Minim Pasokan Litium untuk Kendaraan Bermotor
JAKARTA - Meski memiliki kandungan nikel melimpah untuk bahan baku baterai kendaraan listrik, Indonesia masih harus mencari bahan pelengkapnya: litium hidroksida. Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM, Agus Tjahjana, menyatakan pasokan mineral tersebut belum tersedia di dalam negeri sehingga butuh strategi untuk memastikan kelangsungan pasokannya.
Agus menuturkan terdapat beberapa potensi litium di dalam negeri, tapi masih butuh penelitian ihwal kapasitasnya. "Kalaupun ada, mungkin tidak banyak," tuturnya, kemarin. Kementerian ESDM pernah menganalisis potensi kandungan litium pada kawasan penampungan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Namun sumber dayanya masih di bawah 1.000 ton. Sementara itu, untuk memenuhi target produksi baterai di dalam negeri yang dimulai pada 2024, kebutuhannya mencapai 70 ribu ton.
Opsi realistis adalah menggandeng pemasok litium. Agus menuturkan terdapat banyak pedagang mineral tersebut di pasar global yang bisa diandalkan. Namun, untuk jangka panjang, dia menilai strategi akuisisi perusahaan produsen litium lebih tepat. Tak harus memiliki saham 100 persen, Agus mengatakan 10-20 persen pun cukup. Praktik demikian lumrah di dunia bisnis. "Coba lihat perusahaan Jepang. Mereka ada saham di Vale Indonesia sebesar 20 persen atau di perusahaan lain 10 persen. Tidak mayoritas, tapi mereka yakin dengan itu. Ada pasokan yang bisa dibawa ke Jepang," tutur Agus. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023