Perlahan Mengikis Beban
JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk mengejar target perbaikan bisnis yang sudah dijanjikan kepada para kreditor setelah rampungnya homologasi pada tahun lalu. Direktur Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memastikan rencana bisnis perseroan masih sesuai dengan isi proposal yang disepakati sejak awal proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Namun manajemen terbuka terhadap bentuk pengembangan bisnis baru lainnya. “Masih sesuai dengan business plan itu, tapi kami selalu terbuka (untuk peluang bisnis yang belum masuk dalam proposal),” ucapnya kepada Tempo, kemarin, 5 Mei 2023. Operator pelat merah ini sempat nyaris pailit akibat tekanan utang yang diperparah oleh minimnya pendapatan selama dua tahun pandemi. Setelah homologasi PKPU, utang emiten berkode saham GIAA itu akhirnya melandai dari kisaran US$ 10,1 miliar per Desember 2021 menjadi US$ 5,1 miliar pada Juni 2022. Dalam periode serupa, ekuitas Garuda yang dulunya minus US$ 5,3 miliar pun berkurang menjadi minus US$ 1,5 miliar. Jumlah pesawat perusahaan sempat menyusut dari 210 unit pada 2020 menjadi hanya 140 unit pada paruh pertama 2021, lalu tersisa 35 unit pada September tahun lalu. Namun masih ada restorasi armada menjadi sekitar 60 unit selama tiga bulan berikutnya. (Yetede)
Tags :
#PenerbanganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023