Transportasi Perintis, Warga Pulau Terdampak Pengurangan Pelayaran
Pemerintah mengevaluasi seluruh pelayaran perintis karena okupansi muatan yang minim. Sejak 28 Juni 2022, Intensitas pelayaran dikurangi dan sebagian kapal hanya sandar di pelabuhan pangkalan. Masyarakat di pulau terluar terdampak karena harus menunggu kapal sampai satu bulan. Direktorat Perhubungan Laut Kemenhub telah mengeluarkan surat kepada PT Pelni (Persero) sebagai salah satu operator pelayaran perintis, tertanggal 8 Juli 2022, tentang sosialisasi skema operasi kapal perintis. Menhub Budi Karya Sumadi mengatakan, evaluasi dilakukan mengingat masih rendahnya okupansi. Hal itu berdampak pada anggaran yang dikeluarkan untuk operasional pelayaran perintis. Untuk itu, kebijakan yang diambil adalah mengurangi intensitas operasional pelayaran.
Manajer Operasional Pelni Cabang Ambon, Provinsi Maluku, Muhammad Assagaff mengatakan, semua kapal untuk pangkalan Ambon yang berjumlah lima unit tidak lagi beroperasi rutin. Semua kapal itu beroperasi satu putaran, kemudian jeda dengan hitungan waktu dua putaran. Selain Ambon, di Maluku juga terdapat pangkalan Saumlaki. Dari tiga kapal di pangkalan itu, satu kapal beroperasi satu putaran kemudian jeda dalam dua kali putaran. Sementara dua kapal yang lain hanya berlabuh. Anggota DPRD Provinsi Maluku dari Fraksi Partai Golkar, Anos Yeremias, mengatakan, kebijakan itu akan membuat masyarakat kembali terisolasi. Padahal, keberadaan pelayaran perintis bertujuan untuk membuka keterisolasian masyarakat di sana. Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi masyarakat mulai bergerak berkat kehadiran pelayaran perintis. (Yoga)
Tags :
#PelayaranPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023