;
Kategori

Ekonomi

( 40733 )

Bulog Tetap Tunggu Izin Impor Bawang Putih

29 Apr 2019

Perum Bulog tetap menantikan izin impor bawang putih sebesar 100 ribu ton sesuai hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian pada Maret lalu. Meski pemerintah sempat menetapkan Bulog sebagai pelaksana importasi bawang putih sebesar 100 ribu ton, persetujuan impor dari Kemendag belum diterbitkan. Pemerintah memutuskan untuk mengeluarkan PI kepada 8 importir swata dengan kuota impor sebesar 115 ribu ton.

Direktur utama perum Bulog Budi Waseso mengatakan, pihaknya pun kini tidak bisa ikut serta melakukan upaya stabilisasu harga bawang putih. Menurut dia, hal tersebut membuat harga bawang putih terus naik seiring dengan pasokan yang kurang mencukupi. Ia mencurigai kartel-kartel bawang putih menjadi penyebab utamanya.

Pengamat ekonomi pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori menilai apabila pemerintah memberikan izin impor sebanyak 100 ribu ton kepada Bulog, impor kembali tetap akan diperlukan untuk memenuhi konsumsi nasional. Untuk diketahui, tingkat kebutuhan bawang putih nasional mencapai 500 ribu ton setahun sekitar 90% berasal dari impor.

Kalau benar seperti yang disampaikan Kemendag bahwa importir masih punya 115 ribu ton bawang putih sisa impor tahun lalu maka jika ditambah dengan impor kepada 8 importir 115 ribu dan kemungkinan Bulog 100 ribu totalnya masih kurang tutup konsumsi kita. Apabila bawang putih impor dari 8 importir swasta telah masuk, pemerintah perlu mengawasinya. Pengawasan dilakukan dari pendataan jumlah stok yang dimiliki importir hingga pendistribusianya. 

Otomotif menjadi Sektor Manufaktur Andalan

26 Apr 2019

Pemerintah berkomitmen mendukung industri otomotif sebagai salah satu sektor manufaktur andalan tanah air. Sejumlah dukungan dan insentif disiapkan untuk mendorong investasi serta ekspor produk industri otomotif.

Kementerian perindustrian mencatat, produksi kendaraan roda empat atau lebih mencapai 1,34 juta unit atau setara 13,76 miliar dollar AS pada tahun lalu. Adapun ekspornya mencapai 346.000 unit atau setara 4,78 miliar dollar AS. Jumlah kendaraan yang diekspor tahun ini diharapkan bisa meningkat menjadi 400.000 unit.

Sebanyak 20% dari total produksi otomotif nasional tahun 2025 adalah kendaraan listrik. Pengembangan kendaraan rendah emisi karbon ditempuh antara lain dengan memberikan pengurangan pajak bagi industri komponen otomotif. Pemerintah juga menegosiasikan perjanjian perdagangan preferensial (preferential tariff agreement/PTA) serta perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif untuk perluasan pasar. Langkah ini diharapkan membuka pasar baru bagi Indonesia. Terkait ini target yang relatif mudah dijangkau dan ada depan mata adalah pasar Australia.

Astra Siapkan Belanja Modal Rp 30 Triliun

26 Apr 2019

PT Astra International Tbk menyiapkan dana belanja modal sebesar Rp 30 triliun. Anggaran ini lebih tinggi dibandingkan belanja modal pada 2018 yang sebesar Rp 29 triliun. Dana belanja modal akan digunakan untuk suntikan dana ke anak usaha, seperti :

  • PT United Tractor Tbk sebesar Rp 15 triliun
  • PT Astra Agro Lestari Tbk sebesar 1,7 triliun
  • ekspansi jalan tol dan pembangunan outlet baru sebesar Rp 2,5 triliun 
  • dan sisanya akan digunakan untuk pengembangan teknologi informasi yang diperlukan oleh anak usaha Grup Astra

Astra kemungkinan akan menyuntikan modal untuk Gojek. Astra telah kedua kalinya menanamkan modal ke Gojek dengan total sebesar 250 juta dolar AS. Dalam dua fundraising terakhir Astra ikut 150 juta dolar AS dan 100 juta dolar AS. 

Nilai Pasar Saham BCA Bisa Menggusur DBS

26 Apr 2019

Berdasarkan data Bloomberg, tiga bank lokal berhasil menduduki posisi 10 besar bank terbesar di Asia Tenggara berdasarkan nilai kapitalisasi pasar. Peringkat perbankan di Asia Tenggara berturut-turut: DBS Bank - Singapura (US$ 51,12 miliar), BCA - Indonesia (US$ 48,47 miliar), BRI - Indonesia (US$ 37,53 miliar), OCBC Bank - Singapura (US$ 35,16 miliar), UOB - Singapura (US$ 33,03 miliar), Bank Mandiri - Indonesia (US$ 25,08 miliar), Malayan Banking - Malaysia (US$ 24,34 miliar), Public Bank Berhad (US$ 21,16 miliar), KasikornBank - Thailand (US$ 14,12 miliar), dan Siam Commercial Bank - Thailand (US$ 13,76 miliar).

Prospek Positif Garuda Terganjal Perselisihan Internal

26 Apr 2019

Pelaku pasar masih bereaksi negatif atas protes sebagian pemegang saham terkait kinerja keuangan PT Garuda Indonesis (GIAA) tahun buku 2018. Kemarin, harga saham GIAA merosot 7,60% jadi Rp 462 per saham. Bila dihitung selama sepekan, harga saham ini sudah merosot sekitar 12%. Efeknya jelek ke kredibilitas Garuda.

Analis berpendapat, pengakuan piutang ini sah dalam laporan keuangan selama sesuai dengan perjanjian. Aksi protes ini justru janggal. Pasalnya, kenaikan kinerja menguntungkan pemegang saham. Apalagi, laporan keuangan tersebut sudah melalui audit auditor resmi.

Kemenko Perkonomian Diminta Turun Tangan

26 Apr 2019

Menteri perhubungan Budi Karya Sumadi meminta bantuan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution untuk melakukan intervensi terhadap harga tiket pesawat. Permintaan ini disampaikan Menhub agar tarif tiket pesawat yang kini sudah terlampau tinggi segera turun.

Menko perekonomian juga berwenang mengatasi masalah tiket pesawat. Kondisi saat ini mencemaskan terlebih momen mudik saat idul fitri sudah dekat. Tidak hanya Menko Darmin, Menhub Budi juga akan meminta bantuan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk terlibat dalam permasalahan yang sudah berlangsung selama berbulan-bulan.

Garuda akan menjadi salah satu pihak yang dikutsertakan dalam pembahasan tiket. Sebab, Garuda dinilai sebagai market leader yang menentukan tren. Apabila Garuda menaikkan batas atas, semua maskapai cenderung naik begitupun sebaliknya.

Ekonomi Korea Selatan Melambat

26 Apr 2019

Kabar tak sedap dari Negeri Ginseng Korea Selatan. Ekonomi Korea Selatan melambat pada kuartal I 2019 ini. Kondisi ini akan berdampak bagi negara lain karena Korea Selatan merupakan importir yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia. Tak cuma Korea Selatan, perlambatan ekonomi di sejumlah negara importir lain di kawasan Asia Pasifik juga perlu diwaspadai. Hanya indikasi perlambatan masih sulit dibaca penyebabnya, apakah penurunan terjadi karena siklus ekonomi atau akibat adanya ketegangan perdagangan.

Potensi Tekfin Pertanian

25 Apr 2019

Chief Business Development iGrow Jim Oklahoma memproyeksikan, potensi bisnis jasa keuangan berbasis teknologi informasi atau teknologi finansial (tekfin) pertanian dari tahun ke tahun akan tumbuh secara eksponensial. Tren tersebut dikarenakan semakin banyak orang yang membutuhkan investasi aman atau risiko ditekan serendah mungkin.

Berdiri sejak September 2014, iGrow menyediakan sistem untuk melakukan supervisi dan administrasi dalam kegiatan pertanian. Melalui platform itu, pengguna dapat menanam, mengembangkan dan memantau tanaman sebagai sebuah investasi. Pengguna iGrow dapat disebut sebagai sponsor. Animo dan respons masyarakat sangat baik untuk mendanai komoditas, terlebih sistem yang dikembangkan iGrow merupakan social investment. Sampai Januari 2019, iGrow sudah menyalurkan Rp 130 miliar kepada 7.500 petani yang tersebar paling banyak di Jawa dan Bali. Tahun ini iGrow baru mulai melakukan penetrasi ke NTT dan Sulawesi.

Dari segi peminjam, iGrow sudah berhasil menarik 50rb orang untuk melakukan registrasi. Dari total tersebut 6.000 orang secara aktif melakukan pendanaan dengan berbagai komoditas. Dalam waktu dekat, iGrow akan melakukan ekspansi ke Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand.

Rokok Mengepulkan Setoran Cukai

25 Apr 2019

Hingga Maret, penerimaan bea dan cukai tumbuh 73% yoy. Cukai rokok mengepulkan penerimaan cukai. Lonjakan ini karena pendapatan cukai hasil tembakau tumbuh 189,14% yoy.  Hal ini disebabkan oleh pergeseran pola pelunasan pembelian pita cukai sebagai dampak penerapan PMK-57/2017.

Namun, kenaikan pendapatan cukai hasil tembakau tidak sejalan dengan kondisi pelaku industri. Menurut Philip Morris International, penjualan industri rokok pada kuartal I 2019 sebesar 68,7 miliar batang atau turun 0,8% yoy.

Dua Komisaris Menolak Pencatatan Laba GIAA 2018

25 Apr 2019

Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyisakan catatan khusus. Dua komisaris mereka, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria menolak meneken laporan keuangan. Chairal dan Dony masing-masing adalah perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd. Kedua perusahaan itu menguasai 28,08% dari saham GIAA.

Pemicu perbedaan pendapat adalah perjanjian kerja sama penyediaan layanan konektivitas dalam penerbangan dan pengelolaan inflight entertainment dan manajemen konten antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia. Perjanjian yang ditandatangani pada 31 Oktober 2018 itu bernilai sekitar US$ 239,94 juta. Perjanjian tersebut juga memuat US$ 28 juta bagi hasil Garuda Indonesia dari PT Sriwijaya Indonesia.

Secara tertulis, kedua komisaris tadi menyatakan, hingga tutup buku 2018, Garuda Indonesia belum menerima sepeser pun pembayaran dari Mahata Aero. Sementara tidak ada kepastian pembayaran yang jelas dalam perjanjian kerja sama dengan Mahata Aero, termasuk jaminan pembayaran yang tidak bisa ditarik kembali.