Lingkungan Hidup
( 5813 )OJK Menyambut Baik Mengembangkan Ekosistem Bank Emas
Sektor Kereta Api Masih Memiliki Potensi Pecah Kepadatan Mudik
Angkutan moda transportasi kereta api masih memiliki potensi besar memecah kepadatan pemudik yang menggunakan angkutan pribadi kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang. Djoko Setijowarno mengatakan, utilitas penggunaan angkutan pribadi di moda perkeretapian masih bisa digenjot. "Utilitasnya masih besar, selama ini pemerintah fokusnya terlalu besar di moda angkutan jalan. Padahal, memanfaatkan moda lain dengan kapasitas yang besar itu bisa memindahkan sebagian besar itu bisa memindahkan sebagian besar pemudik berkendaraan, terutama di kereta api," ujarnya kepada Investor Daily.
Ia memisalkan kapasitas tampung untuk kereta cepat Whoosh saja masih berkisar di presentase 80% atau rata-rata mencapai 24 ribu penumpang per hari. Sedangkan kapasitas kursi yang tersedia bisa mencapai 31 ribu. "Ini lumayan, (Whoosh) memecah pemudik menuju ke Bandung tau sekitar Jawa Barat. Dan apa yang terjadi pada periode mudik lebaran 2025 itu konsep one way di jalan tol harusnya tidak perlu terjadi karena jumlah pengendara hanya meningkat tipis," pungkasnya. Periode mudik lebaran tahun ini Kereta Api Indonesia Group (KAI/Persero) mengangkut sebanyak 23 juta penumpang yang berlangsung sejak 21 Maret hingga 7 April 2025. Ini menunjukkan sektor kereta api masih menjadi tulang punggung transportasi massal memecah kepadatan pemudik. (Yetede)
Produksi Beras Diprediksi Melonjak Tahun Ini
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa produksi beras Indonesia akan melimpah pada periode Januari—Mei 2025, dengan total produksi mencapai 16,62 juta ton, naik 12,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut M. Habibullah, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, peningkatan ini setara dengan tambahan produksi sebesar 1,83 juta ton beras. Ia menjelaskan bahwa potensi panen padi pada Maret—Mei 2025 diperkirakan mencapai 4,30 juta hektare, naik 5,53% dari tahun sebelumnya, yang akan menghasilkan sekitar 13,14 juta ton beras.
Habibullah juga menegaskan bahwa prediksi ini berdasarkan angka potensi yang dihitung dari hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) serta rata-rata produktivitas padi dalam tiga tahun terakhir (2022–2024). Ia menambahkan bahwa angka realisasi bisa berbeda tergantung kondisi pertanaman sepanjang musim panen.
Secara keseluruhan, produksi padi gabah kering giling (GKG) diprediksi mencapai 28,85 juta ton dalam lima bulan pertama 2025, atau naik sekitar 1,08 juta ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Prediksi ini menunjukkan optimisme terhadap ketahanan pangan nasional dan diharapkan dapat memperkuat stabilitas harga beras di tengah tantangan global yang memengaruhi sektor pangan.
Sektor Teknologi Digital Terdampak Kebijakan Tarif Trump
Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih
Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia
Industrialisasi Nikel Krusial karena Bergantung Kebijakan Negara Lain
Penerapan tarif resiprokal AS bakal menekan negara-negara mitra dagangnya. Pada komoditas olahan nikel, Indonesia terdampak tidak langsung, menyusul ketergantungan pada pasar China. Penguatan industri hilir nikel di Indonesia pun semakin krusial. Indonesia dikenai tarif resiprokal 32 %. Sementara tarif resiprokal pada China 34 %. Sebelumnya, awal 2025 setelah Trump dilantik, AS menetapkan bea masuk 20 % pada barang-barang impor dari China. Apabila ditambah tarif resiprokal 34 %, pengenaan tarif bagi China menjadi 54 %. Kebijakan Trump dikhawatirkan memengaruhi dinamika perdagangan global. Head of Center of Macroeconomics and Finance pada Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, Jumat (4/4), mengatakan, kebijakan tarif Trump berpotensi mengganggu keseimbangan perdagangan global, termasuk ekspor olahan nikel yang selama ini didominasi China.
Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia bergantung pada permintaan China, terutama dalam sektor stainless steel (baja nirkarat) serta baterai kendaraan listrik (EV). ”Jika tarif AS melemahkan perekonomian China, permintaan nikel Indonesia akan turun sehingga mengancam industri hilir yang masih berkembang,” kata Rizal. Kondisi tersebut tak hanya memperbesar ketergantungan Indonesia pada kebijakan negara lain. Namun, juga berisiko menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, menyebutkan, terkait ekspor olahan nikel, memang Indonesia tak terdampak langsung kebijakan tarif Trump.
Namun, karena China menjadi pasar utama olahan nikel Indonesia, kita bisa jadi terdampak. Menurut Ferdy, Indonesia perlu mengantisipasi dengan strategi yang matang serta langkah konkret. ”Pasar utama hilirisasi nikel Indonesia, ya, China. Pembangunan smelter yang masif di Indonesia juga didominasi China. Potensi dampak (kebijakan Trump) perlu diantisipasi dengan keputusan-keputusan yang teknokratis,” tutur Ferdy. Penguatan industri domestik, termasuk peningkatan nilai tambah produk olahan nikel, sudah semestinya dipercepat, baik pada baja nirkarat maupun produk-produk lain. Di samping itu, hambatan birokratis menuju industrialisasi mesti diatasi. (Yoga)
12 Orang Meninggal Akibat Bentrokan di Puncak Jaya
Produksi Minyak Sawit RI Diprediksi Hanya Kisaran 44-47 Juta Ton
Investasi Emas Batangan
Emas menjadi salah satu pilihan
investasi yang evergreen, dari dulu hingga sekarang. Apalagi belakangan ketika
situasi perekonomian labil, nilai emas yang stabil naik semakin dilirik. Wajah
Abdul Rosad (34) dan istrinya Yenni Kristayanti (29) tampak semringah setelah
menyelesaikan transaksi pembelian emas di gerai PT Aneka Tambang Tbk (Antam),
Pondok Indah Mall (PIM) 1, Jaksel, Rabu (2/4).
Pasangan muda itu jadi bagian warga yang antre untuk membeli emas. Keduanya
mengantre hampir satu jam, tapi mereka puas karena akhirnya mendapatkan emas
dan menilai baik pelayanan petugas. Kedatangan mereka ke PIM, awalnya hanya sekadar
jalan-jalan dan mengisi waktu libur Lebaran. Saat turun dari lantai satu ke lantai
GF, Abdul dan Yenni melihat antrean pengunjung. Tanpa pikir panjang, Abdul dan
Yenni ikut mengantri.
”Ini pertama kali kami membeli
emas. Jadi, ini investasi emas pertama kami. Sebelumnya ada sih, tapi itu wujud
kayak perhiasan kalung dan gelang, tetapi itu bukan dari emas Antam,” kata
Yenni, yang menunjukkan enam keping emas yang masing-masing seberat satu gram.
Alasan membeli emas Antam karena melihat nilainya terus naik. Dengan demikian, instrument
itu akan menjadi investasi cerah dan menjanjikan untuk masa depan. Investasi
emas, menurut keduanya, juga akan sangat berguna untuk membiayai keperluan
mendesak di masa depan. Misalnya untuk keperluan persalinan dan biaya sekolah. Ronny
(58), pengunjung lainnya, juga menilai emas menjadi investasi menjanjikan untuk
masa depan. Ronny bersama istri dan anak perempuannya sengaja datang ke PIM 1
untuk membeli emas sembari menikmati masa libur Lebaran. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









