Pengembangan Kendaraan Listrik Perlu Investasi
Dengan sumber daya nikel yang melimpah, Indonesia masih belum mampu memproduksi sendiri baterai di dalam negeri. Kebutuhan investasi mulai level penambangan hingga pengolahan dan pemurnian nikel menjadi sel baterai akan menentukan kecepatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ketua Wilayah Eropa pada Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Osco Olfriady Letunggamu mengatakan, proses pengolahan dari bijih nikel hingga menjadi sel baterai sebenarnya tak butuh waktu lama. Secara proses pun sudah terbukti bisa dilakukan. Tinggal bagaimana investasi masuk hingga prosesnya meningkat ke level produksi.
”(Produksi hingga menjadi baterai) bisa, tinggal proses di tengahnya ini. Butuh investasi, salah satunya karena butuh energi(untuk pengolahan) yang besar dengan biaya produksi tinggi,” kata Osco di sela-sela jumpa pers menjelang ajang Indonesia International Auto Parts, Accessories, and Equip Exhibiton (Inapa) 2023, di Jakarta, Rabu (10/5). Osco membenarkan, saat ini investasi sektor industri smelter nikel memang masif di Indonesia. Investor tersebut rata-rata dari China. Namun, smelter yang beroperasi di Indonesia saatini baru empat unit dan lainnya masih dalam proses konstruksi. Diharapkan semua segera tahap produksi sehingga ada akselerasi. Baterai, yang berkontribusi 35 % terhadap biaya produksi kendaraan listrik, nantinya diharapkan semakin ekonomis dan akan memengaruhi harga kendaraan listrik. ”Pemerintah juga berkontribusi di sini lewat kebijakan subsidi. Ini juga ujungnya untuk mencapai target emisi nol-bersih (net zero emission/NZE),” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023