Lingkungan Hidup
( 5813 )Antusias Menyambut Bursa Karbon
Antisipasi Flukfuasi Harga Minyak, Subsidi Energi Ditingkatkan
Subsidi Energi Naik di Tahun Politik
APEX Berupaya Optimalkan Pemakaian Big
ENERGI BARU TERBARUKAN : GEOTERMAL BUTUH UPAYA MAKSIMAL
Antisipasi Potensi Gagal Panen
Pemerintah perlu mengoptimalkan produksi beras pada musim tanam I yang diperkirakan berlangsung pada Oktober-Desember 2023 untuk menambah cadangan beras pemerintah dan ketahanan pangan nasional. Kemung-kinan gagal panen juga perlu diantisipasi karena masih ada petani di sejumlah daerah yang menanam padi pada musim tanam III. Pada Jumat (15/9) air Waduk Kedungombo mulai digelontorkan untuk pengairan sawah pada musim tanam I, pada Jumat dini hari. Air tersebut sampai di Bendung Klambu, Kabupaten Grobogan, Jateng, pada Jumat pagi dan langsung dibagi ke sejumlah saluran irigasi menuju Demak, Pati, Kudus, dan Grobogan pukul 06.00.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Demak Hery Sugihartono, Jumat, mengatakan, meskipun air sudah digelontorkan, petani tidak bisa segera tanam karena harus membasahi dan mengolah sawah. Tanam padi di Demak diperkirakan baru berlangsung awal Oktober 2023 sehingga panen diperkirakan terjadi pada Desember 2023 hingga Januari 2024. ”Agar hasil panen musim tanam I optimal, sumber air irigasi pada musim kemarau panjang akibat dampak El Nino ini harus dikelola dengan baik. Pemerintah dan petugas pengelola air diharapkan membaginya dengan rata dan mengantisipasi tidak terjadi rebutan dan sabotase air,” ujarnya. (Yoga)
HARGA ACUAN : BARA BATU BARA MEREDA
Merosotnya harga batu bara acuan ke titik terendah dalam 2 tahun terakhir membuat pelaku usaha memutar otak melakukan efisiensi agar margin perusahaan tetap terjaga. Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mencatat merosotnya harga batu bara acuan atau HBA ke level US$133,13 per ton pada September menambah beban pelaku usaha yang sedang terimpit beragam persoalan, seperti meningkatnya biaya operasional dan naiknya tarif royalti. Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengatakan bahwa pelaku usaha batu bara mesti mengefisienkan operasionalnya agar bisa tetap bertahan, dan tidak menghentikan kegiatan pertambangan di lapangan. “Tentu saja melakukan efisiensi dalam bisnis, dan dalam segala hal,” katanya, Senin (18/9). Efisiensi tersebut, kata Hendra, menjadi salah satu jalan untuk meloloskan margin perusahaan pertambangan yang tertekan karena merosotnya HBA dalam beberapa bulan terakhir. “Harapan kami akan rebound lagi, karena pada kuartal IV biasanya demand batu bara meningkat, termasuk dari Tiongkok yang diperkirakan permintaan di sisa akhir tahun menguat,” ucapnya.
Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memutuskan HBA dengan kesetaraan kalori 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 12,26%, sulphur 0,66%, dan Ash 7,94% berada di harga US$133,13 per ton. Kemudian HBA I dengan kesetaraan nilai kalori 5.300 kcal/kg GAR, total moisture 21,32%, sulphur 0,75%, dan Ash 6,04% seharga US$89,11 per ton. Lalu, HBA II dengan kesetaraan nilai kalori 4.100 kcal/kg GAR, total moisture 35,73%, sulphur 0,23%, dan Ash 3,90% senilai US$53,83 per ton. Adapun, HBA III dengan kesetaraan nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR, total moisture 44,30%, sulphur 0,24%, dan Ash 3,88% berada di harga US$31,82 per ton. Singgih Widagdo, Ketua Indonesia Mining & Energy Forum (IMEF), mengatakan bahwa sebenarnya pelaku usaha bisa memanfaatkan peningkatan impor batu bara China dengan menggenjot produksinya untuk kemudian dikirim ke Tiongkok. Di sisi lain, pemerintah terus memperbaiki formula HBA agar bisa mendekati harga riil, termasuk menambah HBA III. Staf Khusus Menteri ESDM Irwandy Arif mengatakan bahwa perbaikan formula harga dilakukan untuk membuat HBA sebagai tolok ukur pungutan royalti dapat mendekati harga riil transaksi di pasar.
LONJAKAN HARGA BERAS : Ombudsman Usul HET Gabah
Ombudsman Republik Indonesia mengusulkan kepada pemerintah segera menetapkan harga eceran tertinggi gabah untuk mengganti harga eceran tertinggi beras seiring dengan lonjakan harga komoditas pangan itu. Anggota Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika mengatakan selama ini kebijakan harga eceran tertinggi (HET) beras tidak efektif menstabilkan harga komoditas itu. Aturan HET disebut hanya mengatur harga beras premium di pasar modern. “Kalau pasar tradisional tidak ada yang namanya HET itu,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (18/9). Seharusnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menetapkan HET gabah kering panen (GKP) di tingkat penggilingan untuk menahan laju kenaikan harga gabah.Di sisi lain, kebijakan HET untuk beras premium dikhawatirkan bakal menghambat pasokan beras di pasar modern, seiring dengan makin tertekannya usaha pabrik beras premium karena modal produksi yang lebih besar dibandingkan harga penjualan berasnya yang dipatok sesuai HET. Pemerintah juga diminta berkaca dari kejadian kelangkaan minyak goreng pada tahun lalu akibat kebijakan penetapan satu harga minyak goreng Rp14.000 per liter. Saat itu, minyak goreng justru langka karena pasokan makin berkurang karena kebijakan tersebut.
PENYIMPANAN BBM : Terminal Inhil Mulai Beroperasi
Darurat Beras Kian Dekat
TAK biasanya Nur Lina berkeliling mendatangi sejumlah kios beras di Pasar Jaya Pademangan Barat, Jakarta Utara, kemarin. Hal ini ia lakukan demi mendapatkan beras dengan harga termurah. Harga beras yang kian tinggi membuat beban pengeluaran ibu rumah tangga tersebut kian berat. “Saya sampai mendatangi lima kios untuk mencari beras paling murah,” kata dia saat dijumpai Tempo di pasar tersebut. Sebelum ke Pasar Jaya Pademangan Barat, Nur mampir ke tiga toko di pinggir jalan hingga ke minimarket. Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya ia memutuskan membeli beras di Pasar Jaya seharga Rp 50 ribu untuk 5 kilogram. “Lebih murah Rp 2.000. Lumayan, meski capek banget jalan kaki.” Bukan hanya Nur yang rela mondar-mandir mengecek harga supaya mendapatkan beras murah. Warga Pademangan lainnya, Putri Lestari, juga menceritakan kisah serupa.
Ia mengatakan telah mampir ke minimarket sebelum mendatangi salah satu toko beras di Pasar Jaya. Perempuan berusia 34 tahun itu memutuskan membeli beras di toko tersebut karena harganya lebih murah ketimbang di minimarket. “Premium lebih murah di Pasar Jaya. Tadi saya cek di minimarket 5 kg harganya Rp 69 ribu. Di sini harganya Rp 65 ribu,” kata Putri. Ia mengatakan selisih itu sangat berarti di tengah semakin mahalnya beras.Menyitir panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga rata-rata beras medium di tingkat pedagang eceran kemarin dibanderol Rp 12.930 per kilogram, sementara harga beras premium mencapai Rp 14.560 per kilogram. Harga kedua jenis beras tersebut melonjak dibanding harga pada bulan yang sama tahun lalu. Waktu itu, beras medium masih dijual seharga Rp 10.950 per kilogram, sedangkan beras premium Rp 12.480 per kilogram. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









