Target Penerimaan Perpajakan Disepakati Rp 1.510 Triliun
Badan Anggaran
DPR dan pemerintah menyepakati penerimaan perpajakan
sebesar Rp 1.510 triliun dalam
Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (RUU APBN)
2022. Nilai ini naik Rp 3,1 triliun
dari penerimaan perpajakan
dalam RAPBN 2022 yang sebelumnya dibacakan Presiden
Jokowi dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus 2021.
"Kami ingin mengambil keputusan untuk penerimaan perpajakan. Penerimaan pajak dari Rp
1.262,9 triliun menjadi Rp 1.265,0
triliun, penerimaan kepabeanan
dan cukai dari Rp 244 triliun
menjadi Rp 245 triliun, sehingga
total penerimaan perpajakan
menjadi Rp 1.510 triliun. Setuju?"
kata Ketua Banggar DPR RI
Said Abdullah yang disahuti
pernyataan setuju dari anggota
Banggar DPR dan pemerintah
dalam rapat Banggar DPR RI di
Jakarta, Kamis (9/9).
Dalam kesempatan tersebut,
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan
Askolani mengatakan bahwa
pendapatan perpajakan dari bea
keluar dalam APBN 2022 hanya
akan mencapai Rp 4,9 triliun
atau turun 72,7% dibandingkan
outlook APBN 2021 sebesar Rp
18,0 triliun.
KLHK Mendorong Masuknya Karbon Biru ke Dokumen NDC
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terus melakukan langkah untuk mendorong masuknya karbon biru dalam dokumen kontribusi penurunan emisi atau Nationally Determined Contribution (NDC) mengingat potensinya dalam menyimpan karbon. Karbon biru (blue carbon) adalah istilah yang digunakan merujuk pada karbon yang disimpan di dalam laut dan ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun.
Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Laksmi Dhewanthi mengatakan, potensi karbon biru yang dimiliki
Indonesia ada di wilayah laut
yang luas yang mana 23% mangrove di dunia berada di Nusantara. Ini merupakan hamparan
luasan yang sangat signifikan
bila dikaitkan dengan kebutuhan atau potensi penyerapan
iklim, tidak hanya di Indonesia
tapi juga kontribusi di tingkat
global. “Di dalam dokumen
NDC belum masuk blue carbon
sebagai bagian dari perhitungan target NDC mitigasi. Tapi
saat ini KLHK sebagai national
focal point UNFCCC sudah
mengembangkan atau melaksanakan langkah-langkah
untuk kemudian memasukkan
perhitungan atau potensi blue
carbon dalam konteks NDC,"
kata dia seperti dilansir Antara.
“Di dalam dokumen
updated NDC telah diuraikan
beberapa program yang dikaitkan dengan adaptasi perubahan iklim, program-program
kelautan yang dikontekskan
dengan adaptasi perubahan
iklim," kata Laksmi, kemarin.
Beberapa program itu seperti
pengarusutamaan adaptasi
dalam kebijakan dan program
di wilayah pesisir dan laut. Dalam dokumen kontribusi penurunan emisi (NDC) dijelaskan,
Indonesia akan mengambil
aksi seperti implementasi
adaptasi berbasis ekosistem
dalam pengembangan wilayah
pesisir.
Terkait pemanfaatan potensi karbon biru di pesisir
RI, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan
dan Kehutanan Kemenko
Kemaritiman dan Investasi
Nani Hendiarti mengatakan,
perlu keseimbangan antara
konservasi dan pemanfaatan
ekosistem laut.
Astra Perkuat Digitalisasi, termasuk Dompet Elektronik
PT Astra International Tbk (ASII)
terus memperkuat digitalisasi untuk meningkatkan
kemajuan perusahaan. Astra juga melakukan inovasi
terkait digitalisasi dengan melibatkan seluruh anak
usaha melalui Moxa Financial dan Astrapay.
Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro
menjelaskan, dalam dua tahun terakhir, Astra fokus dalam memperkuat
digitalisasi. Pasalnya, perusahaan
menyadari digitalisasi ini yang mendukung kesuksesan perusahaan di
masa mendatang.
“Dalam memperkuat digitalisasi ini,
kami melibatkan semua unit bisnis Astra karena perusahaan ini berbentuk
konglomerasi dan harus menyesuaikan dengan karakteristik unit bisnis,”
jelas dia dalam konferensi pers Public
Expose Live 2021, Kamis (9/9).
Dalam penguatan digitalisasi ini,
Astra menggunakan tiga pendekatan.
Pendekatan pertama adalah dengan
melakukan modernisasi keseluruhan proses bisnis dan cara bekerja.
Kemudian, Astra menekankan
kolaborasi di dalam ekosistem.
Djony menyebutkan, selama berpuluh tahun, Astra sudah membangun
ekosistem offline melalui unit usahanya dan mitra usahanya. Ekosistem
ini yang kemudian disatukan dalam
satu platform di bawah Astrapay
yang merupakan produk dompet
digital dari Astra.
Direktur Astra International Suparno Djasmin menambahkan, Astra
memang memiliki ekosistem yang
besar. Oleh karena itu, Astra akan
memanfaatkan ekosistem itu untuk
melakukan transformasi digital.
Ekonomi Daerah, Sektor Konstruksi Jatim Bertumbuh
Kinerja sektor konstruksi di Provinsi Jawa Timur diperkirakan masih bisa tumbuh sekitar 5% pada akhir tahun seiring dengan melandainya kasus Covid-19 serta bergulirnya berbagai Proyek Strategis Nasional. Ketua Asosiasi Proyek Konstruksi Indonesia (Aprok) Jatim, Aslakhul Umam mengatakan tren penurunan kasus Covid-19 di Jatim akan memacu berbagai sektor perekonomian, termasuk konstruksi.“Ini juga sesuai planning pemerintah yang menggenjot vaksinasi untuk mengejar herd immunity, mulai Juli—Oktober diharapkan sudah 50% tervaksin, dengan harapan pada kuartal IV nanti ada kenaikan ekonomi termasuk di sektor konstruksi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (9/9). Dia mengatakan bahwa sektor jasa konstruksi pada kuartal I/2021 masih stagnan, tetapi pada kuartal II/2021 ada kenaikan sekitar 1,35%. Belanja pemerintah pada kuartal kedua sebenarnya cukup bagus tetapi setelah Lebaran banyak proyek yang ditunda akibat lonjakan kasus Covid-19. Adapun pada kuartal III/2021, pengusaha jasa konstruksi lebih banyak menggarap proyek perumahan atau landed house milik swasta serta berbagai bangunan fasilitas penunjang layanan kesehatan.
Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jatim Budi Hanoto mengatakan sektor konstruksi pada kuartal II/2021 tumbuh 1,3% dibandingkan dengan kuartal I/2021 yang mengalami kontraksi 3,04%. “Realisasi investasi konstruksi mengalami perbaikan, selain itu akselerasi kinerja konstruksi juga sejalan dengan berlanjutnya pembangunan proyek-proyek di Jatim dengan protokol kesehatan yang mendorong perbaikan kinerja,” ujarnya.
Purnomo: Butuh Kerja Keras Capai NDC Tahun 2030
Menteri energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2000-2009, Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dibutuhkan kerja keras semua pihak dalam pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, pada tahun 2030 mendatang. NDC adalah komitmen setiap negara pihak terkait Persetujuan Paris. Indonesia berkomitmen untuk mengurangi gas emisi rumah kaca (GRK) sebesar 29% melalui kerja sama internasional pada tahun 2030, Sektor energy dengan target sebesar 11% merupakan sektor utama yang memegang peran penting dalam pencapaian NDC Indonesia, setelah sektor kehutanan, yaitu sebesar 17%.
"Yang menarik bahwa capaian NDC Indonesia untuk tahun 2030 memang dipertanyakan. Is it possible untuk kita capai? Saya kira ini membutuhkan kerja keras kita semua," kata Purnomo saat menjadi pembicara pada The Ensight Ketahanan Energi Nasional bertajuk "Dimensi dan Indikator menuju transisi Energi Indonesia untuk Net Zero Emission 2060" yang diselenggarkan PYC secara daring, pada Sabtu (11/9). Setelah tahun 2030, juga ada pekerjaan rumah bagaimana targetnya dan bagaimana nanti road map-nya itu kedepan nanti perlu dikembangkan roadmap-nya.
Komite Nasional Indonesia-World Energy Council, Hardiv H. Situmeang mengatakan, Indonesia masih memiliki PR besar yang harus diselesaikan mengingat banyak pihak yang mempertanyakan pencapaian NDC Indonesia, pada tahun 2030 mendatang. "Kita sedang mempunyai gambaran yang jelas setelah tahun 2030. Bagaimana setelah itu. Ini sebuah PR besar," kata Hardiv. Disebutkan, kebijakan perubahan iklim harus sejalan dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan ketahanan iklim.
"Dan, perlu adanya pembahasan yang lebih mendalam terkait ketahanan energi untuk Indonesia serta pentingnya peran ketahanan energi dengan target net zero emission," katanya. Disebutkan, pada umumnya ketahanan energi didefinisikan dengan memperhatikan empat dimensi, yaitu terjaminnya ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi, harga yang terjangkau, dan penerimaan masyarakat. (YTD)
Empat Emiten Tanam Dana US$ 1,1 Miliar di Start-up
Empat emiten besar telah berinvestasi lebih dari US$ 1,1 miliar (Rp15,6 triliun) diseluruh perusahan rintisan (start-up) teknologi. Empat emiten itu adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra Internasional Tbk (ASII). PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) atau Emtek, dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Proses digitalisasi yang tengah berkembang pesat di Indonesia menjadi pendorong utama aliran dana segar dari perusahaan-perusahaaan besar tersebut. Tren Investasi ini diperkirakan terus berlangsung, setidaknya hingga tiga tahun kedepan.
Adapun satu perusahaan lagi akan menyusul menjadi unicorn pada tahun ini. "Valuasinya sudah mencapai US$ 900 juta. Jadi, sudah sangat dekat dan seharusnya bisa tahun ini," kata Kenneth kepada Investor Daily, baru-baru ini. Dia juga memprediksi bakal ada banyak lebih banyak portfolio yang menjadi unicorn. Sebab, saat ini terdapat 15 portfolio yang berstatus centour atau memiliki valuasi di atas US$ 100 juta sampai di bawah US$ 1 miliar. Selanjutnya, Emtek juga aktif berinvestasi di start-up. Tahun ini, Emtek sudah menyuntikkan dana Rp 3,08 triliun atau setara US$ 210 juta kepada PT Grab Teknologi Indonesia (GTI).
Terbaru, Saratoga Sedaya Investama berpartisipasi dalam putaran pendanaan Sirclo, perusahaan e-commerce enabler, senilai US$ 36 juta. Selain Saratoga, terdapat East Ventures, Traveloka, Sinar Mas Land, dan investor lainnya yang turut berpartisipasi dalam pendanaan tersebut. Menanggapi hal itu, Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, perubahan cara pandang pelaku bisnis yang lebih mengedepankan digitalisasi karena gaya hidup konvensional sudah tidak bisa digunakan lagi. (YTD)
Pengawasan Bank Lemah, Dana Nasabah Melayang
Nyatanya, tak perlu serangan siber canggih untuk membobol bank di era digital. Di tengah euforia bisnis bank digital, dugaan pembobolan dana nasabah kembali terjadi. Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa keuangan (OJK), Anto Prabowo bilang, regulator mendorong bank bersangkutan menjelaskan kepada para pihak terkait. Juga melakukan penggantian dana bila bank terbukti bersalah.
Pengusaha properti asal Makassar, Andi Idris Manggabarani mengaku kehilangan dana deposito senilai Rp 45 miliar di Bank BNI. Nasabah BNI Emerald ini mengalihkan tabungannya di BNI ke dalam bentuk deposito sejak Juli 2020 dengan total Rp 70 miliar. Andi menerima bilyet giro layaknya deposan lain. Adapun suku bunga 3,5% hingga 6,6%, tergantung program yang sedang ditawarkan BNI Februari 2021, Andi berniat mencairkan depositonya Rp 30 miliar. Namun, ia hanya memperoleh Rp 25 miliar. Tak sesuai orderan, ia mendapati penjelasan manajemen BNI Makassar, deposito miliknya tak terdata di sistem BNI. "Andai saya hanya mencairkan Rp 20 miliar, saya tak pernah tahu dana deposito saya tak tercatat dalam sistem BNI," kata pemilik PT Anugerah Aset Utama ini, kepada KONTAN, Sabtu (11/9).
Bank punya pengawasan internal, penegakan disiplin dan kepatuhan pegawai atas SOP adalah tanggung jawab internal bank. Sementara, bank dirugikan oknum pegawai yang melakukan tindakan melanggar ketentuan internal mereka. Sehingga termasuk ini yang dilaporkan, ujar Anto, kepada KONTAN. Nakalnya oknum bank bukan baru kali ini. Citibank, Maybank, Bank Mega pernah dibobol karyawan sendiri. Modus pembobolan hampir sama; memanfaatkan lengahnya pengawasan internal. Ada baiknya bank memperbaiki ini, mengingat bisnis bank adalah kepercayaan. Seperti rutin melakukan mutasi relationship manager dan melakukan pemeriksaan mendadak.
(Oleh - HR1)
Menggerek Target Setoran Perpajakan Lebih Agresif
Pemerintah dan DPR sepakat mengerek target penerimaan pajak dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022. Hal ini juga sejalan dengan batas bawah target pertumbuhan ekonomi tahun depan yang lebih optimistis. Rapat panitia kerja (Panja) Badan Anggaran (Banggar) DPR bersama Kementerian Keuangan (Kemkeu) pekan lalu menyepakati target penerimaan perpajakan 2022 sebesar Rp 1.510 triliun. Angka ini lebih tinggi dari usulan pemerintah di dalam Nota Keuangan tahun 2022 yang sebesar Rp 1.506,9 triliun. Anggota Banggar Fraksi Partai keadilan Sejahtera (PKS) Ecky Awal Mucharam menilai, seharusnya penerimaan perpajakan bisa melonjak karena pemerintah sangat optimistis pertumbuhan ekonomi tahun depan mampu mencapai 5,2%-5,5%. Tapi perlu juga mengevaluasi belanja perpajakan 2022 agar tepat sasaran dan dikurangi seiring pemulihan ekonomi. Walhasil, kas negara akan lebih efisien.
Di lain kesempatan, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu Pande Putu Oka Kusumawardhani menyampaikan, kebijakan umum perpajakan 2022 diarahkan untuk inovasi penggalian potensi perpajakan dengan meningkatkan kepatuhan, pengawasan yang efektif, dan manajemen kepatuhan berbasis risiko. Selain itu juga, perluasan basis pajak dengan menambah objek pajak dan ekstensifikasi berbasis kewilayahan. "Insentif fiskal akan lebih terarah dan terukur, efisien dan efektif, diutamakan untuk kegiatan ekonomi strategis yang mempunyai multiplier effect kuat," kata Oka, (10/9).
(Oleh - HR1)
Persaingan Dompet Digital Makin Sengit
Persaingan dompet digital bakal semakin semarak. Apalagi, transaksi dompet digital meningkat pesat selama pandemi. Beberapa kali survei dari berbagai lembaga memang menunjukkan bahwa persaingan ketat terjadi diantara para pemain. Tiga pemain, yakni Ovo, Shopee dan Gopay, memang menjadi tiga besar penguasa pasar. Di tengah persaingan ini, para pemain terus menggenjot kinerja dengan berbagai strategi. Head of Corporate Communications Ovo Harumi Supit menjelaskan, saat ini, salah satu fokus strategi mereka adalah perluasan ekosistem dan peningkatan pemakaian untuk mendukung transformasi digital masyarakat. Selain itu, Ovo terus berupaya meningkatkan akses masyarakat kepada layanan finansial melalui produk baru mereka.
Gopay juga sedang fokus meningkatkan penetrasi layanan keuangan digital serta memberikan solusi untuk mitra UMKM dan konsumen dengan menggandeng seluruh ekosistem GoTo. "Sepanjang 2020, jumlah mitra usaha GoTo Financial meningkat tiga kali lipat dan total transaksi juga meningkat hampir enam kali lipat dibanding sebelum pandemi, ujar Winny Triswandhani sebagai Head of Corporate Communications GoPay. ShopeePay populer karena biaya top up rendah, hanya Rp 500. Kini, ShopeePay populer di kalangan konsumen e-commerce.
(Oleh - HR1)
Meski Diguncang Pandemi MIND ID Torehkan Laba Bersih Rp 4,7 Triliun
Di tengah kondisi pandemi covid-19 yang membuat banyak sektor industri bergejolak, sejumlah komoditas tambang justru mengalami kenaikan harga. Mengutip IDX Channel, harga batubara yang mengalami kenaikan 24,09%, timah naik 45,22%, nikel naik 5,86%, dan kenaikan harga tembaga 31,86%. Meskipun fluktuatif, kenaikan harga emas juga diperkirakan lanjut sepanjang 2021 dan bisa mencapai lebih dari Rp1 juta per gram atau mendekati US$ 2.000 per ons troi. Kenaikan beragam komoditas tambang ini turut mendongkrak kinerja sejumlah perusahaan pertambangan.
Pada semester pertama 2021, holding BUMN Pertambangan, Mining Industry Indonesia (MIND ID) mencatatkan laba bersih sebesar Rp4,7 triliun. Nilai ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yang sempat mengalami rugi bersih Rp1,8 triliun. Net profit margin juga mengalami peningkatan menjadi 12% dibandingkan semester pertama 2020 pada minus 6%. MIND ID mencatat pendapatan sebesar Rp39,2 triliun atau meningkat 34% dibandingkan periode yang sama pada 2020, yang senilai Rp29,3 triliun. Di samping itu, nilai Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) sebesar Rp10,9 triliun. Angka ini meningkat 198% dibandingkan Juni 2020 sebesar Rp3,6 triliun.
Terkait dengan PNBP, Orias menargetkan kontribusi MIND ID akan meningkat pada periode 2021 ini. Pada 2019, PNBP MIND ID mencapai Rp6,5 triliun. Namun, sempat turun menjadi Rp5,80 triliun pada 2020 karena pengaruh dari pandemi covid-19 terhadap bisnis MIND ID dan juga dari transisi tambang bawah tanah di PTFI. Mengingat sejumlah strategi efisiensi, perluasan eksplorasi, digitalisasi pertambangan, dan fokus pada hilirisasi komoditas dari holding tambang telah diterapkan dan menghasilkan kenaikan laba yang signifikan, Orias optimis kontribusi MIND ID untuk negara bertumbuh pada 2021 ini.
(Oleh - HR1)









