Teknologi
( 1206 )Ahmad Kamel, Belajar Al Quran dengan Teknologi AI
Ahmad Kamel (24) tersentak saat membaca data yang menyebutkan
banyak Muslim di Indonesia terkendala membaca Al Quran. Menggunakan teknologi
kecerdasan buatan, ia mencoba membantu warga mandiri belajar membaca Al Quran
lewat aplikasi Qara’a. Ahmad Kamel menunjukkan bagaimana mengoperasikan
aplikasi Qara’a di sebuah kedai kopi di Kecamatan
Pontianak Timur, Kalbar, Kamis (21/3). Qara’a artinya kegiatan membaca
sekaligus memahaminya. Pada salah satu fitur aplikasi Qara’a, muncul huruf alif
beserta cara melafalkannya. Setelah itu, fitur meminta pengguna mengucapkannya.
Kamel lantas mendekatkan telepon pintar ke mulutnya dan melafalkan huruf alif
untuk mengetahui apakah pelafalannya sudah benar. ”Kalau bacaan kita benar,
akan muncul bintang lima,” ujarnya. Setelah itu, Kamel menuliskan huruf alif dengan
jari di layar ponselnya. Aplikasi tersebut memberi tahu apakah huruf yang ditulis
sudah benar atau tidak. Tahapan-tahapan itu bisa diulang berkali-kali.
”Aplikasi Qara’a diharapkan berkontribusi mengatasi buta
aksara Al Quran. Ke depan, kami ingin bekerja sama dengan sekolah dan kampus
terkait pembelajaran Al Quran,” kata Kamel. ”Pertengahan 2020, saya menemukan data
mengejutkan. Institut Ilmu Al Quran menyebutkan, 65 % umat Muslim di Indonesia
belum bisa membaca Al Quran,” katanya. Berangkat dari fakta itu, ia ingin berkontribusi.
Kamel dan timnya membuat riset sederhana. Kesimpulannya, banyak orang malu
belajar karena usia sudah tua. Selain itu, tidak ada waktu karena kesibukan
bekerja. ”Dari pemetaan itu, kami memilih kecerdasan buatan (artificial
intelligence/AI) untuk menjadi solusinya,” katanya. Lewat AI, Kamel menyebut,
penggunanya tidak perlu bertemu langsung dengan ustaz atau orang lain. Hal in menumbuhkan
rasa percaya diri terlebih dahulu.
Tidak hanya panduan membaca, aplikasi ini juga dilengkapi dengan
video pembelajaran, misalnya pengenalan huruf dalam Al Quran.Tujuannya, orang yang
belum pernah membaca Al Quran sama sekali bisa belajar dari nol. Kini, ada 22
fitur dalam aplikasi Qara’a. Selain belajar membaca Al Quran, misalnya, ada
fitur setor ayat. Orang bisa belajar dengan AI juga bisa dengan ustaz. Pengguna
menyetor ayat yang telah dibaca, ustaz akan memberi masukan di dalam aplikasi
itu. ”Dari 22 fitur, hanya satu yang sengaja dibuat berlangganan, yaitu belajar
Quran. Biayanya Rp 50.000 per bulan yang digunakan untuk membiayai operasional
aplikasi,” katanya. Berkat aplikasi yang dirancangnya, Kamel mendapat berbagai
penghargaan sepanjang tahun 2022. Salah satunya, Peringkat 1 Pemuda Pelopor
Kota Pontianak bidang Inovasi Teknologi. (Yoga)
UE Hanya Bisa Bertahan
Sejumlah aturan berkait dengan industri digital sudah
dikeluarkan Uni Eropa (UE). Akan tetapi, kepentingan mereka belum tercapai.
Mereka hanya bertahan. Raksasa teknologi Apple, Google Alphabet, dan Meta Platforms
menjadi target pertama pemberlakuan UU Pasar Digital Uni Eropa. UU yang berlaku
mulai 7 Maret 2024 itu bertujuan mempermudah masyarakat berpindah layanan digital
dan memberi pilihan untuk layanan lebih murah, bahkan gratis. Komisi Eropa pada
Senin (25/3) menyatakan, perusahaan-perusahaan yang termasuk sebagai ”penjaga
gerbang” itu dapat dikenai denda besar jika terbukti melanggar UU Pasar Digital
(DMA). Denda dapat mencapai 10 % omzet tahunan perusahaan secara global
(Kompas.id, 26/3). Aturan ini hanyalah satu dari sekian aturan di Uni Eropa yang
telah diberlakukan di kawasan itu dan negara-negara di Eropa.
Semangat awal yang muncul adalah mereka bertahan di tengah
serbuan produk teknologi digital dari luar kawasan itu. Sampai sekarang masih
sedikit produk dan inovasi dari UE yang bisa menandingi kemampuan produk dan
inovasi dari AS dan China. Dalam posisi seperti itu, pilihan mereka adalah
bertahan dan membatasi perluasan pasar mereka sambil mencari peluang. Mereka
tentu memahami bahwa UE adalah pasar yang besar. Pemain-pemain raksasa di
bidang teknologi tak bisa begitu saja memanfaatkan kawasan itu sebagai pasar
semata. UE harus melindungi warganya dan tentu berusaha agar pemain di dalam UE
bisa bersaing. Meski demikian, hingga sekarang kemampuan perusahaan-perusahaan
teknologi dari kawasan itu belum bisa menandingi pemain dari China dan AS. (Yoga)
Pebisnis Pusat Data RI didorong Go Global
Pelaku bisnis penyimpanan data (pusat data/data center) lokal
Indonesia didorong untuk terus memperbesar skala usahanya di dalam negeri dan
mau ekspansi hingga ke pasar internasional (go global), pada tahap awal mereka
pun didorong untuk ekspansi ke kawasan Asia Tenggara yang potensi pasarnya
masih sangat besar dan kemudian dilanjutkan merambah ke pasar global.
Menurut proyeksi Statista, potensi pasar data center Asia
Tenggara mencapai USD 9,98 miliar pada 2024, dengan kontribusi didominasi pasar
jaringan infrastruktur USD 6,73 miliar. Nilainya diproyeksikan terus naik
mencapai USD 13,08 miliar tahun 2028 dengan pertumbuhan tahunan majemuk
(compound annual growth rate/CAGR) 7%.
Menkominfo Budi Arie Setiadi mendorong pembangunan ekosistem
data di dalam negeri, baik oleh pemerintah maupun swasta agar dapat
meningkatkan ekonomi nasional, salah satunya oleh Data Center Internasional
(DCI) Indonesia. “Ke depan saya yakin, termasuk DCI akan mendorong pertumbuhan
industri pusat data Indonesia untuk makin go global, setidaknya di level Asia
Tenggara dulu,” tutur Budi Arie dalam kegiatan E1 Open Days DCI Indonesia, di
Jaksel, Rabu (27/3). (Yetede)
DIGITALISASI PELAYANAN PUBLIK : Wadah Aspirasi Masyarakat Jawa Barat
Penyampaian aspirasi, saran, dan keluhan masyarakat Jawa Barat kini kian mudah lantaran hadirnya aplikasi Sapawarga.Kehadiran aplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan publik Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) ke depannya. Pemprov Jabar meluncurkan Layanan Aduan dan Hotline Terintegrasi Jawa Barat. Layanan ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan wadah bagi masyarakat yang ingin menyampaikan masukan, keluhan, dan saran terkait pelayanan publik. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat Ika Mardiah mengatakan bahwa selama ini masih terdapat kebingungan di kalangan warga mengenai bagaimana mendapatkan informasi atau solusi terkait layanan publik.
Setiap fiturnya, imbuhnya, memiliki fungsi yang berbeda yang sudah bisa dimanfaatkan oleh warga Jawa Barat melalui Sapawarga Jabar Super App.
Fitur ini atau bisa disebut Sistem Pengaduan Elektronik Terintegrasi sudah terintegrasi dengan aplikasi TRK (Tunjangan Remunerasi Kinerja) Aparatur Sipil negara (ASN). Dengan demikian, imbuhnya, aduan dapat ditindaklanjuti secara langsung dan cepat oleh perangkat daerah terkait.
Selain itu, terdapat fitur Hotline Jabar yang menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah kota/kabupaten melalui penyediaan informasi yang meliputi layanan kedaruratan, informasi, dan aduan warga dalam bidang prioritas. Bidang itu meliputi kategori layanan kesehatan, kependudukan, ketenagakerjaan, infrastruktur, dan lain-lain.
Sementara itu, Penjabat (Pj.) Gubernur Jabar Bey Triadi mengapresiasi hadirnya aplikasi Sapawarga yang telah memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dengan mengembangkan fitur pengaduan masalah yang langsung ditindaklanjuti oleh setiap perangkat daerah. “Sapawarga menjadi salah satu alat untuk melaporkan kepada kami. Kemudian, diteruskan ke kepala perangkat daerah, untuk ditindaklanjuti. Kalau tidak melaporkan ke Sapawarga, tetap kami tindaklanjuti,” jelasnya.
Oleh karena itu, Pemprov Jabar terus berinovasi dalam menyediakan informasi dan layanan publik yang lebih efektif, efisien, serta mudah diakses, di antaranya Sapawarga.
Dilema Internet Cepat
Berdasarkan laporan Speedtest Global Index pada Desember
2023, peringkat kecepatan internet di Indonesia masih rendah di Asia Tenggara.
Untuk kategori internet mobile, kecepatan internet rata-rata Indonesia 24,96
Mbps, ada di peringkat ke-97 dari 146 negara di dunia. Di Asia Tenggara,
Indonesia hanya menang jika dibandingkan dengan Myanmar dan Timor Leste. Hal
yang sama terjadi pada kategori fixed broadband atau internet lewat kabel ke
rumah-rumah. Bahkan, per Desember 2023, posisi Indonesia ada di peringkat
ke-126 dari 178 negara di dunia. Untuk internet mobile, kecepatan internet
rata-rata Indonesia 24,96 Mbps, ada di peringkat ke-97 dari 146 negara.
Menkominfo Budi Arie Setiadi telah bertekad mewujudkan
tersedianya internet fixed broadband dengan kecepatan minimal 100 Mbps di
Indonesia. Untuk itu, pemerintah, akan melarang setiap operator dan penyedia
layanan internet broadband (ISP) menjual paket internet dengan kecepatan di
bawah 100 Mbps. Sudah pasti masyarakat dan berbagai kalangan pengguna internet
di seantero negeri ini juga akan senang jika internet Indonesia bisa ngebut, tak
hanya lebih nyaman menonton video pengaliran konten atau main gim daring, akan
banyak peluang bisnis yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai
bidang.
Namun, menghadirkan internet dengan kecepatan minimal 100
Mbps itu tak mudah. Perlu kolaborasi sejumlah pihak dari ujung ke ujung, tidak
hanya pihak operator. Semua operator dan ISP pasti berniat mendukung upaya
pemerintah mewujudkan layanan internet berkualitas, cepat, dan merata. Buktinya,
puluhan triliun rupiah setiap tahun dialokasikan oleh operator dan ISP untuk
membangun jaringan internet beserta teknologi terbaru sebagai pendukungnya. Bagi
penyedia layanan internet, kualitas layanan yang prima, cepat, dan stabil
merupakan pemenuhan atas kebutuhan pelanggan, juga memperbesar pasar mereka.
Namun, selain masalah teknis dan hitung-hitungan bisnis,
operator menghadapi dilema iklim bisnis internet yang belum kondusif, yaitu
maraknya penjualan kembali (resale) layanan internet dari operator atau ISP
oleh sebagian pelanggan ke masyarakat dengan biaya berlangganan yang murah. Dengan
demikian, para oknum itu bisa mengambil keuntungan berlipat dari layanan yang
disediakan operator atau ISP. Oleh karena itu, keseriusan pemerintah untuk
melarang praktik bisnis layanan internet dengan nyantol layanan milik operator
dan ISP ini sangatlah penting bagi perkembangan internet cepat di Indonesia (Yoga)
Kawasan ASEAN Masih Rentan Kejahatan Siber
Meski ekonomi digital terus berkembang di Asia Tenggara,
belum semua masyarakat terliterasi digital secara optimal. Tingkat keterampilan
berpikir kritis dan melindungi privasi belum merata antar negara di kawasan ASEAN.
Mereka rentan menjadi korban kejahatan siber. Dalam laporan penelitian ”One
Divide or Many Divides? Underprivileged ASEAN Communities’ Meaningful Digital Literacy
and Response to Disinformation” yang dirilis ASEAN Foundation dan didukung
Google.org, akhir pekan lalu, tingkat keterampilan berpikir kritis masih
bervariasi di seluruh kawasan ASEAN. Thailand berada di tingkat terendah (25 5)
dan Kamboja pada tingkat tertinggi (62,2 %).
Indonesia, yang porsi ekonomi digitalnya berkontribusi 42 %
terhadap kawasan Asia Tenggara, disebut dalam penelitian sebagai negara yang
menghadapi ketimpangan keterampilan berpikir kritis dan kompetensi perlindungan
privasi yang kompleks. Penyebabnya, tantangan geografis serta kesenjangan
jender, disabilitas, dan status sosial ekonomi. Salah satu temuan menarik dalam
laporan itu adalah 73,4 % responden remaja Indonesia yang diteliti merasa privasi
mereka sangat terlindungi. Sementara hanya 13,7 % kelompok lansia berpendapat
serupa. Direktur Eksekutif Siber Sehat Indonesia Ibnu Dwi Cahyo mengatakan,
ancaman kejahatan siber dan disinformasi terjadi bukan hanya di perkotaan.
Dia mengamati, kerawanan kebocoran data pribadi juga telah
sampai perdesaan. Akan tetapi, masyarakat di sana tidak mendapat edukasi
tentang keamanan siber yang optimal. ”Korban kejahatan siber dan disinformasi
telah merata di perkotaan dan perdesaan. Bagi masyarakat perdesaan, kami mengamati
masih ada kecenderungan mereka kebingungan melapor atau mengadu ketika menjadi
korban,” ucap Ibnu. Ibnu menyarankan agar pemerintah membuat satuan tugas khusus
literasi digital sampai di desa-desa. Selanjutnya pemerintah dapat melibatkan
lembaga pendidikan untuk memberikan literasi digital kepada anak-anak usia
dini. (Yoga)
97.465 Phishing Keuangan Sasaran Sektor Bisnis RI
Kapersky, perusahaan penyedia solusi dan
konsultasi security siber global asal Rusia, mendeteksi 97.465 tautan phishing
yang menyasar transaksi keuangan pada sektor perdagangan secara electronic (e-commerce),
perbankan dan sistem pembayaran di Indonesia pada 2023. Jumlahnya berkontribusi
21,38 % dari total 455.708 upaya serangan phishing yang menyasar keuangan pada
tiga sektor bisnis tersebut di kawasan Asia Tenggara.
Serangan phising ke sektor bisnis tanah air
tersebut menempati peringkat ketiga di kawasan Asia Tenggara. Phishing merupakan upya penjahat siber untuk
mencuri data pribadi dengan mengirimkan tautan atau identitas palsu, atau
menyamar sebagai institusi yang sah. Aksi mereka lakukan untuk mencuri data
terkait keuangan guna menangguk keuntungan, mulai dari kata sandi, nomorkartu
kredit, detail rekening bank dan informasi lain dari individe maupun
perusahaan. (Yetede)
Samsung Akan Dapat Dana CIp US$ 6 Miliar
Microsoft Dukung Transformasi Digital Pemerintah
Kemenkominfo baru saja menandatangani kerjasama
dengan PT Microsoft Indonesia untuk meningkatkan sinergi penguatan implementasi
teknologi informasi dan transformasi digital di sektor pemerintahan. Nota
kesepahaman Kemenkominfo dan Microsoft Indonesia mencakup pengembangan SDM
bidang digital, penguatan infrastruktur dan digitalisasi pemerintah, penguatan
tata kelola kecerdasan buatan (AI) yang bertanggung jawab, penguatan
implementasi dan perlindungan data pribadi.
Menkominfo Budi Arie Setiadi menekankan arti
penting kolaborasi pemerintah dan sektor swasta, salah satunya dengan Microsoft
dalam upaya mewujudkan transformasi digital nasional, termasuk di sektor
pemerintahan. “Pmerintah Indonesia meyakini, kolaborasi multistakeholder sangat
dibutuhkan termasuk melalui kerja sama antara pemerintah dan sektor privat,”
ujar Budi Arie dalam Penandatanganan Nota Kesepahaman Kemenkominfo dengan
Microsoft Indonesia di Kantor Kemenkominfo, Jakarta, Jumat (15/3). (Yetede)
Ramadhan dan Momen ”Marketing”
Ramadhan menjadi momen marketing yang dinanti banyak
pengiklan. Ragam ide dan gagasan diramu demi menunjukkan kebaruan konten dari
waktu ke waktu. Tentu, punch line yang ”menggigit” bisa menancap pada alam bawah sadar konsumen. Ramadhan pun
kini tak melulu dikemas dengan nuansa kekeluargaan sembari berbuka puasa
bersama. Sirop Marjan, misalnya, kehadirannya dicari banyak orang, bahkan
sebelum Ramadhan tiba. Tiap tahun, jenama ini selalu menghadirkan kisah-kisah
bermakna dibalut cerita rakyat. Dalam beberapa tahun terakhir, Marjan makin
serius mengemas iklan dengan pencitraan hasil komputer atau computer generated
imagery (CGI).
Kehadiran Marjan tiap tahun dengan iklan yang berbeda-beda
turut memuaskan ”dahaga” masyarakat sebagai penonton. ”Dalam iklan, ada istilah
moment marketing di mana kami menggunakan sebuah momentum untuk jualan. Kalau dari
kategori produk, sirop, contohnya, itu memang kategori produk tinggi (konsumsi)
saat puasa,” ujar Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Devi
Attamimi saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (14/3). Wajar kala puncak konsumsi
masyarakat terhadap sirop diikuti optimalnya pengemasan iklan Marjan. Bentuk
promosinya tentu berbeda ketika konsumsi menurun sehingga iklan lebih fokus
pada penjualan (direct to sales) dan melalui beragam platform daring dan toko
luring.
”Sudah mendekati
Ramadhan jika melihat iklan Marjan,” celetuk warganet mengomentari unggahan
Marjan. Ini menunjukkan citra jenama itu yang erat dengan masa puasa.
Masyarakat sebagai konsumen mengasosiasikan produk Marjan dengan momen
tertentu. Dalam kacamata periklanan, Marjan berhasil memosisikan diri sebagai pariwara
Ramadhan. Walau memanfaatkan beragam CGI, Marjan tetap menyelipkan pesan-pesan
yang tak jauh dari kebersamaan dan kepedulian, senada dengan nilai-nilai
Ramadhan. Pariwara ini bahkan membagi satu kisah dalam beberapa episode sehingga
konsumen tergugah menanti kelanjutan cerita. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









