KENDARAAN LISTRIK, Mimpi dan Langgam Asia Tenggara
Produksi dan penjualan kendaraan listrik global dalam beberapa tahun terakhir terus melonjak. Rahul Gupta, mitra asosiasi di McKinsey & Company di Singapura, menyatakan, semakin banyak pengguna kendaraan yang sadar iklim. Mereka sengaja memilih menggunakan kendaraan listrik dan kendaraan hybrid karena peduli pada isu lingkungan. Kelompok masyarakat ini merupakan bagian dari 18 % pembeli global kendaraan listrik roda empat pada 2022. Mayoritas berada di China, AS, dan Eropa. Porsi penjualan di setiap negara tersebut berkisar 20-25 persen dari total penjualan global. Di Asia Selatan, penjualan kendaraan listrik menyumbang kurang dari 2 % penjualan global pada 2022. Sejumlah hambatan jadi penyebabnya. Misalnya, kelangkaan infrastruktur pengisian energi di luar pusat kota serta kurangnya insentif pajak dan subsidi untuk produsen-konsumen. Faktor lain, lambatnya pengembangan kendaraan listrik dengan harga terjangkau.
Harga kendaraan listrik yang lebih mahal ketimbang kendaraan berbahan bakar fosil, menurut Gupta, juga menjadi faktor yang menghambat transisi di Asia Tenggara. Guna mengatasinya, pemerintah harus memberikan insentif pajak bagi produsen dan subsidi pembelian bagi konsumen. Tahun lalu, Thailand menyetujui paket insentif termasuk pemotongan pajak dan subsidi. Awal bulan ini, Indonesia juga akan memangkas PPN penjualan mobil listrik, dari 11 % ke 1 %. Infrastruktur pengisian daya yang lebih banyak dan pilihan model kendaraan listrik yang lebih beragam juga akan membantu meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik. Apalagi jika pemerintah mulai menetapkan batasan waktu penggunaan kendaraan bensin dan diesel. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023