintahan Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah memulai langkah-langkah signifikan dalam menghadapi tantangan ekonomi, dengan fokus pada sektor riil dan pasar keuangan. Meskipun baru dua pekan menjabat, Presiden Prabowo sudah melakukan konsolidasi pemerintahan dengan rapat-rapat terbatas guna merumuskan langkah-langkah strategis. Salah satu perhatian utama adalah penyelamatan perusahaan tekstil besar, PT Sritex, yang menghadapi masalah gagal bayar utang, yang menunjukkan upaya nyata pemerintah untuk mendukung industri yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Di pasar keuangan, arus investasi asing menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, dengan pembelian Surat Utang Negara (SUN) yang mencapai rekor tertinggi sejak 2017. Hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, yang juga didorong oleh laporan keuangan positif dari sejumlah emiten besar, seperti bank-bank negara. Meski demikian, pelaku pasar tetap mengharapkan terobosan dan inovasi dari kabinet baru untuk memperkuat iklim investasi, mengingat tantangan terkait koordinasi dan birokrasi antar kementerian yang masih perlu diselesaikan.
Dengan mempertahankan figur-figur kunci seperti Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan, pemerintahan Prabowo diharapkan dapat menjaga kepercayaan pasar dan terus menarik lebih banyak investasi. Keberhasilan kabinet dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam memastikan prospek ekonomi Indonesia yang positif di masa depan.
Kemandirian Energi: Strategi Baru Tingkatkan Lifting Migas
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan peningkatan lifting minyak dan gas bumi (migas) untuk mewujudkan kemandirian energi nasional, guna mengurangi ketergantungan pada impor. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa langkah ini mencakup pengembangan 301 wilayah kerja migas yang belum memiliki rencana pengembangan (POD) dan optimalisasi 4.500 sumur idle. Upaya ini didukung oleh PT Pertamina dan Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus, lembaga baru yang dibentuk Presiden.
Deputi SKK Migas Benny Lubiantara menekankan pentingnya revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi untuk memberikan kepastian hukum kepada investor. Revisi ini diharapkan mendorong eksplorasi migas yang lebih masif, termasuk pengembangan proyek strategis seperti Lapangan Geng North yang mengandung cadangan migas besar. Benny juga menyoroti urgensi mengatasi hambatan ekonomi dan teknis di sejumlah lapangan migas agar tidak dikembalikan ke negara.
Instruksi ini sejalan dengan visi Prabowo untuk mengantisipasi krisis energi di tengah konflik geopolitik global, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri.









