Indonesia Bisa Hemat 3,8 Triliun Dollar AS jika Mempercepat Akhir PLTU Batubara
Transisi ke emisi nol bersih tidak hanya mengatasi krisis iklim, tetapi juga menawarkan peluang ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Jika upaya mengakhiri pembangkit listrik batubara dipercepat pada 2040 dan menargetkan emisi nol bersih pada 2050, Indonesia dapat menghemat 3,8 triliun USD. Temuan ini dilaporkan Komisi Kebijakan Tingkat Tinggi Menuju Asia Emisi Nol Bersih dengan inisiator Asia Society Policy Institute, Kamis (16/3). Komisi ini mengumpulkan para pemimpin Asia dan global untuk mempercepat transisi Asia menuju emisi nol bersih, dipimpin mantan PM Australia Kevin Rudd. Laporan terbaru Getting Indonesia to Net Zero itu meneliti berbagai biaya, manfaat, dan dampak pilihan strategi Indonesia mencapai misi nol bersih pada 2060. Laporan ini mengeksplorasi scenario akhir pembangkit listrik batubara di Indonesia menjadi tahun 2040 dan mencapai emisi nol bersih pada 2050.
Kevin Rudd mengatakan, ”Dengan memprioritaskan tenaga surya dan angin serta berinvestasi dalam teknologi baru, Indonesia dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan neraca perdagangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Laporan ini memberi peta jalan bagi Indonesia mewujudkan manfaat dari transisi.” Pada 2021, Pemerintah Indonesia mengumumkan target emisi nol bersih pada 2060. Pemodelan baru dalam laporan ini menunjukkan, jika Indonesia mencapai target emisi tahun 2060, investasi yang dibutuhkan mencapai 5 triliun USD dan mengarah pada puncak emisi paling cepat 2030. PDB Indonesia bakal meningkat dalam jangka menengah sebanyak 5 % tahun 2032, menciptakan 2 juta pekerjaan baru pada 2039, dan meningkatkan neraca perdagangan 48 miliar USD. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023