GENETIKA Jaga Keberlanjutan Riset Kedokteran Presisi
Guru Besar Tetap Ilmu Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran UI, Asmarinah di Jakarta, Selasa (17/1) menyampaikan, riset kedokteran presisi di Indonesia amat penting. Dengan berbagai suku dan etnis, varian genetik yang dimiliki bisa sangat beragam. ”Data genetik di Indonesia sangat ditunggu, dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain sebagai sumber ilmu pengetahuan, data itu bisa digunakan untuk basis pengembangan terapi yang lebih baik,” ujarnya. Dalam kedokteran presisi, terapi yang diberikan kepada seseorang tak hanya efektif dan efisien, tetapi juga menghindari efek samping. Dengan mengetahui faktor genetik seseorang, risiko penyakit serta respons pada obat bisa diketahui dengan baik. Jadi, terapi yang tak diperlukan bisa diketahui. Meski potensinya amat besar, lanjut Asmarinah, pengembangan dan penelitian terkait dengan kedokteran presisi membutuhkan upaya jangka panjang. Oleh sebab itu, keberlanjutan pengembangan kedokteran presisi jadi amat penting. Melalui inisiatif Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi), pemerintah menyadari perkembangan kedokteran presisi diperlukan untuk layanan kesehatan masyarakat di masa depan. Hal itu juga jadi bentuk antisipasi dalam perkembangan kesehatan masyarakat.
”Yang terpenting dari inisiatif itu adalah implementasinya. Pengembangannya tak cukup hanya menyediakan alatnya, tetapi juga menyediakan sumber daya manusia. Selain itu, alat sequencing (pengurutan genom) membutuhkan reagen yang harganya mahal,” kata Asmarinah. Kerja sama sejumlah pihak pun diperlukan untuk mendukung pengembangan kedokteran presisi. Pemerintah diharapkan bisa memiliki kejelasan regulasi dalam integrasi layanan kesehatan berbasis genomik yang juga terkait dengan kedokteran presisi. Dengan demikian, pengumpulan data genomik pada masyarakat Indonesia terintegrasi dan tidak tumpang tindih. Menurut Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Rizka Andalusia, pengembangan BGSi membutuhkan kerja sama dari semua pihak terkait, seperti klinisi dan tenaga kesehatan, universitas, peneliti, perusahaan rintisan (start up), dan pelaku industri. ”BGSi sebagai katalisator kerja sama mendukung keterlibatan semua pihak. Kerja sama yang dibentuk BGSi bersifat inklusif, bukan eksklusif. BGSi akan melibatkan sumber daya manusia terbaik di Indonesia maupun diaspora,” ucapnya. Dalam pendanaannya, pemerintah menyiapkan anggaran melalui APBN. Selain itu, hibah dan kerja sama dengan sejumlah pihak donor, baik dalam maupun luar negeri, diperoleh untuk mendukung inisiatif tersebut. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023