;

DIPLOMASI PERDAGANGAN RI Gagas Aliansi Produsen Bahan Baku Wahana Listrik

17 Sep 2022 Kompas
DIPLOMASI PERDAGANGAN
RI Gagas Aliansi Produsen
Bahan Baku Wahana Listrik

Indonesia mengupayakan kerja sama dengan negara-negara pemilik cadangan litium di Amerika Selatan. Indonesia berharap bisa membentuk jaringan penyedia bahan baku pokok kendaraan listrik. Staf Khusus Menlu RI untuk Diplomasi Kawasan I Gede Ngurah Swajaya mengatakan, kendaraan listrik selaras  dengan agenda Indonesia. Di masa presindensi G20, Indonesia mendorong transisi energi.  “Wujud agenda ini adalah produksi kendaraan listrik,” kata Swajaya, Jumat (16/9) di Jakarta. Indonesia memiliki cadangan nikel, timah, tembaga, dan bauksit yang dibutuhkan dalam produksi kendaraan  listrik. Sementara lima negara Amerika Selatan punya 59,9 % cadangan litium global. ”Dalam industri kendaraan listrik, litium bahan vital,” katanya. Penjajakan kerja sama diantaranya lewat Indonesia-Latin America and the Caribbean Business Forum 2022 (INA-LAC 2022). Digelar sejak 2019, INA-LAC menjadi andalan diplomasi ekonomi Indonesia di Amerika Latin. Setelah digelar secara virtual pada 2020-2021, INA-LAC 2022 akan digelar secara hibrida pada 17-18 Oktober 2022 di Tangerang, Banten.

Di Amerika Selatan, cadangan litium utama ada di enam negara. Bolivia dan Argentina mempunyai 45 % cadangan terbukti litium global. Sementara Chile dan Meksiko punya 11 % dan 1,9 %. Adapun Brasil dan Peru punya masing-masing 1 %. Sementara AS dan Kanada punya masing-masing 10,3 % dan 3,3 %. Dengan demikian, hampir seluruh cadangan terbukti litium global ada di Benua Amerika. Anggota Kontak Masyarakat Sipil Indonesia-Afghanistan, Hamid Awaluddin, menyebut, litium salah satu alasan sejumlah pengusaha Indonesia berusaha berinvestasi di Afghanistan. Berdasarkan kajian Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), cadangan litium Afghanistan ditaksir lebih besar dibandingkan dengan gabungan cadangan Bolivia dan Argentina. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :