Hilirisasi dan Paradoks Daya Saing
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 sebesar 5,31
persen lebih baik dari perkiraan banyak pihak.
Kegiatan ekspor yang meningkat 16,28 persen sepanjang tahun lalu menjadi penyokong utama kinerja
ekonomi. Sementara kegiatan konsumsi masyarakat hanya
tumbuh 4,93 persen dan investasi tumbuh 3,87 persen.
Meski mengagumkan, pertumbuhan ekonomi cenderung berfluktuasi seiring naik turunnya harga serta
permintaan komoditas ekspor di pasar global. Ekspor kita
masih didominasi dua komoditas utama, yaitu batubara
dan minyak sawit. Harga serta permintaan kedua komoditas ini sangat fluktuatif (supercycle commodities).
Pada 2023, permintaan dan harga komoditas ekspor
diperkirakan tak akan sebaik tahun lalu sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi turun. Diperlukan mitigasi agar perlambatan ekspor terkompensasi dengan
pertumbuhan bidang lain. Potensinya adalah mendorong
investasi, selain menjaga konsumsi domestik. Pengeluaran pemerintah sudah waktunya kembali konservatif
dengan defisit anggaran di bawah 3 persen.
Kebijakan larangan ekspor beberapa mineral mentah
dan penerbitan Peraturan Pemerintah. (Yoga)
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023