Perhatikan Tenaga Pengajar yang Merupakan Faktor Kunci Keberhasilan Pendidikan
Keberadaan guru sebagai tenaga pengajar merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pendidikan di Indonesia. Sayangnya baik jumlah maupun kualitas guru di Indonesia terbilang terbatas, dengan tingkat kesejahteraan yang rata-rata masih dibawah standar. Di tambah lagi, saat ini banyak guru yang mengalami tindakan kriminalisasi yang membuat nasib pahlawan tanpa tanda jasa ini makin memprihatinkan. Karena itu, pemerintah perlu memberi perhatian serius terhadap permasalahan guru di Indonesia, agar target menuju Indonesia Emas 2045 bisa terealisasi.
Menurut Data Pokok Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah yang dirilis kemdikbud.go.id, pada Semester Ganjil 2024/2025 terdapat 3,39 juta Guru di Tanah Air, tersebar diseluruh provinsi di Indonesia, termasuk tenaga pengajar Indonesia yang ditempatkan di luar negeri sebanyak 845 orang. Tenaga pendidik kebanyakan berada di Pulau Jawa, yakni sebanyak 44,1%. Sebaliknya, provinsi paling minim guru tercatat mendominasi Indonesia bagian timur. Papua Selatan sebanyak 8,4 guru, diikuti oleh Papua Barat Daya (10 ribu guru), Papua Tengah (10,1 ribu guru), dan Papua Barat (10,4 ribu guru). (Yetede)
Kemenangan Donald Trump Menimbulkan Spekulasi Arah Perdagangan Dunia Selanjutnya.
Jalan Terjal Megaproyek LG-Antam
Perbankan Was-was, Likuiditas Domestik dan Global Kemungkinan Akan Menghadapi Tekanan
Ekspektasi pemangkasan suku bunga moneter tahun depan dinilai tidak akan signifikan seperti proyeksi sebelumnya. Hal ini akan mempengaruhi biaya dana (cost of fund) perbankan yang masih mahal dan berimplikasikan pada likuiditas. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, likuiditas domestik dan global kemungkinan akan menghadapi tekanan. Dia menegaskan bahwa didepan tidak akan mudah bagi industri perbankan, terlebih dengan kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) tentu kebijakannya akan mendorong inflasi AS naik seperti kebijakan tarif impor dan penurunan pajak. Hal tersebut dinilai akan sulit bagi The Fed untuk memangkas suku bunga Fed Fund Rate secara agresif kedepannya. "Sehingga tekanan likuiditas ini akan menjadi beban signifikan bagi perbankan kedepan untuk ekspansi di 2025," ucap Royke. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan yield Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap tinggi, juga memengaruhi himpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Lantaran yield SRBI lebih menarik dibandingkan bunga deposito perbankan, sehingga pemilik dana akan menempatkan dana di SRBI. "Ini memengaruhi DPK kita keluar dari sistem dan masuk ke pemerintah, tekanan likuiditas tinggi di rupiah. (Yetede)
Bea dan Cukai Lepas Tangan
Baru Kali ini Delegasi Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB Dipimpin Pengusaha
Populisme Semu Gibran Lewat Lapor Mas Wapres
Potensi Besar Minyak Jelantah untuk Avtur
Kondisi Terkuat Relasi RI-AS
Pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Joe Biden memeriahkan perayaan 75 tahun relasi kedua negara. Biden menyebut relasi RI-AS dalam kondisi terkuat sepanjang sejarah. Biden menerima Prabowo di Gedung Putih, Selasa (12/11) waktu Washington DC, AS. ”AS bagi kami adalah teman yang sangat baik. AS mendukung kami dalam perjuangan kemerdekaan dan membantu kami berkali-kali saat kami membutuhkan. Karena itu, saya akan bekerja keras untuk memperkuat hubungan Indonesia-AS,” ujar Prabowo.
Biden menekankan pentingnya peringatan 75 tahun relasi RI-AS. ”Saya bangga bahwa kemitraan di antara negara kita adalah yang terkuat yang pernah ada,” ungkapnya. Selepas pertemuan, dikeluarkan pernyataan resmi bersama. ”Sebagai bagian dari hubungan yang terus berkembang ini, setahun yang lalu, Indonesia dan AS meningkatkan hubungan bilateral menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif (CSP) dan melembagakan upaya untuk memperluas kerja sama di tengah tantangan global dan yang sedang berkembang.” Demikian sebagian isi pernyataan itu. (Yoga)
Pemerintah menargetkan pemerataan pelayanan kesehatan rujukan di setiap daerah
Pemerintah menargetkan pemerataan pelayanan kesehatan rujukan di setiap daerah. Setidaknya pelayanan untuk tindakan dasar pada lima penyakit prioritas, yakni jantung, kanker, stroke, uronefrologi, serta kesehatan ibu dan anak, bisa dilakukan di rumah sakit madya di tingkat kabupaten/kota. Tindakan dasar yang dapat diakses di RS di kabupaten/kota itu antara lain intervensi nonbedah pemasangan ring jantung, kemoterapi dan bedah tumor dasar untuk kanker, hemodialisis dan continuous ambulatory peritoneal dialysis dewasa, terapi batu saluran kemih, serta penanganan persalinan bayi prematur dengan berat badan kurang dari 1.800 gram.
”Kami targetkan pemerataan layanan rujukan untuk lima penyakit ini bisa mencapai 100 % pada 2027. Setidaknya setiap kabupaten/kota memiliki satu rumahsakit dengan tingkat madya,” ujar Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Azhar Jaya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR di Jakarta, Rabu (13/11). Menurut dia, pemerataan layanan ini diharapkan bisa mendekatkan masyarakat pada pelayanan kesehatan terstandar tanpa harus ke kota besar, seperti Jakarta. Upaya ini juga bisa mengurangi penumpukan pasien di rumah sakit vertikal. Jejaring pengampuan Selama ini, sejumlah rumah sakit di daerah tidak mampu memberikan pelayanan untuk tindakan medis tertentu. Akibatnya, pasien harus dirujuk ke RS di tingkat provinsi atau RS vertikal. Hal ini membuat antrean pelayanan kepada pasien semakin panjang. Penanganan pasien pun sering kali menjadi terlambat. (Yoga)









