Ancaman Neraca Perdagangan Defisit
Sudah 45 bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Namun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilainya terus turun. Realisasi surplus neraca perdagangan per Januari 2024 tercatat sebesar US$ 2,05 miliar. Angkanya lebih rendah dari surplus pada Desember 2023 dan Januari 2023, yang masing-masing sebesar US$ 3,29 miliar dan US$ 3,88 miliar. Nilainya kembali seperti awal rekor surplus pada 2020 yang berada di angka US$ 2,10-3,58 miliar.
Surplus sempat mencatatkan rekor hingga US$ 5,73 miliar pada Oktober 2021. Rekornya terpecahkan pada April 2022 dengan surplus mencapai US$ 7,56 miliar. Setelah itu, nilainya turun perlahan. Nilai surplus yang menyusut itu tak mengejutkan bagi sejumlah ahli. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia David Sumual mengatakan kinerja ekspor tak semoncer sebelumnya karena tren penurunan harga komoditas. Indonesia mengandalkan komoditas sebagai penopang utama ekspor, salah satunya batu bara.
Pada periode Januari 2024, misalnya, BPS mencatat ekspor produk pertambangan menurun paling signifikan hingga 23,54 persen secara tahunan. Kondisi ini membuat nilai ekspor Indonesia turun 8,34 persen secara bulanan dan 8,06 persen secara tahunan menjadi US$ 20,52 miliar. (Yetede)
Postingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
08 Feb 2026
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
24 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023