Waspada, Inflasi Ramadan Berpotensi Tak Terkendali
Tren inflasi dalam dua bulan pertama tahun 2023 ini memang cenderung menurun. Namun waspadalah, ancaman inflasi tinggi masih mengintai.
Para ekonom memprediksi, bakal terjadi lonjakan inflasi selama Ramadan dan Lebaran. Dan, Ramadan bakal dimulai akhir bulan ini yang dilanjutkan dengan Lebaran pada akhir bulan depan. Pada periode itu terbuka peluang tren inflasi merangkak naik.
Sebagai gambaran, inflasi pada Ramadan 2022 mencapai 0,96%
month on month
(mom). Level ini, bahkan menjadi yang tertinggi dibanding inflasi Ramadan 2017 yang sebesar 0,69% dan Ramadan 2019 sebesar 0,68%.
Lonjakan inflasi pada Ramadan 2022 didorong kenaikan sejumlah komoditas harga pangan, seperti minyak goreng, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Inflasi juga disumbang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif angkutan udara, dan bahan bakar rumah tangga, sehingga inflasi harga yang diatur pemerintah naik 1,83%. Sementara inflasi inti tercatat di level 0,36%.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memprediksi, inflasi Ramadan dan Lebaran 5,8%-6,7% yoy. "Inflasi Ramadan kali ini mungkin yang tertinggi sejak 2013," kata Bhima ke KONTAN, kemarin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, pemerintah akan terus memantau harga pangan menjelang Ramadan. Tak hanya itu, pemerintah bakal mengguyur bantuan sosial beras yang diberikan mulai Maret hingga Mei 2023. Masyarakat akan menerima bantuan sosial selama tiga bulan ke depan. Namun, pemerintah belum menjelaskan besaran anggaran berikut jumlah penerima bantuan tersebut.
Tags :
#InflasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023