ASUMSI REALISTIS EKONOMI RI
Pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun depan didesain lebih rasional, dengan menimbang masih tingginya ketidakpastian global serta dampak yang ditimbulkan terhadap konsumsi dan investasi, dua pendorong utama produk domestik bruto (PDB). Kemarin, Kamis (8/6), pemerintah dan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam pembahasan pendahuluan Asumsi Dasar Ekonomi Makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024 memangkas batas bawah target pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya 5,3% menjadi 5,1%. Adapun, untuk batas atas tetap tak berubah yakni sebesar 5,7%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa penurunan batas bawah target pertumbuhan ekonomi dilandasi oleh masih besarnya peningkatan risiko pada 2024. Kementerian Keuangan pun memetakan dinamika ekonomi yang terjadi tahun depan. Secara domestik, beberapa indikator perekonomian Indonesia tetap memberikan sinyal ekspansif, salah satunya konsumsi yang terus menunjukkan tren penguatan. Namun demikian, dampak dari dinamika global ke dalam negeri perlu diwaspadai, khususnya terkait dengan tren penurunan ekspor. Kinerja investasi juga berpotensi tertahan, sejalan dengan sikap wait and see para pelaku usaha menyusul masih kuatnya dinamika ekonomi dunia dan Pemilu 2024.
Sri Mulyani menambahkan, pemerintah juga melakukan kajian terhadap perkembangan perekonomian terkini untuk meningkatkan akurasi dari berbagai asumsi dasar yang akan digunakan dalam perhitungan RAPBN 2024. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, pada kesempatan yang sama menyampaikan bahwa batas atas dari target pertumbuhan ekonomi 2024 yang sebesar 5,7% masih terlalu tinggi. Ketua Komisi XI DPR RI Kahar Muzakir, mengatakan eskalasi tensi geopolitik meningkatkan ketidakpastian dan fragmentasi global. Hal ini juga memengaruhi geliat ekonomi di banyak negara, termasuk Indonesia. Dia menambahkan, dinamika dan risiko ekonomi dunia serta potensi dampaknya ke Indonesia menjadi salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan asumsi pertumbuhan ekonomi. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani, kinerja ekonomi di tahun politik tidak bisa ekspansif, apalagi prospek ekonomi global cukup menantang. Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah Redjalam, menyarankan pemerintah memperlonggar ruang fiskal sehingga belanja bantuan sosial mampu tetap tebal pada 2024. Langkah itu akan menguatkan daya beli sehingga tercipta stabilitas konsumsi. "Caranya, pemerintah bisa melebarkan defisit APBN meskipun harus tetap di bawah 3% PDB," ujarnya.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023