Lingkungan Hidup
( 5816 )Kinerja 2022 : Pertamina Retail Bidik Laba Rp350 Miliar
PT Pertamina Retail optimistis bisa meraup laba lebih dari Rp350 miliar pada tahun ini, lebih tinggi dibandingkan dengan raihan pada 2021 yang sebesar Rp335 miliar. Direktur Utama Pertamina Retail Iin Febrian mengatakan bahwa pihaknya optimistis bisa mencatatkan kinerja yang lebih baik pada tahun ini. Targetnya, perusahaan mampu meraih pendapatan lebih dari Rp16 triliun pada tahun ini. “Kami tetap menargetkan tumbuh dan berkembang. Dari sisi revenue, kami harapkan lebih dari Rp16 triliun dapat kami wujudkan di 2022. Dari sisi profit, kami harapkan profit kami meningkat lebih dari Rp350 miliar di tahun ini,” ujar Iin, dalam keterangannya (14/03). Pertamina Retail merupakan bagian dari Sub-Holding Commercial & Trading Pertamina, dengan lini usaha di bidang ritel, khususnya penyaluran bahan bakar di SPBU dan pengelolaan, pengembangan, serta pemasaran produk-produk bahan bakar hingga nonbahan bakar sesuai dengan bisnis yang terkait di dalamnya.
Nilai Kapitalisasi Pasar: Komoditas Terbangkan Harta Taipan
Memanasnya harga komoditas tidak hanya menjadi berkah bagi emiten yang bergerak di sektor tersebut. Nilai kekayaan para konglomerat yang mengoleksi saham emiten komoditas pun kian menggelembung. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sedikitnya ada sembilan taipan yang menggenggam saham emiten komoditas secara langsung maupun melalui entitas usahanya. Salah satunya, Low Tuck Kwong yang mengantongi 55,2% saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) secara langsung. Hingga 11 Maret 2022, nilai portofolio Low Tuck Kwong itu mencapai Rp73,8 triliun. Apabila dikalkulasi dengan harga saham BYAN pada akhir 2021, kekayaan Low Tuck Kwong itu meningkat 48,52%.
Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar 2,54% saham ADRO yang dimiliki bos Triputra Group T.P. Rachmat naik menjadi Rp2,44 triliun. Selain emiten batu bara, penguatan saham emiten perkebunan sawit dan produsen crude palm oil (CPO) juga membuat kocek taipan kian tebal. Anthoni Salim, misalnya, menguasai 78,55% saham PT Salim Ivomas Tbk. (SIMP) dan 59,48% saham PT PP London Sumatera Tbk. (LSIP) secara tidak langsung melalui Grup Indofood. Total nilai portofolio saham tersebut mencapai Rp12,18 triliun atau naik 16,33% sepanjang tahun berjalan 2022.
Wapres: Tindak Tegas Spekulan Pangan
Seusai meninjau Gudang Bulog, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat (11/3) Wapres Ma’ruf Amin menginstruksikan aparat penegak hukum untuk menindak penimbun pangan. Tiga hari sebelumnya, Wapres Amin berkunjung ke kantor Kementan untuk memonitor dan mengevaluasi ketersediaan pangan menjelang Ramadhan dan Lebaran 2022. Dalam kesempatan itu, Wapres meminta Mendag dan Kepala Badan Pangan Nasional (BPN) memastikan distribusi bahan pangan pokok tetap lancar. Kepala BPN Arief Prasetyo Adi mengatakan, Bulog sudah ditugaskan menyerap gabah petani dengan harga yang baik, kemudian mempersiapkan kadar airnya baik sehingga bisa disimpan sampai jelang panen ke depan.
Terkait minyak goreng, Arief menuturkan, Kemendag sudah menaikkan kuota DMO dari 20 % ke 30 %. Kewajiban itu berlaku bagi eksportir minyak sawit mentah dan olein guna memenuhi kebutuhan bahan baku minyak goreng domestik. Arief juga mengimbau masyarakat agar tidak panik dalam membeli minyak goreng. Terkait daging, Arief memastikan pasokan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa dan Lebaran tahun ini. Masyarakat diberi pilihan antara daging kerbau beku, daging sapi beku, dan daging segar. (Yoga)
Minyak Goreng : Dari Gejolak Politik Hingga Keresahan Sosial
Tingginya kebutuhan minyak goreng tidak selalu diiringi ketersediaan stok di pasaran. Sejak 1998 hingga kini, Indonesia beberapa kali mengalami kelangkaan minyak goreng. Di tengah gejolak politik dan krisis ekonomi 1998, minyak goreng sulit ditemukan di daerah-daerah di Indonesia bagian barat hingga timur. Di Makassar, Sulsel, kelangkaan minyak goreng Januari 1998 karena pabrikan kesulitan memperoleh kopra sebagai bahan baku. Produksi kopra petani mengalami penurunan akibat perubahan cuaca. Harga minyak goreng melambung 86 % dari Rp 35.000 menjadi Rp 65.000 per jeriken 22 liter. Kelangkaan minyak goreng juga terjadi Februari 1998 di DKI Jakarta, Surabaya, dan Medan, karena gejolak nilai tukar rupiah sehingga berdampak pada ketidakpastian biaya produksi. Pada Mei 1998, kelangkaan minyak goreng masih terjadi di Bandar Lampung, Semarang,dan Bandung. Tingginya biaya angkut di tengah gejolak politik dan krisis ekonomi turut menjadi penyebab kelangkaan minyak goreng.
Pada periode reformasi, kelangkaan minyak goreng terjadi di Bandung, Jawa Barat, pada Mei 2007. Pada saat yang bersamaan, kenaikan harga minyak goreng mencekik masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini disebabkan oleh membaiknya harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dunia sehingga ekspor dari Indonesia meningkat. Kenaikan ekspor ini berdampak pada berkurangnya pasokan bahan baku minyak goreng sehingga mengurangi produksi di sejumlah daerah. Kini, persoalan serupa terjadi. Berdasarkan temuan Ombudsman, kelangkaan minyak goreng disebabkan sejumlah faktor, yakni penimbunan, pengalihan penjualan dengan harga yang lebih mahal, dan kepanikan masyarakat yang memicu pembelian dalam jumlah banyak (panic buying). (Yoga)
Januari, Ekspor Minyak Sawit Hanya 2,18 Juta Ton
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)
menyatakan, ekspor minyak sawit nasional pada Januari 2022 mencapai 2,18
juta ton atau turun 11,4% dari Desember 2021 sebesar 2,46 juta ton dan
lebih rendah 23,8% dari ekspor Januari 2021 yang sebesar 2,86 juta ton.
Penurunan ekspor Januari 2022 dari Desember 2021 itu merupakan pola musiman,
ditambah faktor produksi yang sangat terbatas dan harga yang sangat tinggi.
Sedangkan untuk konsumsi dalam negeri Januari 2022 sebesar 1,51 juta ton
atau 160 ribun ton lebih rendah dari Desember 2021 sebesar 1,67 juta ton atau
turun 9,6%. Konsumsi terbesar untuk biodiesel 732 ribu ton, diikuti industri
pangan 592 ribu ton, dan oleokimia 183 ribu ton. Konsumsi minyak sawit untuk
biodiesel yang melampaui untuk pangan telah terjadi sejak November 2021.
Di sisi lain stok minyak sawit dan inti sawit Indonesia pada akhir Januari naik
menjadi 4,68 juta ton dari awal Januari 4,13 juta ton. (Yetede)
Pasar Energi Global Tetap Tertekan
Kebuntuan perundingan Rusia-Ukraina yang difasilitasi Turki, Kamis (10/3) membuat pasar energi tetap tertekan. Tekanan juga timbul dari ketidakjelasan perundingan AS dengan Iran dan Venezuela. Setelah sempat menyentuh level 130 USD per barel, harga minyak mentah jenis Brent pada Kamis malam, berdasar Bloomberg dan Trading Economics, di level 115 dollar AS per barel. Merespons tingginya harga minyak mentah, Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan akan melepaskan sebagian cadangan strategisnya untuk meringankan tekanan. Gairah pasar semakin meningkat karena UEA mengumumkan siap memacu produksi di atas kesepakatan OPEC, melebihi 800.000 barel per hari. Padahal, OPEC bersama Rusia sepakat, kenaikan tidak melebihi 400.000 barel per hari. ”Kami mendukung kenaikan produksi dan mendorong OPEC meningkatkan produksi,” kata Duta Besar UEA untuk AS Yousuf Al
Sekjen OPEC Mohammed Barkindo meragukan produsen lain bisa menggantikan pasokan dari Rusia. Ia berkeras kenaikan harga saat ini dipicu masalah geopolitik, bukan masalah pasokan. Sanksi membuat transaksi apa pun dengan Rusia, termasuk untuk pembayaran komoditas energi, sulit dilakukan. Hal serupa sudah terjadi bertahun-tahun pada Venezuela dan Iran, pemilik cadangan minyak terbesar pertama dan ketiga di dunia. (Yoga)
Harga Nikel Spekulatif
Lonjakan harga nikel dunia secara signifikan perlu diwaspadai karena akan berdampak pada industry terkait nikel beserta ekosistemnya. Dalam periode perdagangan nikel Selasa (8/3), harganya sempat melebihi 100.000 USD per ton yang membuat otoritas London Metal Exchange menangguhkan perdagangannya. Lonjakan harga disebut bersifat spekulatif. Lonjakan harga nikel, termasuk lonjakan harga komoditas energi lainnya, seperti minyak, gas alam, dan batubara, dikaitkan dengan konflik bersenjata Rusia-Ukraina. Harga resmi nikel, berdasarkan London Metal Exchange, pada Selasa 48.201 USD per ton. Pada 1 Maret 2022, nikel diperdagangkan dengan harga 25.450 dollar AS per ton.
Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani (10/3), mengatakan, lonjakan itu merupakan hasil aksi spekulatif. Lantaran penuh ketidakpastian, sejumlah trader memanfaatkan situasi. Angka tersebut sangat jauh dari harga fundamental dan tidak logis. Saking berharganya nikel, harga komoditas tersebut di bursa komoditas logam LME dipermainkan spekulan Selasa (8/3), perusahaan nikel dan baja nirkarat raksasa China, Tshingsan Holding Group, yang juga merupakan investor Indonesia di Sulawesi, rugi besar. ”Perusahaan itu berhadapan dengan ’bajak laut’ pialang pasar modal karena imbas kenaikan harga nikel dari 20.000 USD per ton menjadi 100.000 USD” kata Mendag Muhammad Lutfi. (Yoga)
Minyak Goreng, Kebijakan Pemenuhan Kebutuhan Domestik
Penambahan kuota DMO dari 20 % menjadi 30 % total ekspor, mulai 10 Maret 2022, dinilai semakin menambah kusut persoalan. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono (10/3), mengatakan, DMO CPO dan olein 20 % sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan bahan baku minyak goreng dalam negeri. Namun, pemerintah justru menambah kuota DMO jadi 30 %, padahal, sebelum penambahan itu, kebijakan DMO masih menyisakan persoalan. Ada pabrik minyak goreng yang belum mendapat pasokan dari DMO CPO dan olein secara memadai. Ada juga industri menengah dan besar yang mendapat rembesan DMO, bahkan minyak goreng curah. Penyelundupan CPO dan olein juga terjadi dan distribusi minyak goreng di pasar belum merata. Kebijakan kuota DMO CPO dan olein 30 % total ekspor akan berakhir saat harga CPO global normal atau mencapai keseimbangan baru. Kebijakan itu membuat harga CPO global naik. (Yoga)
Krisis Ukraina Meluber Menjadi ”Perang Energi”
Krisis Ukraina yang berkelindan dengan puluhan sanksi ekonomi dari negara-negara Barat kepada Rusia berkembang menjadi ”perang energi”. Presiden AS Joe Biden (9/3) mengumumkan penghentian impor minyak, gas, dan batubara dari Rusia ke negaranya, sebagai tekanan agar Rusia menghentikan serangan ke Ukraina. Langkah serupa tengah direncanakan BP dan Shell. Langkah itu direspons Presiden Rusia Vladimir Putin dengan dekrit pelarangan ekspor dan impor bahan mentah untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan industri di Rusia, yang diterapkan hingga 31 Desember 2022. Pemerintah dan parlemen Rusia segera memutuskan komoditas yang masuk daftar larangan itu. Larangan hanya berlaku untuk konsumsi industri.
Sebelum dekrit itu diumumkan, Wakil PM Rusia Alexander Novak memperingatkan bahwa Rusia berhak menghentikan pengiriman gas ke Eropa. Meski demikian, ia menyebut penghentian tersebut akan merugikan semua pihak. Krisis Ukraina telah menerbangkan harga minyak di atas 100 USD per barel, dengan pengumuman dari Washington dan Moskwa tersebut, harga minyak mentah jenis Brent sempat menembus level 130,38 USD per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate mencapai 125,58 USD per barel. 40 % pasokan dunia berasal dari Rusia. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyatakan, IEA dapat melepaskan lebih banyak stok minyak guna meredakan lonjakan harga bahan bakar. IEA mewakili 31 negara industry, Rusia tidak termasuk. (Yoga)
Minyak Goreng, Jamin Bahan Baku, Porsi DMO Dinaikkan
Kemendag menaikkan porsi kewajiban DMO, bagi eksportir minyak sawit mentah dan olein dari 20 % menjadi 30 %. Langkah itu ditempuh untuk mengamankan pasokan bahan baku dan menjamin ketersediaan minyak goreng di dalam negeri. Kemendag juga menggandeng Kepolisian RI untuk menindak spekulan dan penimbun minyak goreng serta penyelundup CPO. Mendag Muhammad Lutfi, mengatakan, ketentuan itu berlaku mulai Kamis (10/3 hingga harga CPO global kembali normal atau mencapai titik keseimbangan baru. Harga patokan DMO masih tetap Rp 9.300 per kg untuk CPO dan Rp 10.300 per kg untuk olein. Kementerian Perdagangan tidak mencabut kebijakan HET minyak goreng, yakni Rp 11.500 per liter untuk minyak goreng curah, Rp 13.500 per liter untuk minyak goreng kemasan sederhana, dan Rp 14.000 per liter untuk minyak goreng kemasan premium. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









