Salah momentum Rencana Kenaikan Listrik
Sinyal kenaikan tarif listrik non-subsidi yang beberapa kali diungkapkan pemerintah, menurut sejumlah pengamat, tak tepat diwujudkan pada tahun ini. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menyatakan ada resiko kenaikan inflasi yang membayangi kebijakan ini. Pasalnya, kenaikan tarif listrik dibarengi dengan kenaikan harga pangan, bahan bakar, serta barang dan jasa lainnya. Di sisi lain, ekonomi belum benar-benar penuh setelah dihantam pandemi Covid-19. "Berarti daya beli masyarakat akan tergerus," kata Fabby Tumiwa ketika dihubungi, kemarin. Dia khawatir akan daya beli rumah tangga miskin, terutama karena pemerintah juga melontarkan wacana kenaikan harga BBM jenis Pertalite dan solar bersubsidi. Selain itu, pemerintah menyatakan akan menaikkan harga jual eceran dan formula elpiji 3 kilogram yang sekarang disubsidi. Menteri Sumber Energi dan Sumeber Daya Mineral Arifin Tasrif, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi Energi DPR pada Rabu, 13 April lalu, menyatakan bahwa kenaikan listrik, BBM, serta elpiji, dilakukan untuk mengurangi beban negara. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023