;

Ketidakstabilan Keuangan BPJS Kesehatan Jadi Sorotan

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Bisnis Indonesia

BPJS Kesehatan kini menghadapi potensi defisit yang cukup besar, meskipun sebelumnya institusi ini mencatatkan surplus selama masa pandemi Covid-19. Kondisi defisit ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara klaim yang dibayar untuk manfaat kesehatan dengan pendapatan premi yang diperoleh. Salah satu penyebab utama adalah rasio kerugian aktuaria, khususnya pada kelas II dan III, dengan segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang paling terdampak. Diperkirakan jika masalah ini tidak segera teratasi, BPJS Kesehatan bisa mengalami aset neto negatif pada November 2025, dan potensi gagal bayar bisa terjadi pada pertengahan 2026.

Selama pandemi, BPJS Kesehatan mendapat keuntungan dari berkurangnya jumlah pengunjung fasilitas kesehatan dan klaim yang menurun, sehingga tercatat surplus. Namun, setelah pandemi, tantangan baru muncul dengan biaya kesehatan yang terus melambung, inflasi yang meningkat, dan beban lainnya seperti bocornya peserta BPJS, yakni banyak peserta yang tidak aktif atau menunggak iuran. Selain itu, faktor lainnya yang memperburuk defisit adalah rendahnya kenaikan upah pascapandemi, tingginya piutang pemerintah daerah, serta pengelolaan data yang belum optimal.

Meskipun demikian, ada beberapa solusi yang diusulkan untuk mengurangi defisit ini, seperti penyesuaian iuran, sistem sharing iuran antara pemerintah daerah dan badan usaha, serta amnesti tunggakan iuran selektif untuk yang bukan penerima upah. Selain itu, perbaikan sistem teknologi untuk mencegah manipulasi data dan peningkatan efisiensi dalam layanan kesehatan juga menjadi langkah penting.

Manajemen BPJS Kesehatan perlu terus berinovasi dan mengimplementasikan strategi yang tepat agar bisa menjaga keberlanjutan Dana Jaminan Sosial (DJS) dan tetap memberikan akses kesehatan yang adil bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa membebani biaya iuran yang tinggi.


Penerimaan Pajak Hadapi Tantangan Elastisitas

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Tax buoyancy Indonesia pada periode Januari-September 2024 tercatat -0,47, yang berarti penerimaan pajak tidak elastis terhadap pertumbuhan ekonomi. Angka ini pertama kali tercatat negatif sejak 2009 dan menunjukkan bahwa penerimaan pajak tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,03% YoY pada periode yang sama. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa 2024 adalah tahun yang berat dalam hal penerimaan pajak, dengan sektor-sektor utama seperti pertambangan dan industri pengolahan mengalami kontraksi yang signifikan.

Penyebab utama dari kondisi ini adalah penurunan harga komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak sawit mentah (CPO), gas, dan batu bara, yang berimbas pada penerimaan pajak. Selain itu, faktor-faktor lain seperti pencairan restitusi PPh badan dan pengurangan angsuran PPh 25 juga turut memengaruhi hasil penerimaan pajak.

Pada sisi lain, Prianto Budi Saptono, Ketua Pengawas Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), menyoroti bahwa sektor pertambangan, yang memberikan kontribusi besar terhadap PDB, hanya menyumbang sekitar 6% terhadap penerimaan pajak dengan kontraksi pertumbuhan -41,4%. Kondisi ini, menurut Prianto, berkaitan erat dengan harga komoditas yang belum pulih, serta dampak dari situasi geopolitik global.

Darussalam, pendiri DDTC, menyarankan agar pemerintah melakukan reformasi pajak secara menyeluruh dengan meredesain empat aspek utama: (1) mengoptimalkan penerimaan pajak dari sektor-sektor besar, (2) beralih dari pendekatan pemungutan pajak yang lebih ketat (enforced compliance) menjadi pendekatan kooperatif (cooperative compliance), (3) menyederhanakan regulasi pajak, terutama PPN, dengan mengurangi pengecualian dan pembebasan, dan (4) meningkatkan fleksibilitas kelembagaan otoritas pajak untuk memperbaiki penganggaran dan rekrutmen SDM.

Secara keseluruhan, Sri Mulyani mengakui bahwa pencapaian tax buoyancy yang negatif ini menjadi tantangan besar untuk pemenuhan kebutuhan belanja negara yang mencapai Rp3.325,1 triliun pada 2024, meskipun pemerintah tetap berupaya mengoptimalkan penerimaan pajak dengan target mencapai Rp1.921,9 triliun hingga akhir tahun.


Hilirisasi Ekonomi Menuju Era Keemasan Indonesia

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya melanjutkan program hilirisasi sebagai kunci untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Indonesia. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mengoptimalkan nilai tambah dari komoditas sumber daya alam (SDA) untuk memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan taraf hidup rakyat Indonesia. Hilirisasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Sejalan dengan visi tersebut, pemerintah telah mengubah nomenklatur Kementerian Investasi/BKPM menjadi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM untuk fokus pada pengembangan sektor hilir dan mendorong investasi yang dapat meningkatkan nilai tambah SDA. Ahmad Faisal Suralaga, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, menjelaskan bahwa sejak 2020, kebijakan hilirisasi, termasuk larangan ekspor nikel, telah memberikan hasil positif dengan total nilai investasi mencapai Rp1.245,8 triliun hingga 2024.

Selain itu, pemerintah terus mendorong investasi di sektor hilirisasi, seperti smelter nikel, minyak dan gas (migas), dan industri kendaraan listrik, serta menyusun peta jalan hilirisasi untuk 28 komoditas prioritas. Ikhsan Adhi, Ahli Madya Bidang Hilirisasi Minyak dan Gas Bumi, menyebutkan bahwa sektor hilirisasi menjadi salah satu faktor utama untuk pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Pemerintah juga menyediakan berbagai insentif fiskal, seperti pembebasan pajak dan fasilitas kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk memfasilitasi investasi di sektor hilirisasi. Proyek investasi yang tersedia mencakup berbagai sektor, dari pengolahan nikel hingga industri kendaraan listrik. Melalui hilirisasi, pemerintah berharap dapat menciptakan kemandirian nasional, membuka lapangan kerja, serta memastikan pemerataan ekonomi di seluruh daerah.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah bertujuan untuk mendorong perekonomian Indonesia tumbuh lebih cepat, dengan harapan dapat mencapai rata-rata pertumbuhan ekonomi 8% dalam lima tahun ke depan, serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.


Kereta Otonom di IKN: Harapan dan Tantangan

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kementerian Perhubungan melalui Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Budi Rahardjo, menegaskan bahwa Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memiliki kewenangan penuh dalam mengevaluasi dan menentukan kelayakan sistem kereta otonom (autonomous rail transit/ART) yang sedang diuji coba di Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Evaluasi ini dilakukan sesuai dengan kesepakatan dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara OIKN dan Norinco International Cooperation Ltd., yang menggunakan teknologi ART dari CRRC Qingdao Sifang.

Hasil dari evaluasi yang dilakukan oleh OIKN selama dua bulan menunjukkan bahwa sistem ART, khususnya teknologi otonom, belum berfungsi dengan baik di IKN. Meskipun demikian, Budi Rahardjo menegaskan bahwa negara tidak akan dirugikan dalam proses ini karena pembiayaan uji coba sepenuhnya ditanggung oleh vendor ART.

Pengujian ART telah dilakukan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara dengan dua rute yang melibatkan mixed traffic, di mana ART berbagi jalur dengan kendaraan lain. Deputi Transformasi Hijau dan Digital OIKN, Muhammad Ali Berawi, menyatakan bahwa meskipun uji coba telah selesai, hasil evaluasi menunjukkan bahwa teknologi otonom ART masih perlu perbaikan dan penyempurnaan agar dapat mencapai performa yang optimal.

Secara keseluruhan, meskipun teknologi ART di IKN masih dalam tahap pengembangan, evaluasi yang dilakukan oleh OIKN menunjukkan adanya kemajuan dan upaya perbaikan untuk memastikan sistem transportasi ini dapat memenuhi standar dan kebutuhan IKN di masa depan.



Tahun Sepi untuk IPO Bernilai Tinggi

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Kontan (H)
Menjelang akhir tahun 2024, aktivitas initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap berlangsung, meskipun mayoritas emisi tahun ini masih bernilai kecil, di bawah Rp 1 triliun. IPO terbaru datang dari PT Adiwarna Anugerah Abadi Tbk (NAIK) yang berhasil mengumpulkan Rp 80,25 miliar dari pelepasan 750 juta saham. Menurut Direktur Utama NAIK, Johannes, dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja guna mendukung berbagai proyek perusahaan.

Namun, harapan IPO bernilai jumbo diprediksi datang dari PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO). AADI sedang dalam proses bookbuilding, dengan target mengumpulkan hingga Rp 4,59 triliun, yang berpotensi menjadikannya emiten dengan nilai IPO terbesar tahun ini, menggeser PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) dengan nilai IPO Rp 860,92 miliar.

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menyebut masih ada dua calon emiten dalam kategori lighthouse—perusahaan dengan kapitalisasi pasar minimal Rp 3 triliun dan free float 15%—yang berpotensi melantai sebelum akhir tahun. Emiten lighthouse ini diharapkan mampu menarik minat investor besar, baik domestik maupun asing.

Menurut Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama, IPO dari perusahaan besar lebih diminati karena menarik investor bermodal besar, terutama jika harga sahamnya terjangkau dan valuasinya menarik. Hal ini diamini oleh Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, yang menambahkan bahwa investor akan fokus pada fundamental perusahaan dan prospek jangka panjangnya. Namun, ia juga mengingatkan risiko valuasi tinggi, seperti kasus PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), di mana harga sahamnya merosot karena kinerja fundamental yang kurang sesuai ekspektasi.

Secara keseluruhan, IPO bernilai besar dianggap penting untuk menjaga likuiditas pasar dan daya tarik BEI, sambil memastikan valuasi saham tetap kompetitif bagi investor.

Strategi Mengatasi Lemahnya Daya Beli

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Kontan
Kondisi perekonomian Indonesia pada kuartal III-2024 menunjukkan perlambatan, dengan pertumbuhan hanya 4,95% year-on-year (yoy). Lemahnya daya beli masyarakat, penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR), dan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) semakin menggarisbawahi tantangan yang dihadapi. Menanggapi situasi ini, kalangan ekonom dan pengusaha mendesak pemerintah mengeluarkan kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama kelas menengah.

Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menilai pemerintah perlu efisiensi dalam pengelolaan APBN. Langkah ini mencakup menghentikan proyek-proyek boros anggaran, memberikan insentif pajak kepada kelompok menengah bawah, serta melanjutkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk produk perumahan sederhana dan kendaraan murah. Menurutnya, kebijakan ini penting karena ruang fiskal pemerintah terbatas akibat stagnasi penerimaan pajak dan tingginya biaya pembayaran utang.

Chandra Wahjudi, Wakil Ketua Apindo, menegaskan perlunya fokus pada penguatan daya beli kelas menengah yang saat ini menjadi motor utama perekonomian domestik. Salah satu usulan adalah menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak (PTKP) guna meningkatkan konsumsi domestik dan mempercepat pemulihan ekonomi. Ia juga menilai insentif pajak dapat menjadi solusi untuk mengurangi beban kelas menengah sambil mendorong pertumbuhan.

Ferry Irawan, Deputi Ekonomi Makro Kemenko Perekonomian, menambahkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan insentif tambahan, termasuk PPN DTP di sektor perumahan untuk 2025. Kebijakan ini bertujuan menciptakan lapangan kerja di ekosistem perumahan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi, memulihkan daya beli, dan mendorong konsumsi sebagai fondasi pemulihan ekonomi nasional.

Pasar Saham Asia Menjanjikan Peluang Baru

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Kontan
Pasar saham Asia, termasuk Indonesia, dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menarik di tengah ketidakpastian global. Jonathan Garner, analis Morgan Stanley, memprediksi kapitalisasi pasar Asia akan tumbuh signifikan hingga mencapai USD 40,9 triliun pada 2027, dengan Indonesia diproyeksikan menyumbang lebih dari USD 1 triliun. Potensi ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi regional dan besarnya populasi Asia.

Sektor perbankan menjadi sorotan utama sebagai penopang pasar. Nick Lord, analis Morgan Stanley, merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai salah satu opsi investasi unggulan. BBCA diperkirakan akan mengalami pertumbuhan kredit stabil di kisaran 13% pada 2024–2026, dengan net interest margin (NIM) yang juga stabil. Target harga BBCA ditetapkan pada Rp 11.741 per saham, menunjukkan potensi menarik bagi investor.

Namun, dalam jangka pendek, pasar saham Indonesia masih menghadapi risiko, termasuk minimnya katalis positif di sektor keuangan dan komoditas. Menurut analis Algo Research, harga saham perbankan rentan terhadap aliran modal asing, sementara sektor komoditas sangat bergantung pada ekonomi China. Kendati demikian, sektor teknologi, seperti PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), menawarkan peluang menarik dengan potensi aksi korporasi.

Nafan Aji Gusta, analis Mirae Asset Sekuritas, mengingatkan dampak politik global, seperti pelantikan Donald Trump pada Januari 2025, yang berpotensi memengaruhi pasar Indonesia. Ia merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham BBCA dengan target harga hingga Rp 13.100.

Pasar saham Indonesia menawarkan potensi jangka panjang yang solid, namun investor perlu waspada terhadap risiko jangka pendek dan mencermati sektor-sektor unggulan untuk memaksimalkan peluang investasi.

Potensi Pertumbuhan Emiten Jasa Tambang

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Kontan
Emiten kontraktor dan jasa pertambangan terus memperkuat posisi mereka dengan mengejar kontrak baru di sisa tahun 2024, didukung oleh tingginya permintaan global terhadap komoditas tambang, khususnya batubara. PT Petrosea Tbk (PTRO) berhasil menandatangani perjanjian jasa pertambangan senilai Rp 4,03 triliun dengan PT Niaga Jasa Dunia dan PT Bara Prima Mandiri, yang akan berlangsung hingga 2032. Langkah ini memperkuat strategi PTRO dalam meningkatkan portofolio kontraknya.

PT Samindo Resources Tbk (MYOH) mencatat lonjakan kinerja hingga September 2024, dengan pendapatan naik 42,95% YoY menjadi US$ 135,62 juta dan laba bersih melonjak 57,66% YoY menjadi US$ 18,21 juta. Akuisisi PT Transkon Jaya Tbk (TRJA) pada 2023 menjadi pendorong utama kinerja, selain efisiensi biaya operasional melalui optimalisasi peralatan dan peningkatan volume pemindahan lapisan penutup.

PT United Tractors Tbk (UNTR), melalui unit usaha PT Pamapersada Nusantara (PAMA), turut mencatat pertumbuhan solid. Pendapatan segmen kontraktor tambangnya naik 11,50% YoY menjadi Rp 43,6 triliun. Produksi batubara meningkat 17% menjadi 111 juta ton, sementara volume overburden naik 9% menjadi 921 juta bcm hingga kuartal III-2024. UNTR optimis mencapai target produksi 144 juta–145 juta ton batubara tahun ini.

Menurut analis Dinda Resty Angira dari Stocknow.id, outlook kinerja emiten jasa tambang tetap menarik mengingat permintaan domestik dan global terhadap jasa tambang terjaga. Ia merekomendasikan beli saham UNTR, PTRO, dan DOID dengan target harga masing-masing Rp 30.000–Rp 31.000, Rp 20.000–Rp 21.000, dan Rp 700–Rp 765.

Strategi ekspansi dan efisiensi operasional memperkuat daya saing emiten-emiten ini di tengah tingginya kebutuhan komoditas tambang.

Harga Stabil, Kinerja CPO Tetap Kinclong

Hairul Rizal 14 Nov 2024 Kontan
PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) diproyeksikan terus mencatatkan kinerja positif hingga akhir 2024, didukung oleh harga crude palm oil (CPO) yang stabil dan strategi efisiensi. Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Soulisa mencatat hingga September 2024, DSNG meraih pendapatan Rp 7,17 triliun, tumbuh 9,3% yoy, dengan laba bersih Rp 1,64 triliun, naik signifikan 30,5% yoy.

Kinerja tersebut diperoleh meski produksi fresh fruit bunch (FFB) turun 14,4% yoy menjadi 509.000 ton akibat dampak El Nino. Penurunan ini terkompensasi oleh harga jual rata-rata (ASP) CPO yang naik 8% yoy menjadi Rp 12.421 per kg dan penurunan biaya produksi berkat harga pupuk yang lebih rendah. Akibatnya, gross profit margin (GPM) dan operating profit margin (OPM) meningkat menjadi 29,8% dan 20,2% dari sebelumnya 25% dan 14,9%.

Kiswoyo Adi Joe, Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama, optimistis hasil produksi DSNG akan meningkat di kuartal IV-2024 karena cuaca yang stabil dan penggunaan pupuk berkualitas. Selain itu, program B40 di Indonesia diperkirakan memperkuat permintaan domestik untuk CPO, memberikan stabilitas di tengah ketidakpastian pasar internasional.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa harga CPO yang stabil pada level RM 4.100 per ton dan meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan akan menjadi katalis positif bagi DSNG. Ia memproyeksikan kinerja DSNG tetap kuat di kuartal IV-2024, dan merekomendasikan hold saham DSNG dengan target harga Rp 1.040 per saham.

Proyeksi Yasmin menempatkan pendapatan DSNG akhir tahun di Rp 9,81 triliun, sementara Kiswoyo merekomendasikan buy on weakness dengan target harga Rp 1.300. Secara keseluruhan, harga CPO yang tinggi, stabilitas pasar domestik, dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama pertumbuhan DSNG.

Peluang IHSG untuk Bangkit Kembali

Hairul Rizal 13 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah menghadapi beberapa tekanan, prospeknya hingga akhir 2024 tetap cerah dengan peluang mencapai level 7.900. Terdapat sejumlah katalis yang diprediksi akan mendukung pergerakan IHSG ke depan, antara lain potensi penurunan suku bunga dari The Federal Reserve dan Bank Indonesia, kinerja emiten yang solid, dan adanya peluang window dressing menjelang akhir tahun.

Pada 12 November 2024, IHSG ditutup pada level 7.321,98, meskipun dalam sebulan terakhir mengalami koreksi sekitar 4%. Meskipun ada tekanan dari euforia kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS, yang memicu capital outflow dan penguatan dolar AS, investor asing tetap menunjukkan minat di pasar domestik dengan net buy YtD mencapai Rp31,11 triliun.

Menurut Rizkia Darmawan, Research Analyst dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, sektor-sektor yang akan mendongkrak IHSG antara lain perbankan, komoditas, dan konsumer, dengan laba bersih emiten-emiten besar yang tumbuh positif. Sektor energi dan perbankan diprediksi akan mendapat dorongan dari stabilitas ekonomi Indonesia dan kebijakan luar negeri AS yang cenderung mendukung penggunaan energi fosil, termasuk batu bara. Selain itu, sektor perkebunan, khususnya CPO, mendapat keuntungan dari harga komoditas yang terus melonjak.

Meskipun terdapat tekanan dari fenomena capital outflow dan penguatan dolar AS, sektor-sektor yang menunjukkan ketahanan seperti perbankan, energi, dan perkebunan memberikan optimisme. Beberapa sekuritas, seperti Maybank Sekuritas, memproyeksikan IHSG akan mencapai 7.900 pada akhir tahun 2024, sementara MNC Sekuritas menargetkan IHSG mencapai 7.700. Selain itu, potensi window dressing di akhir tahun dan rilis emiten jumbo yang berencana melakukan IPO turut meningkatkan prospek pasar saham Indonesia.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif dan adanya katalis yang mendukung, IHSG berpeluang mencatatkan performa solid hingga tutup buku 2024, meskipun tantangan eksternal masih perlu diwaspadai.


Pilihan Editor