Ekonomi
( 40733 )Timteng Makin Erat ke China
Sejumlah analisis dan prediksi menyebutkan bahwa dampak merebaknya wabah Covid-19 saat ini akan mengubah peta hubungan internasional. Dalam konteks ini, China disebut-sebut akan semakin memegang kendali peta baru hubungan internasional dengan menggeser Amerika Serikat dan Eropa.
Ditambahkan pula, hal itu serta-merta akan membuka jalan bagi segera terwujudnya megaproyek Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative/BRI) China. Megaproyek ini diprakarsai China pada tahun 2013 untuk investasi dan pembangunan infrastruktur di 152 negara yang membentang dari Asia hingga Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.
China memproduksi 50 persen kebutuhan peralatan medis dunia dan meraih keuntungan 1,4 miliar dollar AS dari hasil ekspor peralatan medis terkait Covid-19 ke mancanegara pada Maret 2020 saja.
Akhir-akhir ini, pesawat- pesawat dari Tunisia, Aljazair, Maroko, Mesir, Arab Saudi, dan Iran semakin intensif terbang ke China untuk mengambil bantuan atau membeli peralatan medis dari negara itu. Publik dan para elite di banyak negara di Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini semakin kuat mendorong jalinan kemitraan yang kokoh dengan China. Ketika AS dan Eropa menutup pintu bantuan lantaran kerepotan sendiri menangani penyebaran Covid-19 China hadir mengisi kekosongan dengan membantu peralatan medis, logistik, dan keuangan ke negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara.
Mantan Menteri Perdagangan Tunisia Mohsen Hassan, seperti dikutip harian Asharq al-Awsat, mengatakan bahwa ketergantungan negara-negara Maghrib Arab (Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, dan Libya) terhadap Perancis dan negara Eropa lain terkait perdagangan, investasi, dan pariwisata telah berakhir. Sudah waktunya, katanya, negara Maghrib Arab dan dunia Arab mencari alternatif pasar baru, seperti China, sebagai mitra baru.
Mantan Wakil Gubernur Bank Sentral Tunisia Ahmed Karam mengungkapkan, hubungan China dan negara Maghrib Arab sudah dimulai sejak tahun 1980-an dan terus berkembang pada 1990-an. Hubungan itu terakhir ini mulai menggeser hubungan historis Maghrib Arab dan Eropa. Karam menyebut, 70 persen impor negara Maghrib Arab saat ini berasal dari China dan negara Asia lain.
Seperti halnya negara Maghrib Arab, Arab Saudi pun tak lepas dari peran China dalam membendung penyebaran Covid-19. Harian Asharq al-Awsat edisi 27 April 2020 menyebutkan, Arab Saudi telah menandatangani kontrak dengan China untuk mengimpor semua peralatan medis terkait wabah Covid-19 dari China. Kini terdapat 500 dokter spesialis dari China yang bekerja di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi yang khusus menangani pasien Covid-19. Para dokter dari China itu juga melatih dokter-dokter Arab Saudi dalam menangani pasien Covid-19. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud pada pertengahan April lalu menelepon Presiden China Xi Jinping untuk meminta China segera mengekspor semua peralatan medis terkait Covid-19 ke Arab Saudi.
Direktur Badan Urusan Kota Industri dan Teknologi (Mudun) Arab Saudi Khaled Salem mengatakan, para investor dan industriawan Arab Saudi saat ini harus mengambil manfaat dari pasar medis internasional, khususnya dari China, untuk keperluan alih teknologi.
Pada September 2019, PM Irak Adil Abdul Mahdi menandatangani megaproyek ”Pembangunan dengan Imbalan Minyak” dengan China senilai 500 miliar dollar AS selama minimal 10 tahun. Megaproyek tersebut menegaskan, China akan membangun infrastruktur, rel kereta api dan gerbong kereta api, jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, pendidikan, media, dan finansial di Irak dengan imbalan Irak mengekspor 100.000 barel minyak per hari ke China di luar kuota yang ditetapkan OPEC. Ekspansi China juga merambah Irak. Di tengah wabah Covid-19, China dan Irak pada awal April lalu menandatangani kontrak senilai 203,5 juta dollar AS untuk renovasi ladang gas di wilayah Majnoon, Provinsi Basrah. Proyek renovasi ini akan berlangsung selama 29 bulan, bertujuan untuk meningkatkan daya produksi kilang gas itu hingga mencapai 4,39 juta meter kubik per hari. Letak ladang gas Majnoon berdekatan dengan ladang minyak Majnoon, ladang minyak terbesar di Irak.
Adapun hubungan Iran dan China semakin strategis pascablokade AS atas Iran dan munculnya wabah Covid-19. Menurut laporan tahunan badan bea cukai Iran, nilai ekspor komoditas Iran ke China pada tahun 2019 mencapai 9 miliar dollar AS, berbanding nilai impor Iran dari China 11,2 miliar dollar AS. Iran kini memandang China adalah mitra dagang utamanya. Teheran menaruh harapan sangat besar kepada China untuk meringankan beban blokade AS. Iran juga berharap China tidak mematuhi sanksi AS.
Majalah bulanan Petroleum Economist melansir, China akan menanam investasi senilai 280 miliar dollar AS di sektor minyak, gas, dan petrokimia di Iran. China berjanji pula akan menanam investasi tambahan senilai 120 miliar dollar AS di sektor infrastruktur dan perminyakan di Iran.
China dilansir mengimpor minyak berkisar 230.000 barel hingga 650.000 barel per hari. Beijing membayar 30 persen dari nilai impor minyak dari Iran itu berupa proyek pembangunan yang dilaksanakan China di Iran, seperti pembangunan jalan raya, rel kereta api, dan pabrik-pabrik. Adapun 30 persen lainnya dibayarkan atau dibarter dengan ekspor komoditas China ke Iran. Sisanya 40 persen dibayarkan berupa uang tunai yuan, mata uang China, bukan dollar AS, guna menghindari sanksi AS.
Perusahaan minyak China kini menggantikan perusahaan minyak Eropa yang mengundurkan diri dari kontrak di Iran karena khawatir terhadap sanksi AS.
Hubungan China-Iran tidak terbatas soal minyak, tetapi juga menyangkut banyak sektor. Teheran berusaha membujuk China agar terus meningkatkan investasi di Iran dengan melibatkan Iran dalam proyek Sabuk dan Jalan yang membentang dari China hingga Eropa.
Iran telah menawarkan kepada China untuk membangun pabrik di kawasan dekat perbatasan dengan Pakistan, Irak, Turki, dekat Teluk Persia, dan Teluk Oman sehingga memudahkan dan mempercepat ekspor ke luar negeri dari Iran langsung. Sebaliknya, China sangat tertarik membangun pabrik di Iran karena ingin memanfaatkan upah buruh murah di Iran.Korporasi Dibayangi Potensi Lonjakan Kerugian Kurs
Pandemi Covid-19 menimbulkan ketidak pastian di pasar keuangan global. Akibatnya, nilai tukar mata uang negara emerging market, termasuk rupiah, melemah terhadap dollar AS sehingga berpotensi mempengaruhi kinerja keuangan emiten saham maupun korporasi di Tanah Air pada umumnya. Hal ini seperti dikatakan Wisnu Prambudi Wibowo, Head of Research Analyst FAC Sekuritas dimana emiten yang memiliki beban utang dalam dollar AS. dan menggantungkan bahan baku impor seperti sektor farmasi
Salah satu emiten yang terdampak dapat terlihat dari kinerja keuangan PT Suparma Tbk (SPMA) yang menanggung rugi periode berjalan sebesar Rp 24,55 miliar pada kuartal pertama 2020. Di periode yang sama tahun lalu, emiten ini masih mencatat laba periode berjalan Rp 39,86 miliar.
Sebagaimana di konfirmasi Sara K Loebis Sekretaris, Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) juga mengalami kondisi serupa dengan mencatatkan rugi neto nilai tukar dalam mata uang asing sebesar Rp 557,75 miliar, meningkat lebih dari empat kali lipat dari rugi nilai tukar di periode sama tahun lalu, sebesar Rp 107,77 miliar. Hal dini karenakan utang dalam mata uang asing yang cukup banyak.
Disisi lain, menurut Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony kinerja sejumlah emiten bisa kembali pulih di jangka panjang karena biasanya emiten sudah melakukan hedging guna menjaga keuntungan dari rugi kurs dan berpotensi membaik bila kurs rupiah kembali stabil. Hal ini juga menyebabkan harga sejumlah saham, seperti PGAS dan UNTR akan mengalami koreksi dalam, untuk investor ini menjadi peluang untuk masuk.Awal dari Perlambatan Ekonomi Indonesia
Pandemi virus korona Covid-19 menekan perekonomian dunia, tanpa terkecuali ekonomi Indonesia. Kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mulai melambat. Beberapa ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 di bawah proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati maupun proyeksi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yaitu di kisaran 3%-4,2%.
Menurut Ekonom Bank Danamon, Wisnu Wardhana, perlambatan ini terlihat dari beberapa indikator diantaranya konsumsi rumah tangga yang turun, surplus neraca dagang, Ketiga pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi melambat dibanding kuartal I-2019. Keempat konsumsi pemerintah juga terpuruk.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga mencatat, penjualan ritel di kuartal I-2020 turun 5,4% year on year (yoy) turun dari periode sama tahun lalu yang tumbuh 10,1% yoy. Sedangkan neraca dagang mengalami surplus sebesar US$ 2,62 miliar yang artinya net ekspor ikut menjadi penggerak perekonomian kuartal pertama tahun ini. Disisi lain belanja pemerintah terpuruk seiring dengan realisasi belanja K/L yang diperkirakan melambat menjadi 11% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 25% yoy.Karena itulah, Ekonom Indo Premier Luthfi Ridho dan , Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian sependapat dalam memperkirakan, perlambatan akan lebih parah pada kuartal kedua yang hanya tumbuh sekitar 2,5% dan sepanjang tahun di kisaran 3,6%.
Rupiah dan IHSG Menguat
Melemahnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 tak memengaruhi nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah dan IHSG tetap menguat kendati ekonomi Tanah Air hanya tumbuh 2,97 persen.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi kuartal pertama lebih rendah dari perkiraan, masih dapat diterima oleh pasar.
Inflasi April yang rendah di 0,08 persen dan tingginya tingkat pengangguran, yaitu di atas dua juta jiwa, di perkirakan akan membuat pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pelonggaran PSBB diharapkan akan membantu roda perekonomian kembali berjalan secara normal sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 15.104 per dolar AS dibanding pada hari sebelumnya di posisi Rp 15.073 per dolar AS.
Analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan, IHSG ditopang oleh data PDB kuartal satu. Meskipun di bawah konsensus, masih positif, beda dengan negara besar lain, seperti Cina dan Amerika yang pertumbuhan ekonominya di kuartal satunya negatif.
Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing sebesar Rp 429,94 miliar.
Beban Biaya Produksi - Alas Kaki Gencar Relokasi
Industri alas kaki mencatat sejak pertengahan tahun lalu sudah ada sekitar 30 pabrik sepatu yang melakukan relokasi ke Jawa Tengah.
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) Firman Bakrie mengatakan sebagian besar pabrik yang pindah itu dari Banten. Sebagian kecil lagi dari kawasan Jawa Barat dan Jawa Timur.
Terbaru, relokasi dilakukan oleh PT Shyang Yao Fung yang merupakan pabrikan mitra Adidas dari Banten ke daerah Brebes, Jawa Tengah. Imbasnya Shyang Yao harus melakukan PHK 2.500 karyawan untuk mengimplementasikan rencana ini.
Dengan hal itu, tentu industri juga membawa dampak positif bagi Jawa Tengah karena membawa investasi dan membuka lapangan kerja baru di sana. Pasalnya, saat ini 30% biaya produksi habis untuk gaji karyawan dan sebenarnya masih bisa dibagi untuk menggerakkan ekonomi daerah.
Sementara itu, Kementerian Perindustrian mendorong pemulihan sektor industri di dalam negeri yang terdampak pandemi Covid-19. Hal ini guna menjaga roda perekonomian nasional agar tetap berputar.
Proyeksi Ekonomi 2020 - Tangkal Skenario Sangat Berat
Untuk ketiga kalinya, Bank Indonesia (BI) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Hal ini menegaskan bahwa skenario pemerintah mengenai kondisi ekonomi sangat berat bukan sekadar analisis di atas kertas.
Bank sentral merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi kurang dari 2,3%. Ini merupakan ketiga kalinya BI melakukan revisi. BI juga merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi per kuartal.
Apalagi, tekanan ekonomi pada kuartal II/2020 lebih parah menyusul penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menggerus konsumsi sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, penerapan PSBB di Jabodetabek menggerus konsumsi rumah tangga menjadi 2,84% dibandingkan dengan 5,02% pada kuartal I/2019.
Skenario juga disusun Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Kepala Center of Macroeconomics Indef Rizal Taufi kurahman mengatakan, pihaknya menyusun skenario berat, sangat berat, dan sangat berat sekali.
Menurutnya, pemerintah harus mencari strategi untuk mencegah penurunan makin dalam. Salah satunya meningkatkan stimulus fiskal kepada masyarakat dan sektor usaha, khususnya UMKM.
Ekonom Bank DBS Radhika Rao memprediksi, April—Mei akan menanggung beban paling berat karena periode itu menandakan masa ketika pemberlakuan aturan jarak sosial makin diperketat. Pada akhir April, penduduk juga dilarang melakukan mudik.
Hal ini kemungkinan meningkatkan pemutusan hubungan kerja, dan membebani pertumbuhan pada triwulan kedua.
Harga CPO menguat - Kinerja Emiten Sawit Menghijau
Menguatnya harga minyak sawit mentah mendorong pendapatan yang dibukukan sejumlah emiten sawit naik dobel digit pada kuartal I/2020.
Salah satu emiten sawit yang mendapat berkah kenaikan harga CPO ialah PT Astra Agro Tbk. (AALI) yang pendapatannya naik 13,31% year-on-year menjadi Rp 4,79 triliun pada Januari-Maret 2020.
Pada saat yang sama, Direktur Utama Astra Agro Lestari Santosa mengatakan beban pokok penjualan turun karena melandainya volume penjualan yang dibarengi dengan penurunan shipping cost.
Alhasil, entitas Grup Astra itu mengantongi lonjakan laba bersih 891,87% yoy dari Rp 37,41 miliar menjadi Rp 371,06 miliar pada akhir Maret 2020.
Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Palma Serasih Astrida Niovita mengatakan harga jual rata-rata minyak kelapa sawit telah menopang pendapatan dan laba bersih perusahaan. Selain itu, produktivitas tanaman juga meningkat seiring usia tanaman yang bertambah.
Properti Industri Menjanjikan
Pengembang disarankan mulai menggarap properti industri yang kebutuhannya masih sangat tinggi di Indonesia selama masa pandemi virus corona. Konsultan properti JLL Indonesia mencatat bahwa pasokan properti industri di Tanah Air masih dalam kondisi kekurangan pasokan.
James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, menyatakan properti kawasan industri menjadi salah satu yang paling mampu bertahan selama pandemi Covid-19. Menurutnya, pelaku industri barang konsumen dan third party logistic (3PL) banyak yang mencari penyewa properti pergudangan sebagai tempat penyimpanan dan distribusi.
Presiden FIABCI Asia Pasifik Soelaeman Soemawinata mengatakan properti pergudangan diprediksi menjadi subsektor yang akan melambung pada masa mendatang.
Menurutnya, pergudangan makin menarik lantaran bisa mempermudah proses distribusi.
Industri Properti Diyakini Tetap Tumbuh 3%
Pusat Studi Properti Indonesia meyakini sektor properti tetap bisa tumbuh 3% sepanjang tahun ini, meskipun diadang pandemi virus corona. Direktur Pusat Studi Properti Indonesia Panangian Simanungkalit mengatakan proyeksi optimistis itu mengoreksi prediksi sebelumnya sebesar 6%—7% seandainya tidak ada virus corona yang memukul perekonomian Tanah Air.
Kemudian, Panangian melanjutkan pada kuartal III/2020 atau periode Juli—September, pertumbuhan sektor properti diproyeksikan hanya 2% seiring perkiraan pertumbuhan PDB yang bersiap untuk pulih dengan perkiraan pertumbuhan hanya sekitar 1,5% hingga 2%. Memasuki kuartal IV/2020, dia memprediksi pertumbuhan sektor properti bisa lebih baik dengan kisaran 3,5%.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida berharap agar industri properti masih bisa tumbuh pada 2020 meskipun pelbagai sentimen turut mengadang industri itu.
Pada saat yang bersamaan, Totok menambahkan bahwa omzet pengembang di tahun ini akan turun. Sejauh ini, dia tetap optimistis bahwa bisnis properti akan terus berjalan yang ditopang oleh penjualan rumah bersubsidi untuk kalangam masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Saat ini, pecapaian pembangunan rumah untuk kalangan MBR yang dibangun REI telah mencapai 65.000 unit atau telah memakai jatah sekitar 65% dari kuota subsidi yang tersedia untuk seluruh asosiasi pengembang.
Kinerja Industri Perbankan - Kabar Baik Awal Tahun
Tampaknya masih ada cukup alasan untuk tetap optimistis memandang prospek bisnis intermediasi perbankan tahun ini meskipun kehati-hatian tetap menjadi kunci. Kinerja intermediasi pada kuartal I/2020 masih cukup baik, tetapi masa depan masih sulit ditebak.
Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) juga masih cukup terjaga. Padahal, dampak pandemi Covid-19 mestinya sudah mulai terasa pada Maret 2020 lalu.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan bahwa dampak pandemi terhadap ekonomi memang belum begitu mengerikan awal tahun ini sehingga kinerja intermediasi bank tetap positif. Lagi pula, adanya relaksasi pada kebijakan restrukturisasi memungkinkan tekanan NPL tidak akan terlalu tinggi.
Senada, Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro berpendapat bahwa masih tingginya permintaan kredit menunjukkan bank masih menopang kebutuhan likuiditas pelaku industri sektor riil. Dirinya meyakini, setelah pandemi berakhir, akan terjadi lonjakan permintaan konsumsi yang cukup besar sehingga mengerek permintaan kredit.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI pekan lalu mengatakan kredit perbankan tahun ini kemungkinan tumbuh paling tinggi hanya 2% yoy. Dalam skenario terburuk, kinerja kredit bahkan mungkin tidak tumbuh.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan perseroan akan tetap realistis dengan lebih mementingkan menjaga kualitas kredit ketimbang ekspansi yang justru meningkatkan potensi risiko kredit.
Sementara itu, Ketua Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) Sunarso, yang juga menjabat Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. sebelumnya menyebutkan masih perlu melakukan stress test terlebih dahulu untuk mengukur kemampuan kredit tahun ini. Dia masih berharap pertumbuhan positif tersebut dapat terjaga sampai akhir tahun meskipun ada tekanan pada kuartal II/2020.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









