Kisruh Penerapan Ujicoba Tol Nirsentuh Memanas
Ujicoba pembayaran tol nirsentuh atawa
multi lane free flow
(MLFF) 1 Juni lalu batal. Alasan yang mencuat adalah sistem MLFF yang memakai deteksi kendaraan dengan satelit atau
Global Navigation Satellite System
(GNSS) tak bisa membaca lalu lalang mobil di jalan tol hingga 100%.
Alat yang digadang-gadang akan membaca lalu lintas kendaraan di jalan tol 80% saja. Ini pula yang membuat Badan Usaha Milik Jalan Tol (BUJT) meragu keandalan alat kontraktor, yaitu Roatex Zrt dari Hunggaria. Ketidakandalan itu, sama artinya hanya bisa menjamin 80% pendapatan masuk ke BUJT. Adapun 20% sisanya berpotensi lost.
Potensi kehilangan ini yang membuat sistem MLFF gagal ujicoba. Di sisi lain, pemerintah juga harus membayar US$ 80 juta, setara Rp 1,2 triliun (kurs Rp 15.000/US$) kepada kontraktor yang membangun MLFF, yakni Multi Contact Zrt yang dipilih Roatex Zrt, induk usaha PT Roatex Indonesia Toll System (RITS).
Beda dengan Eropa, di Indonesia banyak kendaraan nomor khusus, seperti kendaraan TNI/Polri dan kendaraan anggota DPR. Sumber KONTAN bilang, kendaraan khusus ini sulit dibaca sistem MLFF. Belum lagi jika kendaraan yang memalsukan nomor polisi, yang tentu sulit dibaca sistem MLFF.
Operator jalan tol berharap ujicoba MLFF ditunda sampai solusi ditemukan. Selain MLFF, di Indonesia ada sistem jalan tol nirsentuh berbasis radio
frequency identification
(RFID) dan
dedicated short range communication
(DSRC). Sistem ini bisa mencatat sampai 99,9% trafik.
Tags :
#InfrastrukturPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023