Lingkungan Hidup
( 5816 )Efek Program Prabowo: Peluang di Emiten Unggas
Saham emiten unggas mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir, dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) naik 10,62% menjadi Rp1.615, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) naik 4,12% menjadi Rp5.050, dan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) naik 7,89% menjadi Rp820. Menurut analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, kenaikan ini didorong oleh prospek program makan bergizi gratis yang diusulkan oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang diperkirakan akan meningkatkan konsumsi unggas.
Meskipun ada tantangan, seperti kenaikan harga jagung akibat musim hujan, prospek positif untuk sektor ini tetap ada. Analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas K. Saragih, dan Christine Natasya dari Bahana Sekuritas juga menyampaikan optimisme tentang kinerja emiten unggas. Mereka merekomendasikan saham JPFA dan CPIN untuk dibeli, dengan target harga masing-masing Rp1.740 dan Rp5.900. Secara keseluruhan, konsensus dari 16 sekuritas menunjukkan rekomendasi beli untuk JPFA, menegaskan potensi pertumbuhan di sektor unggas menjelang pelaksanaan program pemerintah yang mendukung peningkatan konsumsi.
Proyek Kilang Tuban Masih Menemui Tantangan
PT Kilang Pertamina Internasional masih berupaya menyelesaikan megaproyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, yang menghadapi tantangan akibat sanksi yang dikenakan pada mitra Rusia, Rosneft. Proyek senilai US$13,5 miliar ini masih dalam tahap pengambilan keputusan akhir investasi (FID), dan Pertamina berusaha melakukan kegiatan engineering, procurement, and construction (EPC) secara bersamaan dengan penyelesaian FID.
Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional, Hermansyah Y. Nasroen, menyatakan bahwa hingga kini belum ada kepastian mengenai target penyelesaian FID, meskipun sebelumnya diharapkan selesai pada kuartal pertama tahun ini. Ketua Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Wahyu Utomo, mengungkapkan bahwa pemerintah mendukung Pertamina dalam mencari mitra strategis untuk teknologi dan pembiayaan proyek tersebut.
Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional, Taufik Aditiyawarman, menambahkan bahwa penambahan mitra baru diperlukan untuk mengimbangi dampak sanksi yang diterima Rosneft. Meskipun Kementerian ESDM telah memberikan tambahan waktu hingga 2024 untuk kepastian investasi, proses penyelesaian FID masih mengalami kemunduran. Pertamina juga mengharapkan dukungan infrastruktur dan insentif fiskal untuk meningkatkan keberlanjutan proyek GRR Tuban.
Optimisme Investasi Tambang Migas
Peningkatan investasi dalam kegiatan eksplorasi sektor hulu minyak dan gas bumi di Indonesia diyakini akan berdampak positif terhadap penambahan cadangan energi fosil domestik. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat bahwa investasi eksplorasi meningkat dari US$600 juta pada 2021 menjadi US$900 juta pada 2023, dengan harapan mencapai US$1,8 miliar tahun ini.
Tenaga Ahli Komisi Pengawas Menteri ESDM, Shinta Damayanti, menjelaskan bahwa keberhasilan eksplorasi saat ini adalah hasil dari upaya yang dilakukan sejak enam tahun lalu, dan saat ini Indonesia telah mendapatkan banyak temuan cadangan migas baru. Para kontraktor, seperti Ahmad Najihal Amal dari Pertamina Hulu Energi, menunjukkan komitmen yang kuat dalam melakukan eksplorasi masif dengan strategi yang berfokus pada proyek offshore dan kemitraan strategis. Hendraman dari EMP juga menekankan pentingnya akuisisi aset dan pemboran eksplorasi dalam meningkatkan penemuan migas di masa depan.
Prospek Cerah Energi Baru Terbarukan
Stimulus Tiongkok Memperkuat Prospek Timah
Industri Sambal Tanah Air Tumbuh Berkat Peran Wirausaha Lokal yang Gigih dan Inovatif
Lumbung Pangan Nasional
Pemerintah Mendorong Investasi Energi Bersih dan Orientasi Ekspor
Jalan ke Lima Desa yang Terdampak Banjir Bandang Mulai di Buka
Vale Indonesia Buka Opsi Jual B2B
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membuka opsi untuk menjual nikel hijau (green nickel) secara business-to-businesss (B2B), alih-alih memperdagangkannya di pasar terbuka (open market). Mekanisme B2B dinilai lebih memberikan nilai tambah (added value) untuk saat ini. Chief of Sustainability & Corp Vale Indonesia Bernardus Irmanto memproyeksikan, arah bisnis nikel kemungkinan akan bergerak menuju green nickel. Kendati, transaksi volume perdagangan nikel ramah lingkungan tersebut di platform Metals-hub sekarang masih belum liquid. "Tapi arahnya akan kesana." kata pria yang akrab disapa Anto ini menjawab pertanyaan Investor Daily. metals-hub merupakan solusi hasil kerja sama antara Metals-hub dan London Metal Exchange (LME), platform perdagangan industri logam dunia, serta para pelaku pasar lain untuk memfasilitasi transisi menuju ekonomi hijau. Head of Market Development LME Robin Marten dalam pengumuman resminya, menyampaikan bahwa pasar nikel hijau belum cukup liquid untuk mendukung perdagangan aktif dalam kontrak berjangka. Alasannya, masih terdapat perdebatan mengenai definisi 'hijau' itu sendiri. Saat ini, standar 'hijau' yang berlaku pada industri nikel meliputi dekarbonisasi minimal 20 metrik ton Co2, kemudian pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab, penghormatan terhadap hak-hak pekerja, manajemen air, serta integrasi bisnis yang lebih luas dan transparan. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









