;

Salah Kelola Jantung Transportasi Kota

Salah Kelola Jantung Transportasi Kota

Cekaknya armada Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan buah dari ketidaksinkronan kebijakan pemerintah. Di satu sisi, pemerintah hendak mendorong kandungan lokal dalam infrastruktur transportasi. Di lain  pihak, industri dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut. PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI), pengelola kereta rel listrik di Jakarta dan sekitarnya, membutuhkan 29 rangkaian baru untuk mengganti kereta tua mereka yang mesti pensiun. Sebagai penggantinya, PT KCI memesan ke saudara sesama badan usaha milik negara, PT Industri Kereta Api (Inka), yang juga memproduksi kereta layang ringan (LRT), namun disanggupi baru bisa membuatnya pada 2025. Sedangkan upaya mengimpor kereta bekas dari Jepang terbentur aturan syarat minimal tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Pihak yang paling dirugikan atas berkurangnya KRL adalah penumpang. Diprediksi akan ada penumpukan 200 ribu penumpang per hari. Ancaman penumpukan penumpang ini menujukkan ketidakmampuan pemerintah menyelaraskan kebutuhan dan kemampuan industri dalam negeri. Kereta komuter merupakan jantung dari transportasi masyarakat urban yang murah dan efektif mengurangi kemacetan. Di Jakarta dan sekitarnya, setiap hari ada 1,2 juta orang naik-turun KRL. Namun, ketimbang menjadikan lini ini sebagai prioritas, pemerintah malah mengalokasikan sumber daya untuk proyek transportasi mercusuar, seperti LRT dan kereta cepat Jakarta-Bandung. Sekarang, karena terbentur aturan tingkat komponen dalam negeri, impor tidak menjadi pilihan. Setelah mempensiunkan 29 rangkaian secara bertahap mulai tahun ini, PT Kereta Commuter hanya bisa menunggu kehadiran kereta baru PT Inka pada 2025. (Yoga)


Tags :
#Transportasi
Download Aplikasi Labirin :