MITIGASI DINI INFLASI MUSIMAN
Sebulan menjelang Ramadan, pemerintah merapatkan barisan untuk menyusun strategi pengendalian inflasi. Apalagi, ada gelagat kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Faktanya, kondisi daya beli masyarakat masih penuh tekanan yang ditandai dengan bertahannya ekspektasi inflasi indeks harga konsumen (IHK) konsisten di level tinggi, yakni kisaran 5%. Jika ditengok, inflasi menjelang dan selama Ramadan acap kali tinggi karena secara historis permintaan konsumsi meningkat. Akan tetapi, momentum pada tahun ini berbeda karena tingkat inflasi telah menginjak posisi 5,28% (year-on-year/YoY) per Januari lalu. Tak heran pemerintah pun memasang kuda-kuda agar dapat menjangkar inflasi pada bulan ini hingga setidaknya pasca-Lebaran mendatang. Sejumlah strategi baru pun disiapkan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengatakan ada beberapa siasat yang akan dilakukan pemerintah untuk menjaga gerak inflasi di kisaran 2%—4%. Pertama, menjamin pasokan melalui akselerasi implementasi lumbung pangan dan perluasan kerja sama antardaerah. Kedua, intervensi harga melalui kegiatan pasar murah, subsidi biaya distribusi, dan replikasi model bisnis. Ketiga, memaksimalkan anggaran ketahanan pangan yang mencapai Rp104,2 triliun. Adapun, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional Sarwo Edi, mengatakan ada beberapa komoditas pangan strategis yang akan mendorong inflasi lebih tinggi mulai bulan depan. Beberapa di antaranya beras, cabai merah, bawang merah, ikan segar, telur ayam ras, daging aya ras, dan cabai rawit. Andil komoditas tersebut terhadap inflasi IHK telah menjulang sejak pengujung tahun lalu.
Tags :
#InflasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023