Ekonomi
( 40733 )Realisasi Penyaluran KUR menjangkau 788.237 Debitor
Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 16 Maret 2025 mencapai Rp 44,73 triliun dengan 788.237 debitur. Program KUR menjadi salah satu instrumen utama dalam mendukung pertumbuhan UMKM secara nasional. Berkaitan itu, Menteri UMKM, Maman Abdurrahman meminta bank penyalur agar mengikuti aturan yang berlaku, serta target yang sudah dicanangkan pada KUR 2025 yaitu sebesar Rp 300 triliun.
Untuk mencapai target tersebut masih terdapat kendala, mulai dari isu terkait administrasi, informasi ketentuan dan kriteria KUR, hingga soal agunan tambahan. "Target penyaluran KUR 2025 sebesar Rp300 triliun, dengan target debitur baru sebanyak 2,34 juta orang, dan target debitur graduasi sebesar 1,17 juta orang, serta 60% penyaluran untuk sektor produksi," ungkap Maman, Rabu (19/3/2025).
Menteri Maman berharap kolaborasi dapat semakin diperkuat antara pemerintah, DPR,dan bank penyalur dalam mencapai target penyaluran KUR sekaligus mengawasi pelaksanaannya di daerah. Anggota DPR diharap turut mengawal dan mengawasi, karena sampai saat ini masing-masing daerah belum mencapai target khususnya di sektor produksi. "Sedangkan untuk bank penyalur, kompleksitas penyaluran KUR cukup luar biasa. Karena itu, semangat koordinasi dan kolaborasi diupayakan betul-betul bisa diperkuat untuk memetakan intiSudan Dibidik RI Sebagai Hub Ekspor Perikanan ke Afrika
Pemerintah RI melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjajaki kerja sama penjaminan mutu dan ekspor hasil perikanan dengan Pemerintah Sudan. Indonesia ingin membidik Sudan sebagai hub ekspor produk perikanan nasional kepasar Afrika. "Sudan memiliki historis hubungan bilateral yang erat dengan Indonesia. Sudan juga membuka peluang pasar bagi perikanan darat Indonesia seperti catfish, tilapia, gurame dan seterusnya," tutur Kepala Badan Pengawasan dan Pengendalian Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP) Ishartini, Rabu (19/03/2025). Hal itu didasarkan hasil pertemuan Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini dan Dubes Republik Sudan untuk Indonesia, Yassir Mohamed Ali di Jakarta. Selain memiliki potensi pasar untuk produk perikanan air tawar, Sudan tertarik obat dan pakan ikan.
“Tentunya ini peluang yang harus segera kita analisa untuk diversifikasi ekspor dari sektor kelautan dan perikanan," ujar Ishartini. Posisi geografis Sudan sangat strategis sebagai hub bagi negara-negara tetangganya yang tidak memiliki wilayah laut (land-lock countries). Keseluruhan jumlah penduduk Sudan dan land-lock countries sekitarnya lebih dari 200 juta jiwa dan menjadikan Sudan sebagai pintu masuk logistik termasuk produk perikanan. “Pak Dubes sampaikan, Sudan ini seperti lokomotif bagi negara-negara di sekitarnya, peluang pasar perikanan sangat besar hanya saja eksportir perlu inisiatif untuk memulai penetrasi pasar Sudan dan sekitarnya," kata dia. (Yetede)
Langkah Strategis Bank Sentral di Tengah Tantangan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak di pasar keuangan Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI memilih menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Meskipun terdapat ruang untuk pemangkasan, langkah tersebut belum diambil karena rupiah telah melemah 2,1% sepanjang tahun berjalan dan menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia.
Perry menjelaskan bahwa keputusan ini sejalan dengan upaya menjaga inflasi dalam target 1,5%–3,5% untuk 2025–2026, serta mempertahankan nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi. Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan instrumen moneter seperti SRBI, SVBI, dan SUVBI untuk menarik dana asing dan memperkuat nilai tukar.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menekankan bahwa seluruh instrumen moneter akan terus diperkuat agar tetap menarik bagi investor asing. Per 17 Maret 2025, kepemilikan nonresiden dalam SRBI sudah mencapai 26,05%, menunjukkan daya tarik instrumen ini bagi investor luar negeri.
Sementara itu, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset menilai kebijakan BI menciptakan peluang bagi masuknya dana asing, karena menunjukkan konsistensi menjaga stabilitas moneter dan mendukung ekonomi. Namun, menurut ekonom OCBC seperti Lavanya Venkateswaran, trade-off antara pertumbuhan dan stabilitas rupiah akan semakin tajam seiring risiko global seperti perang tarif dan ketidakpastian arah suku bunga global.
Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, juga mendukung langkah BI, menilai stabilitas rupiah lebih krusial bagi pelaku usaha dibanding penurunan suku bunga, terutama karena daya beli konsumen masih lemah dan dampak penurunan bunga diperkirakan tidak signifikan dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, keputusan BI menahan suku bunga menunjukkan kehati-hatian dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi, di tengah tekanan global yang tinggi.
Danantara Dorong UMKM Naik Kelas
Peluncuran Danantara oleh Presiden Prabowo pada 24 Februari 2025 menuai harapan besar publik, karena dianggap sebagai solusi atas stagnasi pertumbuhan ekonomi nasional yang terjadi selama satu dekade terakhir. Dengan mandat mengelola aset negara senilai Rp14.665 triliun, Danantara diharapkan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai target ambisius 8% dalam lima tahun ke depan.
Namun demikian, arah fokus Danantara yang cenderung menyasar proyek berskala besar dan sektor-sektor unggulan pemerintah memunculkan kekhawatiran akan terpinggirkannya sektor UMKM, padahal UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap PDB dan menyerap hampir 97% tenaga kerja nasional.
Presiden Prabowo sendiri telah mengambil langkah strategis dan berpihak kepada UMKM dengan kebijakan penghapusan piutang macet senilai Rp2 triliun untuk 67.000 pelaku UMKM, sebagai upaya meringankan beban ekonomi sektor ini. Namun, agar dampaknya berkelanjutan, kebijakan tersebut perlu diikuti dengan strategi pembangunan ekosistem UMKM unggul, seperti pembiayaan berkualitas, integrasi ke rantai pasok industri, riset, dan branding global.
Pengalaman negara-negara seperti Korea Selatan dan China menunjukkan bahwa UMKM yang disiapkan dengan serius dan terintegrasi dalam strategi industri nasional mampu menjadi pilar ekonomi global. Korea, misalnya, mengandalkan UMKM untuk lebih dari 90% perusahaan dan 82% lapangan kerja, sementara China menargetkan ribuan UMKM unggulan sebagai bagian dari penguatan sektor manufaktur.
Oleh karena itu, Danantara diharapkan tidak hanya fokus pada proyek-proyek besar, melainkan turut membangun UMKM Indonesia menuju kelas dunia, dengan pendekatan digital dan kolaboratif. Konsep seperti "UMKM Indonesia Smart" layak diwujudkan sebagai bagian dari visi Indonesia menjadi kekuatan ekonomi global berbasis inklusif dan berkelanjutan.
Upaya Ekstra Dongkrak IHSG
Peran Baru BI dalam Penciptaan Lapangan Kerja
Properti CTRA Tertekan Daya Beli Lemah
Buyback Saham, Harapan Baru Investor
Ekonomi Terancam Stagnasi akibat Merosotnya Kepercayaan Pasar
Pasar menilai arah kebijakan ekonomi pemerintah
masih belum jelas, sedang koordinasi antar sektor dinilai kurang sinkron selama
triwulan I-2025. Akibatnya, kepercayaan pasar terus melemah seiring meningkatnya
ketidakpastian kebijakan. Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang bahkan
sempat menyebabkan penundaan perdagangan pada sesi pembukaan pertama, Selasa
(18/3) jadi salah satu refleksi kondisi tersebut. Di sisi lain, berbagai indikator
menunjukkan sinyal pelemahan ekonomi yang berisiko membuat pertumbuhan stagnan
di kisaran 5 %, atau mengalami stagnasi. Pada penutupan pasar, IHSG berada di
level 6.223,39 atau melemah 3,84 % dibanding penutupan hari sebelumnya, sekaligus
mencatatkan kinerja terburuk sejak 2021.
Bahkan, IHSG sempat jatuh hingga ke level
6.011,84 pada penutupan sesi pertama perdagangan atau anjlok 6 %. Untuk meredam
pelemahan lebih dalam, BEI bahkan sempat menghentikan perdagangan saham selama
30 menit pada pukul 11.19 WIB. Penurunan IHSG ini tidak sejalan dengan kinerja
beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri yang justru positif. Kondisi
ini menandakan faktor utama kejatuhan bursa saham berasal dari domestik. Ekonom
senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan, kondisi ekonomi
domestik yang sedang bermasalah dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia tumbuh
rendah. Bahkan, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025
hanya 4,9 %. (Yoga)
Anak Muda Marah pada Korupsi
Marah pada korupsi yang menggurita di
negaranya, anak-anak muda Serbia tiada henti berunjuk rasa. Empat bulan
terakhir, Serbia diguncang unjuk rasa anak-anak muda. Unjuk rasa terbaru, terbesar
sejauh ini berlangsung pada Sabtu (15/3). Dilaporkan, 100.000 hingga 300.000
orang turun ke jalan, mulai dari ibu kota Belgrade hingga kota-kota kecil, menentang
korupsi masif di pemerintahan Serbia. Pemantik unjuk rasa besar-besaran di Serbia
adalah korupsi. Pemicunya, insiden ambruknya atap stasiun kereta di Novi Sad,
kota terbesar kedua, yang menewaskan 15 orang, November 2024, yang baru
direnovasi pada 2022, tetapi sudah ambruk dan menelan korban jiwa. Insiden itu
mengungkap adanya borok korupsi.
Setelah diguncang demonstrasi, aparat
hukum Serbia mengusut kasus stasiun Novi Sad. Sejumlah pejabat, termasuk PM
Milos Vucevic, Menhub dan Infrastruktur Tomislav Momirovi, serta penggantinya,
Milan Duric, mundur. Namun, di mata anak-anak muda pengunjuk rasa, harapan
mereka tak berhenti di situ. Mereka menginginkan perubahan menyeluruh, yang
bisa memupus kanker korupsi di Serbia. Sedemikian kuat gurita korupsi di
Serbia, segala perkara hingga urusan mencari pekerjaan tak lepas dari praktik
korupsi. Sangat bisa dimaklumi jika anak-anak muda di negara itu marah dan
menumpahkannya lewat serangkaian unjuk rasa.
Ivana, mahasiswa Universitas Novi Sad,
mengatakan, ”Ijazah saya tidak akan berguna selama korupsi dan kolusi mewabah.
Lapangan kerja terbuka bukan karena saya terampil. Saya bisa dapat kerja kalau
mau menyuap atau jadi kroni,” ujarnya (Kompas, 18/3/2025). Data Transparency
International memperlihatkan, Serbia menduduki peringkat ke-105 dari 180 negara
soal indeks persepsi korupsi. Hal ini diperburuk oleh catatan Freedom House
yang menempatkan Serbia sebagai negara dengan kebebasan terbatas dengan nilai 56 dari skala 0-100. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









