;

Skuter Listrik, Mobilitas Jarak Pendek nan Eksentrik

22 Oct 2022 Kompas(H)
Skuter Listrik,
Mobilitas Jarak
Pendek nan Eksentrik

Beralih ke kendaraan listrik tak melulu harus langsung membeli mobil listrik. Sebagian orang beralih secara bertahap. Skuter listrik jadi jembatan menuju gaya hidup energi hijau. Otopet listrik yang lebih dikenal dengan sebutan skuter listrik milik Eggie Herdianto (37) melintas di trotoar ruas jalan Kota  Bekasi, Kamis (29/9) malam. Lampu indikator merah yang terpasang di atas roda belakang skuter dan helm jadi penanda dirinya tengah melaju di jalanan. Saat berpapasan dengan sejumlah orang di trotoar, Eggie kerap membunyikan bel, kring-kring.... Malam itu, jalan utama cukup padat. Trotoar dipilih demi keamanan dan keselamatan. Namun, Eggie harus bolak-balik keluar dari trotoar karena ruas itu dipenuhi pedagang kaki lima dan dijadikan tempat parkir. Dalam kondisi seperti itu, skuter harus dituntun. “Kecepatan maksimalnya 25 km per jam,” ucap Eggie. Perjalanan dari kantor menuju Stasiun Bekasi, yang berjarak 5 km, ditempuh Eggie 15 menit. Setibanya di stasiun, tangannya cekatan melipat skuter seberat 19 kg yang ditentengnya ke eskalator. Setibanya di Stasiun Rawa Buntu, Eggie kembali melanjutkan perjalanan dengan skuter ke rumahnya yang berjarak 10 km dari stasiun. Jadi, total jarak pergi-pulang kerja menggunakan skuter 30 km.

Jika baterai terisi 100 %, skuter Segway-Ninebot Kickscooter MAX G30P itu bisa menjangkau jarak 65 km. Dengan demikian, Eggie hanya perlu mengisi baterai 2 hari sekali. Sebagai wiraswasta, Eggie dituntut gesit berpindah dari satu lokasi rapat ke lainnya,  skuter jadi teman perjalanan yang tangguh. Bahkan, saat ke luar kota, skuter juga ikut ”bertugas”. Skuter hanya tidak digunakan saat kondisi hujan deras karena khawatir oleng diterpa angin kencang. Beralih ke skuter listrik merupakan salah satu keputusan terbaik Eggie. Sebelumnya, dia harus berjibaku dengan kemacetan lalu lintas menggunakan mobil. Hampir setiap hari, ia bangun lebih pagi untuk bersiap ke kantor dan pulang dini hari. Lebih dari 3 jam waktunya habis terbuang di jalan. Dengan skuter listrik, waktu perjalanannya dipangkas lebih singkat. ”Ke mana pun aku pergi, dari stasiun ke stasiun, mau rapat di mana pun, hajar saja! Yang penting bawa colokan untuk isi baterai. Perawatannya juga mudah dan tidak rewel,” ucapnya semringah.

Kenaikan harga BBM juga mendorong sejumlah orang beralih ke skuter listrik. Misalnya, Opik (23) bisa menghemat ongkos BBM untuk sepeda motor Rp 600.000 per bulan. Dia hanya mengeluarkan ongkos untuk kereta komuter. Adapun tagihan listrik untuk pengisian baterai skuter listriknya tak bertambah signifikan. Joey Inkiriwang (41) justru menggunakan skuter untuk jarak jauh. Hampir setiap hari ia mengendarai skuter dari rumahnya di Bintaro ke kantornya di Lebak Bulus,sejauh 14 km yang ditempuh dalam waktu 15-20 menit. Selama itu pula, dia harus berdiri di atas skuter untuk menembus kepadatan lalu lintas. Dia tak merasa lelah meski berdiri karena baginya jauh lebih melelahkan jika menyetir mobil dan dihadapkan pada situasi macet. Kemudahan lain yang dirasakan adalah tak perlu memikirkan parkir,  bensin, dan servis rutin. ”Saya bisa irit hingga Rp 3 juta per bulan untuk transportasi sehari-hari. Jauh lebih hemat dibandingkan membawa mobil,” ucap Joey, yang juga ketua Glisser Scooter Club. (Yoga)


Tags :
#Listrik
Download Aplikasi Labirin :