;
Tags

Pasar Modal

( 329 )

Memacu Geliat Transaksi REPO

KT3 20 Jul 2022 Bisnis Indonesia

Geliat pasar modal mendorong PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) untuk meningkatkan transaksi repurchase agreement atau repo pada 2022. KPEI yang melayani proses transaksi debitur dan kreditur serta menjaga kontrak repo yang dibuat antar pihak, turut berperan kala pasar modal makin ramai. Dirut KPEI Iding Pardi (18/7) mengatakan, KPEI tengah berupaya membangun kesadaran pelaku beralih pada transaksi repo yang lebih aman dan teratur dengan jasa pihak ketiga melalui layanan Triparty Repo KPEI. Dengan peningkatan pemahaman pelaku akan manfaat layanan Triparty Repo, diharapkan dapat meningkatkan jumlah partisipan dan nilai serta volume transaksi Triparty Repo. (Yoga)


UJI TANGGUH LQ45

HR1 04 Jul 2022 Bisnis Indonesia (H)

Pergerakan indeks acuan saham paling likuid, LQ45, sedang seret. Gejolak eksternal yang merembet ke pasar modal Indonesia menjadi katalis negatif. Kondisi itu menjadi alarm bagi investor yang mengoleksi saham-saham LQ45. Apalagi, capital outflow dikhawatirkan berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Adapun, strategi buy on weakness dapat dilakukan investor untuk merespons kondisi tersebut. Volatilitas pasar yang tinggi tercermin dari kontraksi indeks harga saham gabungan (IHGS) dan LQ45 pada Juni 2022. IHSG melorot 3,51% month-to-month (MtM) ke level 6.897,67 pada Kamis (30/6) dan melanjutkan penurunan 1,7% ke level 6.794,32 pada perdagangan akhir pekan lalu. Koreksi yang lebih dalam dialami oleh indeks LQ45. Pada bulan lalu, LQ45 turun 6,13% secara bulanan dan melorot 1,78% pada Jumat (1/7). Kendati demikian, LQ45 masih mengemas return positif 4,61% year-to-date (YtD). Jika dicermati, indeks LQ45 tergelincir sejalan dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing tiga pekan berturut-turut di Bursa Efek Indonesia.

Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora mengatakan indeks LQ45 berisiko tertekan pada semester II/2022 akibat sentimen negatif di pasar global. Salah satu sentimen tersebut ialah The Federal Reserve yang secara agresif menaikkan suku bunga. Menurutnya, sentimen negatif juga datang dari ancaman resesi di Amerika Serikat dan Eropa. Sentimen lain yang akan memengaruhi saham-saham LQ45 berasal dari konflik antara Rusia dan Ukraina yang masih panas.

Enam Emiten BUMN Siap Rights Issue

KT1 08 Jun 2022 Investor Daily (H)

Sebanyak enam emiten BUMN berencana melakukan aksi korporasi menerbitkan saham baru melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue pada semester kedua 2022. Keenam BUMN itu adalah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Waskita Kerja Tbk (WSKT), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), Pt Garuda Indonesia Tbk (GIA), PT Krakatau Steel Tbk (KRASI), dan PT Tabungan Negara Tbk (BBTN).  Selain rencana Right Issue tersebut, Kementerian BUMN Mengusulkan penyertaan modal  negara (PMN) kepada 10 BUMN sebesar Rp73,26 triliun untuk RAPBN Tahun Anggaran 2023. PMN tersebut terdiri atas PMN tunai sebesar Rp 69,82 triliun dan PMN non tunai Rp3,44 triliun. PT Hutama Karya (Perser) akan menerima PMN palang besar, yakni Rp30,56 triliun. "Jadi PT Semen Baruraja Tbk  memang suatu perusahaan masih di luar Holdings. Semen Indonesia, dan kami sepakat  untuk di-inject ke Semen Indonesia dan sedang berjalan proses, Proses melalui proses Right Issue seperti kita menyuntikkan PMN dan penggadaian ke BBRI," kata Kartika dalam rapat kerja  dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (7/6). (Yetede)

Lulusan SMA Dominasi Investor Ritel Pasar Modal

KT3 04 Jun 2022 Kompas

Jumlah investor ritel di pasar modal terus bertambah. Hingga akhir April 2022, jumlah investor ritel mencapai 8,6 juta, naik 15,11 % dibandingkan akhir 2021. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, kelompok terbesar investor ritel adalah lulusan setingkat SMA. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan, investor dari kelompok ini, yakni lulusan SMA, mencapai 60,57 % total investor. Aset kelompok investor ini mencapai Rp 160,69 triliun berupa saham dan  Rp 38,08 triliun berupa reksa dana.

Sementara investor yang merupakan lulusan strata 1 (S-1) mencapai 29,42 %. Walaupun dari segi jumlah kelompok investor berlatar belakang S-1 lebih sedikit dibandingkan investor yang lulusan SMA, aset kelompok ini merupakan yang terbesar, yakni mencapai Rp 427,5 triliun dalam bentuk saham dan Rp 106,4 triliun berupa reksa dana. ”Sinyal ini menunjukkan pasar modal bukan lagi menjadi pilihan investasi bagi kalangan tertentu, tetapi merupakan pilihan masyarakat Indonesia,” kata Dirut KSEI Uriep Budhi Prasetyo, Jumat (3/6). Para investor tersebut berinvestasi pada sektor finansial dan infrastruktur. (Yoga)


PKPU Anak Usaha Kelar, WSKT Siap Gelar Rights Issue

HR1 27 May 2022 Kontan

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) akan melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue pada semester II-2022. Manajemen WSKT menargetkan aksi korporasi ini dapat terlaksana Juli 2022. SVP Corporate Secretary WKST Novianto Ari Nugroho menyampaikan, rights issue akan dieksekusi setelah emiten ini menuntaskan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) anak usahanya, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP). "PKPU ini menjadi semacam salah satu syarat untuk bisa melaksanakan rights issue," ucap Novianto, Rabu (25/5). Rights issue ini memberi tambahan dana segar bagi WSKT. Pemerintah juga telah menyetujui rencana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 3 triliun.

Pasar Lesu, Bankir Siapkan Right Issue

HR1 17 May 2022 Kontan

Pasar modal semakin semarak dengan aksi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue di sektor perbankan. Aksi korporasi tersebut untuk memenuhi ketentuan modal inti minimal perbankan sebesar Rp 3 triliun pada akhir tahun ini. Beberapa bank yang akan menggelar rights issue tahun ini seperti Bank Aladin, Bank Bisnis, Bank Neo Commerce dan Bank Ina.  Namun, Senior Investment Analyst Infovesta Utama, Edbert Suryajaya menilai, prospek rights issue tersebut harus memperhatikan sentimen pasar yang berkembang. Oleh karena itu, kesuksesan rights issue bergantung pada pemilihan waktu yang tepat. Namun aksi korporasi ini diperkirakan tidak akan semeriah tahun-tahun sebelumnya, terutama dari bank digital. Namun tidak menutup kemungkinan euforia akan kembali jika bank bisa mencari momentum tepat. Ke depan, saham-saham bank yang memiliki fundamental solid dan laba stabil bisa tetap mempertahankan minat investor. Dengan demikian saham- saham tersebut lebih dilirik investor. Apalagi, bagi perbankan yang valuasinya juga masih murah. Sementara emiten-emiten yang dari kondisi belum oke, meski prospek tumbuh akan lebih tertinggal. Terlebih, kenaikan suku bunga akan mempersulit akses terhadap modal baru. Sebab perusahaan yang sudah profit masih bisa mengandalkan pendanaan internal.

Siapkan Rp500 Miliar, Matahari Department Store Lanjutkan Buyback

KT1 11 May 2022 Investor Daily (H)

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) berencana melanjutkan program pembelian kembali (buyback) saham perseroan melalui program Pembelian Kembali Saham II Tahun 2022. "Pembelian Kembali Saham II 2022  akan dilaksanakan terhitung pada tanggal 3 Juni 2022. Jumlah biaya yang akan dikeluarkan untuk pelaksanaan Pembelian Kembali  Saham 2022 adalah maksimal Rp 500 miliar, termasuk biaya perantara pedagang   efek dan biaya lainnya sehubungan dengan Pembelian Kembali Saham II 2022," kata Sekretaris Perusahaan  LPPF Miranti Hadisusilo dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (10/5/2022). Lebih lanjut perseroan akan membatasi harga maksimal Pembelian Saham I 2022 sebesar Rp7.950 per saham. Pembelian Kembali Saham II 2022 akan dilakukan melalui bursa  atau di luar bursa dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Yetede)

Magnet Kuat IPO Pasar Modal

HR1 22 Apr 2022 Bisnis Indonesia

Tensi geopolitik yang membayangi aksi korporasi global ternyata tak mengendurkan niat sejumlah perusahaan di Tanah Air untuk go public. Sejumlah kalangan menilai pasar modal Indonesia memang masih punya magnet kuat untuk menarik korporasi lantaran kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang kian ciamik. Demikian pula dengan pertumbuhan signifikan jumlah investor di pasar modal Indonesia yang turut menjadi daya tarik. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), sejauh ini terdapat 35 perusahaan yang berencana menggelar penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Berdasarkan skala aset, dari jumlah tersebut, sebanyak enam perusahaan tercatat memiliki aset di bawah Rp50 Miliar. Sebanyak 13 perusahaan lainnya beraset antara Rp50 miliar-Rp250 miliar, kemudian 16 perusahaan lagi memiliki aset di atas Rp250 miliar. 

Jika terealisasi, aksi korporasi itu akan melanjutkan tren positif di BEI di mana sejak awal tahun sampai 20 April 2022, sudah ada 17 emiten go public. Salah satunya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) yang mencatatkan sahamnya di BEI pada 11 April lalu dan meraup dana tak kurang dari Rp13,7 triliun. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan pasar modal masih mampu menarik perusahaan yang ingin go public lantaran kinerja saham yang baik. IHSG terus menunjukkan pertumbuhan, bahkan hingga 20 April 2022 telah menyentuh angka 7.227,36. “Indikator lainnya yang mendukung adalah tren investor di pasar modal Indonesia yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya, Kamis (21/4).


Generasi Z di Pasar Modal

KT3 18 Apr 2022 Kompas

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan BEI mencatat, hingga akhir triwulan I-2022 jumlah investor pasar modal 8,3 juta orang, naik 12,13 % dari 7,29 juta orang akhir Desember 2021. Selama Desember 2020-Desember 2021, jumlah investor melonjak 91,34 % dari 3,81 juta orang menjadi 7,29 juta orang. Investor pemula dari generasi milenial / Y (lahir 1981-1995) dan Z (lahir 1996-2012) mendominasi, menyumbang 80 % total populasi di pasar modal. Ini bukan hanya tren Indonesia dengan struktur demografi mudanya, melainkan juga tren global. Kehadiran Gen Y dan Z menjadi kekuatan yang terus bertumbuh, mendorong bursa ke new frontiers. Studi di sejumlah negara menunjukkan separuh Gen Y dan Z menginvestasikan uang dengan motivasi utama mandiri secara finansial. Bursa saham menjadi salah satu pilihan.

Karakteristik Gen Y dan Z, menurut Jean Case, CEO For What It’s Worth, adalah mereka memiliki kekuatan ekonomi lebih besar, menghasilkan lebih banyak, menabung lebih banyak, berinvestasi lebih awal dan pada tingkat yang lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Di Indonesia, lonjakan jumlah investor diikuti kinerja bursa yang impresif, tecermin dari IHSG dan kapitalisasi pasar. Sepanjang 2021, nilai perdagangan, frekuensi transaksi, dan volume transaksi naik 45,7 %, 91,3 %, dan 81 %. Selain meningkatnya kesadaran berinvestasi dan kekuatan modal Gen Y dan Z; situasi pandemi, rendahnya suku bunga (yang membuat menaruh uang di bank tak lagi menarik), munculnya platform pialang online, dan perdagangan tanpa komisi membuat investasi di bursa lebih mudah diakses dari sebelumnya, juga ikut memicu lonjakan investor. (Yoga)


Generasi Z Dominasi Investor Pasar Modal

KT3 16 Apr 2022 Kompas

Hingga akhir triwulan I-2022, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 8,3 juta investor, naik 12,13 % dari akhir Desember 2021. Jika dilihat dari sebaran usia, investor pemula yang berasal dari generasi Z, yakni generasi yang lahir tahun 1996 hingga 2012, merupakan populasi terbesar di pasar modal dengan porsi 80 %. Kedatangan anak-anak muda ini membuat perusahaan sekuritas berlomba memberikan berbagai kemudahan kepada investor.

Penyederhanaan pembukaan rekening dinilai turut berdampak pada penambahan tersebut. ”Hingga saat ini ada 34 perusahaan efek yang dapat melakukan pembukaan rekening secara online,” kata Dirut KSEI Uriep Budhi Prasetyo, Kamis (14/4). Dengan pembukaan rekening sekuritas daring, para investor hanya perlu mengisi formulir serta mengunggah salinan KTP dan NPWP. Kerja sama dengan instansi kependudukan dan catatan sipil membuat verifikasi data KTP dapat dilakukan dengan cepat. Proses ini jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional. Data KSEI menunjukkan, para investor muda itu berminat pada sektor perbankan, barang konsumer, dan industri dasar. (Yoga)