Pasar Modal
( 329 )Lonjakan Likuiditas Bisa Panaskan Harga Saham
Untuk meredam tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan membuka pendaftaran bagi anggota bursa yang ingin menjadi liquidity provider (LP). Menurut Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, sejauh ini sudah ada sembilan anggota bursa yang siap menjadi LP, termasuk lima dari luar negeri.
Kehadiran LP, yakni institusi yang menyediakan likuiditas dengan memperdagangkan saham-saham tertentu secara aktif, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan volume transaksi saham, khususnya saham-saham dengan likuiditas rendah seperti BDMN, BYAN, dan IMAS. Namun, peran LP ini tetap terbatas, tidak mencakup seluruh saham di pasar modal, melainkan hanya yang memenuhi kriteria tertentu.
Meski kebijakan ini mendapat dukungan sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga likuiditas, sejumlah pengamat mengingatkan risiko yang muncul. Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama, menyatakan bahwa LP dapat membuat harga saham bergerak tidak alami dan tidak mencerminkan fundamental emiten. Menurutnya, dominasi LP bisa menjadikan pasar seperti "mainan bandar" dan kurang berpihak pada investor ritel.
Sejalan dengan itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, menilai kebijakan ini bisa membuka ruang manipulasi harga oleh pihak-pihak tertentu. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa kehadiran LP bisa menimbulkan tiga risiko: distorsi harga, ketergantungan pasar pada LP, dan kegagalan LP berfungsi optimal pada emiten dengan free float rendah dan potensi konflik kepentingan dengan pemegang saham pengendali.
Meskipun langkah BEI menunjukan upaya aktif untuk meningkatkan likuiditas dan stabilitas IHSG, implementasi liquidity provider harus diawasi ketat agar tidak menimbulkan distorsi harga dan mengabaikan kepentingan investor ritel.
Emas dan Bitcoin Masuki Fase Volatilitas Tinggi
Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,25%–4,50% berdampak signifikan terhadap pergerakan komoditas emas dan aset kripto. Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan moneter harus tetap fleksibel dan The Fed belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga, meskipun ketidakpastian akibat perang dagang dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump terus membayangi. Powell juga memperingatkan bahwa risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan tetap menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas, yang sempat mencetak rekor di atas US$3.500 per ons meskipun kembali terkoreksi. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan tren penguatan, sempat menyentuh US$99.000, dan diprediksi bisa kembali menembus level psikologis US$100.000, didukung oleh spekulasi pelonggaran regulasi di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal pro-kripto. Namun, volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan geopolitik AS.
Menurut analis kripto Fahmi Almuttaqin, sentimen pasar kripto tetap positif pasca pertemuan The Fed karena tidak ada sinyal negatif yang mengkhawatirkan. Kinerja pasar saham AS juga ikut terdorong, terutama sektor teknologi, setelah adanya sinyal bahwa Presiden Trump mempertimbangkan pelonggaran pembatasan ekspor chip AI, dan indeks-indeks utama seperti Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat.
Performa Buyback Emiten Masih di Bawah Ekspektasi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Inarno Djajadi, mencatat bahwa realisasi pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan RUPS masih tergolong rendah, hanya mencapai 5,55% dari total rencana dana Rp16,9 triliun dalam periode 20 Maret—30 April 2025. Meskipun terdapat 32 emiten yang mengajukan rencana buyback, hanya 24 yang telah merealisasikannya dengan nominal sekitar Rp937,42 miliar. Beberapa emiten besar seperti PT Telkom Indonesia, Adaro, Medco, dan Mayora termasuk dalam daftar yang mengalokasikan dana signifikan untuk buyback saham mereka.
Inarno menegaskan bahwa buyback dilakukan berdasarkan POJK No. 13/2023 dan POJK No. 29/2023, yang mempertimbangkan arus kas sebagai salah satu kriteria penting, namun tidak menjadi satu-satunya acuan analisis oleh OJK. Selain itu, untuk menjaga stabilitas pasar di tengah dinamika global, OJK juga telah mengambil langkah mitigatif seperti penundaan transaksi short selling, penyesuaian batas trading halt, dan penerapan asymmetric auto rejection.
Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa langkah-langkah OJK diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor dan meningkatkan kembali partisipasi aktif di pasar modal Indonesia.
IHSG Siap Uji Level 7.000
Tren Optimistis IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan kedua Mei 2025 melanjutkan tren kenaikan harga atau bullish sejak pertengahan April lalu. Tren ini terjadi di tengah banyaknya tantangan ekonomi dari dalam dan luar negeri, dari potensi penurunan suku bunga The Fed yang tidak signifikan hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. IHSG, Senin (5/5) dibuka di level 6.844 dan berhasil mempertahankan tren kenaikan hingga 6.851 pada penutupan sesi pertama perdagangan. Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, mengatakan, IHSG mulai menunjukkan kenaikan sejak minggu lalu ketika berhasil menguat 2 % ke level 6.815.
Dalam tiga hari berturut-turut pada awal Mei, asing kembali melakukan pembelian bersih di pasar saham dengan total Rp 300 miliar. Pada waktu bersamaan, nilai tukar rupiah kembali menguat selama pekan lalu, dengan ditutup pada angka Rp 16.400 per USD, posisi terkuat sejak pertengahan Maret 2025. ”Faktor penggerak IHSG pada minggu ini salah satunya dari aliran dana asing yang tercatat mulai masuk ke bursa saham Indonesia pada minggu lalu. Aliran dana asing tercatat net buy (melakukan pembelian bersih) sebesar Rp 292 miliar dalam kurun waktu seminggu terakhir,” tuturnya kepada Kompas. (Yoga)
Belum Meredanya Tantangan Kinerja Emiten BUMN
Kinerja BUMN yang terdaftar di pasar saham Indonesia, cenderung melambat hingga akhir tahun 2024 dan diprediksi akan terus menurun pada 2025. Dinamika ekonomi di dalam dan di luar negeri turut memberi dampak negatif terhadap kinerja berbagai sektor emiten BUMN ke depan. BCA Sekuritas, yang mengompilasi laporan kinerja 37 perusahaan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sampai akhir 2024, mencatat bahwa salah satu indikator kinerja berupa revenue atau pendapatan kotor emiten BUMN rata-rata masih di zona positif. Namun, pertumbuhan revenue menurun pada triwulan akhir dan lebih rendah dibanding level pertumbuhan pada triwulan kedua dan ketiga 2024.
Pengeluaran untuk modal kerja atau capital expenditure (capex) per tiga bulan pada 2024 dinamis, tetapi juga melambat pada triwulan akhir. Rasio earnings per share (EPS) atau laba per saham rata-rata dari emiten BUMN hingga triwulan IV-2024 terus naik hingga nilai 5, tertinggi setelah rasio EPS pada triwulan I-2023. EPS adalah indikator berapa banyak laba bersih yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Semakin besar nilai EPS, profitabilitas saham semakin baik. Namun, naiknya EPS saham BUMN di tengah turunnya revenue mengindikasikan berkurangnya kepemilikan saham oleh publik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, Sabtu (26/4) juga mengamati, emiten BUMN, khususnya yang masuk dalam konstituen Indeks BUMN20, yang memuat 20 emiten BUMN berkinerja baik, banyak yang masih mencatatkan kinerja positif. Khususnya, emiten di sektor bahan baku, utilitas, dan perbankan. Audi tidak menampik adanya tren penurunan pendapatan dan saham pada banyak emiten BUMN di berbagai sektor. Hal ini tidak lepas dari tekanan ekonomi dan politik global yang bahkan menjalar hingga triwulan awal 2025. ”Kami berpandangan performance perusahaan BUMN pada 2024 menghadapi banyak tantangan,” ujar Audi. Diantaranya dari terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang memberi sentimen negatif pada perdagangan global hingga depresiasi rupiah. (Yoga)
Pemulihan Pasar Modal Masih Bayang-Bayang
Saham Murah Tapi Risiko Masih Tinggi
Dana Lokal Jadi Andalan Investasi
Saham Bank Digital Belum Menggoda Meski Untung Besar
Awal tahun 2025, sejumlah bank digital mencatatkan pertumbuhan laba yang impresif, seperti Bank Jago (ARTO) yang membukukan kenaikan laba sebesar 214,7% menjadi Rp 39,8 miliar, dan Bank Neo Commerce (BBYB) yang lonjakannya bahkan mencapai 902,8% menjadi Rp 110,9 miliar. Namun, pencapaian kinerja positif ini tidak tercermin dalam pergerakan harga saham, yang justru mengalami tren penurunan signifikan sejak awal tahun.
Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan Bank Jago, menekankan bahwa fundamental Bank Jago tetap sehat, namun pergerakan saham dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk sentimen global. Hal ini diamini oleh David Wirawan, SVP Finance Bank Amar Indonesia, yang menyebutkan pentingnya transparansi dan inovasi untuk menjaga kepercayaan investor.
Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, tekanan pasar global, seperti kenaikan tarif impor AS, depresiasi rupiah, dan kebijakan pemerintah, ikut membebani saham bank digital. Persaingan pun kian ketat, sebab bank-bank konvensional mulai masuk ke ranah digital dengan valuasi yang lebih menarik.
Muhammad Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas juga mencatat bahwa tekanan dari arah kebijakan The Fed dan risiko likuiditas membuat bank digital harus mempertimbangkan penguatan struktur keuangan, bahkan membuka opsi merger. Audi menambahkan, investor kini lebih rasional dan menuntut profitabilitas serta efisiensi, bukan sekadar pertumbuhan pengguna.
Meski menghadapi tekanan, prospek bank digital tetap terbuka, khususnya bagi yang terintegrasi dengan ekosistem grup. Audi masih merekomendasikan speculative buy untuk saham AGRO dan ARTO, mengindikasikan adanya peluang jangka pendek di tengah tekanan jangka menengah.
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









