Lingkungan Hidup
( 5816 )”Gulo Puan”, Kudapan dari Susu Kerbau Rawa Kegemaran Raja Palembang
Berada 60 km atau 2 jam tenggara Palembang, Sumsel, Desa
Bangsal di Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, punya arti penting dalam
sejarah kuliner di kalangan bangsawan keturunan penguasa kerajaan di Palembang.
Desa Bangsal adalah tempat lahirnya gulo puan, camilan dari olahan susu kerbau
rawa Pampangan, yang dijuluki ”Kudapannya Raja-raja Palembang”. Seusai menerima
2,5 liter susu kerbau dari menantunya, Paisol (44), di salah satu rumah di Desa
Bangsal, Kamis (7/12) Masnah (60) menyiapkan wajan, kompor gas, elpiji 3 kg,
ember kecil, dan gula pasir 0,5 kg. Masnah mencampur susu kerbau dan gula pasir
di ember kecil, lalu menuangkan adonan yang sudah tercampur rata itu ke wajan
dan mengaduknya perlahan dengan spatula. Api kompor disetel antara kecil dan sedang
karena proses masak harus bertahap 1-2 jam. Setelah melihat adonan mengental,
Masnah mengaduknya perlahan hingga campuran susu kerbau dan gula mengkristal,
kering kasar kecoklatan. Sekilas teksturnya mirip gula aren, dengan warna lebih
pucat. Hasil masakan itulah yang disebut gulo puan. Camilan itu berasal dari
dua suku kata, ”gulo” yang artinya gula atau manis dan ”puan” yang artinya
susu. Maksudnya, gula susu atau manisan dari susu. Tak jarang gulo puan menjadi
teman minum teh atau kopi. Ada juga yang memakannya langsung.
Menurut Masnah, membuat gulo puan menjadi tradisi yang diwariskan
turun-temurun kepada para perempuan di Desa Bangsal. Masnah belajar membuat gulo
puan menjelang pernikahannya dengan Junaidi (70) pada tahun 1979, tujuannya
agar bisa menambah pemasukan keluarga atau membantu suami tanpa mengganggu
tanggung jawabnya dalam keluarga. Hasil dari gulo puan dinilai cukup
menjanjikan. Untuk menghasilkan 1 kg gulo puan, bahan yang dibutuhkan adalah
2,5 liter susu kerbau seharga Rp 62.500 (Rp 25.000 per liter) dan 0,5 kg gula
pasir seharga Rp 8.000 (Rp 16.000 per kg). Selain itu, elpiji 3 kg seharga Rp
20.000 per tabung, tapi bisa digunakan memasak dalam 2-7 hari. Dengan modal
produksi Rp 70.500, harga jual gulo puan bisa mencapai Rp 120.000 per kg.
Artinya, ada keuntungan Rp 49.500, belum termasuk keuntungan dari penjualan
produk turunan, seperti minyak samin seharga Rp 200.000 per kg dan mentega Rp
80.000 per kg. Namun, butuh proses masak berulang atau dalam jumlah besar untuk
menghasilkan 1 kg minyak samin dan 1 kg mentega. (Yoga)
Siasat Berhemat Saat Harga Bahan Pokok Melesat
Dompet warga kelas ekonomi menengah turut terdampak akibat
kenaikan harga bahan pokok yang kian melesat. Mereka pun harus memiliki siasat
untuk berhemat. Warga Jakarta Timur, Alfiyah (35) meminta uang lebih sebesar Rp
150.000 kepada suaminya untuk belanja bulanan akibat harga sejumlah komoditas
naik, seperti cabai merah hingga beras. ”Yang paling terasa itu harga cabai
rawit dari Rp 65.000 menjadi Rp 90.000 per kg dalam seminggu. Naiknya tidak
tanggung-tanggung, Rp 25.000,” katanya, Senin (19/2). Alfiyah mengaku tidak mengurangi
atau mengubah masakannya, kecuali pengurangan cabai. Ia lebih memilih menambah
pengeluaran dibandingkan pemangkasan pengeluaran. Belanja bulanan bahan pangan
yang biasanya dianggarkan Rp 3,5 juta untuk empat orang, kini ditambah Rp 150.000
sejak awal Februari.
”Paling mengurangi cabai saja. Kalau harga cabai lagi murah,
pakai cabainya untuk sambal lebih banyak. Kalau harga naik, jumlahnya
dikurangi,” tutur Alfiyah yang juga bekerja sebagai pedagang baju ini. Satu
bulan lalu, harga beras premium Rp 75.000 per 5 kg. Lalu, naik menjadi Rp
84.000 per 5 kg. Meski kenaikan hanya Rp 10.000, sangat terasa bagi Alfiyah. Karyawan
swasta di Jakarta Pusat, Rista Ayodia (24) merasa kenaikan harga di sejumlah
komoditas turut memengaruhi pemangkasan diskon dalam berbelanja makanan secara
daring di lokapasar. ”Sebagai anak kos, saya lebih sering memesan makanan secara
daring karena menunya lebih beragam dan banyak diskon. Tetapi, sejak sebulan
terakhir, saya merasa promo yang ditawarkan semakin berkurang. Biasanya Rp
32.000 sudah dapat dua makanan, tetapi sekarang nyaris Rp 40.000 untuk dua
makanan harga termurah,” kata Rista.
Rista harus putar otak, selisih harga Rp 5.000 hingga Rp
10.000 cukup tinggi baginya. Ia pun mulai beralih membeli makanan secara
langsung ke warung terdekat dengan harga Rp 15.000 per porsi, yang sesuai
anggarannya. Penghasilan Rista sebulan Rp 7 juta. Warga asal Magelang, Jateng,
ini hidup sendiri dengan menyewa kos di Jakarta. Kenaikan harga kebutuhan pokok
juga berdampak pada pelaku usaha makanan di Jakarta. Para penjual makanan harus
menempuh beragam strategi agar bertahan. Penjual sate taichan di Jaksel, Ahmad
Hartono (32) misalnya, menambahkan lebih banyak air di sambal buatannya. ”Bahan
utama di sate taichan itu cabai. Jadi harus tetap ada dan enak. Saya menambahkan
sedikit air agar sambalnya bisa lebih banyak karena harga cabai sangat mahal
sekarang,” katanya. (Yoga)
POTENSI MIGAS : Sumur Eksplorasi Prospektif dari Sumbagut
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatra Bagian Utara (Sumbagus) mengungkapkan bahwa ada dua penemuan besar sepanjang tahun lalu oleh Kontaktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah tersebut.Kepala SKK Migas Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus mengatakan bahwa penemuan besar itu pertama adalah Geng North di wilayah Laut Kalimantan dan Layaran, di mana Sumur Layaran-1 atau sumur gas, berasal dari KKKS Mubadala Energy di lepas pantai (offshore) Provinsi Aceh. Berdasarkan laporan dari Mubadala Energy (South Andaman) RSC Ltd, imbuhnya, temuan sumur Layaran-1 memiliki potensi mencapai 6 triliun kaki kubik (TCF) gas-in-place. Temuan ini bahkan melebihi dari penemuan sumur Geng North-1 belum lama ini yang digadang-gadang masuk ke dalam tiga besar dunia. Selain temuan di wilayah offshore Aceh tersebut, sumur eksplorasi lainnya yang berhasil discovery yaitu di sumur BLN-01 oleh KKKS EMP Tunas Energy di wilayah kerja (WK) South CPP, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.Sumur BLN-01 akan dibor sedalam 1.950 feet atau sekitar 700.
Ada juga potensi cadangan migas dari sumur Sidingin 1 oleh KKKS Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Provinsi Riau.Dia mengakui pencapaian penting pada 2023 ini adalah hasil dari kegiatan pengeboran sumur di wilayah Sumbagut yang mencapai 545 sumur, yang terdiri atas 12 sumur eksplorasi, dan 533 sumur pengembangan.
BAHAN PANGAN : HARGA BERAS TERPICU FAKTOR MUSIMAN
Pemerintah menyatakan kenaikan harga beras di pasar dipicu oleh faktor musiman berupa berkurangnya pasokan komoditas pangan setiap periode Januari—Februari.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan pasokan beras memang berkurang akibat panen padi yang mundur di tengah fenomena El Nino.“Kenapa harga beras premium naik? Ini soal supply dan demand,” katanya saat memantau stok beras di salah satu gerai ritel modern di Jakarta, Senin (19/2).Dia menjelaskan stok beras yang terbatas membuat harga melambung. Bahkan, kenaikan harga beras premium sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintaha. Saat ini, harga beras premium sudah menyentuh level Rp72.000 per 5 kilogram (kg) hingga Rp80.000 per 5 kg, sedangkan HET beras premium ditetapkan Rp69.500 per 5 kg.Selain pasaokan berkurang, Mendag menambahkan disparitas harga yang tinggi juga memicu kelangkaan beras di ritel modern. Saat ini, konsumen beras premium mulai beralih ke beras program stabilitas pasokan harga pangan (SPHP) yang juga menyebabkan pasokan beras SPHP cepat habis.
Menurutnya, pasokan beras premium ke ritel modern mengalami hambatan hingga menimbulkan kelangkaan. Peritel kesulitan mendatangkan beras premium lantaran ada kenaikan harga di tingkat produsen yang melampaui HET.
Namun, Zulkifli menegaskan bahwa kecepatan suplai menjadi kunci untuk mencegah kelangkaan dan kenaikan harga beras.
Deputi III Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Perekonomian Edy Priyono sependapat dengan pernyataan Mendag. Dia menilai akar masalah mahalnya harga beras beberapa waktu terakhir imbas dari suplai yang menurun.
Faktor El Nino memicu masa tanam padi mundur dan volumenya turun. Bahkan, dia mengamini bahwa terjadi gagal tanam di sejumlah daerah. Edy menjelaskan rendahnya produksi juga sudah diproyeksikan BPS sejak November 2023 yaitu di bawah 2,5 juta ton.
Sebaliknya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah bahan pangan mengalami lonjakan harga usai pemilu atau menjelang Ramadan.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan harga cabai merah, minyak goreng, telur, daging ayam, beras dan gula pasir menjadi penyumbang kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan ketiga Februari 2024 di sejumlah daerah.
Secara terperinci, komoditas dengan andil terbesar kenaikan IPH di Sumatra didominasi oleh cabai merah, daging ayam ras dan beras. Untuk komoditas penyumbang terbesar kenaikan IPH di Pulau Jawa didominasi oleh beras, cabai merah dan daging ayam ras.Untuk di luar Sumatra dan Jawa kenaikan IPH didominasi oleh komoditas daging ayam ras, cabai rawit, beras dan cabai merah.
Di samping itu, perkembangan harga minyak goreng pada pekan ketiga Februari 2024 juga naik sekitar 1,25% dibandingkan harga rata-rata Januari 2024 yaitu mencapai Rp17.691 per liter.
Di samping itu, perkembangan harga minyak goreng pada pekan ketiga Februari 2024 juga naik sekitar 1,25% dibandingkan harga rata-rata Januari 2024 yaitu mencapai Rp17.691 per liter.
Menjelang Ramadan, Pemerintah Jaga Pasokan Sembako
Harga Beras Terus Meroket, Perlu Langkah Lanjutan
Langkah pemerintah menggelontorkan beras ke ritel, pasar
swalayan, dan pasar-pasar di daerah ternyata belum mampu menahan kenaikan harga
beras. Harga beras di sejumlah daerah hingga Minggu (18/2) masih terus naik.
Sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah sepanjang pekan lalu belum
cukup untuk meredam lonjakan harga. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah
lanjutan untuk mengatasi persoalan ini. Berdasarkan pantauan Kompas, harga
beras medium di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jabar, pada Minggu sudah melesat
hingga Rp 17.500 per kg. Hanya dua hari, kenaikannya Rp 2.500 per kg. Fadhil (24),
pedagang di Pa- sar Kosambi, mengaku, kenaikan ini terbilang tinggi. Biasanya
harga beras medium hanya Rp 13.000 per kg. Dari distributornya di Sragen, Jateng,
ia mendapat informasi bahwa mereka tidak memiliki banyak stok untuk dijual. Harga
beras premium pun belum terkendali, dari biasanya Rp 16.000 per kg kini menjadi
Rp 18.000 per kg. Fadhil berharap pemerintah bisa mencari jalan keluar masalah
ini.
”Semua jenis beras susah didapat. Saya sudah pesan 3 ton
beras ke distributor di Jateng sejak dua pekan lalu. Namun, sampai sekarang belum
ada barangnya,” kata Fadhil lesu. Harga beras saat ini sudah jauh melampaui HET
yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg berdasarkan
zonasi untuk beras medium. Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa
Refila mengungkapkan, pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras premium.
”Kondisi ini terjadi di ritel kami dan supermarket lainnya. Kami terus berupaya
mengatasi kondisi ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,”
ujarnya. Tidak hanya di kota besar, kelangkaan beras premium juga terjadi di sentra
padi, seperti di Kabupaten Cirebon. Sabtu (17/2) sore, seorang warga,
Artantiani Putri (32), kesulitan mendapatkan beras premium. Di supermarket
Griya Jamblang, tempat penjualan beras kosong melompong. (Yoga)
Menjinakkan Gonjang-ganjing Beras
Lonjakan harga beras ke rekor tertinggi terjadi sebulan
terakhir. Di sejumlah daerah, beras premium dan medium juga raib dari pasar tradisional
dan toko ritel modern. Kenaikan harga beras jauh di atas HET yang ditetapkan
pemerintah itu terjadi seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan
dari sentra produksi (Kompas, 17/2/2024). Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai
kesempatan juga melontarkan sinyal ancaman inflasi pangan. Lonjakan harga beras
berpotensi mendongkrak inflasi, yang berarti memukul daya beli masyarakat. Untuk
meredam gejolak harga, pemerintah terus melakukan operasi pasar, mengguyur
pasar dengan beras Bulog. Bantuan pangan melalui penyaluran beras bantuan 10 kg
kepada 22 juta keluarga penerima manfaat dilanjutkan hingga Juni 2024.
Setelah Juni 2024, pemerintah menyatakan akan melihat
kemampuan APBN. Bulog menjamin, stok beras 1,180 juta ton aman hingga Ramadhan
dan Lebaran. Stok ini ditopang beras impor karena pengadaan dalam negeri
terkendala produksi yang turun dan tingginya harga gabah tingkat petani. Defisit
produksi dalam negeri terjadi delapan bulan terakhir, tetapi BPS memprediksi
puncak panen dan surplus beras akan terjadi Maret 2024. Ironisnya, jelang panen
raya Maret, pemerintah justru berencana impor beras 1 juta ton. Jumlah ini
gabungan sisa kuota impor 2023 dan sebagian dari kuota impor 2024 (2 juta ton).
Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras memang penting, tetapi pemerintah
juga harus memastikan penggelontoran beras impor tak menekan harga gabah kering
panen petani.
Meski sempat mengalami surplus secara sporadis, produksi beras
nasional relatif stagnan, bahkan turun rata-rata 1 % per tahun sepuluh tahun
terakhir. Padahal, konsumsi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan
penduduk. Kita memahami, dengan defisit produksi beras dalam negeri yang masih
harus ditutup dengan impor, stabilisasi harga dan pasokan beras tak bisa
mengabaikan situasi global. Kenaikan harga beras dewasa ini juga merupakan
fenomena global. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga beras akibat El Nino
dan kebijakan larangan ekspor negara produsen masih akan berlanjut pada 2024,
dengan harga diperkirakan belum akan turun hingga 2025. (Yoga)
Penyadap Nira Kelapa
Musim Tanam Mundur Picu Harga Beras Naik
Kenaikan harga beras yang bervariasi masih terjadi di banyak
daerah dan dikhawatirkan berlangsung hingga bulan Ramadhan. Musim tanam padi
yang terganggu akibat El Nino ditengarai memicu minimnya panen sehingga harga
beras naik. Di Pasar Tambak Rejo, Surabaya, Sabtu (17/2) beras dengan kualitas
medium rata-rata dipasarkan dengan harga Rp 11.817 per kg, naik 4,25 % atau Rp
482 per kg dibandingkan hari sebelumnya, di Rp 11.335 per kg. Adapun beras
dengan kualitas premium mengalami kenaikan harga lebih tinggi. Rata-rata
pedagang menjual beras premium Rp 14.959 per kg, naik Rp 1.082 per kg dari hari
sebelumnya, di Rp 13.877 per kg, kenaikannya mencapai 7,80 %. Pj Gubernur Jatim
Adhy Karyono, Sabtu (17/2) mengatakan, kenaikan harga beras dipicu tingginya
harga gabah ditingkat petani.
Bahkan, harga gabah kering panen saat ini mencapai Rp 7.410
per kg, lebih tinggi 48,2 % dibanding harga acuan yang ditetapkan pemerintah,
di Rp 5.000 per kg. Kenaikan harga gabah tersebut dipicu menurunnya produksi
beras secara nasional karena minimnya panen di musim hujan. itu, Kabid
Perdagangan dan Pengendalian Harga Pokok Penting Dinas Perdagangan dan Perindustrian
Kabupaten Cirebon Sidik Wibowo berpendapat, kenaikan harga beras kali ini
disebabkan faktor El Nino yang membuat musim tanam mundur. Fenomena iklim yang
ditandai dengan kekeringan tersebut menyebabkan hujan terlambat turun di
Cirebon. Akhirnya, masa tanam yang harusnya dimulai Oktober-Desember mundur
hingga Januari dan Februari. Selain itu, lahan pertanian di sejumlah kecamatan
juga dilanda kekeringan. ”Jadi, produksi beras berkurang. Kalaupun ada gabah,
harganya sudah mahal,” ucap Sidik. (Yoga)
Aktivitas Pelayaran Berisiko Tinggi
Gelombang tinggi pada Februari ini berisiko bagi pelayaran. Di Laut Arafuru, tanker minyak MT Koan tenggelam dihantam ombak. Cuaca ekstrem juga masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 2,5 meter terjadi di wilayah perairan Maluku. Masyarakat pesisir yang hendak melaut dan berlayar diimbau waspada mengingat risiko terhadap keselamatan cukup tinggi. Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Suaif Iriyanto, menjelaskan, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di Maluku terjadi di Laut Arafuru, Laut Seram, Laut Banda, perairan Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Babar.
Hal ini didorong oleh pola angin kencang dengan kecepatan 6 hingga 25 knot yang bergerak dari bagian utara hingga timur laut Indonesia. Selain itu, gelombang tinggi juga didorong angin yang bergerak dengan kecepatan 4-25 knot di wilayah barat daya Indonesia. Dengan kondisi tersebut, aktivitas masyarakat yang menggunakan perahu nelayan, tongkang, dan feri masuk dalam kategori risiko tinggi keselamatan pelayaran. ”Selain di Laut Arafuru, kecepatan angin tertinggi terjadi di Selat Makassar dan Laut Natuna Utara serta diprediksi terjadi hingga Minggu (18/2). Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter berisiko bagi perahu nelayan,” ucapnya di Ambon, Maluku, Sabtu (17/2). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









