Mencari Solusi Krisis Perumahan
Dunia menghadapi krisis perumahan. Pada akhir dekade ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan 40 persen dari penduduk dunia membutuhkan akses ke perumahan yang layak.
Saat ini pun, krisis perumahan telah mencekik warga di banyak negara. Harga rumah yang kian meroket membuat jutaan orang tak berkesempatan memiliki hunian. Anak-anak muda tak punya pilihan selain mengontrak. Sementara itu, rendahnya dukungan negara soal perumahan dan kesejahteraan membuat warga berpenghasilan rendah terancam menjadi tunawisma.
Rachel Ong Vifor J., guru besar ekonomi di Curtin University, Australia, menyebutkan lonjakan harga properti hingga lebih dari 60 persen antara 2015 dan 2022 membuat dua pertiga generasi di bawah usia 30 tahun kehilangan peluang memiliki hunian di Australia. Dia menyebutkan, pada 2018, sembilan dari sepuluh peminat rumah pertama gagal mencapai impiannya karena tak mampu memenuhi uang muka dan kredit.
"Sebaliknya, generasi yang lebih tua, yang membeli rumah di usia 20-an dengan memanfaatkan real estate boom pada 2000-an, bisa membeli rumah tambahan," kata Vifor di 360info. Mengutip Biro Statistik Australia, pada 1997-1998, kepemilikan rumah pertama oleh warga di atas usia 50 tahun 161 persen lebih banyak dibanding warga berusia 30-an tahun. Pada 2018, ketimpangan itu meningkat menjadi 234 persen. (Yetede)
Tags :
#InfrastrukturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023