;
Tags

Investasi lainnya

( 1343 )

Pemangkasan Anggaran Belum Matang, Risiko Besar?

HR1 18 Feb 2025 Kontan (H)
Arah kebijakan ekonomi Kabinet Merah Putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto masih dinilai belum jelas, terutama terkait rencana efisiensi anggaran sebesar US$ 44 miliar (Rp 750 triliun). Dari jumlah tersebut, US$ 24 miliar akan dialokasikan untuk program makan bergizi gratis, sementara US$ 20 miliar akan diserahkan ke BPI Danantara.

Namun, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara belum memberikan klarifikasi terkait sumber efisiensi anggaran ini, mengingat APBN selalu mengalami defisit dan pemerintah masih bergantung pada penarikan utang.

Ketidakjelasan ini memicu kekhawatiran investor dan pebisnis. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan bahwa angka penghematan yang diumumkan muncul secara tiba-tiba dan sulit terwujud, terutama target dividen BUMN Rp 300 triliun. Menurutnya, target Rp 110 triliun saja sudah cukup optimistis mengingat kondisi ekonomi yang masih menantang.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE, Mohammad Faisal, menyoroti alokasi dana untuk Danantara, yang meskipun bertujuan mengurangi ketergantungan pada asing, masih memiliki banyak pertanyaan soal tata kelolanya. Jika tidak dikelola dengan baik, Faisal memperingatkan potensi kebocoran anggaran, korupsi, dan dampak negatif terhadap perekonomian.

Ketidakpastian ini memperbesar risiko bagi perekonomian. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang lebih jelas dan transparan agar kebijakan penghematan ini benar-benar memberikan manfaat bagi negara.

Saham Bank Lapis Dua, Peluang atau Tantangan?

HR1 18 Feb 2025 Kontan
Harga saham perbankan big caps masih tertekan, sehingga investor mulai melirik saham bank KBMI 3 yang menunjukkan kinerja solid pada 2024. Bank Syariah Indonesia (BSI) membukukan laba bersih Rp 7,01 triliun, tumbuh 22,8% secara tahunan, dengan harga saham BRIS naik 9,35% sepanjang tahun ini. Bank Permata (BNLI) juga mencetak laba bersih Rp 3,56 triliun, melonjak 37,9% secara tahunan, dengan sahamnya naik 70,62% sejak awal tahun.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa bank KBMI 3 menarik perhatian investor karena pertumbuhan laba yang tinggi dan tekanan jual pada saham big caps. Menurutnya, BRIS masih memiliki potensi kenaikan harga, dengan target Rp 3.800 per saham.

Analis PT Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa saham KBMI 3 masih memiliki PER yang relatif murah, sehingga menarik untuk investasi. Ia merekomendasikan BDMN dan BNGA, dengan target harga Rp 2.650 dan Rp 1.880, karena konsisten memberikan dividen.

Namun, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengingatkan investor untuk selektif dalam memilih saham KBMI 3, karena likuiditasnya lebih rendah dibanding big caps. Menurutnya, BRIS saat ini menjadi satu-satunya saham KBMI 3 yang sedang dalam tren naik.

Saham bank KBMI 3 masih berpotensi menarik bagi investor, terutama dengan prospek penurunan suku bunga di 2025.

Saham Bank Lapis Dua, Peluang atau Tantangan?

HR1 18 Feb 2025 Kontan
Harga saham perbankan big caps masih tertekan, sehingga investor mulai melirik saham bank KBMI 3 yang menunjukkan kinerja solid pada 2024. Bank Syariah Indonesia (BSI) membukukan laba bersih Rp 7,01 triliun, tumbuh 22,8% secara tahunan, dengan harga saham BRIS naik 9,35% sepanjang tahun ini. Bank Permata (BNLI) juga mencetak laba bersih Rp 3,56 triliun, melonjak 37,9% secara tahunan, dengan sahamnya naik 70,62% sejak awal tahun.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa bank KBMI 3 menarik perhatian investor karena pertumbuhan laba yang tinggi dan tekanan jual pada saham big caps. Menurutnya, BRIS masih memiliki potensi kenaikan harga, dengan target Rp 3.800 per saham.

Analis PT Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa saham KBMI 3 masih memiliki PER yang relatif murah, sehingga menarik untuk investasi. Ia merekomendasikan BDMN dan BNGA, dengan target harga Rp 2.650 dan Rp 1.880, karena konsisten memberikan dividen.

Namun, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengingatkan investor untuk selektif dalam memilih saham KBMI 3, karena likuiditasnya lebih rendah dibanding big caps. Menurutnya, BRIS saat ini menjadi satu-satunya saham KBMI 3 yang sedang dalam tren naik.

Saham bank KBMI 3 masih berpotensi menarik bagi investor, terutama dengan prospek penurunan suku bunga di 2025.

Bertumbuhnya Penerapan ESG

KT3 18 Feb 2025 Kompas (H)

Negara-negara di dunia semakin berambisi memacu investasi menuju ekonomi berkelanjutan. Pemerintah Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan beradaptasi semakin responsif menarik investasi berkelanjutan dan menjawab hambatan ekonomi hijau. Deputi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kemenko Bidang Perekonomian Edi Pambudi mengemukakan, investasi berkelanjutan merupakan sebuah kebutuhan besar, bukan lagi instrument geopolitik. Bukan hanya menghindari risiko lingkungan, melainkan investasi berkelanjutan membuka semua peluang ekonomi baru. Edi memberikan pidato kunci dalam acara ”Kompas 100 Outlook: Investasi Berkelanjutan di Dalam  Ekosistem Bisnis Global” yang digelar harian Kompas berkolaborasi dengan BEI di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (17/2).

Global Sustainable Investment Alliance 2023 mencatat aset investasi berkelanjutan global telah mencapai 35,3 triliun USD, setara Rp 567 kuadriliun, atau 35 % total aset keuangan global. Kompetisi dalam investasi berkelanjutan sudah memasuki kawasan ASEAN. Kemenko hampir setiap hari menerima investor dari luar negeri yang bicara energi bersih. Bloomberg NEF pada 2023 menyebutkan, transisi energi bersih akan membutuhkan investasi senilai 3,1 triliun USD per tahun hingga 2050. ”Kami melihat negara di sekitar kita semakin ambisius memperbanyak bauran energi bersih sehingga kita harus bersiap untuk beradaptasi dengan situasi yang dinamis,” kata Edi. (Yoga)


Bukan Langkah Mudah bagi Danantara

KT1 17 Feb 2025 Investor Daily (H)
Presiden Prabowo Subianto menegaskan kebijakan efisiensi anggaran  negara akan terus berlanjut hingga tiga putaran, dengan nilai mencapai Rp750 triliun atau sekitar US$ 44 miliar. Sebanyak US$ 24 miliar dialokasikan untuk membiayai program MBG dan sisanya akan diserahkan ke badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, kebijakan ini bisa mempercepat realisasi target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Dengan hasil efisiensi anggaran yang akan digunakan Danantara, pemerintahan Presiden Prabowo ingin memastikan anggaran negara dikelola secara mandiri untuk mendukung proyek-proyek pembangunan yang berdampak langsung pada rakyat. Secara keseluruhan, akan ada 20 hingga 35 proyek strategis yang diharapkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasisonal. Salah satunya proyek besar yang sudah diungkapkan adalah proyek hilirisasi senilai US$ 4 miliar. Rencananya, Presiden akan mengumumkan pendirian Danantara pada 24 Februari 2025. Lembaga investasi negara ini bertujuan mengelola keuangan nasional tanpa bergantung pada asing, serta melibatkan organisasi agama seperti NU, Muhammadiyah, dan KWI sebagai pengawas. (Yetede)

Fase Konsolidasi IHSG Segera Berakhir pada Pekan Ini

KT1 17 Feb 2025 Investor Daily (H)

Awan hitam yang menyelimuti IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan mulai menghilang dipertengahan Februari 2025. IHSG diprediksi mengakhiri fase konsolidasi pada pekan ini, dengan sentimen penggerak yang cukup kuat masih datang dari global, dan juga berbagai data ekonomi domestik. "IHSG diperkirakan cenderung mengakhiri fase konsolidasi  di support area 6.550-6.750, untuk selanjutnya menguji level 6.700-6.750 di pekan ini," kata Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan. Secara teknikal, menurut Valdy, stochastic RSI mulai bergerak naik dari oversold area, bersamaan dengan penyempitan  negative slope pada MACD. Ini memberikan ruang  bagi IHSG  untuk mencoba bergerak mendekati resitance 6.750 setelah pada akhirnya pekan lalu ditutup di posisi 6.638. 

Pergerakan IHSG, lanjut Valdy, akan mendapat pengaruh dari Amerika Serikat, dimana indeks-indeks Wall Street kembali ditutup mixed di Jumat (14/2/2025). Dengan penutupan tersebut mencatatkan penguatan mingguan di pekan lalu. "Sentimen utama berasal dari penundaan pengumuman reciprocal tarrifs oleh pemerintahan AS setelah Presiden AS, Donald Trump memerintahkan review terhadap kebijakan tersebut. Faktor lain adalah perlambatan pertumbuhan retail sales ke 4,2% yoy di Januari 2025 dari 4,36% yoy di Desember 2024. Untuk saat ini, nampaknya bad news terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan the Fed yang lebih agresif di 2025," papar dia. (Yetede)

Daya Tarik Bursa Indonesia Kian Memudar bagi Investor Asing

HR1 17 Feb 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada awal 2025. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat naik 0,38% ke 6.638,46 pada akhir pekan, secara keseluruhan IHSG anjlok 1,54% dalam sepekan dan sudah turun 6,24% sejak awal tahun. Hal ini berdampak pada penurunan kapitalisasi pasar, yang menyusut 1,67% menjadi Rp 11.401 triliun, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2023.

Faktor utama yang menyebabkan pelemahan IHSG adalah capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia. Sejak awal tahun, asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp 10,52 triliun, meningkat dari Rp 3,70 triliun pada Januari. Akibatnya, IHSG menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di Asia Tenggara, tertinggal dari Filipina (-1,52%), Thailand (-0,78%), dan Vietnam (-0,38%). Bursa Singapura dan Malaysia justru mencatat kenaikan tipis masing-masing 0,42% dan 0,04%.

Selain itu, kurangnya IPO dari perusahaan besar dan kegagalan beberapa emiten berkapitalisasi besar masuk indeks global juga membuat pasar saham Indonesia kurang menarik. Salah satu contohnya adalah BREN, yang beberapa kali gagal masuk indeks MSCI Global Standard. Hal ini mengurangi daya tarik bursa Indonesia bagi investor global.

Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, menilai investor asing masih menunggu momentum yang lebih baik. Setelah rebalancing MSCI pada Februari 2025, banyak saham mengalami perubahan bobot investasi. Reza juga menyebut bahwa dalam waktu dekat, IHSG masih sulit kembali ke level 7.000 kecuali ada sentimen positif yang signifikan.

Sementara itu, Oktavianus Audi, Vice President Marketing Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, berpendapat bahwa belum ada katalis kuat yang bisa mendongkrak IHSG dalam waktu dekat. Meskipun secara price to earnings ratio (PER), IHSG saat ini 11,53 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata PER lima tahun terakhir (13,6 kali), investor masih cenderung wait and see sebelum kembali masuk ke pasar saham Indonesia.

Harapan di Saham Perbankan Masih Terbuka

HR1 17 Feb 2025 Kontan
Saham sektor perbankan masih berada dalam tekanan jual, terutama dari investor asing, dengan penurunan mencapai 7% month to date (MTD) per 12 Februari 2025, lebih besar dibanding penurunan IHSG yang sebesar 6%. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami penurunan tertinggi (17% MTD), diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) (13% MTD).

Menurut Victor Stefano, analis BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual ini disebabkan oleh valuasi yang masih berada di atas level terendah historis, kenaikan Non-Performing Loan (NPL), serta arus keluar dana asing yang signifikan dari perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BMRI, dan BBNI sejak 2024. Ketatnya likuiditas juga menjadi tantangan yang dapat menekan Net Interest Margin (NIM) dan meningkatkan Cost of Credit (CoC).

Meski menghadapi tekanan, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai bahwa dividen dari bank BUMN seperti BBRI, BBNI, dan BMRI berpotensi mendukung kembali minat investor. Dengan rasio pembayaran dividen yang tinggi, BBRI diproyeksikan membagikan dividen Rp 51,12 triliun, BMRI Rp 33,46 triliun, dan BBNI Rp 12,87 triliun. Selain itu, rencana buyback saham oleh BBRI dan BBNI, terutama BBRI yang berencana buyback Rp 1,5 triliun, dapat menarik perhatian investor.

Dalam rekomendasi investasi, Nico merekomendasikan buy untuk BBRI (Rp 5.150), BBNI (Rp 5.800), BMRI (Rp 7.100), dan BRIS (Rp 3.550). Sementara itu, Victor masih menyukai BBCA, BTPS, dan BRIS karena memiliki biaya dana (CoF) yang kuat dan prospek kualitas aset yang lebih baik.

Meskipun tekanan jual masih berlanjut, prospek dividen dan buyback saham menjadi faktor yang dapat membantu pemulihan sektor perbankan.

2024, Investasi Lampaui Target dan Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

KT3 17 Feb 2025 Kompas
Realisasi investasi di Jawa Tengah pada 2024 melampaui target dan menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Sejumlah langkah dan pelibatan berbagai pihak bakal dilakukan di tahun 2025. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jateng Sakina Rosellasari, Minggu (16/2/2025), menyatakan, pada 2024, Jateng ditargetkan menggaet investasi Rp 80,10 triliun. Realisasinya mencapai Rp 88,44 triliun atau 110,42 persen dari target. Investasi itu terdiri dari penanaman modal asing (PMA) Rp 35,37 triliun, penanaman modal dalam negeri Rp 33,30 triliun, serta usaha mikro dan kecil Rp 19,77 triliun. Khusus PMA, ada lima negara penyumbang tertinggi, yaitu Singapura dengan Rp 8,67 triliun, Hong Kong Rp 8,03 triliun, dan Korea Selatan Rp 5,42 triliun. Selain itu, China dengan Rp 4,26 triliun dan Thailand Rp 1,8 triliun. Realisasi investasi di Jateng pada 2024 juga menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kurun waktu 2020-2023, realisasi investasinya berturut-turut sebesar Rp 56,07 triliun, Rp 59,79 triliun, Rp 68,41 triliun, Rp 72,02 triliun.

Adapun target investasi pada 2025 belum ditentukan besarannya. Sakina menyebut bersama pemerintah kabupaten/kota di Jateng bakal melakukan berbagai hal untuk mendongkrak investasi lebih bergairah. Sebelumnya, Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana mengatakan, investasi di wilayahnya pada 2024 berhasil menyerap 411.013 tenaga kerja dalam negeri. Jumlah itu menjadi yang terbanyak setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, misalnya, tenaga kerja dalam negeri yang terserap dalam proyek investasi sebanyak 280.643 orang. Sementara itu, pada 2022, tercatat 215.775 tenaga kerja dalam negeri yang terserap. Nana menyebut, investasi di Jateng turut berperan menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Angka kemiskinan turun dari 10,11 persen pada Maret 2024 menjadi 9,58 persen pada September 2024. Angka pengangguran juga turun dari 5,13 persen pada Agustus 2023 menjadi 4,78 persen di Agustus 2024. ”Sejalan itu, pertumbuhan ekonomi di Jateng pada triwulan IV-2024 juga meningkat secara year on year.

Pertumbuhannya dari 4,93 persen menjadi 4,96 persen. Ini cukup signifikan,” ujarnya. Meski trennya positif, Nana menyebut masih akan terus melakukan langkah strategis menarik investor di Jateng. Setidaknya ada enam strategi yang akan dilakukan untuk menjaga dan meningkatkan capaian investasi di Jateng. Ia menyebut, pentingnya memberikan kemudahan berusaha dan meningkatkan iklim investasi, menguatkan daya beli masyarakat, dan mengendalikan inflasi. Berikutnya, pemberdayaan UMKM, meningkatkan produktivitas sumber daya manusia dan mengembangkan ekonomi sirkuler, serta memeratakan pembangunan dan konektivitas. Pertumbuhan ekonomi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng Rahmat Dwisaputra mengatakan, di tahun 2025, pertumbuhan ekonomi di Jateng diperkirakan pada 5 persen. Menurut dia, diperlukan sejumlah strategi untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen di tahun 2029. (Yoga)

Menjaga Kepercayaan Investor

KT1 15 Feb 2025 Investor Daily (H)
Adanya satu data pertanahan yang clean and clear terkait kebijakan pertanahan sangat diperlukan dalam rangka menjaga kepercayaan investor, khususnya investor properti. Di sisi lain, digitalisasi perlu dioptimalkan agar kebijakan pertanahan lebih transparan dan akuntabel. "Perlu ada satu data yang clear and clean terkait dengan pertahanan, sehingga sangat penting untuk membuat clean and clear aspek pertanahan," ujar Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto. Isu pertahanan itu merupakan salah satu bagian yang menjadi perhatian investor properti terutama terkait dengan status clear and clean (istilah yang sering digunakan dalam urusan pertanahan). Status tanah untuk kasus Indonesia, jelas dia, selalu menjadi hal yang paling mendasar karena acap kali terjadi klaim atau gugatan pihak lain, karena ternyata statusnya belum clean and clear. "Jadi kalau kita mengundang investor, ujung-ujungnya mereka bikin pabrik, bikin mal, bikin perkantoran, dan perumahan di Indonesia pasti butuh tanah untuk pembangunannya. Ketika kemudian tanah masih bermasalah atau tidak clean and clear mereka akan mundur. Seberapa besar potensi investasinya kalau tanahnya tidak clear and clear, biasanya mereka (investor) menarik diri," kata Eko. (Yetede)